Sikap dan Tingkah Laku Keagamaan

A. SIKAP KEAGAMAAN
Sikap keagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorong sisi orang untuk bertingkah laku yang berkaitan dengan agama. Sikap keagamaan terbentuk karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai komponen kognitif perasaan terhaadap agama sebagai komponen efektif dan perilaku terhadap agama sebagai komponen kognatif. Di dalam sikap keagamaan antara komponen kognitif, efektif dan kognatif saling berintegrasi sesamanya secara komplek. Pendidikan agama yang bersifat dressur dan menggugah akal serta perasaan memegang peranan penting dalam pembentukan sikap keagamaan.
Mc. Nair dan Brown (1983) dalam penelitiannya menemukan bahwa dukungan orang tua berhubungan secara signifikan dengan sikap siswa. Begitu juga Zakiah Daradjat (1988) mengatakan bahwa sikap keagamaan merupakan perolehan dan bukan bawaan. Ia terbentuk melalui pengalaman langsung yang terjadi dalam hubungannya dengan unsur-unsur lingkungan materi dan sosial, misalnya rumah tenteram, orang tertentu, teman orang tua, jamaah dan sebagainya.
Walaupun sikap terbentuk karena pengaruh lingkungan, namun faktor individu itu sendiri ikut pula menentukan.
Menurut Siti Partini pembentukan dan perubahan sikap dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :
  1. Faktor internal, berupa kemampuan menyeleksi dan mengolah atau menganalisis pengaruh yang datang dari luar, termasuk di sini minat dan perhatian;
  2. Faktor eksternal, berupa faktor di luar diri individu yaitu pengaruh lingkungan yang diterima.
Dengan demikian walaupun sikap keagamaan bukan merupakan bawaan akan tetapi dalam pembentukan dan perubahannya ditentukan oleh faktor internal dan faktor eksternal individu.
Pembentukan sikap keagamaan ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan agama. Sikap fanatis, sikap toleran, sikap pesimis, sikap optimis, sikap tradisional, sikap modern, sikap fatalisme dan free will dalam beragama banyak menimbulkan dampak negatif dan dampak positif dalam meningkatkan kehidupan individu dan masyarakat dalam beragama.

B. TINGKAH LAKU KEAGAMAAN
1. Pengertian Tingkah Laku
Dalam kamus bahasa Indonesia juga disebutkan bahwa tingkah laku itu sama artinya dengan perangai, kelakuan atau perbuatan. Tingkah laku dalam pengertian ini lebih mengarah kepada aktivitas seseorang yang didorong oleh unsur kejiwaan yang disebut motivasi.
J.P. Chaplin, dalam Dictionary of Psychology, mengisyaratkan adanya beberapa macam pengertian tingkah laku. Menurut Chaplin, tingkah laku itu merupakan sembarang respon yang mungkin berupa reaksi, tanggapan, jawaban atau balasan yang dilakukan oleh organisme. Tingkah laku juga bisa berarti suatu gerak atau kompleks gerak gerik, dan secara khusus tingkah laku juga bisa berarti suatu perbuatan atau aktivitas.
Sementara itu, Budiarjo berpendapat agak berbeda dari pendapat di atas. Menurutnya, tingkah laku itu merupakan tanggapan atau rangkaian tanggapan yang dibuat oleh sejumlah makhluk hidup. Dalam hal ini, tingkah laku itu walaupun harus mengikutsertakan tanggapan pada suatu organisme, termasuk yang ada di otak, bahawa, pemikiran, impian-impian, harapan-harapan, dan sebagainya, tetapi ia juga menyangkut mental sampai pada aktivitas fisik. Pendapat yang dilontarkan oleh Budiarjo ini sangat menarik, karena sesungguhnya yang disebut tingkah laku itu bukan saja aspek fisik semata, melainkan juga aspek psikis atau mental.

2. Pengertian Tingkah Laku Keagamaan
Tingkah laku keagamaan adalah segala aktivitas manusia dalam kehidupan di dasarkan atas nilai-nilai agama yang diyakininya. Tingkah laku keagamaan tersebut merupakan perwujudan dari rasa dan jiwa keagamaan berdasarkan kesadaran dan pengalaman beragama pada diri sendiri.
Agama bagi manusia, memiliki kaitan yang erat dengan kehidupanbatinnya. Oleh karena itu kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang banyak menggambarkan sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang sakral dan dunia gaib. Dari kesadaran dan pengalaman agama ini pula kemudian munculnya tingkah laku keagamaan yang diekspresikan seseorang.
Tingkah laku keagamaan itu sendiri pada umumnya didorong oleh adanya suatu sikap keagamaan yang merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Sikap keagamaan seperti dijelaskan sebelumnya merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Sikap keagamaan merupakan keadaan yang ada pada diri seseorang. Sikap keagamaan seperti dijelaskan sebelumnya merupakan konsistensi antara kepercayaan terhadap semua agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur efektif, dan perilaku terhadap agama sebagai unsur kognitif. Oleh karena itu sikap keagamaan merupakan interaksi secara kompleks antara pengetahuan agama, perasaan agama dan tindak keagamaan dalam diri seseorang. Dengan sikap itulah akhirnya lahir tingkah laku keagamaan sesuai dengan kadar ketaatan seseorang terhadap agama yang diyakininya.

3. Motivasi Yang Melahirkan Tingkah Laku Keagamaan
Menurut Abdul Aziz Ahyadi, penyebab tingkah laku keagamaan manusia itu merupakan campuran antara berbagai faktor, baik faktor lingkungan, biologi, psikologi rohaniah, unsur fungsional, unsur asli dan fitrah atau karunia Tuhan. Karena itu studi yang membahas masalah empiris, non-empiris dan rohaniah adalah agama. Agama berwenang mencari hakikat yang terdalam mengenal fitrah, takdir, kematian, hidayah, taufik, keimanan, malaikat, setan, roh, dosa, jiwa, kehadiran Tuhan dan realitas non-empiris maupun rohaniah. Filsafat memang mampu membahas masalah non-empiris dan mencari penyebab yang terdalam dari perilaku keagamaan, namun pembahasan filsafat itu terbatas pada fakta non-empiris yang logis dan rasional.
Menurut Nico Syukur Dister terdapat empat hal yang menyebabkan seseorang memunculkan tingkah laku keagamaan, yaitu:
  1. Untuk mengatasi frustasi;
  2. Untuk menjaga kesusilaan serta tata tertib masyarakat;
  3. Untuk memuaskan intelek yang ingin tahu;
  4. Untuk mengatasi ketakutan.
C. KETAATAN BERAGAMA
Ketaatan beragama membawa dampak positif terhadap kesehatan mental karena pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang taat beragama ia selalu mengingat Allah SWT. karena banyaknya seseorang mengingat Allah SWT, jiwa akan semakin tentram. Sebagaimana dalam firman Allah: “Sesungguhnya dengan mengingat Allah, jiwa akan tentram”. Di dalam ajaran Islam Allah dilukiskan sebagai “Zat Yang Maha Suci”. Seseorang berusaha mendekati Yang Maha Suci. Agar dapat mendekatkan diri kepada Yang Maha Suci maka ia harus mensucikan jiwanya terlebih dahulu. Untuk mensucikan jiwa salah satu caranya adalah beribadah. Semakin taat seseorang beribadah semakin suci jiwanya dan semakin dekatlah ia kepada Allah. Apabila ia sudah berada sedekat mungkin dengan Allah maka, Allah akan memancarkan nur-Nya ke dalam hatinya, sehingga hati (jiwa) menjadi tentram. Ketaatan beragama umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk stratifikasi sosial (kedudukan dalam masyarakat).
Untuk jelasnya dapat diperincikan sebagai berikut :
  1. Faktor psikologis : kepribadian dan kondisi mental;
  2. Faktor umum : anak-anak, remaja, dewasa dan tua;
  3. Faktor kelamin : laki-laki dan wanita;
  4. Faktor pendidikan : orang awam, pendidikan menengah dan intelektual;
  5. Faktor stratifikasi sosial : petani, buruh, karyawan, pedagang dan sebagainya.
Menurut penelitian Weber pengaruh stratifikasi sosial terhadap sifat agama seseorang sesuai dengan kedudukannya di masyarakat terbagi ataas beberapa macam, yaitu :
  1. Golongan petani.
    Lebih religius dibandingkan dengan golongan masyarakat lainnya. Cara penyampaian ajaran ini sesuai dengan lingkungannya dapat lebih dimengerti bila disesuaikan dengan keadaan (ciri):
    • Dengan cara sederhana dan menghindari hal-hal yang abstrak;
    • Menggunakan lambang dan perumpamaan yang ada di lingkungan;
    • Tidak terikat pada waktu dan tenaga;
    • Kurang menyenangi menjadi penyebar agama yang aktif.
  2. Golongan Pengrajin tangan dan pedagang kecil
    Sifat agamanya dilandasi pada perhitungan ekonomi dan rasional. Ketaatan beragama golongan ini banyak dilandasi oleh unsur agama yang etis dan rasional, sehingga unsur emosi kurang memainkan peranannya yang penting.
  3. Golongan Karyawan
    Menurut Weber golongan ini memiliki kecenderungan religius yang serba mencari untung dan enak (opportunistic utilitarian). Kecenderungan yang demikian itu semakin beranjak sesuai dengan tingkat dan kedudukannya, makin tinggi kedudukan seseorang ketaatan beragamnya akan semakin cenderung berbentuk formalitas.
  4. Golongan Kaum Buruh
    Ketaatan beragama bagi kaum buruh terutama bagi yang tertindas lebih cenderung kepada etika pembebasan. Keyakinan mereka terhadap agama banyak dipengaruhi oleh ajaran yang memproyeksikan kepentingan mereka untuk menghindarkan diri dari penindasan sehingga ajaran agama yang bermotifkan pembebasan lebih disenangi.
  5. Golongan Elite dan Hartawan
    Kecenderungan beragama pada golongan ini adalah ke arah sifat santai. Perhatian mereka tentang sifat kasih sayang, kerendahan hati, sosial, dosa maupun keselamatan sangat kecil, namun mereka haus akan kehormatan. Karena itu penundaan ajaran agama yang selalu mengikat kebebasan bergerak dan tidak mendatangkan reputasi pribadi kurang disenangi. Selain itu golongan ini cenderung untuk menunda pengabdian kepada ajaran agama disaat usia menua.
Selain membagi pengaruh agama berdasarkan stratifikasi sosial, Weber juga mengemukakan hasil penelitiannya tentang pengaruh umur dan pengaruh jenis kelamin yang secara psikologis dapat diserap melalui psikologi perkembangan.

Artikel Terkait:

comment 0 comments:

Post a Comment

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger