Motivasi Beragama

1. Pengertian Motivasi
Motivasi itu sendiri merupakan istilah yang lebih umum digunakan untuk menggantikan tema “motif-motif” yang dalam bahasa Inggris disebut dengan motive yang berasal dari kata motion, yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak. Karena itu motivasi erat hubungannya dengan “gerak”, yaitu gerakan yang dilakukan manusia atau disebut tingkah laku yang amaliyah. Motivasi dalam psikologi berarti rangsangan, dorongan, atau pembangkit tenaga bagi terjadinya tingkah laku. Dan motivas dengan sendirinya lebih berarti menunjuk kepada seluruh proses gerakan di atas, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu. Situasi tersebut serta tujuan akhir dari gerakan atau perbuatan menimbulkan terjadinya tingkah laku.
Hasan Langgulung berpendapat bahwa motivasi merupakan suatu keadaan psikologis yang merangsang dan memberi arah terhadap aktifitas manusia. Dialah kekuatan yang menggerakkan dan mendorong aktivitas seseorang. Motivasi itulah yang membimbing seseorang ke arah tujuan-tujuannya termasuk tujuan seseorang dalam melaksanakan tingkah laku (amal keagamaan).
Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan motivasi tersebut penting untuk dibicarakan dalam rangka mengetahui apa sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku keagamaan yang dikerjakan seseorang. Disini peranan motivasi tertentu yang sebenarnya timbul dalam diri manusia karena terbukanya hati manusia terhadap hidayah Allah. Sehingga orang tersebut menjadi orang yang beriman dan kemudian dengan iman itulah ia lahirkan tingkah laku keagamaan.

2. Peran Motivasi
Motivasi memiliki beberapa peran dalam kehidupan manusia, setidaknya ada empat peran motivasi itu, yaitu pertama, motivasi berfungsi sebagai pendorong manusia dalam berbuat sesuatu, sehingga menjadi unsur penting dari tingkah laku atau tindakan manusia, kedua, motivasi berfungsi untuk menentukan arah dan tujuan, ketiga, motivasi berfungsi sebagai penyeleksi atas perbuatan yang akan dilakukan oleh manusia baik atau buruk, sehingga tindakannya selektif, keempat, motivasi berfungsi sebagai penguji sikap manusia dalam beramal, benar atau salah, sehingga bisa dilihat kebenaran atau kesalahan yang bersifat emosional dan subyektif seperti “kehadiran Tuhan”. Itulah sebabnya mengapa orang akhirnya memiliki kecenderungan terhadap agama yang kemudian melahirkan tingkah laku keagamaan.

3. Jenis Motivasi
Yahya Jaya dalam buku “Motivasi Beragama”. Membagi motivasi itu menjadi dua kategori, yaitu motivasi beragama yang rendah dan motivasi beragama yang tinggi. Diantara motivasi beragama yang rendah dalam Islam adalah sebagai berikut:
  • Motivasi beragama karena didorong oleh perasaan jah dan riya’, seperti motivasi orang dalam beragama karena ingin kepada kemuliaan dan keriya’an dalam kehidupan masyarakat.
  • Motivasi beragama karena ingin mematuhi orang tua dan menjauhkan larangannya.
  • Motivasi beragama karena demi gengsi atau prestise, seperti ingin mendapat predikat alim atau taat.
  • Motivasi beragama karena didorong oelh keinginan untuk mendapatkan sesuatu atau seseorang, seperti motivasi seseorang dalam shalat untuk menikah.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari kewajiban agam. Dalam hal ini orang menganggap agama itu sebagai suatu beban, sesuatu yang wajib, dan tidak menganggapnya sebagai suatu kebutuhan yang penting dalam hidup. Jika dilihat dari kaca mata prikologi agama, sikap seseorang yang demikian terhadap agama, akan buruk dampaknya secara kejiwaan karena ia rasakan agama itu sebagai tanggungan atau beban dan bukan dirasakan sebagai kebutuhan. Untuk itu perlu diubah kesan wajib, beban atau tanggungan terhadap itu menjadi kebutuhan, agar agama itu menjadi berkah dan rahmat dalam hidup.
Sedangkan diantara motivasi beragama yang tinggi dalam Islam adalah:
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan surga dan menyelamatkan diri dari azab neraka. Motivasi beragama itu dapat mendorong manusia mencapai kebahagiaan jiwanya, serta membebaskan dari gangguan dan penyakit kejiwaan. Orang yang bercita-cita untuk masuk surga maka ia akan mempersiapkan diri dengan amal ketaqwaan, serta berusaha membebaskan dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat.
    Di dalam Islam, ketaqwaan itu merupakan pokok bagi tumbuhnya kesejahteraan dan kebahagiaan jiwa. Sedangkan kejahatan merupakan pokok bagi timbulnya kesengsaraan dan ketidakbahagiaan jiwa manusia.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Tingkatan motivasi ini lebih tinggi kualitasnya daripada yang pertama, karena yang memotivasi orang dalam beragama adalah keinginan untuk benar-benar menghamba atau mengabdikan diri serta mendekatkan jiwanya kepada Allah, yang tujuannya adalah nilai-nilai ibadah dan pendekatan dirinya kepada Allah serta tidak banyak termotivasi oleh keinginan untuk masuk surga atau takut masuk neraka.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keridhaan Allah dalam hidupnya. Motivasi orang dalam hal ini didorong oleh rasa ikhlas yang benar kepada Allah sehingga yang memotivasinya dalam beribadah dan beragama semata-mata karena keinginan untuk mendapatkan keridhaan Allah.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Seseorang yang mempunyai motivasi kategori ini merasakan agama itu sebagai suatu kebutuhan dalam kehidupannya yang mutlak dan bukan merupakan sesuatu kewajiban atau beban, akan tetapi bahkan sebagai permata hati.
  • Motivasi beragama karena didorong ingin hulul (mengambil tempat untuk menjadi satu dengan Tuhan).
    Hulul berati Tuhan memilih tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat didalamnya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan dan yang tinggal hanya sifat-sifat ketuhanan. Persatuaan dalam al-hulul terdapat dua wujud yang berbeda yaitu wujud Tuhan dan wujud manusia.
    Tuhan memiliki dua natur (sifat dasar); yaitu natur ketuhanan (lahut) yang tidak dapat dijangkau oleh makhluk; dan natur kemanusiaan (nasut) berupa tuh yang berhubungan dengan manusia demikian pula, manusia memiliki dua natur, yaitu natur ketuhanan (lahut) berupa ruh yang diciptakan langsung oleh Tuhan, dan natur kemanusiaan (nasut) berupa jasad yang berhubungan dengan alam empiris.
    Proses hulul diawali dengan usaha melenyapkan sifat-sifat kejasmanian. Jika sifat-sifat kejasmanian manusia lenyap dan sifat-sifat rohaniah menetap, maka sifat-sifat ketuhanan manusia Tuhan mengambil tempat pada sifat-sifat ketuhanan manusia, pada saat inilah terjadi al-hulul.
    Motivasi ini dipelopori oleh seorang sufi yang bernama Husein Ibnu Manshur al-Hallaj.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh kecintaan (mahabbah) kepada Allah SWT. Seseorang yang mempunyai motivasi mahabbah ini, melakukan ibadah ini bukan semata-mata karena takut (al-khauf), yaitu takut karena dimasukkan ke neraka, atau juga bukan karena berharap (al-raja), yaitu mengharapkan masuk surga, tetapi ia beribadah karena cinta (al-mahabbah) kepada Allah SWT. Jika cintaAllah telah diraih maka dengan sendirinya dapat menjauhkan seseorang dari api neraka dan mendekatkan seseorang dari kenikmatan surga.
    Motivasi ini dipelopori seorang sufi bernama Rabi’ah al-Adawiyah.
  • Motivasi beragama karena ingin mengetahui rahasia Tuhan dan peraturan Tuhan tentang segala yang ada (ma’rifah).
    Ma’rifah merupakan nur ilahi yang dihujamkan kepada qalbu suci yang dikehendakinya. Seseorang yang mencapai ma’rifah mengalami penyingkapan (kasyaf) dan penyaksian (musyahadah) terhadap ilmu yang hakiki. Sesaat memperoleh al-ma’rifah tidak dapat dibandingkan dengan belajar selama beberapa tahun. Ma’rifah diperoleh melalui penajaman cita rasa (dzaug) setelah melakukan penyucian diri (takziya al-nafs) dan latihan (riyadhah).
    Motivasi ini dipelopori oleh seorang sufi bernama Abu Hamid al-Ghazali.
  • Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk al-ittihad (bersatu dengan Tuhan).
Menurut ajaran tasawuf untuk mencapai itu ada proses yang dilalui, proses ittihad diawali dengan adanya al fana dan al-baqa, yaitu menghancurkan atau menghilangkan kesadaran akan eksistensi Tuhan. Tiada wujud kecuali wujud Tuhan dan tiada daya kecuali daya Tuhan. Maksud “menghilangkan kesadaran akan dirinya sendiri” adalah menghilangkan kebodohan, menghilangkan sesuatu yang menyalahi peraturan Tuhan meninggalkan semua akhlak yang tercela, menghilangkan sifat-sifat kebinatangan dan kemanusiaan dan menghilangkan eksistensi atau wujud jasmani. Sedangkan maksud “menetapkan kesadaran akan wujud Tuhan’ adalah menetapkan akan ilmu pengetahuan, menetapkan sesuatu yang sesuai dengan peraturan Tuhan, mengisi dengan akhlak terpuji, menetapkan sifat-sifat ketuhanan dan menetapkan eksistensi atau wujud rohani untuk bersatu dengan Tuhan.

Artikel Terkait:

comment 0 comments:

Post a Comment

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger