Showing posts with label Metode-Metode. Show all posts
Showing posts with label Metode-Metode. Show all posts

0 Impulse Buying dan Hedonic Shopping Motivation

A.     Impulse Buying

1.      Pengertian Impulse Buying

Pembelian impulsif adalah suatu tindakan pembelian yang dibuat tanpa direncanakan sebelumnya atau keputusan pembelian yang dilakukan pada saat berada didalam toko. Pembelian konsumen yang bersifat Impulse Buying ini dapat didasari adanya perubahan gaya hidup berbelanja (Shopping lifestyle) yang semakin bervariasi. (Engel, Blavkwell, & Miniard, 1995). Menurut Rook dalam (Nurcholish, 2017), Impulse Buying merupakan perilaku belanja yang terjadi secara tidak terencana, tertarik secara emosional, dimana proses pembuatan keputusan dilakukan dengan cepat tanpa berfikir secara bijak dan pertimbangan terhadap keseluruhan informasi dan alternatif yang ada.

Impulse Buying didefenisikan sebagai “keputuan pembelian yang dibuat oleh pelanggan secara spontan atau seketika setelah melihat barang yang dijual” (Utami C. W., 2006). Earl dan Kemp dalam (Gunadhi & Japarianto, 2015), bahwa Impulse Buying merupakan sebuah tindakan pembelian yang dilakukan tanpa adanya perencanaan terdahulu, dan dijalankan semua tindakan pembelian yang dilakukan diluar daftar belanja.

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Impulse Buying

Menurut Loudon dan Bitta (Anin, Rasimin, & Atamimi, 2012), faktor-faktor yang mempengaruhi Impulse Buying adalah sebagai berikut :

 

1)      Produk dengan karakteristik harga murah, kebutuhan kecil atau marginal, produk jangka pendek,dan ukuran kecil.

2)      Pemasaran dan marketing yang meliputi distribusi dalam jumlah banyak outlet yang self service, iklan melalui media massa yang sangat sugestibel dan terus menerus, iklan di titik penjualan.

3)      Karakteristik konsumen seperti kepribadian, jenis kelamin, social demografi atau karakteristik sosial ekonomi.

Menurut Kacen dan Lee dalam (Dawson & Kim, 2009), sebagai berikut:

1)      Ketersediaan Waktu dan Uang

2)      Emosi, adanya pencampuran rasa senang, kegairahan, dan kekuasaan

3)      Identitas diri, seperti jenis kelamin maupun salah satu perbedaan

3.      Indikator Impulse Buying

Menurut Bayley dan Nancarrow dalam (Yistianti, Yasa, & Suasana, 2012), Impulse Buying memiliki empat indikator yaitu:

1)      Pembelian secara spontan

2)      Sering membeli tanpa berpikir terlebih dahulu.

3)      Membeli sesuatu dengan terburu-buru.

4)      Pembelian dipengaruhi oleh kondisi emosional

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1)      Pembelian secara spontan

Ketika pelanggan melakukan pembelian tanpa direncanakan terdahulu

2)      Sering membeli tanpa berpikir terlebih dahulu.

Ketika pelanggan melakukan pembelian tanpa memikirkan tentang konsekuensi dari pembelian yang dilakukan.

3)      Membeli sesuatu dengan terburu-buru.

Adalah situasi kondisi pelanggan mengalami bahwa mereka terlalu tergesa-gesa dalam membeli sesuatu.

4)      Pembelian dipengaruhi oleh kondisi emosional

Adalah suatu kondisi dimana pelanggan melakukan aktivitas berbelanja yang dipengaruhi oleh keadaan emosi yang dirasakan.

 

B.     Hedonic shopping motivation

1.      Pengertian Hedonic shopping motivation

Motivasi dapat digambarkan sebagai tenaga pendorong dalam diri individu yang memaksa mereka untuk bertindak (Schiffman dan Kanuk, 2008:72). Tenaga pendorong tersebut dihasilkan oleh keadaan tertekan, yang timbul sebagai akibat kebutuhan yang tidak terpenuhi. Konsumen akan terbebas dari tekanan yang mereka rasakan. Tujuan spesifik yang mereka pilih dan pola tindakan yang mereka ambil untuk mencapai tujuan ini adalah hasil dari pemikiran individu dan proses pembelajaran. (Schiffman dan Kanuk, 2008:72). Ada dua hal yang memotivasi berbelanja konsumen yaitu hedonic dan utilitarian.

Utilitarian merupakan sebagai pengalaman positif di mana konsumen dapat menikmati pengalaman emosional yang memuaskan terkait dengan aktivitas belanja terlepas dari apakah ada pembelian atau tidak.(Kim, 2006). Dalam penelitian ini terdapat dua dimensi dari motivasi belanja utilitarian yaitu akan dijelaskan sebagai berikut Babin et al, 1994dalam (Kim, 2006) :

1)      Efisiensi (Efficiency), yaitu ditujukan terhadap kebutuhan konsumen untuk menghemat waktu dan sumber daya.

2)      Prestasi (Achievement), yaitu dianggap sebagai tujuan yang berhubungan dengan orientasi belanja dimana kesuksesan dalam mencari produk-produk yang lebih spesifik yang direncanakan diluar rencananya sebelumnya merupakan hal penting.

Hedonic shopping motives yaitu kebutuhan yang bersifat psikologis seperti rasa puas, gengsi, emosi, dan perasaan subjektif lainnya. Kebutuhan ini seringkali muncul untuk memenuhi tuntutan sosial dan estetika dan disebut juga motif emosional (Setiadi, 2003). Aktivitas berbelanja yang didasarkan keinginan berasal dari individu atau motivasi, Sifat hedonis ini muncul ketika seseorang sedang browsing di marketplace. Menurut (Scarpi, 2006), hedonic shopping menggambarkan nilai pengalaman berbelanja yang meliputi fantasi, sensor rangsangan, kegembiraan, kesenangan, keingintahuan dan khayalan kegembiraan.

Menurut (Kim, 2006), bahwa Hedonic shopping motivation identik dengan pemenuhan aspek non fungsional konsumen. Menurut (Arnold & Reynolds, 2003), motivasi hedonis adalah aktivitas pembelian yang didorong oleh perilaku yang terkait dengan panca indera, kekecewaan dan emosi menjadikan kesenangan dan kesenangan materi menjadi tujuan utama hidup. Motif perilaku berbelanja secara hedonis merupakan dorongan konsumen untuk berbelanja, karena menurut mereka berebelanja adalah rasa senang tersendiri disaat apa yang mereka butuhkan terpenuhi.

Menurut (Utami C. W., 2010), motivasi hedonis adalah motivasi konsumen untuk Berbelanja karena berbelanja adalah kesenangan tersendiri sehingga mereka tidak memperhatikan manfaat produk yang dibeli. Motivasi berbelanja hedonis dapat diartikan sebagai, motivasi berbelanja untuk kesenangan semata, menghilangkan stres dan mencari kepuasaan dengan membeli barang yang tidak dibutuhkan. Motivasi hedonis ini biasanya lebih cenderung untuk memenehui kebutuhan skunder atau kebutuhan lain yang berhubungan dengan gaya hidup dan sosial.

2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Hedonic shopping motivation

Menurut Hausman, et al dalam (Sekarsari, 2013), mengidentifikasi ada enam faktor Hedonic shopping motivation, yaitu sebagai berikut:

1)      Mencari kesenangan baru, konsumen berbelanja untuk mencari pengalaman yang menyenangkan.

2)      Memuaskan rasa ingin tahu, konsumen berbelanja untuk memuaskan keinginan berbelanja.

3)      Pengalaman baru, konsumen berbelanja untuk mendapatkan pengalaman baru.

4)      Mencari hiburan, konsumen berbelanja untuk menghibur diri.

Menurut Ozen dan Engizek dalam (Pasaribu & Dewi, 2015), mengidentifikasi ada lima faktor Hedonic shopping motivation, yaitu sebagai berikut:

1)      Adventure/explore shopping , yaitu petualangan atau eksplorasi belanja dilakukan konsumen untuk menemukan sesuatu yang baru dan menarik.

2)      Value shopping, yaitu kenikmatan yang dihasilkan ketika konsumen berburu untuk tawarmenawar, mencari diskon dan promosi lainnya.

3)      Idea shopping, yang merujuk gejala ketika konsumen pergi belanja karena mereka ingin mengetahui tentang tren baru dan mode baru.

4)      Social shopping yaitu kegiatan bersosialisasi saat berbelanja, memiliki kesenangan berbelanja dengan teman-teman dan keluarga, dan berinteraksi dengan orang lain pada saat belanja.

5)      Relaxation shopping yaitu kegiatan belanja untuk mengatasi stres, dan mengubah suasana hati konsumen dari negatif ke mood positif.

3.      Indikator Hedonic shopping motivation

Menurut (Utami C. W., 2010), Indikator Hedonic shopping motivation sebagai berikut:

1)      Belanja adalah hal yang menarik pengalaman.

2)      Belanja adalah alternatif untuk mengatasi kebosanan.

3)      Konsumen lebih suka berbelanja selain untuk diri mereka sendiri.

4)      Konsumen lebih suka mencari tempat belanja yang menawarkan diskon dan harga yang murah.

5)      Kepercayaan dalam berbelanja akan tercipta saat mereka menghabiskan waktu bersama dengan keluarga atau teman.

6)      Konsumen berbelanja untuk mengikuti tren model baru.

Menurut (Arnold & Reynolds, 2003), dimensiHedonic shopping motivation sebagai berikut:

1)      Adventure shopping, konsumen merasa berbelanja merupakan petualangan yang seru dan menyenangkan.

2)      Gratification shopping, konsumen merasa berbelanja merupakan suatu cara untuk mengobati strees.

3)      Role shopping, konsumen merasa suka berbelanja bersama orang lain karena jika mereka senang saya juga merasa senang.

4)      Value shopping, konsumen merasa suka berbelanja ketika ada diskon.

5)      Social shopping, konsumen merasa berbelanja dengan teman dan keluarga merasa senang, bersosialisasi saat berbelanja, dan ikatan dengan orang lain saat berbelanja.

Idea shopping, konsumen merasa berbelanja untuk dapat mengikuti tren dan produk baru. 

Read more

0 Metode TPR (Total Physical Respone)

Bahasa merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dan memiliki peran sentral, khususnya dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional seseorang dan dalam mempelajari semua bidang studi. Bahasa diharapkan bisa membantu seseorang dalam hal ini yang saya bicarakan adalah peserta didik untuk mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginative dalam dirinya.

Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan seorang guru atau instruktur dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya seperti metode diskusi, ceramah, Inquiry dan lain-lain. Saya ingin memperkenalkan salah satu metode yakni metode TPR (Total Physical Response) sebagai salah satu teknik penyajian dalam pengajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa asing, baik itu bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain.

Metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran, sehingga dikuasai oleh peserta didik dengan kata lain ilmu tentang guru mengajar dan murid belajar.

1. Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)
Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:
“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”.
Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).

Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.

Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.

Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.

Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.

Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.

2. Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
  • Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
  • Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
  • Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
  • Presentasi dengan OHP atau LCD e.Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.
3. Teori Pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
  • Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
  • Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan. 
  • Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.
Demikian tentang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.
Read more

0 Tes Bahasa Diskret, Integratif dan Pragmatik

Tes bahasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Kemunculan dan perubahan penekanan dalam tes bahasa dimaksudkan untuk memperbaharui tes sesuai dengan pandangan, pendekatan, dan fokus pembelajaran bahasa. Pembaruan yang dilakukan sering berdasarkan kelemahan yang ada sebelumnya. Tetapi, betapapun kelemahan yang ada tetap saja tes-tes itu ada manfaatnya; jadi kita tak dapat meniadakan begitu saja. Adanya unsur tumpang-tindih juga tidak dapat dielakkan.

Tes Diskret
Discrete point test: tes yang hanya menekankan/ menyangkut satu aspek kebahasaan pada satu waktu. Tiap butir tes hanya untuk mengukur satu aspek kebahasaan: fonologi, morfologi, sintaksis, kosakata. Tes diskret juga dapat menyangkut tes keterampilan berbahasa. Dasar pemikiran tes diskret (juga dalam hal pengajaran) adalah teori strukturalisme (linguistik) dan behaviorisme (psikologi).
Kedua teori itu beranggapan bahwa keseluruhan dapat dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian. Atau, keseluruhan adalah jumlah dari bagian-bagian. Tiap bagian tersebut (kebahasaan dan keterampilan) dapat diajarkan dan diteskan secara terpisah.
Pembelajaran dan pengujian kebahasaan dalam teori ini mengabaikan konteks. Pandangan bahwa teori tes diskret dapat memecah-mecah unsur kebahasaan dan menghadirkannya dalam keadaan terisolasi, dianggap sebagai kelemahan tes diskret yang paling mencolok Orang tidak mungkin belajar bahasa dalam situasi yang mutlak diskret dan terisolasi (tanpa konteks). Lagi pula dalam hal belajar bahasa, keseluruhan belum tentu sama jumlah dari bagian-bagian.
Ada kompetensi yang harus dimiliki seseorang yang di luar kebahasaan (: pendekatan komunikatif). Kompetensi komunikatif memprasyaratakan kompetensi-kompetensi lain selain unsur bahasa, misalnya kompetensi sosial (faktor sosio-kultural). Faktor sosio-kultural memegang peran penting dalam menunjang kompetensi omunikatif seseorang Tes diskret gagal untuk mengukur kompetensi komunikatif yang justru memprasyaratkan adanya keterlibatan banyak unsur kebahasaan dan faktor yang di luar bahasa.
Persoalan yang muncul: apakah tes diskret tidak perlu lagi dipergunakan di sekolah untuk mengukur kadar keberhasilan belajar bahasa siswa?
Teori baru dibangun atau sebagai reaksi teori sebelumnya; yang baru tak dapat sama sekali meninggalkan yang lama. Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa tak dapat sama sekali meninggalkan pandangan strukturalisme. Dalam tahap awal pembelajaran bahasa bagi orang dewasa, pengajaran unsur struktural bahasa masih amat dibutuhkan. Orang tidak akan bisa begitu saja diajak berbicara bahasa asing sebelum memiliki pengetahuan tentang sistem bahasa itu. Artinya: pengajaran unsur bahasa masih diperlukan.
Jika pengajaran unsur struktur masih dilakukan, tes diskret mau tidak mau masih juga diperlukan. Atau, minimal untuk tujuan remidial.

Tes Integratif
Integrative test: tes yang mengukur lebih dari unsur kebahasaan atau satu keterampilan berbahasa dalam satu waktu
Dalam tes integratif, ada beberapa unsur kebahasaan atau keterampilan berbahasa yang harus harus dilibatkan, dan itu dipadukan
Dalam satu kali tes minimal ada dua aspek/keterampilan yang diukur
Aspek-aspek kebahasaan tidak saling dipisahkan, melainkan dipadukan sehingga ada keterkaitan antarunsur/antarketerampilan
Bahasa yang alamiah bukanlah kumpulan dari unsur-unsur bahasa semata
Dalam tes keterampilan bahasa, bahkan akan lebih baik jika juga mempertimbangkan aspek konteks
Tes integratif memang sudah memadukan beberapa unsur kebahasaan, tetapi belum tentu kontekstual
Tes yang kontekstual lazimnya bersifat pragmatik/komunikatif
Tes pragmatik/komunikatif pasti integratif, tetapi tes integratif belum tentu pragmatik
Tes integratif yang tidak kontekstual masih terisolasi, mirip-mirip dengan tes diskret, belum mencerminkan penggunaan bahasa yang alamiah
Berbagai tes unsur kebahasaan yang diteskan minimal berada dalam konteks kalimat, atau konteks yang lebih besar
Dilihat dari sudut pembelajaran bahasa dewasa ini, tes integratif terlihat lebih menjanjikan daripada tes diskret
Walau demikian, pemilihan tes haruslah disesuaikan dengan pendekatan, metode, dan teknik, bahkan juga bahan pembelajaran, yang dipergunakan dalam pembelajaran bahasa di kelas

Tes Pragmatik
Tes pragmatik berangkat dari pandangan bahwa bahasa adalah alat berkomunikasi, maka seseorang dinyatakan memiliki kompetensi berbahasa adalah jika mampu mempergunakan bahasa itu dalam konteks yang sesungguhnya
Tes pragmatik: pendekatan dalam tes keterampilan berbahasa untuk mengukur seberapa baik pembelajar mampu mempergunakan elemen bahasa sesuai dengan konteks berbahasa yang sesungguhnya
Tes pragmatik: prosedur/tugas yang menuntut pembelajar menghasilkan urutan unsur bahasa sesuai dengan pemakaian bahasa secara nyata, dan sekaligus menuntut pembelajar menghubungkannya dengan konteks ekstralinguistik
Dalam tes pragmatik tak ada lagi tes struktur/kosakata secara tersendiri, tetapi semua unsur kebahasaan terlibat dan langsung dikaitkan dengan unsur ekstralinguistik sekaligus
Dalam kehidupan berbahasa ada dua hal yang terlibat: konteks linguistik dan ekstralinguisik
Konteks linguistik: bahasa sebagai lambang verbal dengan segala unsurnya
Konteks ekstralinguistik: dunia atau sesuatu yang di luar bahasa, sesuatu yang disampaikan lewat media bahasa
Dalam kehidupan berbahasa terdapat hubungan sistematis dan timbal-balik antara kedua konteks tersebut Ada berbagai hal di luar bahasa yang berpengaruh terhadap pemilihan wujud bahasa dalam berkomunikasi, dan itulah yang disebut sebagai faktor penentu atau pragmatik
Faktor pragmatik/faktor penentu ada banyak jenisnya, misalnya siapa yang berkomunikasi, apa tujuan komunikasi, masalah yang dikomunikasikan, tingkat formalitas ketika komunikasi terjadi, dll. Tes pragmatik mengukur kemampuan berbahasa pembelajar dalam konteks yang sesungguhnya
Namun, itu harus ada kesesuaian dengan metode pembelajaran bahasa
Pembelajaran bahasa haruslah menekankan pada kemampuan berbahasa, bukan sistem bahasa
Dengan begitu ada keselarasan antara model pembelajaran dan model penilaian
Namun, pada praktiknya tidak mudah mengreaikan pembelajaran bahasa yang benar-benar kontekstual dan komunikatif
Artinya, pembelajaran “penggunaan bahasa”, kemampuan berbahasa, masih saja artifisial, namun itu sudah lebih baik daripada yang benar-benar diskret dan terisolasi
Tes pragmatik yang masih berwujud penggunaan dalam konteks artifisial juga sudah lebih baik daripada yang benar-benar diskret yang hanya bertujuan mengukur pengetahuan tentang sistem bahasa

Contoh Tes Pragmatik
Ada banyak model dan contoh, dan salah satunya adalah tes tes cloze (cloze test)
Tes jenis ini baik dipakai untuk pemahaman bacaan; tes pemahaman wacana dengan tes objektif berkorelasi secara positif dengan hasil tes cloze
Tes cloze adalah tes yang berupa pengisian kembali kata-kata ke-n yang sengaja dihilangkan dalam sebuah wacana
Kata-kata yang dihilangkan biasanya kata yang ke-5, ke-6, ke-7
Untuk dapat mengisi tempat-tempat kosong, pembelajar harus memahami makna wacana
Teknik penyekoran: teknik kata eksak (jawaban siswa harus sama dengan kata asli yang dihilangkan) dan teknik kelayakan konteks (jawaban siswa tidak harus persis dengan kata asli sepanjang dimungkin secara konteks)
Teknik kelayakan konteks lebih menguntungkan; semua kata yang mempunyai peluang sebagai jawaban benar diperingkat (diskala; 1-4)
Tes cloze juga baik untuk menilai tingkat kesulitan wacana bagi pembelajar level tertentu: jika jawaban benar siswa ≥75%, wacana itu tergolong mudah; jika ≤20% tergolong sulit
Jika yang diteskan itu sampel dari wacana yang panjang, hasil tes itu mencerminkan tingkat kesulitan wacana secara keseluruhan
Read more

0 Metode-metode dalam Pembelajaran Berbicara dalam Berbahasa

A. BERBICARA
Kegiatan berbicara adalah kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dalam keseharian kehidupan kita sebagai manusia. Sehingga sejak dini melalui mata pelajaran Bahasa Arab siswa dilatih untuk belajar bicara. Tujuan dari belajar berbicara adalah menyampaikan buah pikiran, gagasan dan ide dengan bahasa yang dapat dipahami orang lain dengan tingkat kebahasaan sesuai dengan karakter umur dan kelompok kelas siswa bersangkutan.
Dengan berbicara maka segala unek-unek, gagasan, ide dan pendapat akan tersampaikan. Apabila isi dari pembicaraan seseorang mendapat tanggapan yang baik dari si penyimak maka akan menciptakan efek kepercayaan diri yang lebih dari si pembicara untuk selanjutnya berkreasi menyampaikan gagasan lainnya.
Melalui penyampaian gagasan akan berdampak pada daya imajinasi siswa dalam mengolah pikirannya sehingga akan meningkatkan daya pikir dan logika. Tak ayal lagi hanya melalui melatih siswa dalam berbicara mereka akan berkreasi tanpa batas menghasilkan manusia-manusia unggul dan berhasil kelak dikemudian hari.

B. BAHAN PEMBELAJARAN BERBICARA
Sebagai pendukung upaya guru dalam membelajarkan pembelajaran berbicara beberapa bahan pelajaran yang digunakan disesuaikan dengan metode pembelajaran yang digunakan. Kesesuaian itu diperlukan karna antara media/bahan pembelajaran dengan metode saling terkait.
Bahan pembelajaran tersedia apbila tidak didukung oleh metode yang tepat maka pembelajaran menjadi tidak bermakna. Demikian pula jika metode pembelajaran dengan prosedur yang teratur dan baik tetapi tidak dilengkapi dengan media ataau bahan ajar yang baik maka proses pembelajaran menjadi tidak baik pula.
Beberapa bahan atau media yang layak dipertimbangkan dalam membelajarkan berbicara kepada siswa SMP adalah :
  1. Media bacaan sederhana baik fiksi maupun non fiksi yang dibaca habis oleh siswa yang diramu dengan metode tanya jawab diskusi dan bermain peran
  2. Media audio visual yang disajikan oleh guru yang diramu dengan metode diskusi, tanya jawab dan bermain peran. Melalui tema yang disajikan pada media tersebut guru memancing siswa agar dapat berbicara.
  3. Cerita rekaan guru berdasarkan kejadian yang bersifat fiktif ataupun fakta, yang diakhiri dengan kegiatan diskusi yang memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berpendapat dan setiap pendapat adalah baik dan mendapat reward dari guru.
  4. Bahan dibawa sendiri oleh siswa melalui metode penugasan dimana siswa ditugaskan untuk menceritakan pengalamannya sendiri berdasarkan suatu tema yang selanjutnya disajikan oleh siswa dalam bentuk tulisan untuk mempermudah guru dalam mengevaluasi. Dengan kegiatan ini akan didapatkan manfaat berganda selain siswa dibelajarkan tentang berbicara selebihnya mereka akan mendapat pembelajaran menulis pula.
  5. Kegiatan membahas puisi yang disajikan oleh siswa untuk kemudian di paraprase. Kegiatan diskusi dapat mengikutinya sehingga terjadi interaksi lebih baik antara siswa dan guru.
C. METODE PEMBELAJARAN BERBICARA
Senada dengan pembahasan di atas bahwa tanpa metode yang tepat maka bahan pembelajaran dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa menjadi tidak berarti. Maka berikut akan diuraiakan beberapa metode pembelajaran yang layak dipertimbangkan dalam kegiatan berbicara pada pembelajaran Bahasa Arab SMP.

  • Metode Ulang Ucap
Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhan terutama untuk kelas awal SMP yaitu dengan menugaskan siswa mengulang kata yang diucapakan oleh guru.
  • Metode Lihat Ucap
Siswa ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru.
  • Metode Memberikan Deskripsi
Dengan metode ini siswa diberikan tugas untuk untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar.
  • Metode Menjawab Pertanyaan
Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan.
  • Metode Bertannya
Metode bertanya juga sangat layak digunaka pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian siswa ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh siswa atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut.
Tanggapan dan jawaban tersebut yang diterima oleh siswa akan masuk dalam suatu kondisi benar dan tidak. Apabila siswa memang dasarnya adalah murni bertanya maka setelah mendengarkan jawaban/tanggapan dan menganalisanya akan menanggapi benar atau salah.
Dan apabila siswa bermaksud menguji sudah barang tentu mereka sudah memiliki jawaban dan hal itu adalah proses berfikir yang selangkah lebbih maju. Sehingga siswa ini tergolong memiliki kecerdasan lebih dan layak mendapatkan penghargaaan yang lebih pula. Kondisi-kondisi unik lainnya dapat ditemui secara langsung dilapangan dengan tingkat variasi dan kompleksitas yang lebih tinggi.
  • Metode Pertanyaan Menggali
Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah-langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan.
Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru.Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka.
  • Metode Melanjutkan
Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.
  • Metode Menceritakan Kembali
Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar certai baik fiksi maupun non fiksi. Dimana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa.
  • Metode Percakapan atau Bermain Peran
Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita dimana dengan memerankan siswa akan lebih memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebiih kepada penjiwaan karakter masing masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan.
  • Metode Parafrase
Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya dirubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut.
  • Metode Reka Cerita Gambar
Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, “Anak anak, Bagaimanakah susunan yang benar dai gambar tersebut ?” .
  • Metode Memberi Petunjuk
Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-massing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaaan.
  • Metode Pelaporan
Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan dalam kegiatan ilmiah yang sangat mendukung proses meningkatkan kreatifitas siswa.
  • Metode Wawancara
Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audien kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari nkegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun.
  • Metode Diskusi
Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan.
  • Metode Bertelpon
Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon.
  • Metode Dramatisasi
Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengantuntunan naskah yang runtut.
Read more

0 Keterampilan dan Teknik Bertanya dalam Pengajaran

A. Keterampilan Bertanya
Adapun tujuan pertanyaan yang diajukan guru ialah agar siswa belajar, yaitu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir, baik berupa kalimat tanya atau perintah yang menuntut respon siswa.
Sedangkan pencapaian tujuan bertanya yang ingin dicapai adalah agar dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap pokok bahasan, memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, mengetahui hambatan-hambatan kegiatan belajar siswa, dan untuk mengembangkan keaktifan siswa dalam belajar.
Ada beberapa hal yang perlu dihindari oleh guru ketika bertanya kepada siswa, yaitu:
  1. Mengulangi pertanyaan sendiri
  2. Mengulang-ulang pertanyaaan sendiri sebelum siswa dapat berpikir maksimal terhadap pertanyaan guru dapat mengakibatkan siswa tidak dapat untuk berkonsentrasi terhadap pertanyaan tersebut. Oleh sebab itu semestinya guru memberikan jeda waktu untuk siswa agar dapat memahami pertanyaan guru dan berkonsentrasi terhadap jawaban yang akan disampaikannya.
  3. Mengulangi jawaban siswa
  4. Mengulangi jawaban siswa dapat menyebabkan terbuangnya waktu pelajaran. Siswa tidak lagi mendengar jawaban dari temannya yang lain karena mengetahui guru pasti akan mengulanginya.
  5. Menjawab pertanyaan sendiri
  6. Guru menjawab pertanyaan sendiri sebelum memberikan siswa kesempatan yang cukup untuk memikirkan jawabannya akan melahirkan anggapan dari siswa bahwa memikirkan jawaban tersebut tidak perlu karena mereka beranggapan guru pasti akan memikirkan jawabannya.
  7. Pertanyaan yang memancing jawaban serentak
  8. Hal ini selain dapat mengakibatkan kericuhan dan keributan di dalam kelas, juga dapat berakibat guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan menutut kemungkinan terjadi interaksi selanjutnya.
  9. Mengajukan pertanyaan ganda
  10. Mengajukan pertanyaan ganda, sama dengan mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sebelum siswa dapat menjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain diajukan. Hal ini akan mematahkan semangat siswa yang hanya sanggup menyelesaikan satu dari semua tugas itu.
  11. Menentukan siswa tertentu untuk menjawab
  12. Hal ini dapat membuat siswa-siswa lain yang tidak ditanya akan malas memikirkan jawaban. Hal ini juga akan mengakibatkan siswa beranggapan bahwa guru mengidolakan satu siswa saja dan menganak emaskan.
Adapun komponen-komponen dalam keterampilan bertanya ini adalah:
  • Pengungkapan pertanyaan yang singkat dan jelas
  • Pemberian acuan terhadap jawaban yang memancing siswa untuk cepat memikirkan jawaban yang benar
  • Pemindahan giliran atau penyebaran.
  • Pemusatan dan memberikan waktu untuk berfikir
  • Pemberian tuntunan yaitu dengan cara memberikan pertanyaan yang lebih sederhana, mengulangi penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan pertanyaan, dan mengungkapkan sekali lagi pertanyaan dengan cara lain yang lebih sederhana. 
B. Teknik Bertanya
Adapun teknik bertanya disini adalah dengan ucapan yang disampaikan yang bermaksud untuk meminta respon dari siswa dan mengadakan interaksi. Dan jenis-jenisnya adalah:
  1. Pertanyaan ingatan
  2. Teknik pertanyaan ingatan ini adalah teknik untuk membuat siswa mengingat kembali materi pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran tersebut.
  3. Pertanyaan pemahaman
  4. Jenis pertanyaan pemahaman ini merupakan salah satu teknik pengajuan pertanyaan guna untuk membantu siswa agar lebih memahami pelajaran-pelajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pemahaman siswa terhadap pelajaran tersebut
  5. Pertanyaan analisis
  6. Pertanyaan analisis ini adalah teknik dengan cara mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk menganalisis dan mengupas jawaban dari pertanyaan tersebut yang terdapat pada pertanyaan itu sendiri.
  7. Pertanyaan sistesis
  8. Pertanyaan sistesis adalah salah satu teknik bertanya yang pada pertanyaan tersebut mengandung unsur jawaban yang terpisah-pisah tetapi tidak lengkap. Dari pertanyaan tersebut siswa dapat menyusun dan menambahkan ide-ide untuk membentuk satu jawaban yang benar.
  9. Pertanyaan evaluasi
  10. Pertanyaan evaluasi adalah salah satu teknik bertanya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan pengetahuan siswa tentang pelajaran-pelajaran yang telah disajikan.
Read more

0 Metode Audio-Lingual dalam Berbahasa

A. PENGERTIAN DAN SEJARAH METODE AUDIO LINGUAL
Metode Audio-lingual adalah suatu metode yang mana banyak melakukan praktek-praktek dan latihan-latihan dalam berbahasa baik dalam bentuk dialog, khutbah dan lain sebagainya yang mana diharapkan para siswa bisa berbicara seperti pemilik bahasa itu sendiri. Metode audio-lingual pada dasarnya merupakan pengembangan dari metode langsung yang dirasa memiliki kelemahan terutama dalam menjelaskan hal-hal yang sulit dipahami siswa. Untuk itu metode ini disamping menekankan pengajaran bahasa lewat mendengar dan menirukan, juga dimungkinkan penggunaan bahasa ibu untuk penjelasannya. Metode ini biasanya lebih banyak diterapkan dengan bentuk pattern drill. Penggunaan pendekatan drill sudah lazim digunakan di kalangan militer. Karena pada awalnya metode ini banyak digunakan pada kalangan militer, maka metode ini juga disebut dengan army method.
Lahirnya metode audio-lingual ini merupakan hasil dari tiga keadaan sejarah yang melatarbelakanginya. Pertama, munculnya tokoh-tokoh linguistik yang memberikan perhatian besar terhadap kegiatan pengamatan dan pengembangan oral language (pembelajaran bahasa secara lisan). Seperti misalnya Leonard Bloomsfield, seorang ilmuwan bahasa abad ke-20 asal Amerika yang mendokumentasikan bahasa-bahasa percakapan pribumi yang ada di Amerika.
Kedua, munculnya aliran psikologi behaviorisme yang meyakini bahwa semua tingkah laku manusia (termasuk bahasa) diajarkan melalui pengulangan-pengulangan dan dipengaruhi oleh penguatan-penguatan terhadap pembelajaran baik penguatan yang bersifat positif maupun yang negatif.
Ketiga, pecahnya Perang Dunia II, dimana pada saat itu Amerika merekrut tentara yang sangat banyak untuk keperluan militernya di seluruh penjuru dunia. Untuk keperluan itulah akhirnya tentara-tentara baru tersebut diberikan pelatihan untuk memenuhi syarat kecakapan minimal dalam militer salah satunya adalah kecakapan minimal komunikasi secara vebal, dari pelatihan singkat inilah muncul metodologi baru pengajaran bahasa melalui pengamatan dan pengulangan (observation and repetition). Metodologi pengajaran ala militer inilah yang menjadi cikal bakal pengembangan metode audio-lingual selanjutnya.
Pembelajaran dengan metode ini menekankan aktivitas mendengarkan, menirukan, dan melafalkan bunyi-bunyi bahasa Inggris. Kurikulum 1975 dan 1984 mendukung pelaksanaan metode ini dengan memperkenalkan kegiatan proses belajar mengajar yang berpusat kepada siswa, yang dikenal dengan istilah Cara Belajar siswa Aktif (CBSA).
Metode ini mengandaikan bahwa bahasa adalah apa yang didengar dan diucapkan, bukan simbol, sedangkan tulisan hanyalah representasi dari ujaran. Dari asumsi ini dapat dikatakan bahwa bahasa adalah ujaran. Pembelajaran bahasa harus dimulai dengan mendengarkan bunyi-bunyi bahasa yang berbentuk kata dan kalimat. Dalam bentuk klasikalnya kemudian meminta peserta didik menirukannya untuk dihafal, sebelum membaca dan menulis diajarkan. Asumsi lain dari pendekatan ini bahwa bahasa adalah kebiasaan. Suatu prilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang berkali-kali. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Arab dengan pendekatan mendengar-mengucapkan ini menuntut adanya kegiatan pembelajaran bahasa yang dilakukan dengan teknik pengulangan atau repetisi.

B. TUJUAN-TUJUAN METODE AUDIO LINGUAL
Tujuan umum dari metode audio-lingual adalah agar para siswa untuk menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Pada tahap awal, fokus pembelajaran adalah pada kemampuan lisan, kemudian bertahap pada kemampuan lainnya seperti belajar mengembangkan keterampilan. Aksentuasi utama diletakkan pada kecakapan lisan, yang berarti siswa harus mencapai pelafalan yang akurat dan tata bahasa yang benar.
Brooks membedakan antara tujuan jangka panjang dan jangka pendek dari sebuah program audio-lingual.
  1. Tujuan jangka pendek meliputi pelatihan dalam mendengarkan, pelafalan yang akurat, membaca dan memahami produksi benar kalimat dalam menulis. Dengan kata lain, tujuan dari metode audio-lingual adalah pengembangan keahlian di keempat kemampuan bahasa, dimulai dengan mendengar dan berbicara, dan menggunakan ini sebagai dasar untuk mengajar membaca dan menulis.
  2. Sedangkan tujuan jangka panjang atau tujuan akhirnya adalah untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa dan untuk menggunakannya secara otomatis tanpa henti-hentinya berpikir.

C. PRINSIP-PRINSIP METODE AUDIO LINGUAL
Metode audio-lingual setidaknya disasarkan pada prinsip-prinsip seperti dibawah ini:
  1. Mendahulukan kecakapan berbicara dan mendengar daripada kecakapan baca-tulis
  2. Kemampuan pengembangan bahasa melalui formulasi pembiasaan.
  3. Murid mempraktikkan pola-pola khusus dari bahasa melalui dialog terstruktur dan drill sampai akhirnya muncul respon secara otomatis.
  4. Pola bahasa yang terstruktur diajarakan menggunakan drill secara berulang-ulang.
  5. Perhatian dan penekanan diberikan kepada peserta didik-peserta didik yang mengeluarkan ungkapan-ungkapan bebas dan salah
  6. Metode pembelajaran bahasa ini cocok bagi gaya pembelajaran kinestetis
  7. Hanya kosakata dan kalimat sehari-hari yang diajarkan. kosakata yang lebih kongkret diajarkan melalui demonstrasi, objek, dan gambar. kosakata yang abstrak di ajarkan melalui penggabungan gagasan.

D. STRATEGI DALAM PENERAPAN METODE AUDIO LINGUAL
Strategi yang biasa dipakai dalam penerapan metode audiolingual antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Penghafalan dialog; peserta didik diberikan dialog singkat untuk dihafal, kemudian mereka mempresentasikan dengan menggunakan permainan mimik dan peran. Tujuan dari strategi pembeajaran ini adalah untuk bereksperimen dengan unsur-unsur bahasa, baik yang berupa unsur verbal maupun non-verbal untuk memperoleh keinginan dan menarik perhatian dari penonton.
  2. Kegiatan backward build-up, merupakan kegiatan yang bertujuan agar peserta didik terlibat secara kolektif dalam mendapatkan pengalaman atas variasi-variasi berbahasa. Peserta didik diberikan penggalan-penggalan kalimat, dan setiap peserta didik mengulang setiap bagian kalimat yang disampaikan oleh guru, dengan dimulai dari kata di akhir kalimat sampai seluruh rangkaian dari kalimat tersebut.
  3. Drill merubah kalimat (transformation drill); guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus dirubah menjadi sebuah pernyataan. Melalui kegiatan ini peserta didik mampu memilih urutan kata yang tepat untuk mereka pilih dan gunakan untuk menyampaikan gagasan dan informasi melalui pola-pola kalimat yang sederhana.
  4. Dikte (imla’); dengan menggunakan literatur bacaan sederhana, guru membacakan dengan keras beberapa kali kata per kata atau penggalan-penggalan kalimat kepada peserta didik, dengan tujuan agar mereka mampu menuliskan kata-kata atau penggalan kalimat-kaliamat seperti apa yang dibacakan oleh guru mereka.
  5. Flashcard (kartu pengingat); kartu yang berisi berbagai macam kata, yang sesuai dengan peserta didik dan mereka kemudian mengunkapkan gagasan dengan menggunakan kata-kata lain mengenai kata yang terdapat pada kartu tersebut. Kata-kata baru dapat diplih tiap harinya.
  6. Drill Berantai (chain drill); percakapan berantai di dalam kelas, dimana guru memberi ucapan/sapaan atau pertanyaan kepada seorang pesera didik, dan kemudian peserta didik tersebut memberikan respon, dan kemudian peserta didik tersebut mengulangi sapaan atau pertanyaan yang sama kepada pesertsa didik berikutnya dan begitu seterusnya.
  7. Permainan abjad; kegiatan ini mengajak peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam membagi pengalaman mendengarkan (istima’), saling berbagi ide dan pengalaman dalam kelompok.

E. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE AUDIO LINGUAL
Beberapa kelebihan dari metode ini adalah:
  • Sesuai dengan hakekat bahasa yaitu bahasa adalah ucapan.
  • Pembelajaran dilaksanakan secara berurutan mulai dari istima’, kalam, qira’ah dan kitabah.
  • Sesuai dengan proses belajar bahasa ibu.
  • Dapat membentuk kebiasaan berbahasa.
  • Siswa pada dasarnya ingin mempelajari bahasa, bukan ilmu tentang bahasa.
  • Setiap bahasa memiliki karakteristik, sehingga tidak diperlukan perbandingan dengan bahasa lainnya.
  • Terjemah dapat memberatkan dalam belajar, tetapi tidak digunakan.
  • Pengajar yang paling utama adalah penutur asli yang terlatih.
Selain kelebihan-kelebihan tersebut juga terdapat beberapa kritik terhadap prinsip dari metode tersebut, di antaranya adalah:
  • Ucapan bukanlah satu-satunya keterampilan berbahasa.
  • Keterampilan yang lain sebenarnya tidak kalah pentingnya dari keterampilah berbicara.
  • Urutan keterampilan berbahasa sebenarnya bukan harga mati.
  • Belajar berbahasa asing sebenarnya memiliki perbedaan secara batiniyah dari belajar bahasa ibu.
  • Belajar bahasa asing mungkin saja dilakukan secara berulang-ulang.
  • Memang tiap bahasa punya perbedaan, tetapi juga punya persamaan.
  • Penggunaan terjemah dalam pengajaran bahasa asing mungkin saja digunakan dengan strategi yang baik.
  • Tidak benar bahwa penutur asli adalah pengajar bahasa yang terbaik.
Read more

0 Metode-metode Pembelajaran Pendampingan

CERAMAH
Pengertian: Metode ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metode yang bervariasi. Mengapa disebut demikian, sebab ceramah dilakukan dengan ditujukan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, disko, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui adanya tanggapan balik atau perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta. Media pendukung yang digunakan, seperti bahan serahan (handouts), transparansi yang ditayangkan dengan OHP, bahan presentasi yang ditayangkan dengan LCD, tulisan-tulisan di kartu metaplan dan/kertas plano, dll.

DISKUSI UMUM (DISKUSI KELAS) 
Pengertian: Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/ pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.

CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING) 
Pengertian: Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama.

DISKUSI KELOMPOK 
Pengertian: Sama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Tujuan penggunaan metode ini adalah mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu persoalan.Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno. Pleno adalah istilah yang digunakan untuk diskusi kelas atau diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok.

BERMAIN PERAN (ROLE-PLAY) 
Pengertian: Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peranperan yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

SIMULASI 
Pengertian: Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan). Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat melakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya.

SANDIWARA 
Pengertian: Metode sandiwara seperti memindahkan ‘sepenggal cerita’ yang menyerupai kisah nyata atau situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode ini ditujukan untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannya adalah sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatu tema (topik) sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah. Dengan begitu, rana penyadaran dan peningkatan kemampuan analisis dikombinasikan secara seimbang.

DEMONSTRASI 
Pengertian: Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.

PRAKTEK LAPANGAN 
Pengertian: Metode praktik lapangan bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kerja, maupun di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman nyata yang diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta, sehingga dapat memicu kemampuan peserta dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat metode praktek adalah pengembangan keterampilan.

PERMAINAN (GAMES) 
Pengertian: Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat.Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan. Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah rana sikap-nilai.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger