1 Resume Makalah Manajemen Pendidikan

MAKALAH RESUME: MANAJEMEN PENDIDIKAN

A. PENGERTIAN DAN KONSEP MANAJEMEN PENDIDIKAN
1. Pengertian Manajemen
Istilah manajemen berasal dari bahasa latin, manus (tangan) dan agere (melakukan). Kedua kata ini digabung menjadi kata kerja managere yang artinya menangani. Managere diterjemahkkan ke dalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dalam kata benda management, dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen. Terminologi manajemen ini memiliki pengertian yang luas yaitu sebagai proses pengaturan dan pemanfaatan sumber daya yang dimiliki organisasi melalui kerjasama para anggota utnuk mencapai tuujuan organisasi secara efektif dan efesien.

Menurut Harold Koontz dan Cyril O’donnel, Manajemen adalah usaha mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain. Dengan demikian manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian. Sedangkan menurut R. Terry menjelaskan bahwa manajemen itu merupakan suatu proses, khas yang terdiri tinndakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber yang lainnya.

Sementara itu Mamduh mendefinisikan Manajemen sebagai “sebuah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumberdaya organisasi”.

Dengan demikian istilah manajemen mengacu pada suatu proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efektif dan efesien dengan dan melalui orang lain. Proses menggambarkan fungsi-fungsi yang berjalan terus atau kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan oleh para manajer.

2. Pengertian Pendidikan
Education di dalam bahasa Inggris berasal dari kata Yunani “educare” yang berarti membawa keluar yang tersimpan, untuk dituntut agar tumbuh dan berkembang. Di dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “tarbiyah”, berasal dari kata “raba-yarbu” yang berarti mengembang, tumbuh.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:232), pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu diberikan awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” yang artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran.

Menurut UU RI No. 2 Tahun 1989, Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Menurut UU RI No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara, Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.


3. Pengertian Manajemen Pendidikan
Secara sederhana manajemen pendidikan adalah suatu lapangan dari studi dan praktik yang terkait dengan organisasi pendidikan. Sehingga diharapkan melalui kegiatan manajemen pendidikan tersebut, tujuan pendidikan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Berikut ini merupakan defenisi manajemen pendidikan dari beberapa ahli:
  • Made Pidarta, (1988:4): Dalam pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya
  • Biro Perencanaan Depdikbud, (1993:4): Manajemen pendidikan ialah proses perencanaan, peng-organisasian, memimpin, mengendalikan tenaga pendidikan, sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, serta bertanggung jawab kemasyarakat dan kebangsaan
  • Engkoswara (2001:2): Manajemen pendidikan ialah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.
Dengan memperhatikan pengertian di atas nampak bahwa manajemen pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan manajemen atau administrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan, fungsi administrasi pendidikan merupakan alat untuk mengintegrasikan peranan seluruh sumberdaya guna tercapainya tujuan pendidikan dalam suatu konteks sosial tertentu, ini berarti bahwa bidang-bidang yang dikelola mempunyai kekhususan yang berbeda dari manajemen dalam bidang lain.

Dalam dunia pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajeman sebagai aktivitas agar seorang kepala sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.

B. SEJARAH DAN TEORI MANAJEMEN PENDIDIKAN
1. Sejarah Perkembangan Ilmu Manajemen
Banyak kesulitan yang terjadi dalam melacak sejarah manajemen. Namun diketahui bahwa ilmu manajemen telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dengan adanya piramida di Mesir.

Piramida tersebut dibangun oleh lebih dari 100.000 orang selama 20 tahun. Piramida Giza tak akan berhasil dibangun jika tidak ada seseorang—tanpa memedulikan apa sebutan untuk manajer ketika itu—yang merencanakan apa yang harus dilakukan, mengorganisir manusia serta bahan bakunya, memimpin dan mengarahkan para pekerja, dan menegakkan pengendalian tertentu guna menjamin bahwa segala sesuatunya dikerjakan sesuai rencana.

Praktik-praktik manajemen lainnya dapat disaksikan selama tahun 1400-an di kota Venesia, Italia, yang ketika itu menjadi pusat perekonomian dan perdagangan di sana. Penduduk Venesia mengembangkan bentuk awal perusahaan bisnis dan melakukan banyak kegiatan yang lazim terjadi di organisasi modern saat ini. Sebagai contoh, di gudang senjata Venesia, kapal perang diluncurkan sepanjang kanal dan pada tiap-tiap perhentian, bahan baku dan tali layar ditambahkan ke kapal tersebut. Hal ini mirip dengan model lini perakitan (assembly line) yang dikembangkan oleh Hanry Ford untuk merakit mobil-mobilnya. Selain lini perakitan tersebut, orang Venesia memiliki sistem penyimpanan dan pergudangan untuk memantau isinya, manajemen sumber daya manusia untuk mengelola angkatan kerja, dan sistem akuntansi untuk melacak pendapatan dan biaya.

Daniel Wren dan Arthur Bedeian (2009) di dalam bukunya The Evolution of Management Thought, telah membagi evolusi pemikiran manajemen dalam empat fase, yaitu pemikiran awal, era manajemen sains, era manusia sosial, dan era moderen.

a. Pemikiran Awal
Sebelum abad ke-20, terjadi dua peristiwa penting dalam ilmu manajemen. Peristiwa pertama terjadi pada tahun 1776, ketika Adam Smith menerbitkan sebuah doktrin ekonomi klasik, The Wealth of Nation. Dalam bukunya itu, ia mengemukakan keunggulan ekonomis yang akan diperoleh organisasi dari pembagian kerja (division of labor), yaitu perincian pekerjaan ke dalam tugas-tugas yang spesifik dan berulang. Dengan menggunakan industri pabrik peniti sebagai contoh, Smith mengatakan bahwa dengan sepuluh orang—masing-masing melakukan pekerjaan khusus—perusahaan peniti dapat menghasilkan kurang lebih 48.000 peniti dalam sehari. Akan tetapi, jika setiap orang bekerja sendiri menyelesaikan tiap-tiap bagian pekerjaan, sudah sangat hebat bila mereka mampu menghasilkan sepuluh peniti sehari. Smith menyimpulkan bahwa pembagian kerja dapat meningkatkan produktivitas dengan (1) meningkatnya keterampilan dan kecekatan tiap-tiap pekerja, (2) menghemat waktu yang terbuang dalam pergantian tugas, dan (3) menciptakan mesin dan penemuan lain yang dapat menghemat tenaga kerja.

b. Era Ilmiah
Era ini ditandai dengan berkembangan perkembangan ilmu manajemen dari kalangan insinyur—seperti Henry Towne, Frederick Winslow Taylor, Frederick A. Halsey, dan Harrington Emerson Manajemen ilmiah, atau dalam bahasa Inggris disebut scientific management, dipopulerkan oleh Frederick Winslow Taylor dalam bukunya yang berjudul Principles of Scientific Management pada tahun 1911. Dalam bukunya itu, Taylor mendeskripsikan manajemen ilmiah adalah "penggunaan metode ilmiah untuk menentukan cara terbaik dalam menyelesaikan suatu pekerjaan." Beberapa penulis seperti Stephen Robbins menganggap tahun terbitnya buku ini sebagai tahun lahirya teori manajemen modern.

c. Era Manusia Sosial
Era manusia sosial ditandai dengan lahirnya mahzab perilaku (behavioral school) dalam pemikiran manajemen di akhir era manajemen ilmiah. Mahzab perilaku tidak mendapatkan pengakuan luas sampai tahun 1930-an. Katalis utama dari kelahiran mahzab perilaku adalah serangkaian studi penelitian yang dikenal sebagai eksperimen Hawthrone.

d. Era Moderen
Era moderen ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality management—TQM) di abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900–1993) and Joseph Juran (lahir 1904).

2. Teori Manajemen Pendidikan
Teori merupakan kumpulan prinsip-prinsip (principles) yang disusun secara sistematis. Prinsip tersebut berusaha menjelaskan hubungan-hubungan antara fenomena-fenomena yang ada.

Adapaun teori-teori yang mendukung Manajemen Pendidikan yaitu :

1. Teori Klasik
Teori klasik berasumsi bahwa pekerja atau manusia itu bersifat rasional, berpikir logik, dan kerja merupakan suatu yang diharapkan. Salah satu teori klasik adalah manajemen ilmiah yang dipelopori Federik W. Taylor. Sasaran pada pendekatan ini adalah kemakmuran maksimum bagi pengusaha dan karyawan. Selanjutnya Prinsip Studi Waktu dipelopori oleh Gilbreth menyatakan bahwa semua usaha yang produktif diukur dengan studi waktu secara teliti. Berdasarkan studi waktu muncul Prinsip Hasil Upah yaitu upah diberikan harus sesuai dengan hasil yang besarnya ditentukan dari studi waktu.

Pelopor klasik yang lain yaitu Henri Fayol yang menyatakan ada 5 pedoman manajemen yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pengkomandoan, pengkordinasian, dan pengawasan. Prinsip-prinsip pokok menurut Fayol: (1) kesatuan komando, (2) wewenang harus didelegasikan, (3) inisiatif harus dimiliki seorang manajer, (4) adanya solidaritas kelompok.

2. Teori neo klasik
Teori ini muncul karena pada manajer terdapat kelemahan dengan teori klasik. Teori ini berasumsi bahwa manusia itu makhluk social dengan mengaktualisasikan dirinya. Para tokoh aliran ini menyatakan hakikat organisasi adalah kerjasama, manajemen dapat bekerja secara efisien dan tetap hidup jika tujuan organisasi dan kebutuhan perorangan yang bekerja dijaga dengan baik.

3. Teori modern
Pendekatan ini didasarkan hal-hal yang bersifat situasional. Asumsi yang dipakai adalah bahwa orang itu berlainan dan berubah, baik kebutuhannya, reaksinya, tindakannya sesuai dengan lingkungan. Manajemen dipandang sebagai suatu sistem didasarkan pada asumsi bahwa organisasi merupakan system terbuka dan tujuan organisasi mempunyai kebergantungan.

Teori modern mempunyai pandangan bahwa organisasi itu terbuka dan kompleks. Analisi sistem, rancangan sistem, dan manajemen member petunjuk dalam mengoperasionalkan pendekatan sistem merupakan tiga unsure pokok yang berusaha mengenal esensi keterpaduan berbagai unsur dalam memecahkan masalah yang sifatnya kompleks, termasuk pendidikan.


C. FALSAFAH DAN PRINSIP-PRINSIP MANAJEMEN PENDIDIKAN
1. Falsafah Manajemen
Setiap jenis pegetahuan termasuk pengetahuan manjemen mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi),bagaiman (epistimologi),dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan manajemen tersebut disusun. ketiganya berkaitan satu sama lain (sistem).

Di dalam pengetahuan manajemen, falsafah pada hakikatnya menyediakan seperangkat pengetahuan (a boody of related knowladge) untuk berfikir efektif dalam memecahkan masalah-masalah manajemen.. ini merupakan hakikat manajemen sebagai suatu disiplin ilmu dalam mengatasi berbagai masalah organisaiberdasarkan pendekatan yang intelegen.

Kajian filsafat dan teori manajemen pendidikan merupakan bagian yang memberikan arah dan pandangan bagaiman seorang administrator pendidikan menjalankan tugasnya dengan didasari oleh nilai-nilai kebenaran baik pada tataran praktis ataupun teoritis.

2. Prinsip-Prinsip Manajemen
Henry Fayol mengemukakan prinsip-prinsip manajemen yang dibagi menjadi 14 bagian, yaitu :

  1. Division of work : Merupakan sifat alamiah, yang terlihat pada setiap masyarakat. Bila masyarakat berkembang maka bertambah pula organisasi-organisasi baru menggantikan organisasi-organisasi lama. Tujuan daripada pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama.
  2. Authority and Responsibility : Authority (wewenang) adalah hak memberi instruksi-instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan. Responsibility atau tanggung jawab adalah tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang pejabat dan agar dapat dilaksanakan, authority (wewenang) harus diberikan kepadanya.
  3. Discipline : Hakekat daripada kepatuhan adalah disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan para pekerja, baik persetujuan tertulis, lisan ataupun berupa peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan.
  4. Unity of command : Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi-instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang (authority) berarti dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu dan stabilitas mengalami cobaan, seseorang tidak akan melaksanakan instruksi yang sifatnya dualistis.
  5. Unity of direction : Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai : “one head and one plan for a group of activities having the same objective”, yang merupakan persyaratan penting untuk kesatuan tindakan, koordinasi dan kekuatan dan memfokuskan usaha.
  6. Subordination of individual interest to general interest : Dalam sebuah perusahaan kepentingan seorang pegawai tidak boleh di atas kepentingan perusahaan, bahwa kepentingan rumah tangga harus lebih dahulu daripada kepentingan anggota-anggotanya dan bahwa kepentingan negara harus didahulukan dari kepentingan warga negara dan kepentingan kelompok masyarakat.
  7. Remuneration of Personnel : Gaji daripada pegawai adalah harga daripada layanan yang diberikan dan harus adil. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja. Di samping itu agar pemimpin memperhatikan kesejahteraan pegawai baik dalam pekerjaan maupun luar pekerjaan.
  8. Centralization : Masalah sentralisasi atau disentralisasi adalah masalah pembagian kekuasaan, pada suatu organisasi kecil sentralisasi dapat diterapkan, akan tetapi pada organisasi besar harus diterapkan disentralisasi.
  9. Scalar chain : Scalar chain (rantai skalar) adalah rantai daripada atasan bermula dari authority terakhir hingga pada tingkat terendah.
  10. Order : Untuk ketertiban manusia ada formula yang harus dipegang yaitu, suatu tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya masing-masing.
  11. Equity : Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya dengan kesungguhan dan kesetiaan, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan keadilan. Kombinasi dan keramahtamahan dan keadilan menghasilkan equity.
  12. Stability Of Tonure Of Personnel : Seorang pegawai membutuhkan waktu agar biasa pada suatu pekerjaan baru dan agar berhasil dalam mengerjakannya dengan baik.
  13. Initiative : Memikirkan sebuah rencana dan meyakinkan keberhasilannya merupakan pengalaman yang memuaskan bagi seseorang. Kesanggupan bagi berfikir ini dan kemampuan melaksanakan adalah apa yang disebut inisiatif.
  14. Ecsprit de Corps : “Persatuan adalah kekuatan”. Para pemimpin perusahaan harus berbuat banyak untuk merealisir pembahasan itu.
Adapun hubungan antara fungsi-fungsi manajemen antara yang satu dengan lain adalah saling kait mengaitkan. Dengan kata lain saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti, organizing dan staffing, merupakan 2 fungsi manajemen yang erat hubungannya yaitu berupa penyusunan wadah legal untuk menampung berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan pada suatu organisasi, dan staffing berhubungan dengan penetapan orang-orang yang akan memangku masing-masing jabatan yang ada dalam organisasi tersebut.

Meskipun demikian, fungsi perencanaan merupakan landasan fungsi manajemen yang lain dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya perencanaan, begitu pula sebaliknya.

D. FUNGSI DAN PRAKTEK MANAJERIAL PERENCANAAN, PENGORGANISASIAN, KEPEMIMPINAN, DAN PENGAWASAN

Di antara fungsi-fungsi manajemen pendidikan adalah sebagai Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (organizing), Kepemimpinan (Leadership), dan Pengawasan (Controlling). Fungsi manajemen pendidikan secara detail akan dibahas sebagai berikut :

1. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan tindakan awal dalam aktivitas manajerial pada setiap organisasi. Karena itu, perencanaan akan menentukan adanya perbedaan kinerja (perforemance) satu organisasi dengan organisasi lain dalam pelaksanaan rencana untuk mencapai tujuan. Perencanaan merupakan proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Berarti di dalam perencanaan akan ditentukan apa yang akan dicapai dengan membuat rencana dan cara-cara melakukan rencana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan para manajer di setiap level manajemen.

2. Pengorganisasian (organizing)
Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen yang kedua dan merupakan langkah strategis untuk mewujudkan suatu rencana organisasi. Pengorganisasian ialah suatu proses di mana pekerjaan yang ada dibagi dalam komponen-komponen yang dapat ditangani dan aktivitas-aktivitas mengkoordinasikan hasil yang dicapai untuk mencapai tujuan tertentu.

Pengorganisasian itu berfungsi untuk membagi kerja terhadap berbagai bidang, menetapkan kewenangan dan pengkoordinasian kegiatan bidang yang berbeda untuk menjamin tercapainya tujuan dan mengurangi konflik yang terjadi dalam organisasi.

3. Kepemimpinan (Leadership)
Dalam konteks manajemen, para manajer organisasi adalah pemimpin manajerial yang menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok dalam usaha kearah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu.

Sebagai suatu proses mempengaruhi, maka kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi seseorang sehingga mau melakukan pekerjaan dengan sukarela untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan itu terdiri dari adanya pemimpin, yang dipimpin (anggota) dan situasi saling memerlukan satu sama lain.

4. Pengawasan (Controlling)
Sebagai salah satu fungsi manajemen, pengawasan merupakan tindakan terakhir yang dilakukan para manajer pada suatu organisasi. Pengawasan (controlling) merupakan proses pengamatan atau pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

Dengan pengawasan diharapkan penyimpangan dalam berbagai hal dapat dihindari sehingga tujuan dapat tercapai. Apa yang direncanakan dijalankan dengan benar sesuai hasil musyawarah dan pendayagunaan sumber daya materi akan mendukung terwujudnya tujuan organisasi. Proses pengawasan yang akan menjamin standar bagi pencapaian tujuan. Pengawasan merupakan usaha yang sistematis dalam menentukan apa yang telah dicapai yang mengarah kepada penilaian kinerja dan pentingnya mengkoreksi atau mengukur kinerja yang didasarkan pada rencana-rencana yang ditetapkan sebelumnya.

E. PEMBIAYAAN PENDIDIKAN (BUDGET)
1. Pembiayaan atau Budget
Manajemen Budgetting (manajemen anggaran keuangan) dalam konsep Islam ini bisa diartikan suatu proses melakukan kegiatan mengatur keuangan dengan mengerakkan tenaga orang lain, dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi yang berkaitan dengan perolehan, pendanaan, dan pengelolahan aktiva dengan beberapa tujuan menyeluruh. Kegiatan tersebut dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai dengan pengawasan.

Istilah manajemen keuangan berkembang seiring perkembangan fungsi-fungsi yang lain, seperti manajemen pemasaran, manajemen produksi, dan manajemen sumber daya manusia. Ada yang menyebut manajemen keuangan sebagai pembelanjaan karena materi yang dikaji pada intinya merupakan aktivitas pembelanjaan perusahaan. Ada lagi yang menyebut sebagai administrasi keuangan. karena administrasi identik dengan manajemen.

Pada prinsipnya, manajemen keuangan memiliki fungsi dasar yaitu menghimpun dana dan mendistribusikannya untuk menopang semua kegiatan sehingga tujuan organisasi tercapai dengan efektif dan efesien.

Dana yang telah terhimpun perlu didistribusikan secara efektif dan efisien ke seluruh bagian dalam suatu organisasi. Alokasi dana ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi pengeluaran operasional atau pendapatan (revenue expenditure) dan pengeluaran modal (capital expenditure). Pengeluaran operasional merupakan semua pengeluaran yang dilakukan untuk semua kegiatan yang mendukung proses kegiatan, penyusutan aktiva tetap, dan sebagainya. Sedangkan pengeluaran modal merupakan semua pengeluaran yang dilakukan untuk membiayai barang modal (aktiva tetap).

Tugas manajemen keuangan dapat dibagi tiga fase, yaitu financial planning, implementation, and evaluation. (Jones : 1985) mengemukakan perencanaan finansial yang disebut budgeting, merupakan kegiatan mengkoordinasi semua sumber daya yang tersedia untuk mencapai sasaran yang diinginkan secara sistematis tanpa menyebebkan efek samping yang merugikan. Implementation involves accounting (pelaksanaan anggaran) ialah kegiatan berdasarkan rencana yang telah dibuat dan kemungkinan terjadi penyesuaian jika diperlukan. Evaluation involves merupakan proses evaluasi terhadap pencapaian sasaran.

2. Komponen dan Prinsip Budgeting
Komponen utama manajemen keuangan meliputi:
  1. prosedur anggaran
  2. prosedur akutansi keuangan
  3. pembelajaran, pergudangan, dan prosedur pendistribusian,
  4. prosedur investasi, dan
  5. prosedur pemeriksaan.
Dalam pelaksanaannya manajemen keuangan ini menganut asas pemisahan tugas antara fungsi otosirator, ordonator dan bendaharawan. Otosirator adalah pejabat yang diberi wewenang untuk mengambil tindakan yang mengakibatkan penerimaan dan pengeluaran anggaran. Ordonator adalah pejabat yang berwewenang melakukan pengujian dan memerintahkan pembayaran atas segala tindakan yang dilakukan berdasarkan otorisasi yang telah ditetapkan. Adapun bendaharawan adalah pejabat yang berwenang melakukan penerimaan, penyiapan dan pengeluaran uang atau surat-surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang serta diwajibkan membuat perhitungan dan pertanggungjawaban.

Dari beberapa paparan tentang konsepsi manajemen anggaran keuangan (manajemen budget), maka dapat diketahui, guna dari pembiayaan-pembiayaan di dalam pendidikan yang telah disusun dengan rapi bertujuan kita supaya menggunakan dana keuangan yang ada sehemat, seefektif dan seefisien mungkin serta tepat guna. Berkaitan dengan penggunaan anggaran dan pengelolaan pendanaan dalam pembiayaan pendidikan ini, maka dapat diketahui bahwa prinsip-prinsip manajemen budgeting adalah sebagai berikut :
  1. Hemat, tidak mewah, efisien dan sesuai dengan kebutuhan tekhnis yang diisyaratkan oleh suatu lembaga pendidikan
  2. Terarah dan terkendali sesuai dengan rencana, program atau kegiatan

F. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

Peningkatan kualitas pendidikan sangat menekankan pentingnya peranan sekolah sebagai pelaku dasar utama yang otonom, dan peranan orang tua dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan. Sekolah perlu diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan dan kebutuhan pelanggan. Sekolah sebagai institusi otonom diberikan peluang untuk mengelolah dalam proses koordinasi untuk mencapai tujuan-tujuan pendidika . Konsep pemikiran tersebut telah mendorong munculnya pendekatan baru, yakni pengelolaan peningkatan mutu yang berbasis sekolah. Pendekatan inilah yang dikenal dengan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (school based quality management/school based quality improvement).

Konsep peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah muncul dalam kerangka pendekatan manajemen berbasis sekolah. Pada hakekatnya MBS akan membawa kemajuan dalam dua area yang saling tergantung, yaitu, pertama, kemajuan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa-orang tua, siswa dan masyarakat. Kedua, kualitas lingkungan kerja untuk semua anggota organisasi. Wohlstetter dalam Nurkhalis memberikan panduan yang komprehensif sebagai elemen kunci reformasi MBS yang terdiri dari atas:
  1. menetapkan secara jelas visi dan hasil yang diharapkan,
  2. menciptakan fokus tujuan nasional yang memerlukan perbaikan,
  3. adanya panduan kebijakan dari pusat yang berisi standar-standar kepada sekolah,
  4. tingkat kepemimpinan yang kuat dan dukungan politik serta dukungan kepemimpinan dari atas,
  5. pembagunan kelembagaan (capacity building) melalui pelatihan dan dukungan kepada kepala sekolah, para guru, dan anggota dewan sekolah,
  6. adanya keadilan dalam pendanaan atau pembiayaan pendidikan.
Di dalam MBS ada beberapa pihak yang berperan, Pihak-pihak yang dimaksud dalam manajemen berbasis sekolah adalah:

1. Peran Kantor Pendidikan Pusat dan Daerah
Peran dan fungsi Departemen Pendidikan di Indonesia di era otonomi daerah sesuai dengan PP No.25 thn 2000 menyebutkan bahwa tugas pemerintah pusat antara lain menetapkan standar kompetensi siswa dan warga, peraturan kurikulum nasional dan system penilaian hasil belajar, penetapan pedoman pelaksanaan pendidikan, penetapan pedoman pembiayaan pendidikan, penetapan persyaratan, perpindahan, sertifikasi siswa, warga belajar dan mahasiswa, menjaga kelangsungan proses pendidikan yang bermutu, menjaga kesetaraan mutu antara daerah kabupaten/kota dan antara daerah provinsi agar tidak terjadi kesenjangan yang mencolok, menjaga keberlangsungan pembentunkan budi pekerti, semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme melalui program pendidikan.

2. Peran Dewan Sekolah dan Pengawas Sekolah
Dewan sekolah (komite sekolah) memiliki peran: menetapkan kebijakan-kebijakan yang lebih luas, menyatukan dan memperjelas visi baik untuk pemerintah daerah dan sekolah itu sendiri, menentukan kebijakan sekolah, visi dan misi sekolah dengan mengacu kepada ketentuan nasional dan daerah, menganalisis kebijakan pendidikan, melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat, menyatukan seluruh komponen sekolah. Pengawas sekolah berperan sebagai fasilitator antara kebijakan pemda kepada masing-masing sekolah antara lain menjelaskan tujuan akademik dan anggarannya serta memberikan bantuan teknis ketika sekolah menghadapi masalah dalam menerjemahkan visi pemda. Mereka memberikan kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme staf sekolah, melakukan eksperimen metode pengajaran, dan menciptakan jalur komunikasi antara sekolah dan staf pemda.

3. Peran Kepala Sekolah
Keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat tergantung pada kepemimpinan kepala sekolah. Karena ia merupakan pemimpin dilembaganya, maka ia harus mampu membawa lembaganya ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan, ia harus mampu melihat adanya perubahan serta mampu melihat masa depan dalam kehidupan global yang lebih baik.

Kepala sekolah/madrasah harus bertanggung jawab atas kelancaran dan keberhasilan semua urusan pengaturan pengelolaan sekolah secara formal kepada atasannya atau secara informal kepada masyarakat yang telah menitipkan anaknya. Kepala sekolah sebagai seorang pendidik, administrator, leader, dan supervisor, diharapkan dengan sendirinya dapat mengelola lembaga pendidikan ke arah perkembangan yang lebih baik dan dapat menjanjikan masa depan.

Dalam aplikasinya ada beberapa tugas pemimpin sekolah atau biasa disebut dengan kepala sekolah yang secara garis besarnya dapat dikelompokan dalam taksonomi, yang disebut taksonomi terintegrasi. Menurut Yuki dalam Marno dan Triyo Supriyatno menggambarkan bahwa hal tersebut meliputi:
  • Merencanakan dan mengorganisasikan
  • Memecahkan masalah
  • Menjelaskan peran dan sasaran
  • Memberi informasi
  • Memantau
  • Memotivasi dan memberi inspirasi
  • Mendelegasikan
  • Memberi dukungan
  • Mengembangkan dan membimbing
  • Mengelola konflik dan membangun tim
  • Membangun jaringan kerja
  • Pengakuan (recognizing), memberi pujian dan pengakuan bagi kinerja yang efektif
  • Memberi imbalan
4. Peran Para Guru
Sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas tentang guru pasal 39 ayat 2, yang memuat bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidikan pada perguruan tinggi. Pernyataan dalam ketentuan ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari keahlian dan kretria-kreteria harus dimiliki oleh seorang guru, karena guru bukan hanya trampil dalam proses melainkan juga harus memiliki figur yang bisa dijadikan contoh bagi peserta didik.
  • Guru juga bertugas sebagai administrator, evaluator, konselor, dan lain-lain sesuai dengan sepuluh kompetensi (kemampuan) yang dimilikinya. Sepuluh kompetensi yang dimaksud adalah: Menguasai bahan pelajaran,
  • Mengelola program belajar mengajar,
  • Mengelola kelas,
  • Menggunakan media atau sumber,
  • Menguasai landasa-landasan pendidikan,
  • Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar,
  • Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran,
  • Mengenal fungsi layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah,
  • Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
  • Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil pendidikan guna keperluan pengajaran.

5. Peran Orang Tua dan Masyarakat
Karakteristik yang paling menonjol dalam konsep MBS adalah pemberdayaan partisipasi para orangtua dan masyarakat. Sekolah memiliki fungsi subsider, fungsi primer pendidikan ada pada orangtua.

G. MANAJEMEN BERBASIS MASYARAKAT (MBM)

Konsep Manajemen Berbasis Masyarakat (MBS) merupakan impelementasi dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Dari konsep tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Manajemen Berbasis Masyarakat adalah manajemen atau suatu sistem organisasi yang dikelola oleh masyarakat dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di masyarakat dan menekankan pentingnya partisipasi masyarakat pada setiap kegiatannya serta bertujuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

1. Manajemen di Masyarakat
Masyarakat pada umumnya terdiri dari dua golongan yaitu yang satu sama lain menguatkan antara sesamanya. Diantara masyarakat tersebut ialah masyarakat dan keluarga. Kepentingan masyarakat jenisnya macam-macam mengikuti macam kepentingan yang mendasarinya. Kemudian golongan kedua masyarakat itu bergabung menjadi masyarakat yang lebih besar dan besifat nasional mengatasi masyarakat, keluarga dan masyarakat berkepentingan. Ialah masyarakat umum.

a. Masyarakat keluarga
Kelompok sosial dalam bentuk ini merupakan cikal bakal terbentuknya suatu bangsa. Unsur-unsur masyarakat kecil telah terpenuhi. Kesamaan ciri-ciri terlukis pada kesepakatan bersama antara suami istri dalam bentuk rumah tangga yang bahagia dunia akhirat penuh dengan rahmah dan mawaddah.

b. Masyarakat Kepentingan
Istilah ini memang tidak umum, hanya digunakan dalam kaitan untuk membedakan dengan masyarakat keluarga dari segi proses terbentuknya. Istilah yang di gunakan tehadap masyarakat kentingan ini ialah masyarakat khusus, dan selanjutnya masyarakat inilah yang digunakan dalam pembahasan. Terbentuknya masyarakat khusus bermulaan dari timbulnya berbagai kepentingan yang berbeda pada kelompok-kelompok sosial yang ada, yang tidak dapat tertampung pada kelompok itu.

2. Manajemen Berbasis Masyarkat (MBM)
Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan terutama pada masyarakat Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif, dan afesien.

Manjemen berbasis masyarakat yang memberikan kewewenangan kepada masyarakat dalam mengatur pendidikan dan pengajaran, Merencanakan, mengorganisasikan dan fungsi manajemen lainnya, untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masyarakat.

Adapun tujuan dari MBM ini adalah salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat yang diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan pendidikan di indonesia pada umumnya dan di masyarakat pada khususnya .Hal ini disebutjan dalam UU 1945 dan Tap MPR.

H. PARADIGMA MANAJEMEN ISLAM
1. Pengertian Manajemen Islam
Pengertian Manajemen di dalam bahasa arab sama dengan al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang dapat kita temukan dalam al-Qur’an antara lain:
”Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitungannmu.” (Q.S.As-Sajadah 32:05).

” Katakanlah: Siapakah yang memberi Rezeki kepadamu dari langit dan bumi siapakah yang yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab:Allah”. Maka Katakanlah”Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (Q.S Yunus 31)

Kedua ayat di atas terdapat kata Yudabbiru al-amra yang berarti mengatur urusan. Ahmad al-Syawi menafsirkan bahwa Allah adalah pengatur alam (manager) karena manusia yang diciptakan-Nya telah dijadikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.



Pendidikan Islam merupakan proses trans-internalisasi nilai-nilai islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, manajemen dalam pendidikan islam dapat di definisikan sebagai proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan/lainnya) baik perangkat keras maupun lunak, pemanfaatan tersebut melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahtraan, baik di dunia mauun di akhirat.

Sistem manajemen dalam pendidikan Islam merupakan proses yang koordinatif, sistematik, dan integratif. Proses itu dimulai dari perencanaan. Pengorganisasian, penggerakan, sampai pada pengawasan yang semuanya selalu didasari oleh nilai-nilai Islam yaitu ketauhidan kepada Allah, dan di landasi oleh al-Qur’an dan al-Hadits agar sstem tersebut dapat sekaligus mempunyai nilai-nilai yang material dan spritual.

2. Prinsip-prinsip Manajemen Islam
Dalam kitab Fi Ijtamiyyab al-Tarbiyah, karya Munir al-Husry Sarhan, disebutkan bahwa prinsip-prinsip manajemen Islami itu diantaranya;
  • Ikhlas
  • Kejujuran
  • Amanah
  • Adil
  • Tanggung Jawab
  • Dinamis
  • Praktis
  • Fleksibel.
Sementara Dr. Sanusi Uwes menambahkan ada beberapa karakter kepemimpinan Islam yang mengantarkan kepada kesuksesan seperti halnya kepemimpinan Rasulullah SAW., yakni:
  • kejujuran,
  • keadilan,
  • kelembutan hati,
  • kecerdasan,
  • keberanian, dan
  • sabar.
Dengan prinsip-prinsip tersebut, system manajemen pendidikan Islam ini akan mampu memberikan konstribusinya pada peningkatan kinerja kelembagaan maupun manajemen yang maslahat dunia-akherat. Arahan yang positif tersebut dimaksudkan agar system manajemen Islami dewasa ini setahap demi setahap dapat menggeser dari paradigma manajemen yang bersifat material (berat sebelah) berubah menjadi system manajemen Islami yang benar-benar integrative-holistik.

3. Ciri-ciri Manajemen Islam
Berkaitan dengan hakikat dan ciri-ciri manajemen Islami. Dijelaskan bahwa ada enam ciri sebagai berikut :
  1. Manajemen berdasarkan akhlak yang luhur (akhlakul Karimah)
  2. Manajemen terbuka. Artinya pengolaan yang sehat, dan terbuka (open minded) atau tranparansi. Karena Jabatan sebagai pimpinan atau manajer adalah amanah yang harus dipelihara dengan baik dan penuh keadilan
  3. Manajemen yang demokratis. Konsekuensi dari sikap terbuka dalam manajemen. Maka pengambilan keputusan atas musyawarah untuk kebaikan organisasi. Dengan demikian tinggi keterlibatan anggota dalam pengambilan keputusan. Maka mereka semakin berdaya dalam menjalankan pekerjaannya dan mendorong Munculnya kepuasan kerja dengan dibarengi imbalan yang sesuai dengan kebutuhan hidup, kemampuan organisasi dan ketentuan yang berlaku
  4. Manajemen berdasarkan ilmiah. Dengan mengamalkan prinsip pengetahuan tidak dikerjakan secara membabi buta. Artinya pimpinan dan manajer haruslah orang yang berilmu pengetahuan karena dia yang akan merencanakan, mengarahkan, menambil keputusan dan mengawasi pekerjaan tentu memerlukan ilmu pengetahuan yang luas tentang organisasi, manajemen dan bidang pekerjaannya.
  5. Manajemen berdasarkan tolong menolong (ta’awun). Prinsip tolong menolong atau kerjasama adalah mengamalkan sunnatullah dalam menjalankan hidupnya sebagai mahkluk sosial yang diciptakan Allah, dan hal ini sejalan dengan fitrah penciptaan manusia.
  6. Manajemen berdasarkan perdamaian.

I. SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
1. Pengertian Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen (SIM) adalah bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem informasi manajemen dibedakan dengan sistem informasi biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem informasi lain yang diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang bertalian dengan otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan manusia, misalnya sistem pendukung keputusan, sistem pakar, dan sistem informasi eksekutif.

2. Tujuan Sistem Informasi Manajemen
Adapun tujuan umum sistem informasi antara lain:
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  • Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
  • Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dam dipergunakan dalam semua tahap manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).

Semua sistem Informasi memiliki 3 (tiga) unsur atau kegiatan utama, yaitu :
  1. Menerima data sebagai masukan (input)
  2. Memproses data dengan melakukan perhitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran perkiraan dan lain-lain.
  3. Memperoleh informasi sebagai keluaran (output).
Prinsip ini berlaku baik untuk sistem informasi manual, elektromekanis maupun komputer. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sebuah sistem informasi dan memproses data, dan kemudian mengubahnya menjadi informasi.

=============
EndNote:
[1]Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 3-4
[2]Amirullah, Pengantar Manajemen, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), hlm. 7
[3]Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997. hlm. 6.
[4]http://edukasi.kompasiana.com/2010/03/19/pengembangan-ilmu-manajemen-pendidikan/
[5]Prof. Dr. Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Crt. II, Jakarta, Rineka Cipta, 2004, hlm. 4
[6]C.S. George Jr. 1972. The History or Management Thought, ed. 2nd. Upper Saddle River, NJ. Prentice Hall. hlm. 4
[7]Drs. Mamduh M. Hanafi, MBA, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997. hlm. 30
[8]http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/01/teori-teori-manajemen-pendidikan/
[9]M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963, hlm. 22
[10]Mondy, R.W. and Premeauex, S.H, Management: Concepts, Practices and Skills. (New Jersey: Prentice Hall Inc Englewood Cliffs, 1995), hlm. 138.
[11]Winardi, Asas-Asas Manajemen. (Bandung: Mandar Madju, 1990), hlm. 44.
[12]Reeser, C, Management Function and Modern Concepts. (Illionis: Scoot Foresmen and Company, 1973), hlm. 323.
[13]Hersey, P. And Blanchard, K.H, Management of Organizational Behavior. (New Jersey: Englewood Cliffs, 1988), hlm. 86.
[14]Kouzes J.M and Posner, B.Z, Credibility. (San Francisco: Jossey-Bass Publishers, 1993), hlm. 55.
[15]Siagian, Sondang, Filsafat Administrasi, (Jakarta: Gunung Agung, 1985), hlm. 87
[16]Terry, George. R, Op. Cit, 323.
[17]Modul Pelatihan In Service Training KKM MTS/MI, Depag RI, Jakarta, 2001, hl. 86.
[18]Modul Pelatihan In..., hlm. 87
[19]Mulyasa, Manajemen Berbasis, sekolah Konsep, setrategi, dan Implementasi, Bandung, Rosdakarya, 2004, hl. 48.
[20]Mulyasa..., Ibid, hl. 49.
[21]Mulyasa..., Ibid, hal. 165.
[22]Soebagio Admodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia (Jakarta: Ardadizyajaya, 2000), hlm. 5-6
[23]Suryosubroto B, Manajemen Pendidikan di Sekolah (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 204-205.
[24]Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori, Model dan Aplikasi (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003), hlm. 81
[25]Nurkholis, I bi d, hlm. 81-82.
[26]Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, (Bandung: Refika Aditama, 2008), hal. 41-43.
[27]Piet Go, Pastoral Sekolah, Malang: t.p., 2000), hlm. 46.
[28]Munir al-Hursy Sarhan, Fi Ijtimaiyyah al-Tarbiyah, Kairo: Maktabah al-Anglo al-Mishriyyah. 1978.h.69-71
[29]Sanusi Uwes, Visi dan pondasi pendidikan (dalam perspektif Islam), Jakarta Logos, 2003. h.182-193
[30]Sanusi Uwes, Visi dan pondasi pendidikan ..., Hal. 71.

==============
DAFTAR PUSTAKA

Hasbullah. Dasar Ilmu Pendidikan. 2005. Jakarta. Penerbit: PT RajaGrasindo Persada
Usman, Husaini, Manajemen Teori, Praktek, dan Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008
Amirullah, Pengantar Manajemen, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004
Hanafi, M, Mamduh, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997
http://edukasi.kompasiana.com/
Pidarta Made, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 2004, Crt. II
Manulang, M, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963
Winardi, Asas-Asas Manajemen, Bandung: Mandar Madju, 1990
Uwes, Sanusi, Visi dan pondasi pendidikan (dalam perspektif Islam), Jakarta: Logos, 2003
Marno, dan Supriyatno, Triyo, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam, Bandung: Refika Aditama, 2008
Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, Teori, Model dan Aplikasi, Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003
Admodiwirio, Soebagio, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Ardadizyajaya, 2000
Suryosubroto B, Manajemen Pendidikan di Sekolah (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
Mulyasa, Manajemen Berbasis, sekolah Konsep, setrategi, dan Implementasi, Bandung, Rosdakarya, 2004
Modul Pelatihan In Service Training KKM MTS/MI, Depag RI, Jakarta, 2001
Read more

0 Orientasi Pembaharuan Pendidikan Dalam Tantangan Modernitas

Oleh: H. Irsyad Syafar Buan Lc, Dpl.Ed.
Dipublikasikan di Jurnal OASE edisi 16 Th.2000

Pengantar
Pendidikan dalam sejarah peradaban anak manusia adalah salah satu komponen kehidupan yang paling urgen. Aktifitas ini telah dan akan terus berjalan semenjak manusia pertama ada di dunia sampai berakhirnya kehidupan di muka bumi ini. Bahkan kalau ditarik mundur lebih jauh lagi, kita akan dapatkan bahwa pendidikan telah mulai berproses semenjak Allah swt. menciptakan manusia pertama Adam di sorga dimana Allah telah mengajarkan kepada beliau semua nama-nama yang oleh para malaikat belum dikenal sama sekali (QS Al Baqarah: 31-33).

Semenjak manusia berinteraksi dengan aktifitas pendidikan ini semenjak itulah manusia telah berhasil merealisasikan berbagai perkembangan dan kemajuan dalam segala lini kehidupan mereka. Bahkan pendidikan adalah suatu yang alami dalam perkembangan peradaban manusia (1).

Dan secara paralel proses pendidikan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dalam bentuk metode, sarana maupun target yang akan dicapai. Karena hal ini merupakan salah satu sifat dan keistimewaan dari pendidikan, yaitu selalu bersifat maju (taqaddumiyyah). Sehingga apabila sebuah pendidikan tidak mengalami serta tidak menyebabkan suatu kemajuan atau malah menimbulkan kemunduran maka tidaklah dinamakan pendidikan. Karena pendidikan adalah sebuah aktifitas yang integral yang mencakup target, metode dan sarana dalam membentuk manusia-manusia yang mampu berinteraksi dan beradabtasi dengan lingkungannya, baik internal maupun eksternal demi terwujudnya kemajuan yang lebih baik (2).

Sebagai contoh nyata dari argumen di atas dapat kita lihat dari dua kenyataan berikut:

Pertama, ketika Uni Sovyet meluncurkan pesawat luar angkasanya yamg pertama spotnic pada 4 oktober 1957, Amerika Serikat tergoncang dengan dahsyatnya. Demam spotnic melanda seantero Amerika. Betapa tidak, karena Amerika adalah negara besar pemenang perang dunia II telah kedahuluan oleh Uni Sovyet. Sampai-sampai presiden AS ketika itu membentuk tim khusus untuk merespon kejadian besar ini. Tim tersebut bukan bertugas menyelidiki kenapa Uni Sovyet berhasil mendahului mereka dalam meluncurkan pesawat luar angkasa, melainkan mereka mendapat intruksi lansung dari presiden untuk melakukan suatu tugas yang tidak disangka-sangka oleh para pengamat politik waktu itu. Tugas mereka adalah meninjau kembali kurikulum pendidikan AS mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi. Dengan bekerja keras dan dalam waktu yang singkat tim tersebut berhasil mengeluarkan statement yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan AS dari semua jenjang pendidikan sudah tidak layak lagi dan harus direvisi. Sebuah keputusan yang teramat berani waktu itu. Tapi itulah sebuah konsekuensi kalau hendak berkompetisi dalam kemajuan peradaban.

Amerika pun mulai melakukan pembaharuan pendidikan dalam segala segi dan dimensinya. Mulai dari kurikulum, mata pelajaran, tenaga pengajar, sarana pendidikan sampai kepada sistem evaluasi pendidikan. Usaha mereka dengan sangat cepat membuahkan hasil yang sangat luar biasa. Pada tanggal 14 juli 1969 mereka berhasil meletakkan manusia pertama di permukaan bulan. Hanya dalam kurun waktu 12 tahun mereka berhasil mengungguli teknologi Uni Sovyet. Waktu yang relatif singkat, kurang dari masa pendidikan seorang anak dari tingkat dasar sampai jenjang perkuliahan (3)

Hasil lain dari itu tentunya dapat disaksikan oleh dunia semuanya dimana AS sekarang telah menjadi kekuatan tunggal setelah runtuhnya US.

Kedua, kejadian yang hampir serupa sebenarnya pernah terjadi di Jepang seusai kekalahan mereka dalam perang dunia II dengan dibom atomnya kota Hiroshima dan Nagasaki. Jepang praktis lumpuh dalam segala segi kehidupan. Bahkan kaisar Jepang waktu itu menyatakan bahwa mereka sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali tanah dan air. Belum lagi hukuman sebagai orang yang kalah perang yang melarang Jepang untuk membangun angkatan bersenjata. Semua itu merupakan hambatan yang sangat besar untuk dapat bangkit dan membangun sebuah peradaban baru. Tapi perkiraan akal manusia tidak selamanya benar. Jepang bangkit perlahan-lahan dengan memperbarui sistem pendidikan mereka dalam semua jenjang pendidikan. Dalam masa yang relatif singkat Jepang berhasil membangun negara mereka menjadi negara yang kuat dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Bahkan merupakan negara ekonomi terkuat yang menjadi ancaman bagi AS sendiri. Coba kita bandingkan dengan Indonesia yang mulai membangun diri pada waktu yang sama dengan Jepang (kita merdeka 1945 dan Jepang di bom atom 1945). Jepang telah berlari jauh di depan, kita malah masih tertatih-tatih bahkan jalan di tempat dan kadang kala juga mundur ke balakang. Contoh nyata dari kemajuan pendidikan di Jepang adalah berobahnya pengertian buta huruf dikalangan rakyat Jepang. Buta huruf yang sudah tidak ada lagi di Jepang mempunyai pengetian "tidak bisa menggunakan komputer". Betapa jauhnya pengertian ini dengan pengertian aslinya di kalangan dunia ketiga, yang berarti tidak bisa tulis dan baca.

Dua fenomena di atas merupakan gambaran nyata dari urgensi pendidikan yang telah dipahami dan diaplikasikan dengan baik oleh AS dan Jepang. Langkah yang mereka ambil telah membuktikan kepada dunia bahwa kemajuan pendidikan berarti kemajuan sebuah bangsa. Dan bangsa manapun di dunia ini yang mengabaikan pendidikan maka tunggulah kehancurannya.

Pembaruan Pendidikan Indonesia Sebuah Keharusan
Kalau kita mengamati pendidikan di Indonesia maka kita akan mendapatkan beberapa fenomena dan indikasi yang sangat tidak kondusif untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dalam bidang pendidikan apalagi dalam bidang ekonomi. Fenomena dan indikasi tersebut antara lain:

1. Rendahnya mutu dan tingkat pendidikan para tenaga pengajar di semua jenjang pendidikan.
Fenomena ini dapat ditangkap dengan mudah oleh siapa saja yang memiliki sedikit wawasan mengenai kependidikan. Walaupun tentunya penelitian ilmiah mengenai masalah ini sangat perlu dilakukan agar kesimpulan yang diambil lebih bernilai objektif. Namun secara sederhana dapat kita ketengahkan beberapa indikasi umum yang diketahui oleh banyak orang. Berdasarkan jenjang pendidikan yang telah diselesaikan oleh para pendidik, dapat kita temukan kondisi berikut ini: para guru di tingkat pendidikan dasar di Indonesia sangat jarang diantara mereka yang memiliki ijazah strata satu (S1). Rata-rata adalah tamatan sekolah menengah atau sarjana muda. Untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan atas, maka akan kita temukan juga kondisi yang hampir sama. Tenaga pengajar ditingkat ini kebanyakan sarjana muda dan sedikit sekali yang merupakan sarjana penuh. Dan bisa dikatakan tidak ada diantara mereka yang tamatan S2. Selanjutnya untuk tingkat perguruan tinggi secara umum, dan jenjang S1 secara khusus, masih banyak sekali dosen yang hanya tamatan S1. Dalam waktu yang sama sangat jarang dosen yang bergelar Doktor mengajar di tingkat ini. Bahkan diantara dosen-dosen yang hanya memiliki ijazah S1 tersebut kadang kala tidak mengisi mata kuliahnya, tetapi digantikan oleh asistennya yang biasanya adalah mahasiswa/ mahasiswi tahun terakhir yang berprestasi atau sarjana baru.

Sementara itu kalau ditinjau dari segi kesiapan mereka secara ilmiah dalam aktifitas belajar mengajar, maka mayoritas dari sarjana atau tenaga pengajar yang terjun kebidang pendidikan ini tidak memiliki spesialisasi dalam bidang pendidikan. Artinya bukan lulusan dari fakultas pendidikan dan sejenisnya. Terutama untuk tingkat pendidikan menengah ke bawah. Padahal ilmu-ilmu pendidikan sangat perlu dimiliki oleh siapa saja yang menggeluti aktifitas mendidik. Karena mendidik bukanlah sekedar transfer ilmu pengetahuan dari guru kepada murid atau siswa, tetapi ia merupakan aktifitas yang komplek dan integral yang mempunyai metode dan seni tersendiri.

Kalau kita adakan studi komparatif secara kasar dengan sebagian negara-negara arab yang nota bene negara ketiga seperti negara kita, maka kita akan sedikit tertinggal dari mereka. Padahal sering ejekan dari mulut kita bahwa orang-orang arab tidak lebih maju dari kita. Di Mesir saja tidak ada sarjana S1 yang mengajar di tingkat S1. Minimal tenaga pengajarnya adalah S2, tapi kebanyakan adalah Doktor (S3). Untuk tingkat sekolah menengah tidak ada tenaga pengajar yang lulusan sekolah menengah juga, kebanyakan lulusan S1, bahkan tidak jarang yang sudah magister ataupun lulusan Diploma Khusus (tingkatan setelah S1). Dan tidak jarang pula guru-guru pada tingkat pendidikan dasar pemilik ijazah diploma khusus tadi. Sementara itu di negara teluk terutama Kuwait dan Emirat Arab, mewajibkan tenaga pengajar untuk pendidikan tingkat menengah pertama ke bawah adalah lulusan dari fakultas-fakultas pendidikan. Ini baru perbandingan kasar dengan sebagian negara Arab, apalagi kalau kita bandingkan dengan negara maju seperti Amerika dan Inggris, maka kita akan sangat jauh tertinggal.

2. Rendahnya kemampuan sarjana-sarjana Indonesia
Gejala yang kedua ini merupakan akibat logis dari fenomena yang kita sebutkan di atas. Karena kapasitas dan kapabilitas para pendidik (dosen) akan berakibat lansung terhadap mutu yang mahasiswanya, baik secara positif maupun secara negatif. Dengan arti kata apabila seorang dosen memiliki tingkat akademis yang tinggi kemudian ia juga memiliki wawasan yang cukup dalam ilmu pendidikan maka besar peluang ia akan menghasilkan mahasisiwa dan mahasisiwi yang yang unggul dan lebih baik dibandingkan dengan dosen lain yang tidak memilki kriteria tersebut. Ini dapat kita ambil contoh pada beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang memilki kemampuan finansial yang kuat yang memungkinnya untuk mendatangkan tenaga dosen yang qualified. Dibandingkan dengan perguruan tinggi yang lain yang kebanyakan para dosennya hanya lulusan S1, maka prestasi mahasisiwanya akan sangat jauh berbeda. Apalagi ketika bersaing dalam mendapatkan peluang kerja. Hal yang sama juga terjadi pada jenjang pendidikan yang lebih rendah, baik pendidikan tingkat menengah maupun pendidikan dasar.

Indikasi lain dari gejala di atas adalah minimnya karya ilmiyah yang dihasilkan oleh para sarjana Indonesia. Contoh sederhana adalah masih jarangnya karya tulis dari penulis-penulis Indonesia. Yang ramai memenuhi pasar adalah buku-buku terjemahan, baik dari bahasa Arab, Inggris maupun bahasa lainnya. Kalaupun ada karya tulis dari penulis-penulis terkenal Indonesia, namun belum mampu menjadi rujukan di kawasan Asia tenggara apalagi untuk level Internasional. Coba kita bandingkan dengan karya Buya Hamka, tafsir Al Azhar yang menjadi rujukan bagi kebanyakan negara asia tenggara. Begitu juga karya Pak Natsir, fiqh dakwah yang juga tersebar di daratan melayu (Indonesia, Malaysia dan Thailand) bahkan dicetak dengan bahasa arab melayu karena mayoritas muslimin di selatan Thailand (Fathani) menggunakan arab melayu untuk menulis bahasa melayu.

3. Dekadensi moral dikalangan mahasiswa dan pelajar
Gejala yang ketiga ini sudah menjadi rahasia umum. Bahkan tidak dapat lagi dikatakan sebagai gejala. Tapi telah menjurus kepada fenomena. Kalau dulu di awal-awal 90-an kita sudah terbiasa mendengar tawuran antara sesama pelajar dan mahasisiwa. Baik antara sekolah dan perguruan yang sama atau pun yang berbeda. Kadang penyebab dari tawuran tersebut adalah hal yang sangat sepele, seperti persaingan nama, persaingan cinta (pacaran), kesenggol di bis atau di jalan dan lain sebagainya. Semua sebab tersebut mengindikasikan betapa bodohnya mereka. Lebih jauh lagi betapa tidak adanya efek positif dari apa yang mereka pelajari. Pada hal kalau kita cermati pada masa-masa tersebut sangat gencar diadakan penataran P4 untuk semua jenjang pendidikan. Bahkan merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan ijazah. Namun semua itu tidak menjadikan mereka lebih baik.

Pada masa dua tahun terakhir ini dekadensi moral tidak lagi sekedar tawuran, tapi telah lebih parah lagi. Mahasiswa dan pelajar (sampai tingkat SD) telah dicekoki oleh narkoba. Suatu hal yang mungkin dulu tidak pernah terbayangkan. Bahkan banyak diantara mereka yang sudah sampai kepada kecanduan yang sudah sangat sulit diobati. Ini baru beberapa kebejatan moral yang telah terlanjur diekspos kehadapan publik. Adapun kebejatan moral yang tersembunyi yang tidak atau belum terdeteksi tentunya lebih parah lagi. Seperti pelacuran dikalangan mehasiswi dan mahasiswa, pornografi dengan berbagai jenis dan bentuknya, pemalsuan ijazah, kerusakan akhlak dikalangan para pendidik sendiri dan lain sebagainya.

Kita tidak memungkiri adanya faktor eksternal yang sangat kuat yang menyebabkan kondisi ini. Tapi minimal ini merupakan indikator yang sangat nyata betapa jeleknya kondisi internal mereka (baca pendidikan dengan segala isinya). Karena apa yang mereka pelajari dan siapa yang mengajari mereka sudah tidak mampu lagi memberikan imunitas kepada mereka dari bahaya-bahaya luar. Sehingga ketika mereka dirasuki oleh racun-racun eksternal mereka terkapar tak berdaya digerogoti oleh racun tersebut.

Kerusakan moral para mahasisiwa dan pelajar dengan segala jenis dan bentuknya adalah sebuah ancaman yang berbahaya tidak saja terhadap para pelakunya, tapi merupakan ancaman yang serius terhadap stabilitas sosial, ekonomi dan keamanan serta kesatuan bangsa. Atau dengan kata lain dapat merongrong integritas suatu bangsa (4).

Beberapa fenomena di atas kiranya cukup menjadi alasan yang kuat untuk melakukan reformasi pendidikan dalam berbagai bidang. Jika pendidikan di negara-negara maju yang telah memberikan banyak kontribusi positif untuk kehidupan manusia di seluruh dunia tidak lepas dari pembaruan dari waktu ke waktu, maka pendidikan di Indonesia yang pada masa belakangan ini masih belum menemukan format yang produktif tentunya sangat mendesak sekali untuk diperbaharui.

Beberapa Faktor Penyebab
Sesungguhnya asap tidak akan ada kalau tidak ada api. Begitu juga sesuatu tidak akan terjadi tanpa ada sebab. Fenomena yang kita paparkan di atas sangat pasti ada penyebabnya. Kita akan coba melihat secara ringkas beberapa faktor yang kemungkinan besar menjadi penyebabnya:

1. Kemampuan ilmiah
Yang kita maksud kemampuan ilmiah di sini adalah kapabilitas seseorang untuk melakukan sebuah aktifitas yang memenuhi syarat-syarat ilmiah. Seperti penguasan terhadap metodologi riset, perangkat-perangkat riset baik yang berupa perangkat lunak (software) seperti referensi maupun perangkat keras (hardware) seperti mesin dan sebagainya. Semua komponen ini jarang terpenuhi karena faktor ekonomi, waktu dan kesempatan dan skill para sarjana dalam menggunakannya. Disamping itu kemampuan dan minat baca rakyat Indonesia secara umum masih sangat rendah dan jauh dari rata-rata. Indonesia masih termasuk negara yang paling rendah dalam mengkonsumsi buku pertahunnya. Padahal membaca adalah salah satu faktor yang paling urgen dalam kemampuan ilmiah seseorang. Belum lagi harga buku yang relatif sangat mahal yang menjadi penghalang terwujudnya masyarakat yang minat bacanya tinggi.

Itu yang berkaitan dengan kemampuan ilmiah, sementara itu yang berkaitan dengan krisis moral besar kemungkinan adalah tipisnya nilai-nilai moral dan akhlak dalam diri mahasiswa tersebut. Karena kebanyakan mereka sudah tidak lagi mendapatkan pendidikan moral yang memadai pada jenjang pendidikan yang semakin tinggi. Sementara gerogotan dari luar terhadap moral mereka sangat gencar sekali, seperti koran, majalah, radio dan televisi dan lingkungan tempat mereka berinteraksi. Sehingga seseorang lebih menjadi murid lingkungannya dibanding murid sekolahnya.

2. Kesempatan
Kebanyakan para mahasiswa atau sarjana terlanjur sibuk dengan banyak aktifitas rutin harian yang menyita hampir seluruh waktu yang dimilikinya. Sehingga sangat sulit untuk mencari peluang dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan ilmiahnya. Apalagi peluang untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidaklah mudah. Persaingan dan biaya yang tinggi sering penjadi penghalang dihadapan para sarjana untuk melanjutkan studi mereka. Sementara itu peluang untuk mengganti spesialisasi lain ataupun menambah spesialisasi lebih dari satu baik di tingkat S1 maupu ditingkat S2 dan S3 sangat kekecil kemungkinannya karena batasan umur yang mengikat, biaya yang mahal dan peraturan yang kurang mendukung. Kalau kita bandingkan dengan kondisi di Mesir misalnya, banyak sekali mahasiswa yang belajar pada tingkat S1 di suatu bidang, tapi ia di bidang yang lain sudah S3 atau S2. Atau adanya mahasiswa yang menyandang lebih dari 5 gelar S2 tapi masih mau mengambil spesialisasi yang lain di tingkat S1 atau S2.

3. Faktor ekonomi
Kondisi ekonomi rakyat baik sebelum krisis apalagi setelah krisis merupakan faktor yang dominan yang menyebabkan timbulnya fenomena di atas. Apalagi pendidikan telah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Sehingga banyak konglomerat menginvestasikan uangnya di bidang ini. Sementara itu anggaran pendidikan nasional tidak mampu mengatasi problema ini karena jumlahnya yang masih jauh dari cukup. Maka kita lihat semua sarana pendidikan milik pemerintah mulai dari tingkat SLTP sampai perguruan tinggi tidak ada yang gratis. Apalagi yang milik swasta. Padahal kalau dibandingkan dengan Sudan yang lebih miskin dari kita malah mampu menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya.


Gejala di atas berakibat banyaknya rakyat yang tidak mendapatkan pendidikan sampai ketingkat yang lebih tinggi. Kalaupun ada, kebanyakan hanya bertahan sampai jenjang S1. Rata-rata terbentur oleh kondisi finansial mereka yang sangat tidak mendukung. Padahal dari segi kecerdasan banyak yang potensial.

4. Faktor politik
Dalam masa orde baru ada kecendrungan para penguasa untuk mempolitisir pendidikan demi kesinambungan kekuasan mereka, dengan mengabaikan kemajuan rakyat. Contoh sederhana dapat kita lihat pada penanaman nilai-nilai nasionalisme. Nasionalisme perlahan-lahan berubah dari loyalitas kepada bangsa menjadi loyalitas kepada penguasa betapa pun jeleknya. Slogan nasionalisme dijadikan alat untuk menekan dan mengelabui rakyat. Padahal mereka yang berkoar-koar dengan slogan nasionalisme tersebut tidak jarang merekalah orang yang paling tidak nasionalisme. Terbukti setelah runtuhnya rezim orde baru terungkap berbagai bentuk penyelewengan harta dan kekayaan bangsa, baik dalam bentuk korupsi, kolusi maupun nepotisme. Kalau seandainya semua harta yang dipegang oleh "bandit-bandit" nasionalisme tersebut niscaya akan sangat mencukupi untuk menanggulangi krisis yang berlarut-larut sekarang ini, bahkan bisa berlebih. Semakin semrawutnya masalah ini sampai sekarang menjadi bukti berikutnya bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki nasionalisme sama sekali melainkan egoisme belaka.

Contoh lain dari mempolitisir pendidikan adalah adanya mata pelajaran yang pada intinya pengulangan dari mata pelajaran yang lain, seperti PSPB yang seharusnya sudah cukup dengan pelajaran PMP dan sejarah. Namun karena pelajaran tersebut menguntungkan penguasa maka harus dipelajari.

5. Sistem penerimaan mahasiswa baru
Sistem pendidikan di Indonesia sebenarnya sudah cukup baik dibandingkan dengan sebagian negara ketiga lainnya. Seperti pemakaian sistem SKS disemua perkuliahan merupakan sebuah nilai positif. Masih banyak negara-negar ketiga yang belum mampu merealisasikan sistem ini. Namun ada sedikit kekurangan yang menyangkut sistem peneriamaan mahasiswa baru. Karena sering sistem ini yang menyebabkan tidak masuknya siswa/siswi yang bernilai agak bagus ke perguruan tinggi (PT) negeri. Akibat selanjutnya PT swasta menjadi solusi. Namun kondisi inilah yang menyebabkan pendidikan menjadi ladang bisnis. Apa artinya diadakan EBTANAS untuk siswa kelas 3 SMU kalau setelah itu mereka harus ikut ujian lagi untuk masuk PT? Kenapa nilai EBTANAS murni mereka tidak dijadikan sebagai standar penerimaam mahasiswa baru?. Apabila siswa yang bernilai rendah banyak yang berhasil lolos sebaliknya yang bernilai di atas rata-rata tidak masuk, maka akibat berikutnya tentu dapat diduga yaitu ketidak mampuan untuk melanjutkan ketingkat yang lebih tinggi disamping juga prestasi studinya yang kurang memuaskan.

Reformasi Pendidikan dalam Tantangan Modernitas
Uraian di atas mengantarkan kita kepada perlunya reformasi dalam pendidikan Indonesia. Karena bangsa kita tidak saja dihadapkan kepada masalah-masalah internal, tetapi juga tantangan eksternal untuk dapat terus mengiringi kemajuan zaman. Bahkan seharusnya tidak saja mengiringi, tetapi ikut andil dalam modernisasi kehidupan manusia. Oleh sebab itu reformasi (pembaharuan) yang diinginkan hendaklah memiliki orientasi yang jelas. Bukan dengan menggunakan politik tambal sulam yang selama ini sering diperankan oleh siapa saja yang menjadi menteri pendidikan. Sehingga berkibat compang-campingnya pendidikan Indonesia. Pada kesempatan ini penulis memberikan beberapa ide yang mungkin dapat dipertimbangkan dalam mereformasi pendidikan Indonesia.

1. Pohon pendidikan bukan jenjang pendidikan
Dalam dunia pendidikan kita mendengar istilah jenjang pendidikan (Educational Ladder) yaitu tangga atau tingkat yang harus dilalui seseorang dalam menggeluti pendidikan secara berturut-turut. Sistem ini memiliki permulaan yang terbatas, kemudian lanjutan yang terbatas dan ujung yang terbatas juga. Contohnya mulai dari SD, kemudian SMP, lalu Jurusan fisika (IPA) di SMU, selanjutnya fakultas tekhnik di perkuliahan dan seterusnya. Dan akan berakhir pada satu titik (puncak tangga). Tidak ada peluang dengan sistem ini untuk mengembangkan diri kebagian yang lain. Karena ia berurutan seperti tangga. Sistem semacam ini perlu ditinjau kembali. Karena ia sangat tidak relefan dengan perkembangan zaman serta kemajuan ilmu dan teknologi.

Untuk mengikuti tuntutan zaman sistem ini sudah semestinya diganti dengan sistem yang lebih fleksibel dan membuka peluang untuk selalu maju dan berkembang. Sistem yang cocok sebagai alternatif adalah sistem Pohon Pendidikan (Educational Tree). Sesuai dengan namanya sistem ini seperti sebuah pohon yang memiliki beberapa unsur yang menjadikannya layak dikatakan sebagai sebuah pohon yang rindang dan berdiri kokoh diatas tanah yang kuat. Unsur tersebut adalah:
  1. Tanah yang subur
  2. Batang pohon yang kokoh dan menghujam jauh ke dalam tanah
  3. Cabang pohon yang bisa tumbuh di mana saja dan dalam jumlah yang tidak terbatas.
  4. Dahan dan ranting yang juga dapat tumbuh di bagian mana saja dari pohon.
Pengertiannya adalah sebatang pohon pendidikan memiliki hubungan yang sangat kuat dan erat dengan tanah, kemudian dapat terus tumbuh dan berkembang tanpa batas yang berarti pertumbuhan yang berkesinambungan yang selalu tumbuh dan bergerak secara dinamis tak ubahnya seperti makhluk hidup, dan ia terdiri dari batang yang satu yaitu pendidikan dasar yang harus dilalui oleh setiap orang, kemudian terdiri dari cabang dan ranting yang banyak sekali yang memungkinkan bagi siapa saja untuk bergantung di cabang dan ranting tersebut sesuai dengan kemampuan dan kecenderungan yang dimiliki, kemudian ia memiliki keistimewaan peluang yang tak terhingga untuk tumbuh dan berkembang, dalam waktu yang sama juga terbuka peluang untuk pindah dari satu cabang kecabang yang lain dan dari satu ranting ke ranting yang lain tanpa batasan umur dan tan pa memandang latar belakang pendidikan sebelumnya.

Secara ringkas pengertian sistem ini dalam pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Tanah yang subur
Ia merupakan sumber dan tempat berdirinya semua proses pendidikan yang menggambarkan suatu bangsa dan negara. Dari padanyalah batang pohon mengambil segala makanannya. Apabila tanahnya subur dan memiliki komponen-komponen yang sehat dan kuat maka batang pohon tersebut juga akan menjadi kuat dan kokoh. Begitu juga sebaliknya, pohon akan keropos apabila tanah tempat erpijaknya banyak memgandung racun, penyakit virus dan sebagainya. Oleh sebab itu didalamnya harus terdapat agama, falsafah hidup, adat kebiasaan yang baik, dan wawasan kebangsaan (nasionalisme) dengan arti yang sebenarnya. Semua unsur ini harus menjadi inti dan prioritas dalam membuat sebuah kurikulum pendidikan dasar. Dengan menjadikan semua unsur di atas sebagai bagian terpenting dalam pembuatan kurikulum, maka berarti pohon pendidikan tersebut telah mengambil makanannya dengan lengkap. Sebaliknya mengabaikan salah satu dari unsur di atas berarti pohon tersebut akan sangat mudah diserang penyakit dan hama, tidak akan berbuah, atau buahnya dimasuki ulat, atau buahnya pahit dan tidak tertutup kemungkinan akan mati seketika.

Dengan konsep ini penulis menekankan bahwa pelajaran agama mesti menjadi pelajaran wajib bagi setiap siswa pendidikan dasar, dan harus dalam persentasi yang proposional, bukan pelajaran tambahan tapi menjadi syarat lulus dalam ujian dan dengan nilai minimal yang lebih tinggi dari mata pelajaran lainnya. Pelajaran agama yang hanya dua jam dalam sepekan dan hanya satu mata pelajaran di semua sekolah pemerintah sangatlah tidak proposional. Karena sama artinya dengan mencabut atau memisahkan batang pohon dari tanahnya. Penulis tidak bermaksud hanya untuk agam Islam, tapi semua agama yang resmi di Indonesia. Setiap siswa/siswi harus mempelajari agamanya dengan baik semenjak pendidikan dasar.

b. Batang pohon
Batang pohon adalah pendidikan dasar yang harus dilalui oleh setiap warga negara. Dalam aplikasinya adalah pendidikan dari usia sekolah (6 tahun) sampai usia 15 tahun atau yang populer dengan nama tingkat SD dan SLTP (usia wajib belajar). Karena batang adalah bagian pertama dari pohon yang menghujam lansung ke tanah maka pendidikan di masa ini harus berangkat dari tanah yang sama. Artinya kurikulum di tingkat ini harus sama. Dengan pengertian tidak ada lagi istilah sekolah agama dan sekolah umum. Semua harus menjadi sekolah agama dan umum, mempelajari kurikulum yang sama. Bagi yang beragama Islam harus mempelajari agamanya dengan porsi yang lebih banyak dari apa yang dipelajari sekarang. Begitu juga yang beragama Kristen, Hindu dan Budha. Masing-masing harus mengenal agamanya dengan baik dan matang. Dengan cara ini semua warga negara memiliki wawasan beragama yang matang dan mantap yang semakin memperkecil konflik antar agama. Karena semua agama mengajarkan kebaikan, walaupun tentunya penulis sebagai seorang muslim harus tetap komitmen dengan Islam yang dianut. Dan penulis melihat pada level ini tidak ada lagi yang namanya pesantren atau ibtidaiyah, karena semua telah mempelajari agama dengan baik dan lengkap dengan kurikulum yang baru.

c. Cabang pohon
Dengan kondisi Indonesia yang sekarang ini yang membutuhkan perbaikan di segala bidang dengan biaya yang seminim mungkin dan perlunya menyediakan tenaga terampil yang murah sebanyak-banyaknya, maka penulis melihat mulainya cabang pohon dari tingkat SLTA. Artinya pada level ini siswa sudah mulai kepada spesialisasi yang memungkinkan mereka untuk lansung terjun ke medan kerja seandainya tidak mampu melanjutkan pendidikannya. Pada kondisi ekonomi yang mapan dan stabil bisa saja cabang pohon baru di mulai pada tingkat perkuliahan.

Untuk mengaplikasikan hal ini penulis mengusulkan dibuatnya SLTA yang integral dalam satu jenis disiplin ilmu. Dimana SLTA tersebut mencakup beberapa spesialisasi yang hampir sama. Contohnya SLTA IPA, SLTA Sosial, SLTA tekhnik, SLTA Agama dan lain sebagainya.. Bentuknya hampir sama dengan jurusan yang ada sekarang di SMU dan STM, tapi lebih menjurus dan mendalam. Setamatnya dari pendidikan ini siswa dapat memilih antara melanjutkan atau lansung terjun ke lapangan kerja, karena mereka sudah memiliki ketrerampilan yang memadai. Bahkan ini juga peluang untuk memperbaiki mutu dan kapasitas tenaga kerja Indonesia, baik di dalam maupun yang dikirim ke luar negeri sebagai TKI, dan mereka telah terampil dan harganya tidak terlalu mahal yang membuka peluang banyaknya negara asing yang mengontrak mereka (dari pada kita hanya mampu mengirim pembantu dan cleaning servis).

Pada tingkat inilah peluang untuk membuat pesantren yang merupakan SLTA Agama.

d. Dahan dan ranting
Pada level ini setiap orang memiliki peluang untuk masuk tanpa batasan umur, yang penting memenuhi syarat-syarat ilmiah. Sehingga siapa saja dapat memperluas wawasan dan kemapuannya sesuai dengan keinginan dan kesempatan yang dimilikinya. Dengan sistem ini seorang ahli ekonomi bisa saja masuk fakultas syariah di sebuah universitas, atau seorang sarjana kedokteran mengambil spesialisasi lain dibidang arsitektur dan seterusnya. Karena diantara keistimewaan dahan dan ranting adalah dapat tumbuh di mana-mana di batang pohon dan siapa saja dapat berpindah-pindah dari satu dahan ke dahan yang lain dan dari satu ranting ke ranting yang lain (5)

2. Integral bukan parsial
Pembaharuan yang diharapkan hendaklah pembaharuan yang integral bukan parsial. Karena pembaharuan parsial tidak obahnya dengan tambal sulam, akibatnya pendidikan Indonesia menjadi compang-camping. Apalagi kalau memang ingin merealisasikan sistem pohon pendidikan seperti yang penulis gambarkan di atas.

Oleh sebab itu pembaharuan harus mencakup semua segi pendidikan, baik dari segi tujuan pendidikan, kurikulum dan mata pelajaran, teknis dan metode serta srategi pengajaran, sarana dan fasilitas pendidikan, sistem evaluasi dan lain sebagainya. Pada kesempatan ini penulis menekankan perlunya pengembangan proses pendidikan dengan menggunakan tekhnologi pendidikan. Disini tidak cukup dengan adanya internet di sebuah sekolah (baik SLTP ataupun SLTA dst) tapi bagaimana agar kemajuan teknologi tersebut betul-betul dalam rangka mendukung proses belajar dan mengajar.

Disamping itu untuk mendukung penerapan sistem pohon pendidikan penulis melihat perlunya perubahan pada model atau tipe universitas yang ada. Model yang ada sekarang adalah sebuah universitas terdiri dari beberapa fakultas yang mewakili sebuah spesialisasi besar, kemudian fakultas tersebut terdiri dari beberapa jurusan yang merupakan spesialisasi yang lebih kecil lagi. Kondisi ini kurang mendukung untuk pelaksanaan sistem pohon pendidikan. Akan sangat ideal apabila fakultas yang ada berubah menjadi universitas. Artinya universitas tersebut hanya terdiri dari satu spesialisasi induk, maka akan muncul universitas kedokteran, universitas tekhnik, universitas syariah dan seterusnya.

Model semacam ini telah diterapkan dengan sukses di Jepang seperti: Universitas Studi-Studi Asing Osaka, Universitas Perdagangan Otaro,Universitas Kedokteran dan Kedokteran Gigi Tokyo, Universitas Pertanian Tokyo dan lain sebagainya. Di Prancis Universitas Sorbon di pecah menjadi 13 universitas sesuai dengan spesialisasi yang ada. Begitu juga di negara-negara maju lainnya seperti: Amerika, Jerman, Australia dan Austria, sistem ini telah diterapkan dengan baik sekali (6).

3. Kerja bukan teori
Sejalan dengan ide pembentukan SLTA yang integral serta sistem pohon pendidikan maka orientasi pembaharuan haruslah kepada kerja bukan kepada berapa banyak yang teori yang dipelajari. Karena kenyataan menunjukkan banyaknya mata pelajaran yang dipelajari di satu tingkat, lalu pada tingkat berikutnya pelajaran tersebut tidak ada gunanya sama sekali, atau belum bisa di bawa ke lapangan kerja. Bahkan ini terjadi dalam bidang yang hampir sama. Contohnya seorang siswa yang belajar di jurusan IPA di SLTA mempelajari beberapa mata pelajaran yang kalau mereka melanjutkan ke jurusan yang sama pada tingkat perkuliahan, pelajaran tersebut tidak ada gunanya bagi mereka atu lebih detail lagi tidak dapat mereka praktekkan ketika mereka masuk ke lapangan kerja. Sehingga sudah merupakan fenomena umum apabila seorang sarjana tekhnik yang baru bekerja di sebuah perusahaan tekhnik harus melalui beberapa kursus dan training baru dapat bekrja dengan semestinya pada perusahaan tersebut. Apa gunanya empat tahun atau lebih kuliah di fak. Teknik lalu ketika masuk bekerja belum dapat langsung bekerja?

Oleh sebab itu pembaharuan pendidikan harus mengarah kepada pembentukan tenaga-tenaga terampil yang siap pakai dalam berbagai disiplin ilmu. Target ini menghendaki adanya kolerasi antara apa yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan kenyataan yang ada di lapangan kerja. Kalau perlu setiap perusahaan besar (BUMN misalnya) seharusnya membuat SLTA dan perkuliahan tersendiri yang mampu melahirkan tenaga-tenaga terampil di perusahaan tersebut. Sehingga betul-betul ada jalinan yang kuat antara pendidikan dan kerja.

4. Mengurangi tekanan internal dan eksternal
Seharusnya pendidikan terbebas dari tekanan-tekanan internal dan eksternal, agar pendidikan betul-betul untuk mendidik dan untuk mencerdaskan bangsa. Bukan untuk kemaslahatan pihak-pihak tertentu ataupun untuk kepentingan penguasa. Dengan kebebasan pendidikan dari segala tekanan luar dan dalam, persatuan dan kesatuan bangsa dapat terwujud. Karena rakyatnya memiliki tingkat ilmu pengetahuan yang hampir sama dan merata, sehingga tidak ada satu pihakpun mampu mengelabui pihak lain yang lebih bodoh.

Diantara bentuk tekanan internal sebagai contoh adanya sekolah yang di bawah kontrol departemen pendidikan, lalu yang lain di bawah kontrol departemen agama, kemudian yang satu lagi dibawah departemen pertahanan dan keamanan, dan yang lain lagi di bawah departemen kepemudaan. Kondisi ini hanya akan menyebabkan perbedaan bentuk wawasan dan cara berfikir yang pada kemudian hari merupakan faktor pemicu pertikaian. Dengan menyatukan kurikulum pada tingkat wajib belajar (6-15 tahun) maka kesatuan wawasan dan pemikiran akan semakin terjaga.

Adapun faktor eksternal adalah tekanan-tekanan pihak luar untuk menerapkan satu sistem tertentu dalam pendidikan Indonesia. Karena bagaimana pun juga negara dan bangsa Indonesia memiliki wawasan, adat kebiasaan, pola hidup yang jelas tidak sama dengan negara lain yang memaksakan satu sistem tersebut.

5. Prioritas skill pendidikan
Sebagaimana yang telah diisyaratkan di atas, setiap orang yang terjun kedunia mendidik haruslah memiliki spesialisasi pendidikan. Apapun yang menjadi spesialisasinya, namun bila ingin menjadi guru atau dosen maka hendaklah lebih dulu mempelajari ilmu-ilmu pendidikan. Ide ini dapat direalisasikan dengan membuka diploma pendidikan, sekurang-kurangnya satu tahun dan selama-lamanya dua tahun. Setiap sarjana S1 yang akan mengajar di SLTA misalnya harus mengambil diploma pendidikan satu tahun. Dan yang akan menjadi dosen harus mengambil diploma dua tahun. Dengan cara ini tingkat kemahiran dan wawasan seorang guru dalam mengajar dapat ditingkatkan dan selanjutnya prestasi siswa/mahasiswanya juga akan lebih baik.

6. Perbaikan status sosial guru
Di Indonesia gaji guru di tingkat SD, SLTP dan SLTA sangatlah minim dibandingkan dengan seorang dosen. Padahal tugas dan usaha yang harus mereka lakukan lebih urgen. Karena dari peran merekalah diharapkan lahirnya warga negara yang berloyalitas tinggi kepada bangsa dan negara, berkemauan keras untuk maju. Dan pada hakekatnya merekalah yang menjadi batang pohon. Sementara pendidikan di tingkat universitas adlah dahan dan ranting. Apabila dahan dan ranting patah, pohon masih akan berpeluang untuk hidup. Tapi apabila batangnya yang patah dan keropos maka pohon akan mati dan dahan beserta rantingnya tidak akan dapat berbuat apa-apa.

Penulis melihat kiranya Indonesia perlu melihat dan meniru sistem Jepang yang sangat berhasil. Di Jepang piramida gaji para tenaga pengajar di berbagai jenjang pendidikan terbalik dari piramida yang biasa. Dimana gaji yang paling tinggi adalah guru-guru pada tingkat pendidikan dasar, kemudian menengah, atas dan seterusnya. Sehingga pendidikan dasar mereka sangat kuat, karena gurunya betul-betul berkonsentrasi dan mengerahkan segala kemampuannya untuk mendidik.

Tentunya pada waktu sekarang ini kurang ideal bagi negara kita untuk mewujudkan hal tersebut, tapi kita harus mengacu kearah itu secara perlahan-lahan. Dari sekarang sudah seharusnya di mulai dengan menjadikannya sama atau di bawah sedikit dari gaji seorang dosen.

Penutup
Di akhir tulisan ini penulis mengakui bahwa ide-ide yang telah di sampaikan membutuhkan sebuah riset yang detail dan terperinci dan harus dilakukan para pakar yang berkompeten dalam hal ini dengan syarat semua beri'tiqad baik untuk kemajuan bangsa dan negara Indonesia, terlepas dari tekanan internal dan eksternal. Walaupun mungkin ada diantara ide-ide tersebut yang kurang relevan dan signifikan dengan realita bangsa Indonesia, penulis yakin bahwa sesuatu yang sulit untuk direalisasikan sebagian besarnya, tidak mesti ditinggalkan keseluruhannya. Semoga Allah SWT memberi kita taufiq dan hidayah-Nya.

==========
Catatan kaki:
(1). Abdurrahman Ibnu Al Khaldun, Muqaddimah, Daar Al Fikr, Beirut.,Cet I, 1998, hal.412.
(2). Mushthafa 'Abdus Sami', Teknolojia At Ta'lim, Markaz Al kitab Lin Nasyr, Cairo, 1999, hal.10.
(3). C. Winfield and Scoot, The Great Debate, 1957.
(4). Delbert S. Elliott and Beatrix A. Hamburg, Violence in American Schools,,C.J Petrick Hunter Design Associate, University of Colorado, 1997, p 13.
(5). 'Ali Ahmad Madkur, At Ta'lim Al 'Aliy Fii Al Wathan Al "Arabi, Daar Al Fikr Al 'Arabi, Cairo, 2000, hal. 95-117.
(6). 'Abdul Fattah Ahmad Jalal, Tajdid Al 'Amaliyah At Ta'limiyah Fi Al Jami'ah Al Mustaqbal, Majalah 'Ulum Al Tarbawiyah, Cairo University, Cairo, 1993, hal. 23-29.
Read more

0 Kata-kata Hikmah II

كَفَى الْمُسِئُ اِسَائَتِهِ
Orang berbuat khianat akan kembali akibat bagi dirinya.

لاَ تَحْقِرْ غَيْرَكَ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ اللهِ خَيْرًا مِنْكَ
Jangan engkau menghina orang lain, karena mungkin dia lebih baik darimu.

اَلْحَسُوْدُ لاَ يَسُوْدُ اَبَدًا * وَالْبَخِيْلُ تَأْكُلُ مَالَهُ الْعَدَّ
Orang dengki takkan bahagia selamanya, orang kikir habis hartanya dimakan masa (busuk).

قَالَ الشَيْخُ مُحَمَّدُ اَلْبُصَيْرِى :
اَلنَّفْسُ كَالطِّفْلِ اِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى * حُبِّ الرِّضَاعِ وَاِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ
Nafsu itu tamsilan anak kecil yang menetek, kalau masa kecil tidak kita sapih sampai tua dia akan menetek juga.

بِمَكَارِمِ اْلاَخْلاَقِ كُنْ مُتَخَلِّقًا * لِيَفُوْحَ مِسْكَ ثَنَائِكَ الْعَطْرُ الشَّذِى
Berakhlaklah kamu dengan akhlak yang mulia, agar namamu semerbak bagaikan baunya miski.


اِنْفَعْ صَدِيْقَكَ اِنْ اَرَدْتَ صَدَاقَةً * وَادْفَعْ عَدُوَّكَ بِالَّتِى فَاِذَا الَّذِى
Berilah manfaat bagi temanmu jika ingin bersahabat dan bantahlah musuhmu dengan cara yang baik.

لاَ تَظْلِمَنَّ اِذَا مَا كُنْتَ مُقْتَدِرًا * فَالظُّلْمُ تَرْجِـعُ عُقْبَاهُ اِلَى النَّدَمِ
Janganlah berbuat zalim jika kamu berkuasa, karena kezaliman akan berakhir dengan penyesalan.

اِنَّ الْهَوَى لَهُوَ الْهَوَانُ بِعَيْنِـهِ * فَاِذَا هَوَيْتَ فَقَـدْ لَقِيْتَ هَوَانًا
Sesungguhnya nafsu itu hanyalah kehinaan semata, jika kamu menurutinya sungguh tercampak dalam kebinasaan.

قَالَ إِمَامُ البُخَرِى :
اِغْتَنِمْ فِى الْفِرَاغِ فَضْلَ رُكُوْعِ * فَعَسَى اَنْ يَكُوْنَ مَوْتُكَ بَغْتَـةً
كَمْ صَحِيْحٍ رَاَيْتَ مِنْ غَيْرِ سَقِمٍ * ذَهَبَتْ نَفْسَهُ الصَّحِيْحَهُ فَلْتَـةً
Pergunakan waktu luangmu untuk ruku` pada Allah, karena ajal itu datangnya tiada terduga.
Berapa banyak orang sehat kita lihat tiada sakit, jiwanya hilang meninggal jasat tiada kembali.

اَحْسِنْ اِلَى الْمُحْسِنِ بِاِحْسَانِـهِ * فَاِنَّ الْمُسِئَ سَتَكْفِيَكَ اِسَاءَتُـهُ
Berbuat baiklah pada orang yang berbuat baik padamu, karena orang yang berbuat jahat akan dibalas dengan kejahatannya.
Read more

0 Hikmah dari Pengharaman Babi

Hal ini penting untuk diketahui, terutama oleh pemuda-pemuda kita yang sering pergi ke negara-negara Eropa dan Amerika, yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok dalam hidangan mereka.

Ketika Imam Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Mereka bertanya kepadanya mengenai rahasia diharamkannya babi dalam Islam. Mereka bertanya kepada Imam, "Kalian (umat Islam) mengatakan bahwa babi haram, karena ia memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba-mikroba dan bakteri-bakteri lainnya. Hal itu sekarang ini sudah tidak ada. Karena babi diternak dalam peternakan modern, dengan kebersihan terjamin, dan proses sterilisasi yang mencukupi. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba lainnya.?"

Imam Muhammad Abduh tidak langsung menjawab pertanyaan itu, dan dengan kecerdikannya beliau meminta mereka untuk menghadirkan dua ekor ayam jantan beserta satu ayam betina, dan dua ekor babi jantan beserta satu babi betina.

Mengetahui hal itu, mereka bertanya, "Untuk apa semua ini?" Beliau menjawab, "Penuhi apa yang saya pinta, maka akan saya perlihatkan suatu rahasia."

Mereka memenuhi apa yang beliau pinta. Kemudian beliau memerintahkan agar melepas dua ekor ayam jantan bersama satu ekor ayam betina dalam satu kandang. Kedua ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh, untuk mendapatkan ayam betina bagi dirinya sendiri, hingga salah satu dari keduanya hampir tewas. Beliau lalu memerintahkan agar mengurung kedua ayam tersebut.

Kemudian beliau memerintahkan mereka untuk melepas dua ekor babi jantan bersama dengan satu babi betina. Kali ini mereka menyaksikan keanehan. Babi jantan yang satu membantu temannya sesama jantan untuk melaksanakan hajat seksualnya, tanpa rasa cemburu, tanpa harga diri atau keinginan untuk menjaga babi betina dari temannya.

Selanjutnya beliau berkata, "Saudara-saudara, daging babi membunuh 'ghirah' orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian. Seorang lelaki dari kalian melihat isterinya bersama lelaki lain, dan membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, dan kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu, dan was-was, karena daging babi itu menularkan sifat-sifatnya pada orang yang memakannya."


Kemudian beliau memberikan contoh yang baik sekali dalam syariat Islam. Yaitu Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran di sekitar kita, yang memakan kotorannya sendiri. Syariah memerintahkan bagi orang yang ingin menyembelih ayam, bebek atau angsa yang memakan kotorannya sendiri agar mengurungnya selama tiga hari, memberinya makan dan memperhatikan apa yang dikonsumsi oleh hewan itu. Hingga perutnya bersih dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba. Karena penyakit ini akan berpindah kepada manusia, tanpa diketahui dan dirasakan oleh orang yang memakannya. Itulah hukum Allah, seperti itulah hikmah Allah.

Ilmu pengetahuan modern telah mengungkapkan banyak penyakit yang disebabkan mengkonsumsi daging babi. Sebagian darinya disebutkan oleh Dr. Murad Hoffman, seorang Muslim Jerman, dalam bukunya "Pergolakan Pemikiran: Catatan Harian Muslim Jerman", halaman 130-131: "Memakan daging babi yang terjangkiti cacing babi tidak hanya berbahaya, tetapi juga dapat menyebabkan meningkatnya kandungan kolestrol dan memperlambat proses penguraian protein dalam tubuh, yang mengakibatkan kemungkinan terserang kanker usus, iritasi kulit, eksim, dan rematik. Bukankah sudah kita ketahui, virus-virus influenza yang berbahaya hidup dan berkembang pada musim panas karena medium babi?"

Dr. Muhammad Abdul Khair, dalam bukunya Ijtihâdât fi at Tafsîr al Qur'an al Karîm, halaman 112, menyebutkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh daging babi: "Daging babi mengandung benih-benih cacing pita dan cacing trachenea lolipia. Cacing-cacing ini akan berpindah kepada manusia yang mengkonsumsi daging babi tersebut. Patut dicatat, hingga saat ini, generasi babi belum terbebaskan dari cacing-cacing ini. Penyakit lain yang ditularkan oleh daging babi banyak sekali, di antaranya:
  1. Kolera babi. Yaitu penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus
  2. Keguguran nanah, yang disebabkan oleh bakteri prosillia babi.
  3. Kulit kemerahan, yang ganas dan menahun. Yang pertama bisa menyebabkan kematian dalam beberapa kasus, dan yang kedua menyebabkan gangguan persendian.
  4. Penyakit pengelupasan kulit.
  5. Benalu eskares, yang berbahaya bagi manusia.
Fakta-fakta berikut cukup membuat seseorang untuk segera menjauhi babi:
  1. Babi adalah hewan yang kerakusannya dalam makan tidak tertandingi hewan lain. Ia makan semua makanan di depannya. Jika perutnya telah penuh atau makanannya telah habis, ia akan memuntahkan isi perutnya dan memakannya lagi, untuk memuaskan kerakusannya. Ia tidak akan berhenti makan, bahkan memakan muntahannya.
  2. Ia memakan semua yang bisa dimakan di hadapannya. Memakan kotoran apa pun di depannya, entah kotoran manusia, hewan atau tumbuhan, bahkan memakan kotorannya sendiri, hingga tidak ada lagi yang bisa dimakan di hadapannya.
  3. Ia mengencingi kotoranya dan memakannya jika berada di hadapannya, kemudian memakannya kembali.
  4. Ia memakan sampah, busuk-busukan, dan kotoran hewan.
  5. Ia adalah hewan mamalia satu-satunya yang memakan tanah, memakannya dalam jumlah besar dan dalam waktu lama, jika dibiarkan.
  6. Kulit orang yang memakan babi akan mengeluarkan bau yang tidak sedap.
  7. Penelitian ilmiah modern di dua negara Timur dan Barat, yaitu Cina dan Swedia --Cina mayoritas penduduknya penyembah berhala, sedangkan Swedia mayoritas penduduknya sekular-- menyatakan: daging babi merupakan merupakan penyebab utama kanker anus dan kolon. Persentase penderita penyakit ini di negara-negara yang penduduknya memakan babi, meningkat secara drastis. Terutama di negara-negara Eropa, dan Amerika, serta di negara-negara Asia (seperti Cina dan India). Sementara di negara-negara Islam, persentasenya amat rendah, sekitar 1/1000. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada 1986, dalam Konferensi Tahunan Sedunia tentang Penyakit Alat Pencernaan, yang diadakan di Sao Paulo.
Kini kita tahu betapa besar hikmah Allah mengharamkan daging dan lemak babi. Untuk diketahui bersama, pengharaman tersebut tidak hanya daging babi saja, namun juga semua makanan yang diproses dengan lemak babi, seperti beberapa jenis permen dan coklat, juga beberapa jenis roti yang bagian atasnya disiram dengan lemak babi. Kesimpulannya, semua hal yang menggunakan lemak hewan hendaknya diperhatikan sebelum disantap. Kita tidak memakannya kecuali setelah yakin bahwa makanan itu tidak mengandung lemak atau minyak babi, sehingga kita tidak terjatuh ke dalam kemaksiatan terhadap Allah SWT, dan tidak terkena bahaya-bahaya yang melatarbelakangi Allah SWT mengharamkan daging dan lemak babi.

Oleh Syeikh Fauzi Muhammad Abu Zaid
Read more

0 Populasi dan Sample Penelitian

Baik populasi dan sample merupakan dua hal yang sangat urgen untuk diperhatikan dalam penelitian, karena ketepatan dalam menetukan populasi dan sample sangat berpengaruh dalam menentukan kesimpulan penelitian. Lebih lanjut, karena sample merupakan bagian dari populasi maka ketepatan penetapan populasi tentu sangat menentukan terhadap teknik sampling dan sampel itu sendiri.

Secara sederhana populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian peneliti. Sementara sample adalah pilihan terhadap data tersebut yang akan digunakan sebagai bahan penelitian dan penilaian.

Lebih lanjut, makalah ini akan menguraikan tentang populasi dan sample dan hal-hal yang berkaitan dengan keduanya.

A. Populasi
Definisi.
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam sebuah ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan. Dengan demikian, populasi berhubungan dengan data bukan dengan manusianya. Populasi memiliki parameter yakni besaran terukur yang menunjukkan ciri dari populasi tersebut, seperti: rata-rata, bentengan, rata-rata simpangan, variansi dan sebagainya.
Populasi juga dapat diartikan sebagai keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala, nilai tes, atau peristiwa yang menjadi sumbher data yang memliki karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian.

Pembagian Populasi
Populasi dalam sebuah ruang lingkup penelitian dapat dibagi kepada beberapa macam. Bila dikaitakan dengan batasannya, maka populasi terbagi kepada:
  1. populasi terbatas atau populasi terhingga, yakni populasi yang memliki batas jumlah secara jelas karena memiliki karakteristik khusus dan jelas yang membedakannya dengan objek lainnya.
  2. populasi tidak terbatas atau tidak terhingga, yakni populasi yang tidak bisa ditentukan batasan-batasannya sehingga tidak dapat dinyakatan dalam bentuk jumlah. Contohnya guru di Indonesia yang mencakup guru pertama hingga yang akan datang.
Populasi juga dapat dibedakan kepada:
  1. populasi teoritis yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya ditetapkan secara kualitatif.
  2. populasi yang tersedia, yakni populasi yang secara kuantitatif dapat dinyatakan dengan tegas.
Menurut sifatnya, populasi dapat dibedakan kepada:
  1. populasi homogen yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif.
  2. populasi heterogen yakni populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atay keadaan yang bervariasi sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

B. Sample
sample adalah bagian dari populasi. Dalam defenisi sederhana sample sejumlah data yang dipilih dari populasi sebagai bahan kajian penelitian. Kenapa sample dibutuhkan adalah karena kemungkinan objek penelitian sangat banyak hingga harus direduksi, dan untuk kepentingan generalisasi.

Lebih rinci lagi, mengapa sample sangat dibutuhkan dalam penelitian, dapat dikemukakan beberapa alasan berikut:
  1. Karena populasi mempunyai jumlah yang sangat banyak.
  2. karena meneliti seluruh populasi membutuhkan biaya yang besar, karena itu diambil sample yang dapat mewakili populasi.
  3. masalah waktu.
  4. menghindari percobaan yang sifatnya tidak menguntungkan penelitian, yang akan muncul bila seorang peneliti meneliti seluruh populasi.
  5. masalah ketelitian.
  6. Alasan ekonomis, artinya apakah penelitian seluruh populasi sepedan dengan waktu, biaya dan tenaga yang dikeluarkan.
Manfaat Sampel
Sampel adalah untuk memperoleh data yang representative dalam kaitanya dengan populasi yang menjadi sasaran penelitian. Bila metode pengambilan sampel yang dipakai tepat, diharapkan individu-individu samel yang diobservasi maupun mewakili seluruh anggota popuasi dan mampu memberi informasi yang terkait dengan populasi yang diteliti. Informasi yang diperoleh akan menjadi ahan baku bagi pengambilan keputusan. Dalam hal ini agar informasi yang diperoleh bias memenuhi tujuan tersebut dibutuhkan ketepatan dari data yang dikumpulkan. Agar data yang diambil berguna maka data tersebut haruslah objektif (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya), representative(mewakili keadaan yang sebenarnya), variasinya kecil, tepat waktu dan relevan untuk enjawab persoalan yang sedang menjadi pokok bahasan.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penggunaan metode pengambilan sampel yang tepat agar dari sampel yang diambil dapat diperoleh statistic yang dapat digunakan sebagai penduga bagi parameter populasi. Statistic yang diperoleh akan menjadi penduga (estimator) yang baik jika memenuhi syarat berikut: (catatan: tinjauan ringkas terhadap ulasan berkut dapat anda temui di bab statistika ringkas.

Sampel Probalitas dan Non Probalitas
1. Pengambilan Sampel Probabilitas / Acak
Pengambilan sampel probabilitas / acak adalah suatu metode pemilihan sampel, di mana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Metode ini sering disebut sebagai prosedur yang terbaik. Dari beberapa cara pengambilan sampel dengan metode ini, tiga diantaranya dipaparkan berikut ini.

a. Cara Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Ada beberapa cara pengambilan sampel dengan teknik ini, dua dianataranya yang sering digunakan dalam riset bisnis dijelaskan berikut:
  • Cara Undian
Cara ini memberi nomor-nomor pada seluruh anggota populasi, lalu secara acak dipilih nomor-nomor sesuai dengan banyaknya jumlah sampel yang dibutuhkan. Ada dua cara pengambilan sampel dengan cara ini. Yang pertama adalam pengambilan sampel tanpa pengembalian dengan cara mengembalikan sampel yang terpilih sehingga nilai probabilaitas menjadi konstan.
  • Cara Sistematis/Ordinal
Cara ini merupakan teknik untuk memilih anggota sampel melalui peluang dan teknik di mana pemilihan anggota sampel dilakukan setelah terlebih dahulu dimulai dengan pemilihan secara acak untuk data pertama, sedangkan data berikutnya menggunakan interval tertentu. Misalnya, akan diambil sampel sebanyak 100 dari 1000 anggota populasi. Kita akan memilih data pertama dari sampel pertama secara acak antara 1 sampai 10. Jika terambil nomor 4 maka untuk data kedua akan diambil sampel kedua, yaitu nomor 14 dan seterusnya. Agar sampel dapat terdistribusi dengan baik, maka polpulasi harus juga dibuat acak, jangan diurut, misal kalau kita akan memilih nama-nama orang dari suatu perusahaan, janganlah nama-nama itu diurutkan berdasarkan struktur organisasi yang ada, nanti yang diambil tidak menyebar ke seluruh bidang yang ada di dalam perusahaan.

b. Cara Stratifikasi (Stratified Random Sampling)
Suatu populasi yang dianggap heterogen menurut suatu karakteristik tertentu dikelompokkan ke dalam beberapa populasi, sehingga setiap kelompok akan memiliki anggota sampel yang relative homogen. Lalu dari tiap subpopulasi ini secara acak diambil anggota sampelnya. Dasar penentuan strata bisa dilakukan secara geografis atau dengan cara lainnya.

c. Cara Kluster (Cluster Sampling)
Pengambilan sampel dengan cara ini mirip dengan cara stratifikasi di atas. Bedanya, jika cara stratifikasi mengakibatkan adanya sub-populasi yang unsur-unsurnya homogen. Maka dengan cara kluster, unsure-unsurnya menjadi heterogen. Selanjutnya, dari masing-masing kluster dipilih sampel secara random sebanyak yang dibutuhkan. Cluster Sampling sering digunakan misalnya dalam penyebaran kuesioner di wilayah tetentu yang memang respondennya heterogen.

2. Pengambilan Sampel Non-Probabilitas/Non Acak
Dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Hal ini terjadi, misalnya karena ada bagian tertentu secara sengaja tidak dijadikan sampel berdasarkan pertimbangan, karena dalam pelaksanaannya digunakan pertimbangan tertentu oleh periset.

Berikut ini dipaparkan lima macam teknik sampling yang non probabilitas.

a. Cara Keputusan (Judgment Sampling)
Cara ini sebagian buku teks dianggap sama dengan Purposive Sampling, misalnya dipakai pada saat kita ingin mengetahui pendapat karyawan tentang produk yang akan dibuat. Peneliti telah beranggapan bahwa karyawan akan lebih banyak tahu daripada orang-orang lain, peneliti telah melakukan pertimbangan. Cara ini lebih cocok dipakai pada saat tahap awal studi eksploratif.

b. Cara Kuota (Quato Sampling)
Apabila riset diarahkan untuk mengkaji suatu fenomena dari beberapa sisi, responden yang akan dipilih adalah orang-orang yang diperkirakan dapat menjawab semua sisi itu. Misalnya, akan diteliti perihal aktivitas mahasiswa di kelas, membaca buku-buku perpustakaan, turut serta dalam riset-riset kecil. Sasaran kuesioner diarahkan pada dosen-dosen yang aktif mengajar, aktif juga berada di perpustakaan, dan aktif dalam riset. Dosen-dosen seperti jika dijadikan sampel dapat digunakan sebagai wakil dari populasi seluruh dosen yang ada.

c. Cara Dipermudah (Convinience Sampling)
Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya paling murah dan cepat dilakukan karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka temui. Meskipun ada ketidakteraan dalamnya, cara ini masih bermanfaat, misalnya pada tahap awal penelitian eksplororatif saat mencari petunjuk-petunjuk penelitian. Hasilnya dapat menunjukan bukti-bukti yang berlimpah, sehingga prosedur pengambilan sampel yang lebih canggih tidak diperlukan lagi.

d. Cara Bola Salju (Snowball Sampling)
Cara ini adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih responden lain untuk dijadikan sampel lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel terus menjadi banyak.

e. Area Sampling
Pada prinsipnya cara ini menggunakan perwakilan bertingkat. Populasi dibagi atas beberapa bagian populasi, dimana bagian populasi ini dapat dibagi-bagi lagi. Dari bagian populasi yang paling kecil diambil sampel sebagai wakilnya untuk masuk kepada bagian populasi yang lebih besar. Dari bagian populasi yang lebih besar ini akan diambil lagi sampel yang akan dipakai lagi dan seterusnya.

1. Sampel Probalitas
Rancangan sample probalitas disebut juga dengan rancangan sampel secara random. Dikatakan sampel probalitas, karena unit-unit sampelnya (n) diambil atau dipilih dengan mengikuti hokum probalitas. Menurut hokum probalitas, masing-masing warga populasi mempunyai peluang dan kemungkinan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Berdasarkan hokum probalitas, dari suatu populasi yang jumlah warganya 1000 setiap warganya mempunyai peluang 1/1000 untuk dipilih sebagai sampel.


Agar setiap warga populasi mempunyai peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel, maka pengambilannya haruslah dengan teknik random atau acak.Unit Analisa ialah unit yanga akan diteliti atau penelitian. Dalam Pembicaraan tentang populasi atau unverse diatas, seluruh BKPRMI di daerah penelitian merupakan unit penelitian atau unit elementer. Seiring unit penelitian sama dengan unsure sampling, misalnya kita mengambil BKPRMI sebagai sample, dan BKPRMI tersebut juga yang akan diteliti.

Kadang-kadang unit penelitian tidak sama dengan unsure sampling. Sebagai contoh pada pembicaraan tentang populasi atau universe di atas, kita mengambil Daerah Kabuapten sebagai sample (jadi BKPRMI Daerah Kabupten adalah sebagai sampling), sedangkan yang diteliti hanyalah Pengurus BKPRMI Kabupaten sebagai pengurus unit penelitian.

Ukuran Sampel
Pengalaman penulis menunjukkan bahwa dalam semua penelitian suevei demografi (kependudukan) ukuran sample sangat ditentukan oleh dana yang tersedia untuk melakukan pengumpulan data yang diperlukan, dan kespakatan antara pihak pelaksana dengan pihak sponsor. Akan teatpi, adakalanya seseorang lebih menekankan pada ukuran sample yang diprakirakan dengan menerapkan rumus tertentu, tanpa mempelajari secara rinci kelemahan atau keterbatasan hasil prakiraan berdasarkan rumus tersebut.

Secara statistika, dinyatakan bahwa dengan memamnfaatkan ukuran sample yang semakin besar, maka sasil yang diperoleh diharapkan akan semakin baik untuk melakukan generalisasi. Akan tetapi kita tidak akan pernah merasayakin dan dapat menyatakan bahwa berdasarkan sampel berukuran 1.500 misalnya untuk satu propinsi, akan memberikan hasil yang lebih baik dari sampel berukuran 1.000 untuk semua permasalahan yang diteliti.

Dipihak lain, dalam banyak penelitian eksprimen dipakai ukuran setiap sel atau kelompok yang diperhatikan. Akan tetapi penulis menganjurkan untuk memakai ukuran minimal 5 (lima); atas dsara pemikiran kemudahan untuk menghitung nilai rata-rata dan standard deviasinya. Bahkan, sumbangan yang sangat besar terhadapa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti ujicoba dibidang medis.

Selanjutnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak aktifitas atau uji kualitas dengan memanfaatkan sampel ukuran satu, karena disertai dengan asumsi bahwa populasi yang ditinjau homogen atau hampir homogen.


=============
Daftar Bacaan

Margono, S., Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.

Singarimbun, Masri, METODE PENELITIAN SURVAI. Jakarta: LP3ES, 1995.

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2000.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger