Kotak Iklan

Entry Terbaru

1 Ringkasan SKI 1 MTs / SMP


PERIODE MAKKAH

A.    Misi Dakwah Nabi Muhammad saw.

1.      Keadaan Masyarakat Mekah Sebelum Islam
a.      Peradaban Bangsa Arab
Sebelum  peradaban Islam memecah di tengah-tengah masyarakat Arab, bangsa Arab sebenarnya telah mengenal kehidupan politik, sosial, ekonomi, bahasa, seni dan penggunaan metode berpikir, meskipun masih sederhana.
Kehidupan sosial ekonomi masyarakat Arab sangat ditentukan dengan kondisi dan letak geografis Negara-negara Arab itu sendiri. Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui, kehidupan sosial ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sektor pertanian terutama mereka yang mendiami daerah subur di sekitar Oase. Akan tetapi bagi masyarakat Arab perkotaan, kehidupan sosial ekonomi mereka sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam perdagangan. Oleh karena itu, bangsa Arab Quraisy sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang dua musim dalam setahun, yaitu ke Negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin. (QS. Al-Quraisy)
Selain itu bangsa Arab sebelum lahirnya agama Islam telah mampu mengembangkan ilmu meteorologi atau ilmu iklim, astrologi atau ilmu perbintangan. Pada awalnya ilmu ini dipergunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya suatu peristiwa, seperti perang, damai, dan sebagainya, yang didasarkan pada bintang-bintang. Ilmu tenung yang banyak disukai masyarakat Arab, berasal dari orang-orang Kaldam yang bermigrasi ke tanah Arab. Di samping itu masyarakat Arab sebelum Islam juga telah memiliki pengetahuan tentang cara pengobatan penyakit, yang disebut Al Thahib. Ilmu ini juga berasal dari orang-orang Kaldam yang kemudian diambil dan dikembangkan oleh masyarakat Arab.

b.      Agama dan Kepercayaan Bangsa Arab
Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa dalam cerita para Nabi, sudah ada beberapa Nabi yang diturunkan di negeri Arab, diantaranya Nabi Ibrahim as. Karena itu sejak awal, ajaran tauhid sudah tertanam di masyarakat Arab. Dan ajaran Nabi Ibrahim as lazim juga disebut ajaran agama Hanif artinya yang benar dan lurus.
Tetapi setelah berjalan berpuluh-puluh abad, ajaran tersebut mengalami perubahan, diputarbalikkan, ditambah dan dikurangi oleh para pengikutnya yang tidak bertanggung jawab yang kemudian muncul berbagai ajaran dan meragukan dan akhirnya jatuh menjadi agama berhala. Pada masa Jahiliyah orang Arab banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat dari batu, kayu dan ada juga yang dari logam.
Bangsa Arab menyembah berhala ketika Ka’bah berada di bawah kekuasaan Jurhum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Lubayi dari keturunan Khuza’ah datang ke Mekkah dan berhasil mengalahkan Jurhum. Kemudian Amr bin Lubayi meletakkan sebuah berhala besar bernama Hubal yang terbuat dari batu akik merah berbentuk patung orang, yang ditempatkan di sisi Ka’bah. Kemudian ia menyeru kepada penduduk Hijaz supaya menyembah berhala itu.
Sejak itulah bangsa Arab menyembah berhala. Ketika bangsa Quraisy berkuasa lagi di Hijaz, di sekeliling Ka’bah sudah penuh dengan berhala yang berjumlah lebih dari 360 buah. Di samping banyak lagi berhala-berhala lain, diantaranya yang penting yaitu :
1)      Lata, tempat di Thaif
2)      Uzza, tempatnya di Hijaz, kedudukannya sesudah Hubal
3)      Manah, tempatnya di kota Madinah

Dan masih banyak lagi berhala-berhala yang lain seperti : Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, suwa, Ya’ng, Nashr, dan Manaf. Berhala-berhala ini bagi bangsa Arab merupakan perantara kepada Tuhan. Sehingga pada hakikatnya bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah.

c.       Keadaan Sosial Budaya Bangsa Arab
Dalam bidang bahasa dan seni bahasa, orang-orang Arab pada masa pra Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka orang penyair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar Ukaz diadakan deklamasi sajak yang sangat luas.
Khithabah sangat maju, dan inilah satu-satunya alat publisistik yang amat luas lapangannya. Disamping sebagai penyair, orang-orang Arab Jahiliyah juga sangat fasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Ahli pidato mendapat derajat tinggi seperti penyait.
Salah satu kelaziman dalam masyarakat Arab Jahiliyah adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita dan lain sebagainya. Seperti: Nadi Quraisy dan Darun Nadwah yang berdiri di samping Ka’bah sebagian dari nadwah mereka.
Begitulah seorang ahli sejarah Islam, ahmad Amin memberi definisi tentang kata-kata Arab Jahiliyah yaitu orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran. Mereka terus melawan kebenaran, sekalipun telah diketahui bahwa itu benar. Jadi Jahiliyah bukanlah Jahl yang berarti bodoh. ( hamzah ).

2.      Dakwah pada Masa Awal
Menginjak usianya yang ke 40 tahun, Nabi Muhammad saw. Lebih sering bertahanus di Gua Hira yang jauhnya 6 km dari rumah beliau, tepatnya di sebelah timur Kota Mekah. Dalam perjalanan spiritual itu, beliau merenungi kerusakan moral yang terjadi di masyarakat Mekah. Pada malam 17 Ramadhan bertepatan dengan 6 Agustus 610 M, datanglah malaikat Jibril menurunkan wahyu pertama dari Allah, yaitu surah Al-‘Alaq ayat 1-5.

Artinya :1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. 2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. 4.  Yang mengajar (manusia) dengan pena. 5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Turunnya wahyu pertama itu merupakan tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi Rasul Allah swt.. dan beliau pun segera melakukan dakwah menyampaikan kebenaran.
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim surat Al-Mudattsir adalah turun yang kedua setelah surat Al-‘Alaq,

Artinya :
1.      Hai orang yang berkemul (berselimut),
2.      Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3.      Dan Tuhanmu agungkanlah!
4.      Dan pakaianmu bersihkanlah,
5.      Dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6.      Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7.      Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.

Pada awal dakwahnya, Nabi Muhammad saw. Melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya adalah untuk memetakan orang-orang yang mendukung beliau, untuk dipersiapkan sebagai juru dakwah beliau. Maka orang-orang yang beliau ajak adalah sebatas yang dekat dengan beliau. Orang yang pertama kali menerima ajakannya adalah Khadijah (istrinya), kemudian ali bin Abi Thalib (anak pamannya), Abu Bakar (sahabatnya), dan Zaid bin Haritsah (pembantunya).

Mereka yang telah menerima Islam kemudian juga menyebarkannya, meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi. Kemudian, beberapa orang tertarik dengan dakwah Nabi Muhammad saw.. dan masuk Islam, yaitu Utsman bin Affan, Abdurrahman bin auf, Zubair bin Awwan, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidilah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Arqam bin Abil Arqam. Mereka inilah yang disebut-sebut As-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang masuk Islam pada generasi awal. Merekalah yang kelak menjadi pendukung setia Nabi Muhammad saw. Rumah Arqam bin Abil Arqam kemudian dijadikan pusat dakwah Nabi Muhammad saw.
Setelah beberapa waktu berdakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian turun perintah agar berdakwah secara terang-terangan sebagaimana wahyu Allah dalam Surah Al-Hijr ayat 94 :

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Surah tersebut menekankan bahwa dakwah Nabi Muhammad saw. bertujuan agar manusia tidak tersesat dalam kemusyrikan dan kembali kepada ketauhidan. Segera setelah turun wahyu itu beliau berdakwah secara terbuka. Nabi mengumpulkan warga kota Mekah di Bukit Shafa. Mereka dengan suka rela datang ke bukit tersebut karena Nabi Muhammad saw. adalah orang yang sangat dipercaya dan dihormati di kalangan mereka. Abu Lahab juga hadir memenuhi undangan Nabi Muhammad saw.
Setelah orang-orang berkumpul di kaki Bukit Shafa, Nabi Muhammad saw.. mulai membuka dialog dengan mereka. Beliau bertanya kepada warga kota Mekah itu, “Bagaimana pendapat kalian jika aku beritahukan bahwa ada seekor kuda yang dapat keluar dari dalam gunung ini lalu menerjang kalian? Apakah kalian percaya?” Semua yang hadir menjawab, “Ya, kami percaya. Kami tidak pernah melihat engkau berdusta.” Kemudian, Nabi Muhammad saw. melanjutkan, “Ketahuilah, sesungguhnya aku ini (utusan Allah) untuk memberi peringatan kepada kalian akan adanya siksa Allah yang sangat keras.” Ditengah dakwah Nabi Muhammad saw.. tersebut, Abu Lahab marah-marah dan menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw., dengan mengatakan: “Celakalah kamu Muhammad! Apakah hanya untuk itu kamu mengumpulkan kami semua?.” Selesai berteriak, Abu Lahab kemudian melempari batu ke arah Nabi Muhammad saw. Keadaan di kaki Bukit Shafa menjadi kacau dan pertemuan itu pun berakhir.
Seruan umum dan terangan-terangan tersebut, maka Nabi dan agama baru yang dibawanya menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat kota Mekah. Orang-orang Quraisy melancarkan permusuhan kepada Nabi dan berusaha menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw.. dengan berbagai cara.
Upaya-upaya kaum Quraisy tidak menyurutkan semangat kaum muslimin. Apalagi setelah Umar bin Khattab yang sebelumnya sebagai penentang utama dakwah Islam, masuk Islam, keberanian kaum muslimin untuk berdakwah secara terbuka makin menguat. Jumlah kaum muslimin semakin banyak, meski sebagian besar di antara mereka adalah dari golongan tertindas dan kaum miskin.
Menghadapi tekanan, penghinaan, dan kesewenang-wenangan dari kaum Quraisy yang malampaui batas perikemanusiaan, akhirnya Nabi merencanakan hijrah ke Yatsrib. Pada suatu sore, Nabi datang ke rumah Abu Bakar dan memberi kabar bahwa Allah swt.. telah mengizinkan berhijrah. Abu Bakar bergembira sekali, kemudian ia berkata: “Aku akan menyertai dan menemani engkau.” Peristiwa hijrah memang merupakan ajang pembuktian bagi Abu Bakar akan kecintaan dan ketulusan pengorbanan beliau kepada Nabi Muhammad saw.
Menurut riwayat dari Siti Aisyah, pada saat itu tidak ada orang yang gembira melebihi ayahnya sampai tak mampu menahan tangis dan haru. Abu Bakar segera menyiapkan dua ekor unta yang gagah dan meminta Abdullah bin Ariqath untuk menunjukkan jalan menuju Yatsrib. Pada suatu malam rumah Nabi Muhammad dikepung oleh kaum Quraisy, tetapi beliau berhasil meloloskan diri kemudian langsung ke rumah Abu Bakar, untuk bersama-sama melanjutkan perjalanan.
Dalam perjalanan itu, mereka berada berhenti dan bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga hari. Cara mereka memperoleh makanan dan kebutuhan lainnya sudah diatur oleh Abu Bakar, yaitu: Amir bin Fuhaira, pembantu Abu Bakar diberi tugas menggembala kambing di dekat Gua Tsur. Ketika sore hari tiba, kambing-kambing itu diikatkan di dekat Gua Tsur sehingga Nabi dan Abu Bakar bisa mengambil air susunya pada malam hari. Sementara orang yang memantau pergerakan kaum Quraisy adalah Abdullah bin Abu Bakar, dan melaporkan kepada ayahnya dan Nabi setiap rencana pimpinan Quraisy.
Dengan kegagalan menangkap Nabi pada malam hari itu, tidak membuat kaum Quraisy putus asa. Pimpinan Quraisy mengeluarkan sayembara yang berbunyi, “Barang siapa yang berhasil menangkap Muhammad, baik dalam keadaan hidup atau mati akan mendapatkan hadiah 100 ekor unta.”
Mendengar sayembara itu para pemuda berusaha dengan penuh semangat mencari dan menangkap Muhammad, agar memperoleh hadiah sekaligus ketenaran, dan predikat pahlawan yang berhasil menangkap Muhammad. Dari dalam gua mereka melihat ada beberapa orang yang mendekat ke persembunyian mereka itu sehingga Abu Bakar sangat khawatir akan keselamatan Rasulullah. Melihat kekhawatiran itu Nabi membisikkan kepada Abu Bakar, “Janganlah cemas dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” Ucapan Nabi itu pun terbukti.
Tiga hari kemudian mereka keluar dari gua Tsur, dan melanjutkan perjalanan ke Yatsrib dengan pengawalan Abdullah bin Ariqath. Di tengan perjalanan, mereka diketahui oleh Suraqah bin Malik bin Ju’sum yang masih menginginkan hadiah 100 ekor unta itu. Dengan tekad untuk mendapatkan hadiah itu, Suraqah bin Malik bin Ju’sum mempercepat pengejarannya. Ia sangat yakin bahwa dua unta yang ia lihat di depan itu salah satunya adalah Muhammad. Semakin dekat ia bertambah yakin dan segera mempercepat lagi kudanya.
Abu Bakar yang melihat pertanda buruk segera memberitahukannya kepada Rasulullah yang tetap tenang dan selalu berzikir. Dengan pedang di tangan Suraqah mendekati Rasulullah, tetapi, tiba-tiba kuda Suraqah terjerembab dan ia pun terpental. Ia segera bangun dengan kesakitan, kemudian mengejar lagi. Tetapi lagi-lagi Suraqah terjatuh dan ia merasakan lebih sakit lagi. Dalam keadaan itu, Suraqah sadar, bahwa orang yang ia kejar bukanlah sembarang orang. Ia yakin, pastilah Yang Maha Kuasa yang melindunginya. Akhirnya Surakah ketakutan, ia pun menyesal dan segera minta maaf dengan tulus. Rasulullah pun memaafkannya.
Menurut satu riwayat, setelah Suraqah kembali ke Mekah ia mencegah orang-orang yang masih ingin mencari Muhammad. Ia berusaha dengan menghilangkan jejak perjalanan Nabi Muhammad saw.
Read more

0 Kegunaan Pendidikan Bahasa Arab

Adapun kegunaan pertama pendidikan bahasa Arab adalah supaya dapat mempelajari dan meneliti Al-Qur'an, karena Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan Q.S. Yusuf/12: 2: Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan bahasa Arab, agar kamu memahaminya.
Kegunaan kedua pendidikan bahasa Arab adalah supaya dapat mengajarkan Al-Qur'an. Hal ini sesuai dengan perintah dari Rasulullah saw, seperti disampaikan Thabrani dan Ibnu Najr meriwayatkan dari Ali bahwa Nabi saw. bersabda: Ajarilah anak-anak kalian mengenai tiga hal, mencintai Nabi kalian, mencintai keluarga beliau, dan membaca Al-Qur'an karena sesungguhnya pembawa Al-Qur'an itu berada di bawah naungan singgasana Allah ta'ala, di hari di mana tidak ada naungan, kecuali naunganNya bersama para Nabi dan orang-orang pilihanNya.[1]
Motivasi yang diberikan Rasulullah sungguh luar biasa besar pengaruhnya kepada para sabahat untuk belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya sehingga para sahabat bergegas mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak mereka. Adapun motivasi yang diberikan Rasulullah adalah seperti hadis yang diriwayatkan dari Mus'ab bin Saad bin Abi Waqash, dari ayahnya ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: Dari Utsman ra. dari Nabi saw. sabdanya: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya".[2]
Ini menunjukkan bahwa sangat dianjurkan untuk mempelajari Al-Qur'an dengan sebaik-baiknya. Setelah dipelajari dengan sebaik-baiknya maka akan lebih baik lagi jika dapat mengajarkannya. Oleh karena itu sangat urgen untuk menguasai bahasa Arab secara benar. Hanya dengan menguasai tata bahasa Arab yang baiklah seseorang itu dapat memahami dan mengajarkan Al-Qur'an.
Kegunaan ketiga pendidikan bahasa Arab adalah untuk dapat mempelajari hukum-hukum agama Islam, karena hukum-hukum agama Islam yang utama bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis. Hal ini seperti diungkapkan oleh Abdul Alim, bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab dan sekaligus juga merupakan bahasa agama Islam.[3]
Hal tersebut di atas juga dikuatkan dengan pernyataan bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur'an dan Hadis, yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. untuk diajarkan kepada setiap anak manusia. Karena sangat penting bahasa Arab tersebut maka Rasulullah pernah meminta setiap tawanan perang Badar mengajarkan bahasa Arab kepada sepuluh anak muslim sampai terampil. Ini dapat juga dilihat dari kalimat Ibnu Abbas ra. berkata: "Rasulullah saw. meminta beberapa orang tawanan perang Badar yang tidak mempunyai tebusan untuk mengajari anak-anak kaum Anshar membaca dan menulis sebagai tebusan diri mereka."[4]
Kegunaan keempat pendidikan bahasa Arab adalah untuk menambah daya nalar. Hal ini seperti disebutkan oleh Abdul Hamid bin Yahya: Aku mendengar Syu'bah berkata: "Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab itu akan menambah (ketajaman) daya nalar".[5]
Kegunaan kelima pendidikan bahasa Arab adalah bisa membuka berbagai ilmu, karena bahasa Arab adalah kunci dari semua ilmu. Hal ini seperti yang dikatakan oleh para shalafush-shalih ketika menasihati anak-anaknya agar memperhatikan bahasa Arab dalam menuntut ilmu karena itu adalah kunci dari ilmu-ilmu lainnya.[6] Bahasa Arab dikatakan sebagai kunci ilmu karena dinullah (agama Allah) yang merupakan induk segala macam ilmu yang hak bagi manusia.[7] Kegunaan keenam pendidikan bahasa Arab adalah supaya dapat berdakwah untuk menyebar kebenaran.


Disadur dari buku "Hadis-Hadis Pendidikan" oleh "Prof. Dr. Hasan Asari, MA (Ed.)
===============
[1] M. Ibn Abdul Hafidh Suwaid, Cara Nabi Mendidik Anak (Jakarta: Al-I'tishom Cahaya Umat, 2004), hal. 983
[2] al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, jilid 4, hal. 619
[3] Arsyad, Bahasa Arab, hal. 7
[4] Suwaid, Cara Nabi mendidik anak, hal. 361
[5] Arsyad, Bahasa Arab, hal. 7
[6] Suwaid, Cara Nabi mendidik anak, hal. 362
[7] A. Syahirul Alim, dkk., Islam untuk Disiplin Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi (Jakarta: Proyek PPAIPTU Depag, 1995), hal. 35
Read more

0 Perbedaan Makna Basyar, Insan, dan An-Nas

1. Basyar : Manusia Sekedar Ada (Being)
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya.(Shari’ati, Man and Islam: 64). Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis.
Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam).
Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Shari’ati menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya.
Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Shari’ati menilai bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan, pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. (Shari’ati, 1982: 67-68) Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya.

2. Insan : Manusia Menjadi (Becoming)
Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Ali Shari’ati menyatakan bahwa,”tidak semua manusia adalah insan, namun mereka mempunyai potensialitas untuk mencapai tingkatan kemanusiaan yang lebih tinggi”. (Shari’ati, 1982: 62)
Bila basyar bermakna makhluk yang sekedar ada (being), maka insan berbeda. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Shari’ati memberi contoh: Sebagai contoh,

semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah. (Shari’ati, 1982: 64)

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 156 menjelaskan tentang azas yang menunjuk pada evolusi tanpa henti manusia ke arah Yang Tanpa Batas.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”

Bagi Shari’ati, kata ilaihi berarti kepada-Nya, bukan di dalam-Nya. Menurut Shari’ati, inilah gagasan pokok tentang “menjadi”, yakni bergeraknya manusia secara permanen ke arah Tuhan, ke arah kesempurnaan ideal. Tuhan bukanlah titik beku dimana sesuatu mengarah. Tuhan adalah Yang Tanpa Batas, Yang Maha Abadi, dan Yang Maha Mutlak. Oleh karena itu, bergeraknya manusia ke arah-Nya berarti gerakan manusia terus-menerus tanpa henti ke arah tahap-tahap evolusi dan kesempurnaan. Inilah yang dimaksud Shari’ati sebagai manusia dalam keadaannya yang menjadi. (Shari’ati, 1982: 68-69).
Insan memiliki tiga sifat pokok, yaitu kesadaran diri, kemauan bebas dan kreativitas. (Shari’ati, 1982: 69) Pertama, kesadaran diri. Kesadaran diri merupakan pengalaman tentang kualitas dan esensi dirinya, dunia dan hubungan antara dirinya dan dunia serta alam. Makin tinggi kesadaran akan tiga unsur tersebut, makin cepat manusia bergerak ke arah tahap-tahap yang lebih tinggi dari proses menjadinya. (Shari’ati, 1982: 71)
Kesadaran itu membuat manusia bisa mengambil jarak dengan diri dan alam sehingga manusia tertuntun untuk mencipta sesuatu yang bukan alam. Kedua, kemauan bebas. Kemauan bebas tampak dalam kebebasan memilih. Menurut Shari’ati, insan bebas memilih. Pilihannya bisa saja bertentangan dengan insting naturalnya, masyarakatnya, atau dorongan-dorongan psikologisnya. (Shari’ati, 1982: 71-72) Kebebasan memungkinkan manusia untuk melakukan evolusi ke tingkat tertinggi kemanusiaannya menerobos sekat-sekat alam, masyarakat, sejarah dan egonya. Ketiga, kreativitas atau daya cipta. Potensi kreatif insan memungkinkannya menjadi makhluk yang mampu mencipta benda, barang dan alat, dari yang paling kecil sampai yang kolosal, karya-karya industri dan seni yang tak disediakan alam. Penciptaan dan pembuatan barang tersebut dilakukan insan karena alam tak menyediakan semua yang dibutuhkannya. (Shari’ati, 1982: 72-73)
Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam, sejarah dan masyarakat. Dengan ilmu, insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam, masyarakat dan sejarah. Sehingga, insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia, yakni penjara ego (diri), tidak dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta. Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak, memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. (Shari’ati, 1982: 99) Jadi, secara singkat, manusia menjadi (insan) berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya. Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu penjara alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.
Secara unik, Shari’ati mensimbolkan pembebasan insan dari empat kekuatan determinan tersebut dengan simbol keluarnya manusia (Adam) dari firdaus (paradise atau the Garden of Eden). Saat di firdaus, manusia dilarang memakan “buah” oleh Tuhan. Shari’ati memaknai “buah” tersebut sebagai simbol kesadaran (consciousness). Manusia memakan buah tersebut. Jelas, manusia adalah pemberontak yang melawan “kehendak Tuhan”. Tapi, Shari’ati, secara kreatif, menafsirkan simbolisasi ini dengan berpendapat bahwa “kehendak Tuhan” itu adalah empat kekuatan, empat ikatan, empat rantai yang mengikat manusia. Ketika seseorang mencapai kesadarannya (memakan buah), maka ia terbebas dari determinasi “kehendak Tuhan” tersebut. (Shari’ati, 1979: 17-18). Jadi, manusia mencapai kualitas insan bila ia mampu melepaskan diri dari empat determinan, yang disimbolisasikan sebagai “kehendak Tuhan”.

3. Al-Nas : Massa
Kategori al-nas berbeda dengan dua konsep manusia lainya (basyar dan insan). Menurut Shari’ati, kedua istilah terdahulu terkait dengan nilai-nilai moral yang terkandung dalam diri manusia. Sedangkan al-nas tidak berhubungan dengan kualitas kemanusiaan.
Terminologi al-nas digunakan Shari’ati dalam dua pengertian, yaitu: Pertama, al-nas sebagai kutub sosial. Al-nas merupakan penjelmaan esensi kutub positif (Habil) masyarakat (masyarakat yang tertindas). Mereka adalah yang dikuasai dan ditindas oleh kutub Qabil (penguasa politik, para kapitalis dan agamawan bejat). Allah, bagi Shari’ati, berpihak pada al-nas. Hingga tak aneh, dalam penggunaannya, kata al-nas bisa ditukar dengan kata Allah dan sebaliknya. Menurut Shari’ati, posisi unik al-nas ini disebabkan karena al-Qur’an dialamatkan secara khusus untuk al-nas. Al-nas adalah “wakil-wakil” Allah dan “keluarga”-Nya. (Shari’ati, 1979: 116-117) Dan, posisi penting al-nas ini menempatkannya sebagai “faktor penentu” revolusi sosial. Al-nas yang sadar akan dirinya serta tanggung jawab sosialnya akan mendorong masyarakat menuju revolusi sosial. Kedua, al-nas sebagai massa (mass) atau rakyat (people). Shari’ati berpendapat bahwa sinonim yang paling mirip untuk mewakili kata al-nas adalah kata massa. Menurutnya, dalam terminologi sosiologi, massa terdiri dari segenap rakyat yang merupakan kesatuan tanpa menghiraukan perbedaan kelas ataupun sifat yang terdapat dalam kalangan mereka. Jadi, bagi Shari’ati, al-nas adalah massa. Massa adalah rakyat itu sendiri, tanpa menunjuk kepada kelas atau bentuk sosial tertentu. (Shari’ati, 1979: 49)
Read more

0 Tafsir Surat Al-Ikhlas - Tafsir Jalalain

 قُلْ هُوَ الله أَحَدٌ } فالله خبر «هو» و «أحد» بدل منه أو خبر ثان . 001.
(Katakanlah, "Dialah Allah Yang Maha Esa") lafal Allah adalah Khabar dari lafal Huwa, sedangkan lafal Ahadun adalah Badal dari lafal Allah, atau Khabar kedua dari lafal Huwa.

 الله الصمد } مبتدأ وخبر : أي المقصود في الحوائج على الدوام . 002.
(Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu) lafal ayat ini terdiri dari Mubtada dan Khabar; artinya Dia adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu untuk selama-lamanya.

 لَمْ يَلِدْ } لانتفاء مجانسته . { وَلَمْ يُولَدْ } لانتفاء الحدوث عنه . 003.
(Dia tiada beranak) karena tiada yang menyamai-Nya (dan tiada pula diperanakkan) karena mustahil hal ini terjadi bagi-Nya.

 وَلَمْ يَكُنْ لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ } أي مكافئاً ومماثلاً و «له» متعلق ب «كفواً» وقُدِّم عليه لأنه مَحطُّ القصد بالنفي ، وأَخَّر «أحد» وهو اسم «يكن» عن خبرها رعاية للفاصلة . 004.
(Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia) atau yang sebanding dengan-Nya, lafal Lahu berta'alluq kepada lafal Kufuwan. Lafal Lahu ini didahulukan karena dialah yang menjadi subjek penafian; kemudian lafal Ahadun diakhirkan letaknya padahal ia sebagai isim dari lafal Yakun, sedangkan Khabar yang seharusnya berada di akhir mendahuluinya; demikian itu karena demi menjaga Fashilah atau kesamaan bunyi pada akhir ayat
Read more

0 Malik Ishaq - Sejarah Awal Linge Isak

Jika kita mengikuti perkembangan zaman, tidak ada salahnya kita sebagai seorang yang berpendidikan untuk membahas sebuah sejarah. Yang mana dari sejarah lah kita mengetahui akan asal-usul terjadinya sesuatu. Jadi janganlah kita pernah melupakan sejarah.

Dalam perkembangannya, sejarah memiliki 3 bagian diantaranya adalah: sejarah tertulis, sejarah lisan, dan sejarah melalui cerita rakyat. Disini saya akan sedikit meringkas sebuah sejarah yang akan menceritakan siapakah orang yang mengembangkan tanah Gayo Aceh Tengah.

Dalam sejarah perkembangannya, menurut sejarah melalui cerita rakyat yang dapat dipercaya, bahwa orang yang pertama kali menginjakkan kakinya di tanah Gayo (Takengon, Aceh Tengah) adalah Genali pada tahun 600 M, dimana diceritakan Genali adalah anak dari raja Turki yang terdampar di Buntul kemudian dia menikah dengan putri Johor (anak dari raja Malaka).

Jadi dasar orang Linge ada 32. Selanjutnya Genali terhempas di Buntul. Selanjutnya yaitu Maliq Ishaq yang berasal dari Arab, dia berlayar dengan dipimpin oleh awak kapal Maddineyah, kemudian mereka berhenti di Perlak. Kemudian mereka berjalan berpindah wilayah ke Tengah Aceh yang diberi nama Ishaq yang kemudian sekarang menjadi Isaq. Selanjutnya Ishaq perkembangannya sangat pesar di Aceh. Diawal berkembangnya masyarakat diajak belajar dirumah Maliq Ishaq yang disebut sebagai madrasah dan oleh orang Gayo dirubah menjadi Meursah/Menasah, sehingga Maliq Ishaq dikenal juga sebagai Muyang Mersah.

Dari pernikahannya, Maliq Ishaq memiliki anak 7 orang, yang kesemuanya laki-laki. Diantara anak-anaknya adalah sebagai berikut :
  1. Merah Jernang
  2. Merah Bacang
  3. Merah Putih
  4. Merah Item
  5. Merah Pupuk
  6. Merah Silu
  7. Merah Mege
Dari ketujuh anak ini, Maliq Ishaq sangat meyayangi anak bungsunya yaitu Merah Mege, sehingga membuat saudaranya cemburu karenanya, sehingga keenam saudaranya memiliki niat yang tidak baik terhadap adik bungsunya tersebut. Dari cerita yang kita dengar, keenam kakaknya tersebut meninggalkan Merah Mege di sebuah sumur dan meninggalkannya sendirian, sehingga tempat yang ditinggalkannya itu dikenal sebagai “Muyang Datu”.

Ketika keberadaan Merah Mege berada di Loyang Datu, dia diberi makan oleh anjingnya yang setia yang bernama “Pase”. Melihat keadaan tuannya yang seperti itu disebabkan oleh abang-abangnya, maka “Pase” tersebutlah yang mencarikan makanan untuk Merah Mege.

Keanehan dan keganjilan terus terjadi dari “Pase” ini tentunya membuat curiga dan mendapat perhatian dari Muyang Mersah (Maliq Ishaq), hingga ia memutuskan untuk dapat mengikuti anjing tersebut. Sehingga suatu hari dia memberikan makanan tersebut kepada anjing itu dan ia juga menaruh dedak (sejenis serbuk dari hasil gilingan padi, ampasnya). Sehingga kemana pun anjing tersebut melangkah Muyang Mersah mengetahuinya. Dan akhirnya ditemukan lah Merah Mege sehingga Muyang Mersah mengadakan pesta besar-besaran.

Kemudian Merah Mege menjadi pusaka, dan keturunannya tersebar di seluruh Aceh, meulaboh, Aceh Selatan daerah Kluet, seluruh perairan diseluruh Aceh, didahului dengan nama Merah.

Akhirnya keenam anak Muyang Mersah saudara Merah Mege melarikan diri. Pertama kali lari ke Ishaq karena malu. Namun begitu diketahui Raja dan kemudian akan disusul, mereka lari ke Tukel, kemudian membuka daerah yang bernama Jagong. Kemudian dikejar kembali sampai akhirnya ke Serbe Jadi. Dikejar terus anaknya, karena sayang, setelah rasa marah sang Muyang Mersah hilang. Namun mereka sudah amat malu kepada ayahnya, akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dengan catatan akan menyebarkan agama Islam pada daerah yang ditempatinya.

Sisulung yaitu Merah Jernang, pergi ke Batak untuk mengembangkan Islam ke daerah Barus, Tapanuli. Yang kedua Merah Bacang, ke Kala Lawe Meulaboh.

Sedangkan yang ketiga, Merah Pupuk mengembangkan agama Islam ke Lamno Deye antara Meulaboh dan Kute Reje.

Yang keempat dan kelima, Merah Poteh dan Merah Item di Belacan, di Merah Dua, atau dikenal dengan Meurdu, hingga sekarang masih ada.

Sedangkan yang keenam, Merah silu pergi ke Gunung Sinabung, Blang Kejeren. Disini Merah Silu mengembara dan memiliki anak yang diberi nama Merah Sinabung. Disini Merah Sinabung lebih berwatak sebagai seorang panglima, sehingga hobinya adalah mengembara sehingga ia sampai pada suatu daerah yang tengah berperang. Perang yang terjadi antara kerajaan Jempa dan Samalanga. Kerajaan Jempa pada saat itu sudah beragama Islam, hingga akhirnya ia menawarkan bantuan kepada raja Jempa tersebut dan berhasil memenangkan peperangan dengan kerajaan Samalanga. Jasa baiknya tersebut akhirnya membuat raja Jempa menikahkan putrinya kepada Merah Sinabung (anak Merah Silu).

Setelah terjadi pernikahan, Merah Sinabung memiliki 2 orang anak yang bernama Malik Ahmad dan Merah Silu (diambil dari nama kakeknya). Setelah Merah Sinabung wafat maka naiklah Malik Ahmad menjadi raja Jempa. Akan tetapi ada yang lebih dicintai oleh penduduk setempat yaitu Merah Silu karena ia lebih berbakat dan lebih alim.

Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka oleh ibunya, Merah Silu akhirnya dikirim ke daerah Arun (Blang Sukun). Untuk menghabiskan waktunya ia bekerja sebagai pandai emas, besi dan barang logam lainnya. Sedangkan malamnya ia mengajar mengaji. Sehingga lama-kelamaan orang sekitar mengenal Merah Silu sebagai mualim, tokoh masyarakat, dan akhirnya ia menjadi raja di Lhokseumawe. Kemudian beliau diangkat menjadi Sultan Pase pertama atau juga biasa disebut dan dikenal dengan Sultan Malikussaleh. Sebutan daerahnya, Pase, merupakan sebutan yang diambil dari nama anjing yang telah menyelamatkan kakeknya (datunya), Merah Mege.
Read more

0 Membedakan antara Kekufuran, Kemusyrikan, dan Kemunafiqan yang Besar dan yang Kecil

SATU hal yang sangat penting di sini ialah kemampuan untuk membedakan tingkat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan. Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan ini ada tingkat-tingkatnya.
Akan tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu istilah, yakni kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar. Kita mesti mengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak mencampur adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehingga kita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa kekufuran yang paling besar (yakni ke luar dari agama ini) padahal mereka sebenarnya masih Muslim. Dengan menguasai penggunaan istilah itu, kita tidak menganggap suatu kelompok orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap mereka, padahal mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Untuk menangani masalah ini sebaiknya kita mengaca pada peribahasa Arab: "Hidungmu adalah bagianmu, walaupun hidung itu pesek."

KEKUFURAN BESAR DAN KEKUFURAN KECIL
Sebagaimana diketahui bahwasanya kekufuran yang paling besar ialah kekufuran terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, sebagaimana yang telah kami sebutkan di muka sehubungan dengan kekufuran orang-orang atheis; atau kekufuran terhadap kerasulan Muhammad saw sebagaimana kekufuran yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani. Mereka dikategorikan sebagai orang-orang kafir terhadap kerasulan Muhammad dalam hukum-hukum dunia Adapun balasan yang akan diterima oleh mereka, tergantung kepada sejauh mana rintangan yang pernah mereka lakukan terhadap Rasulullah saw setelah dijelaskan bahwa beliau adalah Rasulullah saw; sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (an-Nisa': 115)

Adapun bagi orang yang belum jelas kebenaran baginya, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka, atau telah sampai tetapi tidak begitu jelas sehingga dia tidak dapat memandang dan mempelajarinya, maka dia termasuk orang-orang yang dimaafkan. Allah SWT berfirman:

"... dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (al-Isra,: 15)

Diyakini bahwasanya kaum Muslimin bertanggung jawab --sampai kepada batas yang sangat besar-- terhadap kesesatan bangsa-bangsa di muka bumi; kebodohan mereka akan hakikat Islam; dan keterjerumusan mereka kepada kebathilan musuh Islam. Kaum Muslimin harus berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh untuk menyampaikan risalah Islam, menyebarkan dakwah mereka kepada setiap bangsa dengan bahasa mereka, sehingga mereka mendapatkan penjelasan mengenai Islam dengan sejelasjelasnya, dan panji risalah Muhammad dapat ditegakkan.
Sedangkan kekufuran yang kecil ialah kekufuran yang berbentuk kemaksiatan terhadap agama ini, bagaimanapun kecilnya.
Misalnya orang yang sengaja meninggalkan shalat karena malas, dengan tidak mengingkari dan tidak mencelanya. Orang seperti ini, menurut jumhur ulama adalah orang yang berbuat maksiat, atau fasiq, dan tidak kafir; walaupun dalam beberapa hadits dikatakan sebagai kafir. Sebagaimana hadits: "Batas antara kami dan mereka adalah shalat." "Barangsiapa yang meninggalkannya, maka dia termasuk kafir."3 "Batas antara seseorang dengan kekufuran ialah meninggalkan shalat."4
Ibn Hazm --dengan Zhahiriyahnya-- tidak mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat termasuk kafir... Selain itu, ada riwayat yang berasal dari Imam Ahmad tidak mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu adalah kafir. Tetapi dia dihukumi sebagai orang kafir, kalau imam atau qadhi telah memanggilnya dan memintanya untuk bertobat, kemudian dia enggan menuruti permintaan itu.
Imam Ibn Qudamah mendukung pendapat tersebut dan mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat itu tidak kafir --asal orang itu tidak mengingkarinya dan tidak mengabaikannya. Jika dia dibunuh karena meninggalkan shalat, maka hal itu adalah sebagai pelaksanaan hudud dan bukan karena kafir. Ada riwayat lain yang juga berasal dari Ahmad, yang dipilih oleh Abu Abdillah bin Battah, yang tidak setuju dengan pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir. Abu Abdillah mengatakan, "Inilah pendapat mazhab, dan tidak ada pendapat yang bertentangan dengannya dalam mazhab ini."
Ibn Qudamah mengatakan, "Ini merupakan pendapat kebanyakan fuqaha, dan juga pendapat Abu Hanifah, Malik dan Syafi'i..." seraya mengutip hadits-hadits yang disepakati ke-shahih-annya 5 yang mengharamkan api neraka atas orang yang mengatakan: "Tiada tuhan selain Allah," dan orang yang mengatakannya akan dikeluarkan darinya; karena di dalam hati orang ini masih ada kebaikan sebesar biji gandum. Selain itu, Ibn Qudamah juga berargumentasi dengan qaul para sahabat dan konsensus kaum Muslimin yang mengatakan, "Sesungguhnya kami belum pernah mengetahui pada suatu zaman yang telah berlalu ada seseorang yang meninggalkan shalat kemudian dia tidak dimandikan dan dishalatkan ketika meninggal dunia, kemudian tidak dikubur di kuburan kaum Muslimin; atau yang ahli warisnya tidak boleh mewarisi dirinya, atau dia mewarisi keluarganya yang telah meninggal dunia; atau ada dua orang suami istri yang dipisahkan karena salah seorang di antara keduanya meninggalkan shalat, padahal orang yang meninggalkan shalat sangat banyak. Kalau orang yang meninggalkan shalat dianggap sebagai kafir, maka akan jelaslah hukum yang berlaku atas mereka."
Ibn Qudamah menambahkan, "Kami belum pernah mengetahui pertentangan yang terjadi antara kaum Muslimin tentang orang-orang yang meninggalkan shalat bahwa mereka wajib mengqadhanya. Sampai kalau dia murtad, dia tidak wajib mengqadha shalat dan puasanya. Adapun hadits-hadits terdahulu (yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat dianggap kafir), maka sesungguhnya hadits tersebut ingin memberikan tekanan yang lebih berat dan menyamakannya dengan kekufuran, dan bukan ungkapan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah s aw, "Mencela orang Muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran."6

"Barangsiapa berkata kepada saudaranya, 'Hai kafir, maka sesungguhnya kalimat ini akan kembali kepada salah seorang di antara mereka."7

Ungkapan-ungkapan seperti itu sebetulnya dimaksudkan untuk memberikan tekanan dan ancaman, dan pendapat terakhir inilah yang paling tepat di antara dua pendapat di atas. Wallah a'lam.8

PENJELASAN IMAM IBN AL-QAYYIM
Dalam buku al-Madarij, imam Ibn al-Qayyim berkata, "Kekufuran itu adalah dua macam: kufur besar dan kufur kecil. Kufur besar adalah penyebab kekalnya seseorang di api nereka, sedangkan kufur kecil hanya menyebabkan ancaman Allah SWT dan tidak kekal di api neraka." Sebagaimana dijelaskan oleh sabda Nabi saw,
"Ada dua hal yang menyebabkan kekafiran dalam umatku: yaitu orang yang menyesali nasabnya dan orang yang berkhianat."9

Dalam as-Sunan, Nabi saw bersabda,
"Barangsiapa mendatangi istrinya dari duburnya, maka dia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad." 10

Dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda,
"Barangsiapa datang kepada dukun atau peramal, kemudian dia mempercayai apa yang dia katakan, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad." 11
"Janganlah kamu menjadi kafir lagi sesudahku, kemudian sebagian dari kamu memukul leher sebagian yang lain."12

Berikut ini ada baiknya kami kemukakan tentang penakwilan Ibn Abbas dan para sahabat yang lainnya terhadap firman Allah SWT:

"Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir." (al-Ma'idah: 44)

Ibn Abbas berkata, "Bukan kafir yang mengakibatkan pindahnya agama, tetapi kalau dia melalukannya maka dia dianggap kafir, dan tidak seperti orang yang kafir terhadap Allah dan hari akhir." Begitu pula pendapat Thawus.
Atha' berkata, "Yang serupa itu adalah kekufuran di bawah kekufuran kezaliman di bawah kezaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan."
Sebagian dari mereka ada yang mentakwilkan ayat meninggalkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT sebagai orang yang ingkar kepada-Nya. Ini adalah pendapat Ikrimah. Penakwilan ini tidak dapat diterima karena sesungguhnya ingkar kepada-Nya adalah kufur.
Diantara mereka ada yang menakwilkan bahwa meninggalkan hukum yang dimaksudkan oleh ayat di atas ialah meninggalkan hukum dengan seluruh ayat yang diturunkan oleh Allah SWT. Dia menambahkan: "Termasuk di dalamnya ialah hukum yang berkaitan dengan tauhid dan Islam." Ini adalah penakwilan Abd al-Aziz al-Kinani, yang merupakan penakwilan yang jauh juga. Karena sesungguhnya ancamannya diberikan kepada orang yang menafikan hukum yang telah diturunkan olehnya, yang mencakup penafian dalam kadar yang banyak (semuanya) atau hanya sebagian saja.
Ada juga orang yang menakwilkan ayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang dimaksudkan ialah menetapkan hukum yang bertentangan dengan nash, dengan sengaja, bukan karena tidak mengetahui atau karena salah takwil. Begitulah yang dikisahkan oleh al-Baghawi dari para ulama pada umumnya.
Ada yang mentakwilkan bahwa yang dimaksudkan oleh ayat itu ialah para ahli kitab. Yaitu pendapat Qatadah, al-Dhahhak, dan lain-lain. Dan ini dianggap sebagai penakwilan yang cukup jauh, karena bertentangan dengan bentuk lahiriah lafal tersebut sehingga ia tidak dapat ditakwilkan seperti itu.13
Ada pula yang berpendapat: "Hal itu adalah kufur yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama ini."
Yang benar ialah bahwa sesungguhnya memutuskan hukum dengan sesuatu yang tidak diturunkan oleh Allah SWT mengandung dua kekufuran, kecil dan besar, melihat keadaan hakimnya. Kalau dia berkeyakinan bahwa wajib baginya untuk menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam suatu masalah, kemudian dia mengetahui bahwa menyimpang darinya dianggap sebagai suatu kemaksiatan, dan dia juga mengakui bahwa hal itu akan mendapatkan siksa, maka tindakan ini termasuk kufur kecil. Jika dia berkeyakinan bahwa tidak wajib baginya menetapkan hukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam suatu masalah, kemudian dia merasa bebas untuk menetapkan hukum tersebut --padahal dia yakin bahwasanya ada hukum Allah dalam masalah tersebut-- maka tindakan ini dianggap sebagai kekufuran besar. Jika dia tidak tahu dan dia melakukan kesalahan, maka dia dianggap bersalah dan dihukum sebagai orang yang memiliki dua kesalahan.
Maksudnya, sesungguhnya semua kemaksiatan merupakan satu bentuk kekufuran kecil. Ia bertolak belakang dengan kesyukuran, yakni bekerja untuk melakukan ketaatan. Upaya untuk menetapkan hukum itu sendiri boleh jadi merupakan satu bentuk kesyukuran, atau kekufuran, atau yang lain, yaitu tidak syukur atau tidak kufur.... Wallah a'lam.14

KEMUSYRIKAN BESAR DAN KEMUSYRIKAN KECIL
Sebagaimana adanya pembagian kategori besar dan kecil dalam kekufuran, begitu pula dalam kemusyrikan. Ada yang besar dan ada pula yang kecil.
Kemusyrikan yang besar telah diketahui bersama, sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Qayyim: "Yaitu mempersekutukan sesuatu dengan Allah SWT. Mencintai sesuatu sebagaimana dia mencintai Allah. Inilah kemusyrikan yang setara dengan kemusyrikan karena menyamakan tuhan-tuhan orang musyrik dengan Tuhan alam semesta. Dan oleh karena itu, mereka berkata kepada tuhan-tuhan mereka ketika di neraka kelak, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu di dunia dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan alam semesta.'"15
Kemusyrikan seperti ini tidak dapat diampuni kecuali dengan tobat kepada-Nya, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari syirik itu, bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya..." (an-Nisa': 48)

Dapat diampuni kalau seseorang tidak mengetahui bahwa amalan itu adalah amalan jahiliyah dan musyrik, yang sangat dicela oleh al-Qur'an, sehingga dia terjerumus ke dalamnya, mengakui kebenarannya, dan menganjurkan orang kepadanya, serta menganggapnya sebagai sesuatu yang baik. Dia tidak tahu bahwa apa yang sedang dia lakukan adalah pekerjaan orang jahiliyah, atau orang yang serupa dengannya, atau orang yang lebih jahat daripada mereka atau di bawah mereka. Karena ketidaktahuannya, hatinya menentang Islam, menganggap kebaikan sebagai kemungkaran, dan menganggap kemungkaran sebagai kebaikan; menganggap sesuatu yang bid'ah sebagai Sunnah, dan menganggap sunnah sebagai bid'ah; mengkafirkan orang lain yang beriman dan bertauhid, serta menganggap bid'ah orang-orang yang mengikuti R3Sulullah saw, orang-orang yang menjauhi hawa nafsu dan segala bentuk bid'ah. Oleh sebab itu, barangsiapa yang memiliki mata hati yang hidup, maka dia akan melihat kebenaran itu dengan mata kepalanya sendiri.
Ibn al-Qayyim berkata, "Sedangkan kemusyrikan kecil adalah seperti riya', memamerkan diri kepada makhluk Allah, bersumpah dengan selain Allah, sebagaimana ditetapkan oleh hadits Nabi saw yang bersabda,

"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah musyrik." 16

Dan ucapan seseorang kepada orang lain: 'Kalau Allah menghendaki dan engkau menghendaki'; 'Ini berasal dari Allah dan dari engkau'; 'Aku bersama Allah dan engkau'; 'Kepada siapa lagi aku bergantung kecuali kepada Allah dan engkau'; 'Aku bertawakkal kepada Allah dan kepadamu'; 'Jika tidak ada kamu, maka tidak akan terjadi begini dan begitu'; dan ucapan-ucapan seperti ini dapat dikategorikan sebagai kemusyrikan besar, terpulang kepada orang yang mengatakannya dan tujuannya. Nabi saw bersabda kepada seorang lelaki yang berkata kepadanya: "Kalau Allah SWT dan engkau menghendakinya." Maka Nabi saw bersabda, "Apakah engkau hendak menjadikan diriku, sebagai sekutu Allah? Katakan: "Kalau Allah sendiri menghendaki."" Ucapan seperti ini adalah yang paling ringan dibandingkan dengan ucapan yang lainnya.
Di antara bentuk kemusyrikan lainnya ialah sujudnya seorang murid kepada syaikhnya. Orang yang bersujud, dan orang yang disujudi dianggap sama-sama melakukan kemusyrikan.
Bentuk yang lainnya yaitu mencukur rambut untuk syaikhnya, karena sesungguhnya hal ini dianggap sebagai penyembahan terhadap selain Allah, dan tidak ada yang berhak mendapatkan penyembahan dengan cara mencukur rambut kecuali dalam ibadah kepada Allah SWT saja.
Bentuk kemusyrikan yang lainnya ialah bertobat kepada syaikh. Ini adalah suatu kemusyrikan yang besar. Karena sesungguhnya tobat tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah SWT. Seperti shalat, puasa, dan haji. Ibadah-ibadah ini hanya khusus untuk Allah SWT saja.
Dalam al-Musnad disebutkan bahwa kepada Rasulullah saw didatangkan seorang tawanan, kemudian dia berkata, "Ya Allah, sesunggguhnya aku bertobat kepada-Mu dan tidak bertobat kepada Muhammad." Maka Rasulullah saw bersabda, "Dia telah mengetahui hak untuk yang berhak memilikinya."
Tobat adalah ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah SWT sebagaimana sujud dan puasa.
Bentuk kemusyrikan lainnya ialah bernazar kepada selain Allah, karena sesungguhnya hal ini termasuk kemusyrikan dan dosanya lebih besar daripada dosa bersumpah atas nama selain Allah .
Kalau ada orang yang bersumpah dengan selain Allah dianggap musyrik, maka bagaimana halnya dengan orang yang bernazar untuk selain Allah? Dalam as-sunan ada hadits yang berasal dari Uqbah bin 'Amir dari Rasulullah saw yang bersabda, "Nazar adalah sumpah."
Di antara bentuk kemusyrikan yang lainnya ialah takut kepada selain Allah, bertawakkal kepada selain Allah, dan beramal karena selain Allah, tunduk dan merendahkan diri kepada selain Allah, meminta rizki kepada selain Allah, dan memuji kepada selain Allah karena memberikan sesuatu kepadanya dan tidak memuji kepada Allah SWT, mencela dan marah kepada Allah karena belum mendapat rizki, dan belum ditakdirkan untuk mendapatkannya, menisbatkan nikmat-nikmat-Nya kepada selain Allah, dan berkeyakinan bahwa di alam semesta ini ada sesuatu yang tidak dijangkau oleh kehendak-Nya." 17

KEMUNAFIQAN BESAR DAN KEMUNAFIQAN KECIL
Kalau di dalam kekufuran dan kemusyrikan ada yang besar dan ada juga yang kecil, maka begitu pula halnya dengan kemunafiqan. Ia juga ada yang besar dan ada pula yang kecil.
Kemunafiqan besar adalah kemunafiqan yang berkaitan dengan aqidah, yang mengharuskan pelakunya tetap tinggal selama-lamanya di dalam neraka. Bentuknya ialah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan Islam. Beginilah bentuk kemunafiqan pada zaman Nabi saw, yang ciri-cirinya disebutkan di dalam al-Qur'an dan di jelaskan kepada hamba-hamba yang beriman, agar mereka berhati-hati terhadap orang-orang munafiq, sehingga mereka sedapat mungkin menjauhi perilaku mereka.
Sedangkan kemunafiqan kecil ialah kemunafiqan dalam amal perbuatan dan perilaku, yaitu orang yang berperilaku seperti perilaku orang-orang munafiq, meniti jalan yang dilalui oleh mereka, walaupun orang-orang ini sebenarnya memiliki aqidah yang benar. Inilah sebenarnya yang diingatkan oleh beberapa hadits yang shahih.

"Ada empat hal yang apabila kamu berada di dalamnya, maka kamu dianggap sebagai orang munafiq murni. Dan barangsiapa yang mempunyai salah satu sifat tersebut, maka dia dianggap sebagai orang munafiq hingga ia meninggalkan sifat tersebut. Yaitu apabila dia dipercaya dia berkhianat, apabila berbicara dia berbohong, dan apabila membuat janji dia mengingkari, apabila bertengkar dia melakukan kecurangan." 18

Hadits yang lain menyebutkan, "Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: Apabila bicara, dia berbohong; apabila berjanji dia mengingkarinya; dan apabila dipercaya, dia berkhianat."19
Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Walaupun dia berpuasa, shalat, dan mengaku bahwa dia Muslim." 20
Hadits-hadits ini dan hadits-hadits yang serupa dengannya menjadikan para sahabat mengkhawatirkan bahwa diri mereka termasuk golongan munafiq. Sehingga al-Hasan berkata, "Tidak ada yang takut kecuali omng mu'min dan tidak ada yang merasa aman darinya kecuali orang munafiq."
Bahkan, Umar berkata kepada Hudzaifah yang pernah diberi penjelasan oleh Nabi saw mengenai ciri-ciri orang munafiq: "Apakah diriku termasuk golongan mereka?"
Umar r.a. pernah memperingatkan adanya orang munafiq yang cerdik pandai, sehingga ada orang yang bertanya, "Bagaimana mungkin ada orang munafiq yang pandai?" Dia menjawab: "Pandai lidahnya, tetapi bodoh hatinya."
Sebagian sahabat berkata, "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dan kekhusyu'an orang munafiq?" Lalu ada orang yang berkata kepada mereka, "Bagaimanakah bentuknya kekhusyu'an orang munafiq itu?" Dia menjawab, "Badannya kelihatan khusyu' tetapi hatinya tidak khusyu'." 21

DOSA-DOSA BESAR
Setelah kekufuran dan berbagai tingkatannya, maka di bawahnya ada kemaksiatan, yang terbagi menjadi dosa-dosa besar, dan dosa-dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sangat berbahaya, yang dapat menimbulkan kemurkaan, laknat Allah, dan neraka Jahanam. Orang yang melakukannya kadang-kadang harus dikenai hukum had di dunia ini.
Para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan terhadap dosa besar ini. Barangkali yang paling dekat ialah kemaksiatan yang pelakunya dapat dikenakan had di dunia, dan diancam dengan ancaman yang berat di akhirat kelak, seperti masuk neraka, tidak boleh memasuki surga, atau mendapatkan kemurkaan dan laknat Allah SWT. Itulah hal-hal yang menunjukkan besarnya dosa itu.
Ada pula nash-nash agama yang menyebutkan batasannya secara pasti dan mengatakannya ada tujuh 22 macam dosa besar setelah kemusyrikan; yaitu: Membunuh orang yang diharamkan oleh Allah untuk membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar; sihir; memakan riba; memakan harta anak yatim; menuduh perempuan mukmin melakukan zina; melakukan desersi dalam peperangan. Sedangkan hadits-hadits shahih lainnya menyebutkan: Menyakiti kedua hati orang tua, memutuskan tali silaturahim, menyatakan kesaksian yang palsu, bersumpah bohong, meminum khamar, berzina, melakukan homoseksual, bunuh diri, merampok, mempergunakan barang orang lain secara tidak benar, mengeksploitasi orang lain, menyogok, dan meramal.
Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci.
Dosa-dosa besar yang disebutkan oleh pelbagai hadits banyak sekali macamnya. Oleh karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh hadits, "Tidakkah telah saya beritahukan kepada kamu semua mengenai dosa-dosa besar?"23 Kemudian beliau menyebutkan berbagai dosa besar setelah kemusyrikan: menyakiti hati kedua orangtua, dan mengucapkan persaksian yang palsu.
Dalam sebuah hadits shahih dikatakan bahwa Nabi saw bersabda. "Sesungguhnya, yang termasuk salah satu dosa besar ialah orang yang melaknat kedua orang tuanya." Kemudian ada seorang sahabat yang bertanya: "Bagaimana mungkin seseorang dapat melaknat kedua orang tuanya?" Nabi saw menjawab, "Seorang lelaki, mencela ayah seorang lelaki, yang lainnya, kemudian lelaki yang ayahnya dicela itu mencela ayah orang yang mencelanya, dan mencela ibunya."24

Yakni orang yang ayahnya dicela itu, kemudian membalasnya dengan mencela ayah dan ibunya.
Hadits Nabi saw menganggap bahwa pencelaan terhadap kedua orangtua secara tidak langsung termasuk salah satu jenis dosa besar, dan bukan hanya termasuk sesuatu yang diharamkan; lalu bagaimana halnya dengan orang yang langsung mencela dan menyakiti hati kedua orangtuanya? Bagaimana halnya dengan orang yang langsung menyiksa dan memukul kedua orang tuanya?
Bagaimana pula dengan orang yang membuat kehidupan mereka bagaikan neraka jahim karena kekerasan dan perbuatan yang menyakitkan hati?
Syariah agama ini telah membedakan antara kemaksiatan yang didorong oleh suatu kelemahan dan kemaksiatan yang didorong oleh kezaliman. yang pertama ialah bagaikan zina, dan yang kedua ialah bagaikan riba. Dari riba adalah dosa yang paling berat di sisi Allah SWT, sehingga al-Qur'an tidak pernah mengatakan sesuatu maksiat sebagaimana yang dikatakannya dalam hal riba:

"... dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang- orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu ..." (al-Baqarah: 278-279)

Rasulullah saw yang mulia melaknat orang yang memakan riba, orang yang menyuruh orang lain memakan riba, penulisnya, dan kedua saksi atas perbuatan riba itu, sambil bersabda,
"Satu dirham riba yang dimakan oleh seorang lelaki dan dia mengetahui, maka hal itu lebih berat daripada tiga puluh enam kali berzina."25

Dan beliau membagi riba menjadi tujuh puluh macam, atau tujuhpuluh dua atau tujuh puluh tiga macam. Yang paling rendah dari berbagai macam bentuk itu ialah seorang lelaki yang menikahi ibunya.26

 Dikutip langsung dari buku "Fiqh Prioritas" Karya Syeikh Yusuf Al-Qardawy.
=========
Catatan Kaki:
3 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibn Hibban, dan Hakim dari Buraidah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (4143)
4 Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Jabir, ibid., (2848)
5 Lihatlah hadits~hadits ini dalam al-Mughni, 3:356; yang ditahqiq oleh Dr. Taraki dan Dr. Halwa.
6 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Mas'ud, al-Lu'lu' wa al-Marjan (43)
7 Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar, ibid., 39
8 Lihat al-Mughni, 3:351-359
9 Diriwayatkan oleh Ahmad, dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.(Shahih al-Jami' as-Shaghir: 138).
10 Diriwayatkan oleh Abu Dawud (3904); Tirmidzi (135); dan Ibn Majah (939).
11 Diriwayatkan oleh Ahmad, Hakim, dari Abu Hurairah r.a. (Shahih al-Jami' as-Shaghir).
12 Muttafaq 'Alaih dari Jarir dan Ibn Umar, sebagaimanadisebutkan dalam al-Lu'lu'wal-Marjan (44) dan (45).
13 Lihat rincian yang berkaitan dengan masalah ini dalam fatwa- fatwa yang terperinci dalam buku kami yang berjudul, Fatawa Mu'ashirah, juz 2, bagian Fatwa: al-Hukm bi ghair ma Anzala Allah.
14 Lihat Madarij as-Salikin, 1: 335-337
15 Surat as-Syu'ara', 97-98
16 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan Hakim dari Ibn Umar (Shahih al-Jami' as-Shaghir, 8462)
17 Lihat Madarij as-Salikin, 1:344-346.
18 Muttafaq 'Alaih, dari Abdullah bin Umar; al-Lu'lu' wal-Marjan (37).
19 Muttafaq 'Alaih, dari Abu Hurairah r.a., ibid., (38).
20 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab al-Iman, 109, 110.
21 Madarij al-Salikin, 1: 358
22 Lihat makalah kami yang membahas tentang kemurtadan dan cara mengatasinya dalam masyarakat Islam; di dalam buku kami yang berjudul Malaamih al-Majtama' al-Muslim al-ladzi, Nansyuduh, bagian al-'Aqidah wa al-Iman, penerbit Maktabah Wahbah, Kairo.
23 Ada riwayat dari Abu Hurairah r.a. dalam as-Shahihain dan lain-lain, yang mengisyaratkan tentang 41 dosa besar ini, yaitu hadits: "Jauhilah tujuh macam dosa besar (atau hal-hal yang dapat membinasakan)." Al-Lu'lu' wa al-Marjan (56).
24 Hadits Abu Bakar, yang diriwayatkan oleh Muttafaq 'Alaih; al-Lu'lu' wa al-Marjan (54).
25 Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin Hanzhalah, sebagaimane disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir.
26 Diriwayatkan oleh Thabrani dari al-Barra'; al-Hakim dari Ibn Mas'ud; Ibn Majah dari Abu Hurairah r.a. sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3537) (3539) dan (3541)
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger