Metode Studi Islam

Menurut bahasa (etimologi), metode berasal dari bahawa yunani, yaitu meta (sepanjang), hodos (Jalan), jadi, metode adalah suatu ilmu tentang cara atau langkah-langkah yang ditempuh dalam suatu disiplin tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Metode berarti ilmu cara menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Metode juga disebut pengajaran atau penelitian.

Menurut istilah (terminologi), metode adalah ajaran yang memberi uraian, penjelasan, dan penentuan nibi. Metode bisa digunakan dalam penyelidikan keilmuan. Hugo dalam Abdullah (2006 : 147) mengatakan bahwa metode adalah kelogisan penelitian ilmiah, sistem tentang prosedur dan teknik riset.

Kata metodologi sebenarnya berasal dari kata meta (sepanjang) hodos (jalan), dan Lugos (Ilmu atau pengetahuan). Kata metodologi menurut Balai Pustaka (to tj: 654) menjelaskan bahwa metodologi adalah pengetahuan tentang metode. Sedangkan metode memiliki pengertian berupa cara yang teratur dan berfikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Berdasarkan pengertian diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa metodologi adalah suatu pengetahuan yang berisi cara-cara untuk mencapai sesuatu dengan berfikir dan bersifat teratur.

Runes, -- sebagaimana dikutib oleh Muhammad Noor Syam,-- secara teknis menerangkan bahwa metode adalah :
  1. Sesuatu prosedur yang paki untuk mencapai suatu tujuan.
  2. Sesuatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu.
  3. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Sedangkan dari sudut pandang filosofis metode adalah merupakan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Studi Islam adalah kajian yang mengungkapkan fenomena agama dengan berbagai pandangan kajian dan bukan untuk mempersempit makna agama pada persoalan ketuhanan, kepercayaan, ibadah, dan sistem peribadatan. Pendekatan studi yang digunakan adalah disiplin keilmuan yang bersifat ilmiah-empiris bukan doktrinal nomatif-historis.

Definisi lain juga dikemukakan oleh muhaimin (1994 : 1) menyatakan bahwa studi islam adalah usaha-usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk dan hal-hal yang berhubungan dengan ajaran Islam dalam ajaran, sejarah maupun praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Arah studi islam menurut Lewis dalam Rahardjo (1993 : 15) terdapat tiga hal yaitu :
  1. Islam sebagai agama kajian tentang Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan merupakan wahyu Allah dan hadits Nabi.
  2. Islam sebagai obyek kajian tentang interprestasi Al Qur’an dan Al Hadits yang didasarkan kepada dalil-dalil Qath’I dan teks hadits yang sharih.
  3. Islam dari sebagai perwujudan yang nampak dalam berbagai kebudayaan umat Islam.
Dalam studi Islam dengan pendekatan ilmiah-empiris terhadap fenomena agama yang muncul akan membangun keilmuan Islam pemilahan tersebut akan lebih menjernihkan fenomena agama secara jelas dalam lingkaran Apllied scences yang berhubungan dengan persoalan yang berhubungan dengan persoalan agama yang bersifat Tabbudy eksklusif dan lingkaran pure sciences yang berhubungan dengan persoalan agama yang bersifat tazquly (Abdullah, 2000 : 17). Perkembangan studi agama yang nampak terutama pada model pendekatan diatas memberi peluang pesat munculnya cabang keilmuan keagamaan seperti, sejarah agama, psikologi agama, antropologi agama, dan lain-lain.

Nata mengatakan bahwa jika dilihat dari segi normatif islam lebih merupakan agama yang dapat berlakukan kepada paradigma ilmu pengetahuan yaitu paradigma analisis, kritis, jika dilihat dari segi historis islam dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena ia dipraktikan oleh manusia dan tumbuh serta berkembang dalam kehidupan manusia, sehingga ia bisa disebut sebagai ilmu keislaman atau islamic studies.

Pengertian studi islam di atas berbeda dengan pengertian sains islam. Sains islam mencakup beberapa atau berbagai pengetahuan modern yang dibangun atas arahan nilai-nilai islami.

Sementara studi islam adalah pengetahuana yang dirumuskan dari ajaran islam yang dipraktikan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedang pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran tentang akidah ibadah, membaca Al Qur’an dan akhlak.

Kini jelaslah bahwa yang dimaksud dengan metodologi studi islam adalah sebuah kajian yang sistematis menggunakan pendekatan empiris tentang islam sebagai ajaran agama dan islam yang berwujud kebudayaan dalam kehidupan umat islam dengan tujuan untuk dapat lebih memahami islam secara rasional dan dapat dipraktikan dalam kehidupan umat secara nyata.


Metodologi Pendekatan
Metode pendekatan yang sering di gunakan alam studi islam antara lain adalah :
  1. Syariati menyatakan ada berbagai cara memahami islam. Salah satunya adalah dengan metode perbandingan (komporasi). Dalam metode ini digunakan cara cara
    • pertama, mengenal Allah dan membandingkan–Nya dengan sesembahan agama agama lain.
    • kedua, mempelajari kitab Al-qur’an dan membandingkan dengan kitab kitab samawi lainnya,
    • ketiga, mempelajari kepribadian Rasul islam dan membandingkannya dengan tokoh tokoh besar pembaharuan yang pernah hidup dalam sejarah,
    • keempat, mempelajari tokoh tokoh islam terkemuka dan membandingkannya dengan tokoh tokoh utama agama maupun aliran aliran pemikiran lain .
  2. Syariati juga manawarkan metode pendekatan aliran,Untuk itu,syari’ati mengajak setiap orang serta intelektual muslim agar memahami ajaran aga islam dengan disi plin ilmu yang dimiliki masing-masing serta dengan tetap berpedoman kepada Al Qur’an.
  3. Narsuddin Razak mengajukan empat cara untuk memahami islam secera benar.
    • Pertama, islam harus dipelajari dari sumbernya yang asli yaitu al-Qur’an dan al-Sunah Rasulullah. Hal ini dimaksudkan agar pemeluk islam terhindar dari sinkretisme, bid’ah, dan khurafat.
    • Kedua, islam harus dipelajari secara integrat [menyeluruh] dan tidak dengan cara parsial [sebagian] saja.
    • Ketiga, islam perlu di pelajari dari kepustakaan yang ditulis oleh para ulama besar, kaum zu’ama, dan sarjana sarjana islam, yang pada ummna memiliki pemahaman islam yang baik berdasarkan kajian Al-Qur’an dan sunah Rasulullah serta pengalaman dari praktik ibadah sehari hari.
    • Keempat, islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam al-Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyatan historis, empiris, dan dan sosiologis yang ada di masyarakat.
  4. Amin Abdullah mengatakan bahwa untuk melihat islam sebagai sebuah disiplin ilmu (Islamic studies) dapat digunakan pendekatan ilmiah yang ciri-cirinya nasional, empiris obyektif, metodologis, histories, analitis, dan kritis. Sedangkan untuk melihat islam sebagai agama dapat digunakan pendekatan normatif teologis. (Metode Sintesis)
  5. Mukti Ali memperkenalkan metode tipologi.yaitu metode pengklasifikasian topic dan tema sesuai dengan tipenya, lalu dibandingkan dengan topic dan tema yang mempunyai tipe yang sama.Aspek aspek yang dibandingkan adalah
    • Aspek ketuhanan
    • Aspek kenabian
    • Aspek kitab suci, dan
    • Aspek keadaan sewaktu munculnya nabi dan orang orang yang didakwahinya serta individu-individu terpilih yang dihasilkan oleh agama itu.
  6. Abuddin Nata menjelaskan bahwa untuk memahami agama tidak hanya digunakan satu pendekatan saja,melainkan melakukan berbagai metode pendekatan.berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normative,pendekatan antropologis, sosiologis, fisolofis, histories, kubudayaan, dan pendekatan psikologi.

Urgensi Metodologi Studi Islam
Dalam satu hadistnya Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya bani Israil ( kaum yahudi dan nasrani ) telah berpecah belah menjadi 72 aliran, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 aliran. Mereka semua akan masuk neraka kecuali satu aliran saja. Para sahabat bertanya, ”Siapakah dia itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawb, “siapa yang mengikuti jejakku dan para sahabatku.” ( HR.tirmidzi al-Hakim dan al-Aajurri,diharuskan oleh al-Albani)
Dari hadist di atas kita tahu bahwa sejak jauh-jauh hari Rasulullah telah menginformasikan (mensinyalir) tentang adanya perpecahan umat hadist diatas bukanlah isapan jempol belaka. Di Indonesia saja ,telah muncul beberapa aliran agama baru yang muncul dari suatu agama -- terutama islam -- sejak puluhan tahun yang lalu.pada umumnya, pelopor sekaligus pemimpinnya mengaku sebagai ”orang pilihan” yang diutus oleh Tuhan sebagai juru selamat atau penyempurna suatu agama bagi umat manusia.

Maraknya aliran-aliran baru tersebut mengindikasikan adanya kebutuhan besar terhadap agama yang benar-benar bisa memenuhi kebutuhan rohaniah perubahan masyarakat akibat modernisme, globalisme dan tahap era post industri yang menyebabkan krisis kemanusiaan serta kurangnya pengetahuan tentang agamalah yang menjadi pangkal pangkal utama munculnya berbagai macam aliran tersebut.

Penyimpangan-penyimpangan tersebut tidak akan terjadi jika manusia –khususnya umat islam - memahami dan menguasai metodelogi studi agama,yang dalam hal ini adalah metodologi studi islam.

Sebenarnya banyak faktor yang melatar belakangi munculnya JIL (Jaringan Islam Liberal) di Indonesia selain kedua faktor diatas, diantaranya:
  1. Adanya tokoh-tokoh intelektual hasil didikan barat ( yang memusuhi islam )yang memiliki peran penting di berbagai bidang.
  2. Serangan pemikiran (ghazwul fikri) yang dilancarkan oleh barat. Bentuk serangan itu adalah kajian-kajian orientalis yang bertujuan untuk meragu-ragukan umat tentang kebenaran Al-Qur’an, kesempurnaan islam dan kerasulan Muhammad. Disamping itu mereka juga giat menyebarkan westernisasi yang kini dikenal dengan istilah globalisasi dan demokrasi.
  3. Adanya sokongan dana yang sangat basar dari musuh-musuh islam terhadap pihak-pihak yang menyebarkan pemahaman islam liberal.
  4. Tujuan-tujuan politik yang bersifat rahasia yaitu untuk melayani kepentingan barat yang ingin merusak islam dan menyimpangkan ajarannya.
  5. Kurangnya kewaspadaan sebagian ulama’ islam dalam menyikapi syubhat-syubhat (kerancuan-kerancuan) para pemikir liberal.
Para penyebar paham liberal ini menganggap bahwa apa yang mereka perbuat adalah suatu hal yang benar. Padahal hal itu tidaklah benar. Allah SWT berfirman:

ومن يعش عن ذكر الرحمن نقيض له شيطنا فهو له قرين - وانهم ليصدونهم عن السبيل ويحسبون انهم مهتدون

’’ Barang siapa yang berpaling dari pengajaran robb Yang Maha Pemurah (al-Qur’an),maka kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan),dan syaitan itulah yang menjadi taman yang selalu menyertainya.Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar memalingkan mereka dari jalan yang benar,sedangkan mereka mengaku bahwa mereka mendapat petunjuk.”(Qs.Az-Zukhruf :36-37).

Itulah mengapa Allah SWT memeritahkan manusia untuk banyak-banyak membaca (Qs Al-Alaq), baik membaca secara harfiah maupun maknawiyah (memperhatikan dan memikirkan), agar kita tidak mudah tergelincir dari jalan yang benar.

Sebagian besar yang mempelajari al-Qur’an tanpa disertai pemikiran dan perenungan yang mendalam.Mereka memakai bahasa al-Qur’an secara lugas saja tanpa memperhatikan ilmu kalam, filologi sastra, dan ilmu baca lainya di dalam mempelajari Al-Qur’an. Itulah mengapa sebagian orang yang ’’nyeleweng’’ adalah orang yang diaggap berilmu dan sebagian yang lain adalah orang awam.dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ilmu Abdillah bin abbas Rasulullah SAW Bersabda.

’’Ummu Abdillah berkata,pada waktu itu aku di makkah,Nabi SAW berdiri pada suatu malam lalu memanggil-manggil ,’’Apakah aku telah menyampaikan?”NMabi mengulanmg-ngulang sampai tiga kali …”Akan dating pada manusia suatu zaman,mereka itu mempelajari al-Qur’an lalu membacanya,kemudian mereka berkata, kami telah mengkaji dan mengajarkan al-Qur’an maka siapa orang /golongan yang baik dariada golongan kami ?(mereka ujub),maka apkah poada mereka itu masih terdapat kebaikan? Para sahabat bertanya,”Ya Rasulullah sipakah sebenarnya merekia itu?”Nabi menjawab, ’’Mereka itu dari kalangan kaum (umat islam),dan mereka itu akan menjadi kayu bakar api neraka.


Manfaat Metodologi Studi Islam.
Setiap orang tentu mempunyai corak pandang yang berbeda mengenai suatu hal,begitu pun mengenai agama.Ada orang yang membagun pengertian tentang agama hanya dari apa yang nampak mata atau nampak secara empirik (das sein).Sebagai contoh sebagian pemikir non muslimn yang menilai islam denmgan mengambil sempel sekelompok orang yang awam tentang islam.Sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa islam adalah agama yang kolot,tidak modern,tidak gaul,dan sebagainya.Pada hal mereka tidak mengetahui apa dan bagaimana islam secara substansi (das sollen). Mereka lupa bahwa beberapa abad yang lalu islam pernah menjadi pusat dinasti ilmu pengetahuan sebelum bangsa-bangsa lain bangkit dari keterpurukan atau mengalami kebangkitan (renaissance). jika kemudian muncul pertanyaan,mengapa saat ini islam mengalami kemunduran yang drastis tertinggal jauh dari bangsa-bangsa barat, tidak lain tidak bukan adalah karena umat islam bersikap acuh tak acuh terhadap islam, terhadap Al Qur’an dan hadits, dan lebih cenderung condong kepada gemerlapnya diunia westernisas.

Ada sebuah kalimat bijak yang menyatakan ;
Orang islam maju karena pengikut agamanya, sedangkangkan orang-orang non islam maju karena meninggalkan agamanya.

Agama selain sebagai faktor penunjang kemajuan ilmu pengetahuan juga berfungsi sebagai titik puncak tujuan manusia untuk menjawab segala problematika kejiwaannya (kebutuhan rohaniah akan adanya kekuatan X yang menguasainya).

Agar sesuai dengan uraian diatas, agama setidaknya mengandung lima aspek, yaitu :
  1. Asal-usul agama yang berasal dari Tuhan atau dari pemikiran manusia,
  2. Aspek tujuan agama memberikan tuntunan hidup yang menuju kebahagiaan dunia dan akhirat,
  3. Aspek keyakinan terhadap kekuatan gaib, keyakinan terhadap kesejahteraannya yang sangat dipengaruhi oleh hubungan baik dengan kekuatan yang gaib,
  4. Aspek kemasyarakatannya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kenyataan agama sebagai fitrah manusia telah digambarkan oleh ajaran islam dalam kitab suci. Fitrah agama inilah yang mendorong dan menyeruhkan manusia kepada agama sesuai dengan ayat Al Qur’an surat Ar Rum ayat 30, yaitu:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui

Untuk meningkatkan kualitas kehidupan yang baik, manusia memerlukan pendekatan yang komperehensif berkaitan dengan pemahamannya tentang agama. Dalam berbagai fakta dan fenomena umat islam di Indonesia faktor ploralitas, latar belakang sosial/budaya, ekonomi dan pendidikan adalah tantangan yang berat untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan pola keberagaman secara utuh.

Tingkat pemahaman yang devarnatif cenderung membawa pola perilaku yang berbeda meskipun keduanya dalam ketentuan ajaran islam. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Islam yang berpengtahuan agama cukup dalam. Nata (2001 : 102) menyatakan bahwa fenomena keagamaan ini secara umum menunjukkan sumberdaya umat yang baik, namun tidak ditunjang oleh penguasaan keilmuan keislaman, lemah dalam penguasaan metodologi, tidak dapat teroganisasi dan tersistematik dalam struktur pengetahuannya.

Dampak yang nyata adalah kualitas pemahaman agama dan keberagaman yang belum responsif terhadap berbagai persoalan yang universal. Pembentukkan pemahaman islam yang komprehensif sesungguhnya merupakan bangunan metodologi dalam berbagai bidang-bidang keislaman (Abdullah, 1990 : 22).

======================
Referensi:
Abdullah, Amin. 2002. Studi Agama ; normativitas atau historisitas. Yogyakarta : Pustaka pelajar
Abdullah, Yatimin. 2006. Studi Islam Kontenporer. Jakarta : Amzah.
Al Rasyidin, dan Samsul Nizar. 2005. Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta : Ciputat Press
Nata, Abuddin. 2005. Metodologi Studi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
NN. 2006. bahaya Islam Jama’ah –lemkari – LDII. Jakarta : LPPI
Sebuah majalah indonesia islami : membuka kedok JIL. Edisi April 2006. Jakarta
Sebuah majalah yang ditulis oleh Ibu Juwariyah, M.Pd.I

Artikel Terkait:

comment 0 comments:

Post a Comment

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger