0 Islam dan Renaisans

Masuknya Islam ke Spanyol mempunyai arti yang sangat penting bagi bangsa Eropa. Melalui Spanyol, terjadilah kontak yang intens, baik kontak langsung antara orang Eropa dengan orang Islam, maupun kontak yang terjadi dengan media karya-karya di berbagai bidang ilmu pengetahuan termasuk arsitektur.

Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam.1 Namun, yang amat menarik bagi Eropa adalah kemajuan pemikiran dan sains Islam di dunia Timur. Mereka melihat bahwa Spanyol semenjak berada di bawah Islam, telah jauh meninggalkan negara tetangganya di Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains, selain bangunan fisik.2

Tejadinya kontak langsung antara orang Eropa dengan Islam dan kekaguman mereka terhadap Islam mendorong mereka untuk belajar kepada orang Islam. Wujud dari kekaguman itu muncul antara lain dalam bentuk penerjemahan besar-besaran buku-buku yang ditulis orang Islam (umumnya berbahasa Arab) ke bahasa-bahasa yang mereka pahami. Tentu saja isinya membawa informasi baru dan perubahan bagi mereka dengan segala implikasinya.

Di antara perubahan itu bisa ditemukan dalam bentukkurikulum pendidikan. Sebelum abad ke-21 kurikulum pendidikan dunia Latin didominasi oleh apa yang dikenal sebagai The Seven Liberal Arts. Pertama, trivium yaitu mencakup grammar, retorika, dan logika. Kedua, quadrivum mencakup aritmatika, geometri, astronomi, dan musik.3

Setelah masuknya informasi baru dari hasilpenerjemahan karya-karya muslim maka kurikulum tersebut pun mengalamiperubahan dan perluasan secarasignifikan. Kesadaran dan minat untukmembangkitkankembali tradisi ilmiah Yunanai dan Romawi sedemikian rupa hingga membentuk semangat zaman dan berskala massal.4

Hasil penerjemahan itu tidak saja instrumental dalam memperkenalkan warisan Yunani Romawi, tetapi juga merupakantambang pengetahuan baru yang belumpernah tersedia bagi dunia Latin sebelumnya. Proses penyerapan kembali informasi dari dunia Islam ini merupakan akhir dari kegelapan Eropa. Inilah cikal bakal awal renaisans.5

Renaisans adalah kebangkitan kembali zaman ketika warisan Yunani-Romawi kembali di ambil orang Eropa dengan media terjemahan melalui karya para ilmuan muslim atau orang-orang non muslim, tetapi munculseiring dengan kemajuan peradaban Islam, khususnya melalui Spanyol. Namun, sebelum membahas lebih lanjut renaisans, perlu dijelaskan terlebih dahulu bagaimana proses itu terjadi. Renaisans menjadi sangat penting dalam sejarah Eropa, karena renaisans menandai bebasnya manusia dari mitologi dan dogma-dogma.6

A. PENTERJEMAHAN
Penerjemahan adalah kegiatan yang terpenting dari segi peralihan/transfer ilmu pengetahuan dari dunia Islam ke Eropa. Masuknya khazanah intelektual Islam ke dunia Eropa melalui dua jalur. Pertama, melalui mahasiswa dan cendekiawan dari Eropa Barat yang belajar di sekolah-sekolah tinggi dan universitas-universitas Spanyol. Kedua, melalui terjemahan karya-karya muslim dari sumber-sumber bahasa Arab.7 Kegiatan penerjemahan menjadi sangat penting karena berlangsung lebih lama dari proses transfer ilmu langsung dari para mahasiswa dan cendekiawan. Lebih lamakarena jalur pertama telah terganggu disebabkan peperangan. Puncaknya ketika Granada jatuh ke tangan Eropa tahun 1492.8

Munculnya keinginan untuk menerjemahkan karya-karya muslim ke berbagai bahasa Eropa sangat mudah di duga. Seperti dituliskan di bagian depan pada makalah ini bahwa orang-orang Eropa melihat kemajuan yang pesat telah di capai Spanyol di bawah Islam. Kemajuan yang bersunber dari penguasaan yang baik pada zamannya terhadap ilmu pengetahuan. Oleh karena itu ilmu harus di kuasai. Masalahnya adalah mayoritas ilmu itu ditulis dengan menggunakan bahasa Arab, dimana pada waktu itu belum banyak orang Eroa yang dapat memahaminya. Karena itu perlulah karya-karya itu diterjemahkan.

Penerjemahan serius berlangsung terutama pada abad ke-12 dan ke-13, berlanjut dalam intensitas yang lebih rendah pada abad berikutnya. Mendekati pertengahan tahun 1300-an, jumlah karya-karya terjemahan ini telah mencapai 1200 hingga 1500 judul.9 Menurut catatan Nakosteen, para penerjemah itu ada 77 orang.10

Mereka yang menerjemahkan buku-buku dari bahasa Latin berjumlah (30 orang ). Mereka yang menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab atau Yunani ke bahasa Hebrew berjumlah (37 orang ). Mereka yang menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol berjumlah (7 oarng). Orang yang menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Catalan (Limousinia) berjumlah ( 1 orang bernama Judah Bonsenyor atau Jafuda, wafat 1331). Orang yang menerjemahkanbuku-buku dari bahasa Persia ke bahasa Yunani berjumlah (2 orang, bernama Gregorios Chioniades dan Georgios Choates).

Menurut catatan Nakosteen, penerjemahan itu berlangsung pada berbagai bidang ilmu pengetahuan dan telah di mulai tahun 1126 oleh Adelard of Bath (disebut juga Aethelhard, Alard). Ia menerjemahkan tabel-tabel astronomis karya Khawarizmi (780- 850 M).11 karya lain yang diterjenahkan iebih awal yaitu karya Ibnu Sina (980-1037). Penerjemahan pertama atas karya-karyanya telah dikerjakan di Latn antara tahun 1130 dan 1150 oleh Archdeacon Dominic Gundisalvus dan John Avendeath dari Seville, atas perinah dari Raymond, uskup besar di Tolledo.12

Namun ada data lain yang menunjukkan bahwa penerjemahan itu telah dimulai sebelumnya. Di Sicilia, tokoh pertama melakukan kegiatan penerjemahan karya-karya Arab ke bahasa Latin adalah Constantine Africanus (w. 1087) seorang rahib kristen dari Tunis. Ia menghabiskan waktunya selama tujuh than di Salermo (Sicilia) untuk belajar ilmu kedokteran dan mulai melakukan gerakan penerjemahan sejak tahun 1070.13

Alquran juga tidak luput dari usaha penerjemahan itu. Peter the Venerable, dengan bantuan assosiasi Kristen dan Arabnya, menerjemahkan Alquran pada tahun 1141.13

Penulis tidak menemukan keterangan-keterangan yang kuat tentang mengapa karya-karya itu menjadi salah satu di antara ribuan karya yang pertama diterjemahkan. Namun penulis berpendapat bahwa pertimbangan kebutuhan sajalah yang menjadi faktornya. Seperti halnya penerjemahan karya-karya filsafat Yunani, pada awalnya karena faktor kebutuhan menjawab persoalan-persoalan filsafat.

Berikut ini beberapa nama penerjemah yang turut ambil bagian dalam kegiatan penerjemahan tersebut.

Penerjemah dari bahasa Arab ke bahasa Latin (berjumlah 30 orang ) diantaranya:14
  1. Adelard of Bath yang menerjemahkan 3 judul, diantaranya dilakukan tahun 1126
  2. Alfred of Sareshel atau dikenal dengan Walfred, Alvred, Alphiatus, Sarewel, Serechel. Ia menerjemahkan 3 judul di antaranya dilakukan tahun 1200.
  3. Gerard of Cremona atau Gerardus Cremonensis. Ia menerjemah buku-buku yang banyak melalui sekolah penerjemahnya. Karya yang ia terjemahkan mencapai 54 judul.
Penerjemah dari bahasa Arab atau Yunani ke bahasa Hebrew (Yahudi) berjumlah 37 orang, diantaranya:15
  1. Abraham bar Hayyan ha-Nasi atau dikenal dengan Savasarda, ia menerjemahkan risalah tentang musik.
  2. Moses ibn Tibbon, seorang dokter, ahli matematika, astronomi, dan penerjemah. Ia menerjemahkan 30 judul.
  3. Todros Todrosi atau dekenal dengan Todros ben Meshullam ben David Todrasi. Ia menerjemahkan enam judul. 1 karya Al Farabi, 1 karya Ibnu Sina, dan 4 karya Ibnu Rusyd.
  4. Zerahiah Gracian atau dikenal dengan Zerahiah ben Isaac ben Shealtiel Gracian, Zerahiah Hen. Ia menerjemahkan atau membuat ulasan 13 judul.
Penerjenah dari bahasa Arab ke bahasa Spanyol berjumlah 7 orang di antaranya:16
  1. Abraham of Toledoatau dikenal dengan Don Abraham Alfaquin. Ia menerjemahkan 3 judul.
  2. Alfonso X the EI Sabio, dikenal juga dengan Alphonso X yang Bijak. Ia menerjemahkan 18 judul.
Penerjemah dari bahasa Arab ke catatan (I orang ) yaitu:17
  • Judah bensenyor. Ia menerjemahkan 3 judul.
Penerjemah dari bahasa Persia ke bahasa Yunani (2 orang) yaitu:18
  1. Gregorios Chioniades
  2. Georgios Choniates. Ia menerjamahkan tentang penangkal racun.
Penulis belum menemukan tentang keterangan agama yang dianut oleh masing-masing penerjemah itu, begitu juga apakah di antara mereka ada wanita. Namun, berdasarkan pluralisme dan kebebasan yang berkembang ketika itu serta dipengaruhi toleransi yang tinggi dan kecintaan kepada ilmu pengetahuan, mereka di duga berasal dari berbagai agama dan tidak ada data yang mejadi indikasi bahwa wanita tertutup peluangnya untuk itu.

Penting dicatat bahwa peran orang-orang Mozarabes juga sangat penting. Mozarabes berasal dari bahasa Arab musta’rabyaitu orang-orang yang ter-arab-kan adalah orang-orang yang kesehariannya memiliki cara hidup dan kebudayaan Arab-Islam. Walaupun mereka bukan beragama Islam. Mereka banyak berperan melakukan penerjemahan karya-karya muslim berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin, karena mereka menguasai bahasa Arab dan Latin sekaligus.19

Catatan lain yang sangat penting bahwa peralihan ilmu itu melalui terjemahan juga dilakukan dengan proses pelembagaan yang baik. Ada lembaga-lembaga atau sekolah penerjemahan dalam pengertian masa itu. Ini juga berlaku p[ada proses alih ilmu dari Yunani ke dunia Islam dan begitu juga yang terjadi di Jepang. Dapat disimpulkan bahwa proses penerjemahan menjadi satu ikon penting yang telah dibuktikan dalam sejarah pada proses alih ilmu pengetahuan dan teknologi di manapun.

Demikianlah fakta sejarah yang pernah tercatat. Itu juga terjadi di Spanyol. Di kota Toleda misalnya didirikan semacam sekolah tinggi. Pekerjaan ini dipimpin oleh Raymond. Ke kota Toledo ini juga banyak pindah penerjemah-penerjemah dari Baghdad, terutama yang berasal dari bangsa Yahudi. Mereka dapat menguasai bahasa Arab. Yahudi, Spanyol, dan Latin.20

B. AVERROISME
Averroisme atau al-Rusydiyyah al-Latiniyyah adalah gerakan intelektual yang berkembang di Barat (Eropa0 pada abad ke 13 hingga abad ke 17. pada prinsipnya, gerakan Averroisme berusaha mengembangkan gagasan pemikiran Ibn Rusyd yang rasional, filosofis, dan ilmiah. Averroisme mendorong lahirnya renaisans Eropa, yang pada gilirannya membawa orang-orang Barat pada zaman modern dengan kemajuannya yang pesat di bidang filsafat, sains dan teknologi.21

Averroisme inimenjadi faktor penting yang menjadi penyemangat lahirnya renaisans, selain karena pengaruh pemikiran yang di dapatkan dari berbagai buku yang diterjemahkan. Averroisme dan gerakan penerjemah di mulai secara besar-besaran di Spanyol menjadi sangat istimewa dalam pencapaian kemajuan di Barat. Tidak berlebihan kalau Nouruzzaman Shiddiqi menyatakan Spanyol (Andalusia) sebagai “jembatan penyeberangan muslim ke Barat.”22

Kontak Eropa dengan pemikiran Ibn Rusyd ini bermula dari sikap pemerintah al-Muwahhidin, yaitu setelah kematian Abu Yaacob pada tahun 1184 dan penobatan putranya Abu Yusof al-Mansur. Al-Mansur dikatakan telah menerima fitnah dari pihak yang tidak menyukai Ibn Rusyd sehingga menyebabkan beliau ditangkap dan diisngkirkan ke Lucena di Selatan Cordova. Khalifah juga memerintahkan agar semua buku-bukunya di bakar dan di larang membacanya.23

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa di antara peristiwa fitnah itu ialah karena para fuqaha ingin kedudukan yang tinggi di sisi khalifah sebagaimana mereka mendapat tempat pada dalam pemerintahan Murabitun24 (1086-1235). Namun, menurut Ernest Renan bahwa pemerintah al-Muwahiddin adalah pengikut ajaran imam al-Ghazali yang arti filsafat dan pendiri pemerintahan itu Muhammad Ibn Tumart al-Mahdi adalahmurid yang setia dari al-Ghazali.25

Fitnah ditiup dan dibesar-besarkan oleh pemitnah-pemitnah yang menuduh bahwa Ibn Rusyd sudah murtad dari Islam dan menetang segala kepercayaan yang di anut oleh umat Islam karena ia menganut ilmu filsafat Yunani yang bertentangan dengan Islam.26 Setelah pembuangan Ibn Rusyd ke Lucena dan pembakaran buku-bukunya, pengaruhnya di Andalusia tetap ada.

Beberapa pengikut setia dari muridnya, diantaranya Maimunides, Joseph Benjehovah, keduanya bangsa Yahudi, menyambutnya dengan rasa kecintaan di Lucena. Di masa pembuangan ini Ibn Rusyd meneruskan pekerjaannya yaitu mengajar dan mengarang sehingga banyak sekali pemuda-pemudi Yahudi datang belajar kepadanya.26 Tidak heran bahwa kendati pun buku-bukunya di bakar, pemikirannya masih ditemukan pada buku-buku yang ditulis murid-muridnya dalam bahasa Yahudi.

Pemikiran Ibn Rusyd terus berkembang di Eropa. Karya-karya terjemahannya ke bahasa Yahudi (Hebrew/Ibrani) kemudian muncul terjemahannya dalam bahasa Latin. Inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran Eropa dan mengguncang sendi-sendi kehidupan sosio-religius. Pengaruhnya itu muncul melalui gerakan Averroisme. Gerakan ini berlangsung selama empat ratus tahun, yaitu tahun 1250-1650 M.27 gerakan Averroisme pertama kali tumbuh di Itali.

Secara historis, averroisme merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan penafsiran filsafat. Averroisme yang dikembangkan oleh Ibn Rusyd oleh pemikir-pemikir Barat Latin. Pada mulanya istilah ini dimaksudkan sebagaipenghinaan (pejoratif) terhadap pendukungnya. Tidak seorang pun yang berani dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendukung Averroisme. Barulah pada masa Johannes Jandun (w. 1328) yang pertama kali menegaskan dirinya secara terbuka sebagai Averroisme.28

Pemikiran Ibn Rusyd dan Averroisme yang rasional berbenturan secara diametral dengan doktrin gereja. Paham rasionalisme Ibn Rusyd yang dikembangkan di Barat bertentangan dengan paham penerimaan secara mutlak doktrin gereja. Akibatnya, timbul pertentangan yang antara lain, para ilmuan menolak dan mengecam agama kristen yang dituduhnya sebagai sumber kemunduran.

Tentu saja hal itu menimbulkan kemarahan Gereja. Paus mengadakan inkuisisi terhadap orang-orang yang telah dianggap keluar dari ajaran kristen. Selama tahun 1481-1801, tidak kurang dari 340.000 orang yang di jatuhi hukumsn.hampir 32.000 diantaranya dibakar hidup-hidup.29 Pendapat lain mengatakan bahwa dari tahun 1481-1499,talah dijatuhi hukuman bakar hidup-hidup terhadap ilmuan sebanyak 10.220 orang. Selain itu ada 66.860 orang di hukum gant8ung dan 97.023 orang di hukum dengan berbagai macam siksaan dan hukuman.30

Diantara para ilmuan yang mengalami inkuisisi itu diantaranya. Roger Bacon (1214-1292) ia ahli matematika dan astronomi. Mengalami hukuman penjara selama bertahun-tahun. Servetus, seorang Spanyol, dibakar hidup-hidup tahun 1553 di Jenewa karena menentang ajaran trinitas. Giordano Bruno (1548-1600) dijatuhi hukuman mati di Roma dengan dibakar hidup-hidup pada tahun 1600. ia dituduh menganut paham yang bertentangan dengan agama Kristenkarena menganut paham heleosentris yang sebelumnya dikembangkan oleh astronom Polandia, Nicholas Copernicus (1473-1543) Galileo Galilei (1564- 16420 diadili oleh pengadilan inkuisi karena mengembangkan paham heleosentris seperti Bruno. Namun tidak sampai dibunuh, hanya dipenjara seumur hidup.31

Walaupun averroisme itu dilarang oleh gereja akan tetapi pengikut-pengikutnya tidak pernah habis. Bahkan suaranya semakin nyaring terdengar di Parisketika Johannes dari Jandum menyatakan gerakan averroisme secara agak berbeda. Ia mengatakanbahwa averroisme itu benar, selain itu, kitab suci juga benar. Baginya ada dua kebenaran, kebenaran yaitu filosofis dan kebenaran teologi.32

Bisa disimpulkan bahwa gerakan averroisme yang bersumber dari pemikiran Ibn Rusyd yang rasional karena itu tentu saja sangat menghargai akal-telah membuka pikiran orang Eropa. Puncak pengetahuan mereka yang sebelumnya selalu disesuaikan dengan paham gereja selanjutnya tidak lagi. Ada landasan pemikiran lain-dimana seringkali yang membuat mereka benar-benar tidak bisa menyetujui pendapat gereja

C. RENAISANS
Renaisans secara bahasa artinya kebangunan atau kebangkitan kembali yaitu ketika orang Eropa kembali mengangkat warisan ilmu dari Yunani dan Romawi yang sempat tenggelam. Sampainya ilmu kepada mereka melalui peradaban Islam, terutama di Spanyol. Gerakan penerjemahan dan kontak langsung dengan warisan ilmu dan orang-orang Islam menjadi sangat penting pada renaisans.

Averroisme menjadi gerakan yang juga sangat penting mendorong munculnya renaisans. Tokoh yang menjadi rujukannya-Ibn Rusyd (1126-1197)-dikenal sebagai ilmuan muslim yang sangat baik penguasaannya pada pemikiran Yunani, terutama Aristoteles. Ia menulis komentar terhadap karya-karya Aristoteles;diantara karya itu adalah:
  1. Al-Hayawan (1169) komentar terhadap karya Aristoteles de Anima
  2. Syarah al-Sama’ wa al-A’lam (1170), komentar terhadap De Caelo et Mundo
  3. Al-Kawn wa al-Fasad, komentar terhadap karya De Generatione et Corruptione
  4. Talkhish al-Sama’ wa al-Thabi’I 91170) komentar terhadap Physica
  5. Talkhish Ma Ba’d al-Thabi’ah (1174) komentar terhadap Metaphysica
  6. Syarh Kitab Burhan (1170), komentar terhadap Demonstration
  7. Talkhish Kitab al-Syi’r (1174) komentar terhadap Poetica Aristoteles
  8. Talkhish Kitab al-Akhlaq li Aristhutalis (1176), komentar terhadap Ethica Nicomachea.
Buku-buku Aristoteles dan tentu saja ada yang lain setelah dikomentari oleh Ibn Rusyd selanjutnya diterjemahkan ke berbagai bahasa yang dipahami umumnya orang Eropa. Salah satu efeknya adalah tingginya kedudukan akal sehingga mendorong rasionalisme. Karena komentar-komentar Ibn Rusyd itu pulalah sehingga Eropa terbuka matanya terhadap warisan ilmu Yunani dan Romawi di masa sebelumnya sehingga ratusan tahun ke belakangnya.

Untuk mendapatkan gambaran yang memadai tentang sejarah Barat-khususnya dalam konteks tulisan ini-ada baiknya diperhatikan periodisasi yang dipakai oleh Hassan Hanafi. Ia membagi sejarah Barat atas enam periode. Pertama, adalah zaman kekuasaan gereja yang berlangsung sejak abad pertama hingga ke-7 masehi. Kedua, zaman Skolastik yang berakhir pada abad ke-14.

Ketiga, zaman reformasi agama yang berlangsung dari abad ke-14 hingga abad ke-15. keempat, zaman renaisans abad ke-16. kelima, zaman rasionalisme dan pencerahan (Aufklarung) berlangsung hingga abad ke-17. keenam, zaman modern dan filsafat eksistensialisme yang berlangsung hingga sekarang.33 Pendapat lain mengatakan, era renaisans Eropa pada abad ke-14 hingga sekitar pertengahan abad ke-17.34

Renaisans Eropa pada bidangkeilmuan berimplikasi antara lain, ilmu-ilmu berusaha melepaskan keterikatannya dengan agam(Kristen khususna sebagaiagama mayoritas masyarakat Eropa). Sehingga tidak terelakkan lagi bahwa ini juga menjadi cikal bakal dari sekularisme, khususnya proses sekularisasi menuju sekularisme. Yaitudesakralisasi, yaitu menghilangkan hal-hal yang selama inidianggap sakral dalam ajaran dasar agama, padahal hanya pendapat atau paham-paham orang terdahulu tentang agama. Pemahaman seperti ini dipertanyakan kembali (keabsahannya) dan ditinggalkan, karena tidak sesuai dengan dunia kekinian. Ini pendekatan sosiologis.35

Rasionalisme yang didorong oleh Ibn Rusyd dan Averroisme kemudian berkembang di Eropa. Rasionalisme inilah yang melahirkan renaisans, yaitu satu gerakan kebangunan kembali manusia dari kungkungan mitologi dan dogma-dogma. Cita-cita renaisans adalah mengembalikan kembali kedaulatan manusia, yang selama berabad-abad telah dirampas oleh para dewa dan oleh mitologi. Kehidupan ini berpuast pada manusia bukan pada Tuhan, demikian anggapan renaisans. Manusia harus menguasai alam semesta.36

Selanjutnya lahirlah paham huanisme atau antroposentris yang mengasumsikan manusia menjadi pusat segala-galanya. Kemudian muncullah modernisme yang berpatokan pada humanisme. Ekonomi otonom dari agama. Politik lepas dari agama.

Jadi dapat disimpulkan (oleh penulis0 bahwa Islam (peradaban) mempunyai hubungan yang sangat penting dengan renaisans Eropa. Orang-orang Islam belajar kepada orang Yunani, Persia, India, Cina dan Romawi (dengan melakukan komentar dan kritik). Sementara orang-orang Eropa tidak lagi mengenalnya. Selanjutnya, melalui ilmuan-ilmuan Islam, khususnya di Spanyol-seperti dikemukakan di atas, jugaa disemangati pikiran Ibn Rusyd dan Averroisme melalui kontak langsung dan terjemahan-orang-orang Eropa mengenal kembali warisan peradabanYunanai yang telah dimajukan ilmuan muslim. Inilah yang mendorong renaisans.

Warisan kejayaan peradaban Yunani diwarisi oleh peradaban Helenisme dan Romawi, dan pada gilirannya ketika Romawi juga melampaui puncak kejayaannya, warisan tersebut diambil alih oleh peradaban Islam. Pada gailirannya, peradaban Islam pun mengalami kemunduran dan warisan itu diterjemahkan ke bahasa Latin dan bahasa Eropa lainnya. Penerjemahan-penerjemahanitu telah memprakarsai kebangkitan sosial, kultural, edukasional yang luar biasa yang dikeanal sebagai pencerahan Eropa.

Benar sekali apa yang dikatakan DR. Hasan Asari, MA, bahwa betapapun ilmuan Barat yang dengan sengaja mengingkari atau setidaknya mengecilkan arti kontribusi Islam dalam tradisi intelektual Barat, mereka perlu ingat bahwa interaksi dalam arti saling pengaruh dan saling pinjam adalah sesuatu yang niscaya dalam kajian peradaban manusia.36

D. JALUR-JALUR DAN ASPEK HUBUNGAN
Daerah yang paling berpengaruhlangsung terhadap transmission (penyebaran)- dengan segala implikasinya-ilmu pengetahuan Islam ke Barat adalah Spanyol dan Sicilia. Di wilayah Spanyol, kota yang menjadi pusat utama transformasi peradaban Islam ke Barat adalah Toledo, sedangkan di Sicilia adalah kota Palermo. Ini wajar karena posisi kedua wilayah tersebut yang strategis, terletak di perbatasan Timur dan Barat.37 Proses transmission itu juga melalui jalur/rute segitiga perdagangan Spanyol-Sicilia-Syiria.38 Karena berada di wilayah daratan amaka jalurnya adalah jalur darat,kecuali Syiria yang ditempuh lewat laut.

Adapun aspek hubungan itu di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Hubungan perdagangan Muslim Spanyol, muslim Sicilia dan muslim Afrika melakukan kontak dagang ke negeri-negeri Kristen melalui darat dan juga laut.
  2. Hubungan pendidikan. Universitas-universitas seperti di kota Seville Cordova, Toledo, Granada, dan Valencia banyak dikujungi pemuda-pemuda Eropa. Sejak abad ke-10 telah banyak mahasiswa dari berbagai negara Eropa yang berkumpul di kota-kota tersebut untukmenyaukilmu pengetahuan muslim di Spanyol.39 Mendekati akhir abad ke-12 telah berdiri 5 universitas di Eropa, Salermo (basisnya sekolah kedokteran) dan Bologna (basisnya sekolah hukum), keduanya di Italia. Universita Paris dimana Oxford di Inggris. Terbesar diantaranya adalah Universitas Paris dimana Oxford adalah satu cabangnya yang pada gilirannya melahirkan Cambridge tahun 1209. universitas lain yang berkembang pada abad ke-13 adalah Padua (1222), Naples (1224), Orleans,,, Angiers dan Salamnca di Spanyol.40
  3. Hubungan melalui penerjemahan langsung karya-karya ilmuan muslim ke berbagaibahasa Eropa seperti telah disinggung di bagian terdahulu.
  4. Hubungan melalui Perang Salib (1095-1291). Pada masa-masa gencatan senjata tidak menutup kemungkinan bagi kedua belah pihak untuk dapat saling memahami dan mengenal masing-masing dengan baik. Disinilah mulai muncul keinginan Barat untuk belajar banyak dari Islam. Terutama salib mulai terbuka matanya menyaksikan keadaan dunia Islam yang sangat berbeda dengan apayang mereka bayangkan sebelumnya. Mereka menyadaribahwa dunia Islam sangat beradab dan lebih maju dibandingkan mereka sendiri. Akibat yang muncul dari kesadaran ini adalah mereka memperoleh keuntungan dari dunia Islam meniru banyak dari segi peradaban Islam.41

E. PENGARUH ISLAM TERHADAP BARAT
Pengaruh Islam terhadap Dunia Barat (Eropa) terlihat dalam bidang militer, arsitektur, pertanian, perdagangan, industri, dan kehidupan sosial.42 Sepertiyang tampakdari gambaran bidang-bidang yang diterjemahkan itu, tentu saja pengaruh itu meliputi seluruh bidang. Penting disebutkan seperti bidang kedokteran, farmasi, musik, sastra dan sebagainya. Penulis tidak menentukan keseluruhan contoh-contoh pengaruh itukarena indikasi dari pengaruh yaitu adanya perubahan dari apa yang ada sebelumnya.



Namun sebagai gambaran tentang bagaimana pengaruh itu terjadi bisa dilihat dari gambaran kota Codova seperti ditulis Al-Maqqari (w. 1631)seperti dikutip Anwar G.Chejne, bahwa di kota tu terdapat 1600 masjid, 900 pemandian umum, 60.300 bangunan besar untuk tokoh-tokoh terkemuka seperti Wazir, sekretaris negara dan panglima perang, 213.077 real estate dan 80. 455 tok. Terdapat pula 10.000 lampu penerang jalan yang membuat jalan raya di kota itu terang benderang.43

==============
End Note:
1 Ibn Rusyd dan Pengaruhnya Pada Renaisance di Eropa, makalah Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 1992 dengan mengutip Calude Delmas. Tarikh al-Hadharah al-Urobiah, (Beirut; Dar Mansyurat Awidat, 1970), hal. 19
2 Philip K. Hitti, History of the Arabs, (London: MacMillan Press, 19700, hal. 526, 530
3 Hasan Asari, Dari Yunani Hingga Renaisans, Melacak Peranan Peradaban Islam dalam Tradisi Intelektual Barat, Journal Analytica Islamica, Pasca Sarjana IAIN SUMUT, Tahun I Volume I Nomor I, 1999, hal. 23
4 Ibid
5 Ibid
6 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, (Bandung; Mizan, Cet I, 1991), hal. 160
7 Mehdi Nakosteen,Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Erofa, terj. Joko S. Kahhar danSupriyanto Abdullah (Surabaya:Risalah Gusti, Cet I, 1996), hal. 271
8 Tariq Ali, Benturan anatar Fundamentalis terj.Hodri Ariev, (Jakarta; Paramadina, 2004)hal. 42
9 Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam, hal. 261
10 Ibid, hal. 393-428
11 Ibid, hal.393
12 Ibid, hal. 235
13 Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme, Sebuah Pemberontakan Terhadap Agama, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004) hl. 85 dengan mengutup Anwar G. Chejne, Muslim Spain Its History and Culture, (Minneapolis Minnesota Press, 1974), hal. 402. Menurut Mehdi Nakosteen, Universitas di Salermo yang berbasis kedokteran baru berdiri akhir abad ke-12. lihat Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam. Hal. 269. Namun bisa kemungkinannya bahwa ia belajar kedokteran, tetapi belum pada tempat yang disebut itu sebagai Universitas.
13 Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam, hal, 264
14 Ibid, hal.393-408
15 Ibid, hal. 408-423
16 Ibid, hal.423-426
17 Ibid, hl. 427
18 Ibid hal. 427-428
19 S.M Imamuddin, Muslim Spain 711-1492 (Leiden, E.J.Brill, 1981), hal. 192
20 Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta:Kencana Prenada Media, 2003), hal. 231 21 Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikira, (Bandung: Mizan, 1995)hal. 116
22 Nouruzzaman Shiddiqi, Tamaddun Muslim Bunga Rampai Kebudayaan Muslim, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hal.67
23 Mahmd Qasim, Falsafah Ibn Rusyd wa Atharruha fi al-Tafkir al-Gharbi, (Sudan: Jamiah Ummi Durman al–Islamiah, 1967), hal. 12 dalam makalah Ibn Rusyd dan Pengaruhnya Pada Renaisans Eropa, (Jakarta; Yayasan Wakaf Paramadina, 1992).
24 Ibid
25 Zainil Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Ibn Rusyd, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 70, dikutip dari Ernest Renan dalam Averroes Et Laverroisme, Paris, 1852, hal. 191
26 Ibid, hal. 74
26 Hanna al-Fakhuri, Tarikh Falsafah al-Arabiah, (Beirut:Maktabah al-Basiliah, Jilid II, 1958), hal. 385
27 Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme, Sebuah Pemberontakan Terhadap Agama, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004) hl. 95 dengan mengutip Stuart McClintock, “Averroisme”, dalam Paul Edwards, eds, The Encyclopedia of Philosophy Vol I (New York: MacMillan Publishing Co, 1972), hal. 224
28 Muhaamd Iqbal, Ibn Rusyd.., hal. 96
29 Abu aal-Hasan al-Nadwi, Islam and the World, (Lucknow: Academy of Islamic Research and Publication, 1979), hal. 114
30 Muhaamd Abduh, Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen, terjemahan Mahyuddin Syaf, (Bandung: Diponegoro, 1992), hal. 53
31 Muhaamd Iqbal, Ibn Rusyd…, hal. 105-106
32 Zainal Abidin Ahmad, hal. 171
33 Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme, hal. 53, ia merujuk Hasan Hanafi, Muqaddimahfi fi Ibn al-Istighrah, (Beirut: Muassasah al-Jami’ah, 1992), hal. 14-15
34 Hasan Asari, Dari Yunani Hingga Renaisans, hal. 25.Renaisnas bermula di Itali, ibid, hal.21
35 Sekularisme dalam penedekatan filosofis dalah paham yang memisahkan secara total antara agama dan nefgara. Menurut Nurcholis Madjid, sekularisme adalah paham yang dimulai dengan formulasiberikan kepada kaisar apa yang menjadi kepunyaan kaisar (urusan duniawi) dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi kepunyaan Tuhan (urusan ukhrowi). Tuhan tidak berhak mencampuri masalah-masalah duniawi (Nurcholis Madjid, Islam Kedokteran dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1987), hal. 179
36 Kuntowijoyo, Paradigma Islam, hal. 160
36 Hasan Asari, Dari Yunani Hingga Renaisans, hal. 25
37 Ahmad Amin, Zhuhr al-Islam Juz III,(Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, ttp), hal. 24 seperti dikutip Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme, hal. 80
38 S.M. Imamuddin, Muslim Spain, hal. 191
39 Ibid, hal. 192
40 Mehdi Nakosteen, Konstribusi Islam, hal. 269
41 Ahmad Tafsir, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan, (Bandung: Pustaka, 1986), hal. 8-9 diterjemahkan dari Komisi Nasional Mesir untuk UNESCO, Islamic and Arab Contribution to the Eurofean Renaisnce.
42 Ahmad Tafsir, Sumbangan, hal. 8-9
43 Muhammad Iqbal, Ibn Rusyd & Averroisme, hal. 80


==============
DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad, Ilmu dan Peradaban Menurut Islam dan Kristen, terjemahan Mahyuddin Syaf. Bandung: Diponegoro, 1992.

Ahmad, Zainil Abidin, Riwayat Hidup Ibn Rusyd. Jakarta: Bulan Bintang, 1975.

Ali, Tariq, Benturan antar Fundamentalis terj.Hodri Ariev. Jakarta; Paramadina, 2004.

Asari, Hasan, Dari Yunani Hingga Renaisan. Melacak Peranan Peradaban Islam dalam Tradisi Intelektual Barat, Journal Analytica Islamica, Pasca Sarjana IAIN SUMUT, Tahun I Volume I Nomor I, 1999

Fakhuri, Hanna, Tarikh Falsafah al-Arabiah. Beirut:Maktabah al-Basiliah, Jilid II, 1958.

Imamuddin, S.M., Muslim Spain 711-1492 . Leiden, E.J.Brill, 1981.

Iqbal, Muhammad, Ibn Rusyd & Averroisme, Sebuah Pemberontakan Terhadap Agama. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004.

Kuntowijoyo, Paradigma Islam. Bandung; Mizan, 1991.

Madjid, Nurcholis, Islam Kedokteran dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1987.

Nadwi, Abu al-Hasan, Islam and the World. Lucknow: Academy of Islamic Research and Publication, 1979.

Nakosteen, Mehdi, Konstribusi Islam atas Dunia Intelektual Erofa, terj. Joko S. Kahhar danSupriyanto Abdullah. Surabaya: Risalah Gusti, 1996.

Nasution, Harun, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran. Bandung: Mizan, 1995.

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Kencana Prenada Media, 2003.

Tafsir, Ahmad, Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Kebudayaan. Bandung: Pustaka, 1986.

Shiddiqi, Nouruzzaman, Tamaddun Muslim Bunga Rampai Kebudayaan Muslim. Jakarta: Bulan Bintang, 1986.
Read more

0 Kaidah-kaidah Hadits Tekstual dan Konstekstual

Kaidah-Kaidah Tekstual
  • Dasar (makna) dari suatu perkataan adalah hakikatnya.
الأصل فى الكلام الحقيقة
Kaidah ini menyatakan bahwa makna dasar dari sebuah perkataan adalah hakikatnya. Hakikat atau kebeneran di sini merupakan makna yang langsung dapat dipahami oleh pendengar ketika mendengar sebuah perkataan. Al-haqiqah adalah at-tabadur, makna yang benar itu adalah makna yang langsung masuk dalam pemahaman seseorang.

Akan tetapi, namanya makna dasar, maka pada beberapa perkataan ada yang harus dipahami tidak seperti dalam kaidah ini. Bila secara lengkap kaidah ini adalah: Dasar (makna) dari suatu perkataan adalah hakikatnya kecuali ada dalil yang menyatakan tidak demikian.

Makna dasar dari sebuah perkataan adalah arti yang langsung dapat difahami bukan takwil. Contohnya:

Bila ada yang mengatakan “mandi”, maka makna hakikinya adalah mandi pada umumnya, yakni untuk membersihkan badan, mandi ini tidak diartikan sebagai mandi besar kecuali ada qarinah yang menunjukkan bahwa makna kata “mandi” tersebut adalah mandi besar.

  • Yang dikatakan (manthuq) lebih didahulukan atas yang difahami (mafhum)[1]
المنطوق مقدم على المفهوم
  • Ibarat (nilai/pesan) diambil dari keumuman lafal bukan kekhususan sebab[2]
العبرة بعموم اللفظ لابخصوص السبب
Kaidah ini dapat dijelaskan bahwa sebuah nash terdiri dari dua hal: lafalnya dan illatnya. Pengambilan nilai dari sebuh nash menurut kaidah ini adalah nilai keumuman lafal tersebut, artinya apabila ada sebuah nash yang muncul karena suatu sebab, maka lafal itu kemudian menjadi berlaku bagi semua perkara tidak hanya berlaku pada sebab tersebut. Contohnya.

لن بفلح قوم ولو أمرهم امرأة
Tidak akan beruntung/menang sebuah kaum bila wanita adalah pemimpin mereka.

Hadist ini muncul ketika nabi memperhatikan sebuah kaum yang dipimpin oleh wanita yang tidak berkompeten untuk menjadi pemimpin, baik karena akhlaknya yang tidak baik atau memang karena ia tidak mempunyai sifat-sifat pemimpin lainnya.

Bila mengikuti kaidah di atas, maka hadist ini menjadi umum untuk semua kasus kepemimpinan wanita, artinya bahwa hadist tersebut melarang kepemimpinan wanita atas laki-laki, meski sebab munculnya hadist tersebut adalah sebuah sebab khusus, yakni adanya pemimpin wanita yang tidak berkompeten.

Contoh lain adalah hadist:

البحر طهور ماءه و الحل ميتته
Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.

Hadist ini muncul ketika sebuah kaum sedang dalam pelayaran di laut dan hanya mempunyai persedian air yang sedikit. Bila mereka menggunakan air tersebut untuk berwudhu’ maka mereka tidak akan mempunyai air minum. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasul, beliaupun menjawab seperti di atas.

Hadist ini kemudian, menurut kaidah di atas menjadi umum bahwa air laut itu memang suci dan mensucikan dalam setiap keadaan tidak hanya ketika kekurangan air.

Kaidah-Kaidah Kontekstual
  • Ibarat (nilai/pesan) diambil dari kekhususan sebab bukan keumuman lafal.[3]
العبرة بخصوص السبب لا بعموم اللفظ
Kaidah ini adalah kebalikan dari kaidah “Ibarat (nilai/pesan) diambil dari keumuman lafal bukan kekhususan sebab”. Bila kaidah ini yang dipakai untuk memahami hadist:

لن بفلح قوم ولو أمرهم امرأة
Tidak akan beruntung/menang sebuah kaum bila wanita adalah pemimpin mereka.



Maka pemhaman yang muncul kemudian adalah bahwa larangan nabi akan kepemimpinan wanita terbatas pada kondisi seperti kaum yang dicela oleh nabi tersebut. Yakni pada wanita yang tidak berkompeten untuk jadi pemimpin, sedangkan apabila ia berkompeten, maka tidak ada larangan dari hadist ini untuk menjadi pemimpin. Dengan begitu hadist ini tidak melarang kepemimpinan wanita, karena hadist ini terikat dengan kondisi sebab munculnya hadist tersebut.
  • Hukum itu berubah, ada atau tidak ada seiring dengan sebab.[4]
الحكم يدور مع العلة وجودا و عدما
Pengambilan hukum dalam metode ushul fikih

Khamar itu diharamkan ketika ada unsur memabukkan, ketika tidak ada maka tidak diharamkan. Illat di sini adalah memabukkan, maka selama illat itu menjadi bagian dari minuman, maka selama itu pula minuman tersebut diharamkan, dan sebaliknya selama illat itu tidak ada maka hukum keharamannyapun menjadi hilang.
  • Perubahan hukum itu seiring dengan perubahan tempat dan masa[5]
تغير الأحكام بتغير الأزمنة و الأمكنة
Ini merupakan salah satu kaidah dalam mehami nash secara kontekstual,bahwa hukum itu berubah seiring perubahan tempat dan waktu. Artinya hukum yang berlaku di suatu tempat belum tentu berlaku pada tempat lain, akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa tidaklah semua hukum bisa dipakai dengan semua kaidah-kaidah-kaidah ini.

Contoh kaidah ini adalah tentang waktu shalat, waktu shalat pada suatu tempat tidak akan sama dengan tempat lain, begitu juga dengan waktu buka, buka dan sebagainya.

=============
Ct:
[1]Tim Penulis, Usul Fikih (Gontor: Darussalam Press, t.h), juz II, h. 27.
[2]Tim Penulis, Usul Fikih (Gontor: Darussalam Press, t.h), juz I, h. 53.
[3]Tim Penulis, Usul Fikih (Gontor: Darussalam Press, t.h), juz I, h. 27.
[4]Abdul Hamid Hakim, mabadiul Awwaliya (Jakarta: Maktabah Sa’diyah, t.h), h. 47.
[5]Tim Penulis, Usul Fikih (Gontor: Darussalam Press, t.h), juz I, h. 53.
Read more

0 Beberapa Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalahmasalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan.

Seorang guru atau pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang pendidik perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan pendidik sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (guru). Dengan demikian hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar. Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan merabaraba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalahmasalah pendidikan.

Hubungan filsafat dengan konsep pendidikan bisa ditinjau dari tiga cabang besar filsafat, yaitu metafisika, epistemologi, dan aksiologi.

a. Metafisika
Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan. Seorang pendidik seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak.

b. Epistemologi
Kumpulan pertanyaan berikut yang berhubungan dengan para pendidik adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu ke situasi lainnya? Dan akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?

Bagaimana menjawab pertanyaan epistemologis tersebut akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama pendidik harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian pendidik harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi warga belajar. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat atau kepentingan masing-masing pendidik, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu Tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi.

Pendidik tidak hanya mengetahui bagaimana warga belajar memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana warga belajar mengikuti pembelajaran. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut.

c. Aksiologi
Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial. Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab pendidik adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan pendidik kepada warga belajar untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang benar-benar dipegang orang yang benar-benar terdidik?

Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa pendidik memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh warga belajar melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan pengetahuan untuk kebaikan. Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang pendidik mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional pendidik. Setiap pendidik baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan tentang bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek pengajaran.

Dengan menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para pendidik dapat menemukan berbagai pemecahan permasalahan pendidikan.

Aliran-aliran Filsafat Pendidikan
Sejarah perjalanan perkembangan keyakinan dan pemikiran umat manusia tentang pendidikan telah melahirkan sejumlah filsafat yang melandasinya. Berdasarkan bagaimana manusia dibentuk, terdapat tiga aliran paham yang dirasakan masih dominan pengaruhnya hingga saat ini, yakni: Nativisme atau Naturalisme, Empirisme atau Environtalisme, dan Konvergensionisme atau Interaksionisme.

Tokoh nativisme atau naturalisme antara lain J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.

Dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M), Empirisme atau Environtalisme berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.

Tokoh paham Konvergensionisme atau interaksionisme antara lain William Stern (1871-1939). Paham ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.

Pembagian Nativisme atau Naturalisme, Empirisme atau Environtalisme, dan Konvergensionisme atau Interaksionisme yang telah disebutkan di atas adalah pembagian berdasarkan bagaimana manusia dibentuk, sedangkan menurut pembagian berdasarkan apa yang harus diajarkan sebagai muatan pendidikan terdapat:
  1. Konservatif, yang mengajarkan apa yang sudah berlaku di masyarakat;
  2. Idealisme, yang mengajarkan apa yang menjadi ide abadi sepanjang masa;
  3. Liberalisme, yang mengajarkan ilmu sebagai bekal hidup;
  4. Liberasionisme, yang mengajarkan ilmu yang membebaskan; dan
  5. Anarkisme, yang mengajarkan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Sementara aliran filsafat yang dirasakan sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan adalah idealisme, realisme, pragmatisme, dan rekonstruksionisme.

a. Idealisme
Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Aliran ini juga berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegesi. Tujuan pendidikannya adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri, membentuk karakter manusia, dan memberikan bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan

b. Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis, yakni terdiri dari dunia fisik dan dunia ruhani. Dengan kata lain realitas dibagi menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Tujuan pendidikannya yaitu membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat



c. Pragmatisme
Pragmatisme adalah kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Pragmatisme memiliki pandangan bahwa yang ada itu yang berfungsi. Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang tidak bersikap mutlak (absolut), tidak doktriner, tetapi relatif tergantung kepada kemampuan manusia. Aliran ini mendasari munculnya model konsep kurikulum rekonstruksi sosial yang menekankan pemecahan problema masyarakat. Esensi ajaran pragmatisme ialah bahwa hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya yaitu menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.

d. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme (pragmatisme). Paham ini berpendapat bahwa, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruksionisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses. Tujuan pendidikannya adalah untuk menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.
Read more

0 Kisah Nabi Yusuf A.s. - BAG I

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh daripada dua belas putera-puteri Nabi Ya'qub. Ia dengan adiknya yang bernama Benyamin adalah beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya'qub. Ia dikaruniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan iaitu wafatnya ibu kandungnya Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.

Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahawa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang lain.

Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka.

Saudara-saudara Yusuf mengadakan pertemuan rahasia
Dalam pertemuan rahasia yang mrk adakan untuk merundingkan nasib yang mrk alami dan mengatur aksi yang harus mereka lakukan bagi menyedarkan ayahnya, menuntut perlakuan yang adil dan saksama, berkata salah seorang drp mrk: "Tidakkah kamu merasakan bahawa perlakuan terhadap kita sebagai anak-anaknya tidak adil dan berat sebelah? Ia memanjakan Yusuf dan menyintai serta menyayangi lebih daripada kita, seolah-olah Yusuf dan Benyamin sahajalah anak-anak kandungnya dan kita anak-anak tirinya , padahal kita adalah lebih tua dan lebih cekap daripada mereka berdua serta kitalah yang selalu mendampingi ayah,mengurus segala keperluannya dan keperluan rumahtanggannya. Kita merasa hairan mengapa hanya Yusuf dan Benyamin sahaja yang menjadi keistimewaan disisi ayah. Apakah ibunya lebih dekat kepada hati ayah berbanding dengan ibu kita? Jika memang itu alasannya ,maka apakah salah kita? Bahawa kita lahir daripada ibu yang mendapat tempat kedua di hati ayah ataukah paras Yusuf yang lebih tampan dan lebih cekap drp paras dan wajah kita yang memang sudah demikian diciptakan oleh Tuhan dan sesekali bukan kehendak atau hasil usaha kita? Kita amat sesalkan atas perlakuan dan tindakan ayah yang sesal dan keliru ini serta harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri keadaan yang pincang serta menjengkelkan hati kami semua."

Seorang saudara lain berkata menyambung: "Soal cinta atau benci simpati atau antipati adalah soal hati yang tumbuh laksana jari-jari kita, tidak dapat ditanyakan mengapa yang satu lebih rebdah dari yang lain dan mengapa ibu jari lebih besar dari jari kelingking. Yang kita sesalkan ialah bahwa ayah kita tidak dpt mengawal rasa cintanya yang berlebih-lebihan kepada Yusuf dan Benyamin sehingga menyebabkannya berlaku tidak adil terhadap kami semua selaku sesama anak kandungnya. Keadaan yang pincang dalam hubungan kita dengan ayah tidak akan hilang, jika penyebab utamanya tidak kita hilangkan. Dan sebagaimana kamu ketahui bahwa penyebab utamanya dari keadaan yang menjengkel hati ini ialah adanya Yusuf di tengah-tengah kita. Dia adalah penghalang bagi kita untuk dpt menerobos ke dalam lubuk hati ayah kita dan dia merupakan dinding tebal yang memisahkan kita dari ayah kita yang sangat kita cintai. Maka jalan satu-satunya untuk mengakhiri kerisauan kita ini ialah dengan melenyapkannya dari tengah-tengah kita dan melemparkannya jauh-jauh dari pergaulan ayah dan keluarga kita. Kita harus membunuh dengan tangan kita sendiri atau mengasingkannya di suatu tempat di mana terdpt binatang-binatang buas yang akan melahapnya sebagai mangsa yang empuk dan lazat. Dan kita tidak perlu meragukan lagi bahwa bila Yusuf sudah lenyap dari mata dan pergaulan ayah , ia akan kembali menyintai dan menyayangi kita sebagai anak-anaknya yang patut mendapat perlakuan adil dan saksama dari ayah dan suasana rumahtangga akan kembali menjadi rukun, tenang dan damai, tiada sesuatu yang merisaukan hati dan menyesakkan dada."



Berkata Yahudza, putera keempat dari Nabi Ya'qub dan yang paling cekap dan bijaksana di antara sesama saudaranya: "Kita semuanya adalah putera-putera Ya'qub pesuruh Allah dan anak dari Nabi Ibrahim, pesuruh dan kekasih Allah. Kami semua adalah orang-orang yang beragama dan berakal waras. Membunuh adalah sesuatu perbuatan yang dilarang oleh agama dan tidak diterima oleh akal yang sihat, apa lagi yang kami bunuh itu atau serahkan jiwanya kepada binatang buas itu adalah saudara kita sendiri , sekandung, sedarah , sedaging yang tidak berdosa dan tidak pula pernah melakukan hal-hal yang menyakitkan hati atau menyentuh perasaan. Dan bahwa ia lebih dicntai dan disayangi oleh ayah, itu adalah suatu yang berada di luar kekuasaannya dan sesekali tidak dpt ditimpakan dosanya kepadanya. Maka menurut fikiran saya kata Yahudza melanjutkan bahasnya ialah dengan jalan yang terbaik untuk melenyapkan Yusuf ialah melemparkannya ke dalam sebuah perigi yang kering yang terletak di sebuah persimpangan jalan tempat kafilah-kafilah dan para musafir berhenti beristirehat memberi makan dan minum kepada binatang-binatang kenderaannya. Dengan cara demikian terdpt kemungkinan bahwa salah seorang daripada musafir itu menemukan Yusuf, mengangkatnya dari dalam perigi dan membawanya jauh-jauh sebagai anak pungut atau sebagai hamba sahaya yang akan diperjual-belikan .Dengan cara aku kemukakan ini ,kami telah dapat mencapai tujuan kami tanpa melakukan pembunuhan dan merenggut nyawa adik kami yang tidak berdosa."

Fikiran dan cadangan yang dikemuka oleh Yahudza itu mendapat sambutan baik dan disetujui bulat oleh saudara-saudaranya yang lain dan akan melaksanakannya pada waktu dan kesempatan yang tepat. Pertemuan secara rahsia itu bersurai dengan janji dari masing-masing saudara hadir, akan menutup mulut dan merahsiakan rancangan jahat ini seketat-ketatnya agar tidak bocor dan tidak didengar oleh ayah mereka sebelum pelaksanaannya.

Nabi Yusuf bermimpi
Pada malam di mana para saudaranya mengadakan pertemuan sulit yang mana untuk merancangkan muslihat dan rancangan jahat terhadap diri adiknya yang ketika itu Nabi Yusuf sedang tidur nyenyak , mengawang di alam mimpi yang sedap dan mengasyikkan ,tidak mengetahui apa yang oleh takdir di rencanakan atas dirinya dan tidak terbayang olehnya bahwa penderitaan yang akan dialaminya adalah akibat dari perbuatan saudara-saudara kandungnya sendiri, yang diilhamkan oleh sifat-sifat cemburu, iri hati dan dengki.

Pd mlm yang nahas itu Nabi Yusuf melihat dalam mimpinya seakan-akan sebelas bintang, matahari dan bulan yang berada di langit turun dan sujud di depannya. Terburu-buru setelah bangun dari tidurnya, ia datang menghampiri ayahnya , menceritakan kepadanya apa yang ia lihat dan alami dalam mimpi.

Tanda gembira segera tampak pada wajah Ya'qub yang berseri-seri ketika mendengar cerita mimpi Yusuf, puteranya. Ia berkata kepada puteranya: "Wahai anakku! Mimpimu adalah mimpi yang berisi dan bukan mimpi yang kosong. Mimpimu memberikan tanda yang membenarkan firasatku pada dirimu, bahwa engkau dikurniakan oleh Allah kemuliaan ,ilmu dan kenikmatan hidup yang mewah.Mimpimu adalah suatu berita gembira dari Allah kepadamu bahwa hari depanmu adalah hari depan yang cerah penuh kebahagiaan, kebesaran dan kenikmatan yang berlimpah-limpah.Akan tetapi engkau harus berhati-hati, wahai anakku ,janganlah engkau ceritakan mimpimu itu kepada saudaramu yang aku tahu mereka tidak menaruh cinta kasih kepadamu, bahkan mereka mengiri kepadamu karena kedudukkan yang aku berikan kepadamu dan kepada adikmu Benyamin. Mrk selalu berbisik-bisik jika membicarakan halmu dan selalu menyindir-nyindir dalam percakapan mrk tentang kamu berdua. Aku khuatir, kalau engkau ceritakan kepada mrk kisah mimpimu akan makin meluaplah rasa dengki dan iri-hati mereka terhadapmu dan bahkan tidak mungkin bahwa mereka akan merancang perbuatan jahat terhadapmu yang akan membinasakan engkau. Dan dalam keadaan demikian syaitan tidak akan tinggal diam, tetapi akan makin mambakar semangat jahat mereka dan mengorbankan rasa dengki dan iri hati yang bersemayam dalam dada mrk. Maka berhati-hatilah, hai anakku, jangan sampai cerita mimpimu ini bocor dan didengar oleh mereka."

Isi cerita tersebut di atas terdapat dalam Al-Quran, dalam surah "Yusuf" ayat 4 sehingga ayat 10 yang berbunyi sebagai berikut:
"{Ingatlah} ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku". 5. Ayahnya berkata: "Hai anakku ,jgnlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudar-saudaramu, maka mrk membuat muslihat {utk membinasakanmu} .Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." 6. Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu {utk menjadi Nabi} dan diajarkannya kepada kamu sebahagian dari takdir mimpi-mimpi dan disempurnakannya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada dua orang bapamu sebelum itu, {iaitu} Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. 7. Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada {kisah} Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang yang bertanya. 8. {Iaitu} ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya {Benyamin} lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita {ini} adalah satu golongan {yang kuat} .Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata." 9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah {yang tidak dikenal} supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik." 10. Seorang daripada mrk berkata: "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah ia ke dalam perigi, supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir jika kamu hendak berbuat." { Yusuf :4 ~ 10 }

Yusuf dimasukkan ke dalam sumur
Pada esok harinya setelah semalam suntuk saudara kandung Yusuf bertemu berundingkan siasat dan merancangkan penyingkiran adiknya yang merupakan saingan yang berat dalam merebut hati si ayah, datanglah mereka menghadapi Nabi Ya'qub ayahnya meminta izin membawa Yusuf berekreasi bersama mereka di luar kota. Berkata juru cakap mrk kepada si ayah: "Wahai ayah yang kami cintai! Kami berhajat berekreasi dan berkelah di luar kota beramai-ramai dan ingin sekali bahawa adik kami Yusuf turut serta dan tidak ketinggalan, menikmati udara yang cerah di bawah langit biru yang bersih. Kami akan bawa bekal makanan dan minuman yang cukup untuk santapan kami selama sehari berada di luar kota untuk bersuka ria dan bersenang-senang ,menghibur hati yang lara dan melapangkan dada yang sesak, seraya mempertebal rasa persaudaraan dan semangat kerukunan di antara sesama saudara."

Berkata Ya'qub kepada putera-puteranya: "Sesungguhnya akan sangat merungsingkan fikiranku bila Yusuf berada jauh dari jangkauan mataku, apalagi akan turut serta bersamamu keluar kota, di lapangan terbuka, yang menurut pendengaranku banyak binatang buas seperti serigala yang banyak berkeliaran di sana. Aku khuatir bahwa kamu akan lengah menjaganya ,karena kesibukan kamu bermain-main sendiri sehinggakan menjadikannya mangsa bagi binatang-binatang buas itu. Alangkah sedihnya aku bila hal itu terjadi. Kamu mengetahui betapa sayangnya aku kepada Yusuf yang telah ditingglkan oleh ibunya."

Putera-puteranya menjawab: "Wahai ayah kami! Maskan masuk di akal, bahwa Yusuf akan diterkam oleh serigala atau lain binatang buas di depan mata kami sekumpulan ini? Padahal tidak ada di antara kami yang bertubuh lemah atau berhati penakut. Kami sanggup menolak segala gangguan atau serangan dari mana pun datangnya, apakah itu binatang buas atau makhluk lain. Kami cukup kuat serta berani dan kami menjaga Yusuf sebaik-baiknya, tidak akan melepaskannya dari pandangan kami walau sekejap pun. Kami akan mempertaruhkan jiwa raga kami semua untuk keselamatannya dan di manakah kami akan menaruh wajah kami bila hal-hal yang mengecewakan ayah mengenai diri Yusuf."

Akhirnya Nabi yusuf tidak ada alasan untuk menolak permintaan anak-anaknya membawa Yusuf berekreasi melepaskan Yusuf di tangan saudara-saudaranya yang diketahui mrk tidak menyukainya dan tidak menaruh kasih sayang kepadanya. Ia berkat kepada anak anaknya: "Baiklah jika kamu memang sanggup bertanggungjawab atas keamanan dan keselamtannya sesuai dengan kata-kata kamu ucapkan itu, maka aku izinkan Yusuf menyertaimu, semoga Allah melindunginya bersama kamu sekalian."

Pada esok harinya berangkatlah rombongan putera-putera Ya'qub kecuali Benyamin, menuju ke tempat rekreasi atau yang sebenarnya menuju tempat di mana menurut rancangan, Yusuf akan ditinggalkan. Setiba mrk disekitar telaga yang menjadi tujuan, Yusuf segera ditanggalkan pakaiannya dan dicampakkannya di dalam telaga itu tanpa menghiraukan jeritan tangisnya yang sedikit pun tidak mengubah hati abang-abangnya yang sudah kehilangan rasa cinta kepada adik yang tidak berdosa itu. Hati mereka menjadi lega dan dada mrk menjadi lapang karena rancangan busuknya telah berhasil dilaksanakan dan dengan demikian akan terbukalah Hati Ya'qub seluas-luasnya bagi mrk, dan kalaupun tindakan mrk itu akan menyedihkan ayahnya, maka lama-kelamaan akan hilanglah kesedihan itu bila mrk pandai menghiburnya untuk melupakan dan melenyapkan bayangan Ysuf dari ingatan ayahnya.

Pada petang hari pulanglah mrk kembali ke rumah tanpa Yusuf yang di tinggalkan seorang diri di dasar tegala yang gelap itu, dengan membawa serta pakaiannya setelah disirami darah seorang kelinci yang sengaja dipotong untuk keperluan itu , mrk mengadap Nabi Ya'qub seraya menangis mencucurkan airmata dan bersandiwara seakan-akan dan susah hati berkatalah mrk kepada ayahnya: "Wahai ayah! Alangkah sial dan nahasnya hari ini bagi kami ,bahwa kekhuatiran yang ayah kemukakan kepada kami tentang Yusuf kepada kami telah pun terjadi dan menjadi kenyataan bahwa firasat ayah yang tajam itu tidak meleset. Yusuf telah diterkam oleh seekor serigala dikala kami bermain lumba lari dan meninggalkan Yusuf seorang diri menjaga pakaian. Kami cukup hati-hati menjaga adik kami sesuai dengan pesanan ayah, namun karena menurut pengamatan kami pada saat itu, tidak ada tanda-tanda atau jejak binatang-binatang buas disekitar tempat kami bermain, kami sesekali tidak melihat adanya bahaya dengan meninggalkan Yusuf sendirian menjaga pakaian kami yang tidak dari tempat kami bermain bahkan masih terjangkau oleh pandangan mata kami. Akan tetapi serigala yang rupanya sudah mengintai adik kami Yusuf itu, bertindak begitu cepat menggunakan kesempatan lengahnya kami, waktu bermain sehingga tidak keburu kami menolong menyelamatkan jiwa adik kami yang sangat kami sayangi dan cintai itu. Oh ayah! Kami sangat sesalkan diri kami yang telah gagal menempati janji dan kesanggupan kami kepada ayah ketika kami minta izin mambawa Yusuf, namun apa yang hendak dikatakan bila takdir memang menghendaki yang demikian. Inilah pakaian Yusuf yang berlumuran dengan darah sebagai bukti kebenaran kami ini, walau pun kami merasakan bahawa ayah tidak akan mempercayai kami sekalipun kami berkata yang benar."

Nabi Ya'qub yang sudah memperolehi firasat tentang apa yang akan terjadi keatas diri Yusuf putera kesayangannya dan mengetahui bagaimana sikap abang-abangnya terhadap Yusuf adiknya, tidak dapat berbuat apa-apa selain berpasrah kepada takdir Illahi dan seraya menekan rasa sedih, cemas dan marah yang sedang bergelora di dalam dadanya, berkatalah beliau kepada putera-puteranya: "Kamu telah memperturutkan hawa nafsumu dan mengikut apa yang dirancangkan oleh syaitan kepadamu. Kamu telah melakukan suatu perbuatan yang akan kamu akan rasa sendiri akibatnya kelak jika sudah terbuka tabir asapnya yang patut dimintai pertolong-Nya dalam segala hal dan peristiwa."

Isi cerita ini telah dapat dibacakan didalam Al-Quran pada surah "Yusuf" ayat 11 sehingga 18 sebagai berikut:

"11. Mereka berkata : "Wahai ayah kami! apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yusuf ,padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya." 12. Biarkan lah ia pergi bersama kami besok, agak dia {dapat} bersenang-senang dan {dapat} bermain-main dan sesungguhnya kami pasti menjaganya." 13. Berkata Ya'qub:" Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkan dan aku khuatir kalau-kalau dia dimakan serigala sedang kamu lengah daripadanya." 14. Mereka berkata: " Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami adalah golongan {yang kuat} ,sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang rugi." 15. Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dalam telaga {lalu mereka masukkan dia} dan {di waktu dia sudah dalam telaga }Kami wahyukan kepada {Yusuf}:
"Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak ingat lagi. 16. Kemudian mereka datang kepada ayah mereka di petang hari sambil menangis. 17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya kami pergi berlumba-lumba dan kami tinggalkan Yusuf dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala dan kamu sesekali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." 18. Mereka datang membawa baju kemejanya {yang berlumuran} dengan darah palsu. Ya'qub berkata:" Sebenarnya diri kamu sendirilah yang memandang baik perbuatan {yang buruk} itu maka kesabaran yang baik itulah {kesabaran}. Dan Allah sajalah yang dimohon perlindungannya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Yusuf dijual-beli sebagai hamba sahaya
Yusuf sedang berada di dalam perigi itu seorang diri, diliputi oleh kegelapan dan kesunyian yang mencekam. Ia melihat ke atas dan ke bawah ke kanan dan ke kiri memikirkan bagaimana ia dapat mengangkatkan dirinya dari perigi itu, namun ia tidap melihat sesuatu yang dpt menolongnya. IA hanya dapat melihat bayangan tubuhnya dalam air yang cetek di bawah kakinya. Sungguh suatu ujian yang amat berat bagi seorang semuda Yusuf yang masih belum banyak pengalaman nya dalam penghidupan, bah baru pertama kali ia berpisah dari ayahnya yang sangat menyayangi dan memanjakannya. Lebih-lebih terasa beratnya uijian itu ialah karena yang melemparkannya ke dasar telaga itu adalah abang-abangnya sendiri, putera-putera ayahnya.

Yusuf di samping memikirkan nasibnya yang sedang dialami, serta bagaimana ia menyelamatkan dirinya dari bahaya kelaparan sekiranya ia lama tidak tertolong, ia selalu mengenangkan ayahnya ketika melihat abang-abangnya kembali pulang ke rumah tanpa dirinya bersama mrk.

Tiga hari berselang, sejak Yusuf dilemparkan ke dalam perigi, dan belum nampak tanda-tanda yang memberi harapan baginya dapat keluar dari kurungannya, sedangkan bahaya kelaparan sudah mulai membayangi dan sudah nyaris berputus asa ketika sekonyong-konyong terdengar olehnya suara sayup-sayup, suara aneh yang belum pernah didengarnya sejak ia dilemparkan ke dalam telaga itu. Makin lama makin jelaslah suara-suara itu yang akhirnya terdengar seakan anjing menggonggong suara orang-orang bercakap dan tertawa terbahak-bahak dan suara jejak kaki manusia dan binatang sekitar telaga itu.

Ternyata apa yang terdengar oleh Yusuf, ialah suara-suara yang timbul oleh sebuah kafilah yang sedang berhenti di sekitar perigi, di mana ia terkurung untuk beristirehat sambil mencari air untuk diminum bagi mrk dan binatang-binatang mrk. alangkah genbiranya Yusuf ketika keetika ia sedang memasang telinganya dan menengar suara ketua kafilah memerintahkan orangnya melepaskan gayung mengambil air dari telaga itu. Sejurus kemudian dilihat oleh Yusuf Sebuah gayung turun ke bawah dan begitu terjangkau oleh tangannya dipeganglah kuat-kuat gayung itu yang kemudian ditarik ke atas oleh sang musafir seraya berteriak mengeluh karena beratnya gayung yang ditarik itu.

Para musafir yang berada di kafilah itu terperanjat dan takjub ketika melihat bahawa yang memberatkan gayung itu bukannya air, tetapi manusia hidup berparas tampan, bertubuh tegak dan berkulit putih bersih. Mereka berunding apa yang akan diperbuat dengan hamba Allah yang telah diketemukan di dalam dasar perigi itu, dilepaskannya di tempat yang sunyi itu atau dikembalikan kepada keluarganya. Akhirnya bersepakatlah mrk untuk dibawa ke Mesir dan dijual di sana sebagai hamba sahaya dengan harga, yang menurut tafsiran mrk akan mencapai harga yang tinggi, karena tubuhnya yang baik dan parasnya yang tampan.

Setibanya kafilah itu di Mesir, dibawalah Yusuf di sebuah pasar khusus, di mana manusia diperdagangkan dan diperjual-belikan sebagai barang dagangan atau sebagai binatang-binatang ternakan. Yusuf lalu ditawarkan di depan umum dilelongkan. Dan karena para musafir yang membawanya itu khuatir akan terbuka pertemuan Yusuf maka mereka enggan memepertahankan sampai mencapai harga yang tinggi, tetapi melepaskannya pada tawaran pertama dengan harga yang rendah dan tidak memadai. Padahal seorang seperti nabi Yusuf tidak dapat dinilai dengan wang bahkan dengan emas seisi bumi pun tidak seimbang sebagai manusia yang besar dan makhluk Allah yang agung seperti Nabi Yusuf yang oleh Allah telah digariskan dalam takdirnya bahawa ia akan melaksanakan missi yang suci dan menjalankan peranan yang menentukan dalam pengaulan hidup umat manusia.

Nabi Yusuf dalam pelelongan itu dibeli oleh keeetua polisi Mesir bernama Fathifar sebagai penawar pertama , yang merasa berbahagia memperoleh sorang hamba yang berparas bagus, bertubuh kuat dan air muka yang memberi kesan bahawa dalam manusia yang dibelikan itu terkandung jiwa yang besar, hati suci bersih dan bahawa ia bukanlah dari kualiti manusia yang harus diperjual-belikan.

Kata Fathifar kepada isterinya ketika mengenalkan Yusuf kepadanya: "Inilah hamba yang aku baru beli dari pelelongan. Berilah ia perlakuan dan layanan yang baik kalau-kalau kelak kami akan memperolehi manfaat drpnya dan memungutnya sebagai anak kandung kita. Aku dapat firasat dari paras mukanya dan gerak-gerinya bahawa ia bukanlah dari golongan yang harus diperjual-belikan, bahkan mungkin sekali bahawa ia adalah dari keturunan keluarga yang berkedudukan tinggi dan orang-orang yang beradab."

Nyonya Fathifar, isteri Ketua Polis Mesir menerima Yusuf di rumahnya, sesuai dengan pesanan suaminya. dilayan sebagai salah seorang daripada anggota keluarganya dan sesekali tidak diperlakukannya sebagai hamba belian. Yusuf pun dapat menyesuaikan diri dengan keadaan rumahtangga Futhifar. Ia melakukan tugas sehari-harinya di rumah dengan penuh semangat dan dengan kejujuran serta disiplin yang tinggi. Segala kewajiban dan tugas yang diperintahkan kepadanya, diurus dengan senang hati seolah-olah dari perintah oleh orang tuanya sendiri. Demikianlah, maka makin lama makin disayanglah akan Yusuf di rumah Ketua Polis Mesir itu sehingga merasa seakan-akan berada di rumah keluarga dan orang tuanya sendiri.

Tentang isi cerita di atas, dapat dibaca dalam surah "Yusuf" ayat 19 sehingga ayat 21 sebagai berikut: ~
"19. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mrk menyuruh seorang mengambil air mereka, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: " Oh! Khabar gembira, ini seorang anak muda!" Kemudian mrk menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mrk kerjakan. 20. Dan mrk menjual Yusuf dengan harga yang murah, iaitu beberapa dirham shj, dan mrk merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf 21. Dan orang Mesir yang membelinya berkata kepada isterinya: " Berikanlah kepadanya tempat {dan layanan} yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak." Dan demekian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi {Mesir} dan agar kami ajarkan kepadanya takdir mimpi. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." {Surah Yusuf : 19 ~ 21}

Yusuf dan godaan Nyonya Futhifar
Yusuf hidup tenang dan tenteram di rumah Futhifar, Ketua Polis Mesir, sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Ia mendpt kepercayaan penuh dari kedua majikannya, suami-isteri, mengurus rumah-tangga mereka dan melaksanakan perintah dan segala keperluan mrk dengan sesungguh hati, ikhlas dan kejujuran, tiada menuntut upah dan balasan atas segala tenaga dan jerih payah yang dicurahkan untuk kepentingan keluarga. Ia menganggap dirinya di rumah itu bukan sebagai hamba bayaran, tetapi sebagai seorang drp anggota keluarga. demikian pula anggapan majikannya, suami-isteri terhadap dirinya.

Ketenangan hidup dan kepuasan hati yang diperdpt oleh Yusuf selama ia tinggal di rumah Futhifar, telah mempengaruhi kesihatan dan pertumbuhan tubuhnya. Ia yang telah dikurnai oleh Tuhan kesempurnaan jasmani dengan kehidupan yang senang dan empuk di rumah Futhifar, makin terlihat tambah segar wajahnya, tambah elok parasnya dan tambah tegak tubuhnya, sehingga ia merupakan seorang pemuda remaja yang gagah perkasa yang menggiurkan hati setiap wanita yang melihatnya, tidak terkecuali isteri Futhifar, majikannya sendiri, bahkan bukan tidak mungkin bahwa ia akan menjadi rebutan lelaki, andai kata ia hidup di kota Sadum di tengah-tangah kaum Nabi Luth ketika itu.

Pengaulan hari-hari di bawah satu atap rumah antara Yusuf pemuda remaja yang gagah perkasa dan Nyonya Futhifar, seorang wanita muda cantik dan ayu, tidak akan terhindar dari risiko terjadinya perbuatan maksiat, bila tidak ada kekuatan iman dan takwa yang menyekat hawa nafsu yang ammarah bissu. Demikian lah akan apa yang terjadi terhadap Yusuf dan isteri Ketua Polis Mesir.

Pada hari-hari pertama Yusuf berada di tengah-tengah keluarga, Nyonya Futhifar tidak menganggapnya dan memperlakukannya lebih dari sebagai pembantu rumah yang cekap, tangkas, giat dan jujur, berakhlak dan berbudi pekerti yang baik. Ia hanya mengagumi sifat-sifat luhurnya itu serta kecekapan dan ketangkasan kerjanya dalam menyelesaikan urusan dan tugas yang pasrahkan kepadanya. Akan tetapi memang rasa cinta itu selalu didahului oleh rasa simpati.

Simpati dan kekaguman Nyonya Futhifar terhadap cara kerja Yusuf, lama-kelamaan berubah menjadi simpati dan kekaguman terhadap bentuk banda dan paras mukanya. Gerak-geri dan tingkah laku Yusuf diperhatika dari jauh dan diliriknya dengan penuh hati-hati. Bunga api cinta yang masih kecil di dalam hati Nyonya Futhifar terhadap Yusuf makin hari makin membesar dan membara tiap kali ia melihat Yusuf berada dekatnya atau mendengar suaranya dan suara langkah kakinya. Walaupun ia berusaha memandamkan api yang membara di dadanya itu dan hedak menyekat nafsu berahi yang sedang bergelora dalam hatinya, untuk menjaga maruahnya sebagai majikan dan mepertahankan sebagai isteri Ketua Polis, namun ia tidak berupaya menguasai perasaan hati dan hawa nasfunya dengan kekuatan akalnya. Bila ia duduk seorang diri, maka terbayanglah di depan matanya akan paras Yusuf yang elok dan tubuhnya yang bagus dan tetaplah melekat bayangan itu di depan mata dan hatinya, sekalipun ia berusaha untuk menghilangkannya dengan mengalihkan perhatiannya kepada urusan dan kesibukan rumahtangga. Dan akhirnya menyerahlah Nyonya Futhifar kepada kehendak dan panggilan hati dan nafsunya yang mnedpt dukungan syaitan dan iblis dan diketepikanlahnya semua pertimbangan maruah, kedudukan dan martabat serta kehormatan diri sesuai dengan tuntutan dengan akal yang sihat.

Nyonya Futhifar menggunakan taktik, mamancing-mancing Yusuf agar ia lebih dahulu mendekatinya dan bukannya dia dulu yang mendekati Yusuf demi menjaga kehormatan dirinya sebagai isteri Ketua Polis. Ia selalu berdandan dan berhias rapi, bila Yusuf berada di rumah, merangsangnya dengan wangi-wangian dan dengan memperagakan gerak-geri dan tingkah laku sambil menampakkan, seakan-akan dengan tidak sengaja bahagian tubuhnya yang biasanya menggiurkan hati orang lelaki.

Yusuf yang tidak sadar bahwa Zulaikha, isteri Futhifar, mencintai dan mengandungi nafsu syahwat kepadanya, menganggap perlakuan manis dan pendekatan Zulaikha kepadanya adalah hal biasa sesuai dengan pesanan Futhifar kepada isterinya ketika dibawa pulang dari tempat perlelongan. Ia berlaku biasa sopan santun dan bersikap hormat dan tidak sedikit pun terlihat dari haknya sesuatu gerak atau tindakan yang menandakan bahwa ia terpikat oleh gaya dan aksi Zulaikha yang ingin menarik perhatiannya dan mengiurkan hatinya. Yusuf sebagai calon Nabi telah dibekali oleh Allah dengan iman yang mantap, akhlak yang luhur dan budi pekerti yang tinggi. Ia tidak akan terjerumus melakukan sesuatu maksiat yang sekaligus merupakan perbuatan atau suatu tindakan khianat terhadap orang yang telah mempercayainya memperlakukannya sebagai anak dan memberinya tempat di tengah-tengah keluarganya.

Sikap dingin dan acuh tak acuh dari Yusuf terhadap rayuan dan tingkah laku Zulaikha yang bertujuan membangkitkan nafsu syahwatnya menjadikan Zulaikha bahkan tambah panas hati dan bertekad dkan berusaha terus sampai maksudnya tercapai. Jika aksi samar-samar yang ia lakukan tetap tidak dimengertikan oleh Yusuf Yang dianggapkannya yang berdarah dingin itu, maka akan dilakukannya secara berterus terang dan kalau perlu dengan cara paksaan sekalipun.

Zulaikha, tidak tahan lebih lama menunggu reaksi dari Yusuf yang tetap bersikap dingin, acuh tak acuh terhadap rayuan dan ajakan yang samar-samar daripadanya. Maka kesempatan ketika si suami tidak ada di rumah, masuklah Zulaikha ke bilik tidurnya seraya berseru kepada Yusuf agar mengikutinya. Yusuf segera mengikutinya dan masuk ke bilik di belakang Zulaikha, sebagaimana ia sering melakukannya bila di mintai pertolongannya melakukan sesuatu di dalam bilik. Sekali-kali tidak terlintas dalm fikirannya bahwa perintah Zulaikha kali itu kepadanya untuk masuk ke biliknya bukanlah perintah biasa untuk melekukan sesuatu yang biasa diperintahkan kepadanya. Ia baru sedar ketika ia berad di dalam bilik, pintu dikunci oleh Zulaikha, tabir disisihkan seraya berbaring berkatalah ia kepada Yusuf: "Ayuh, hai Yusuf! Inilah aku sudah siap bagimu, aku tidak tahan menyimpan lebih lama lagi rasa rinduku kepada sentuhan tubuhmu. Inilah tubuhku kuserahkan kepadamu, berbuatlah sekehendak hatimu dan sepuas nafsumu."

Seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, berkatalah Yusuf: "Semoga Allah melindungiku dari godaan syaitan. Tidak mungkin wahai tuan puteriku aku akan melakukan maksiat dan memenuhi kehendakmu. Jika aku melakukan apa yang tuan puteri kehendaki, maka aku telah mengkhianati tuanku, suami tuan puteri, yang telah melimpahkan kebaikannya dan kasih sayangnya kepadaku. Kepercayaan yang telah dilimpahkannya kepadaku, adalah suatu amanat yang tidak patut aku cederai. Sesekali tidak akanku balas budi baik tuanku dengan perkhianatan dan penodaan nama baiknya. Selain itu Allah pun akan murka kepadaku dan akan mengutukku bila bila aku lakukan apa yang tuan puteri mintakan daripadaku. Allah Maha Mengetahui segala apa yang diperbuat oleh hambanya."

Segera mata Zulaikha melotot dan wajahnya menjadi merah, tanda marah yang meluap-luap, akibat penolakan Yusuf tehadap ajaknya. Ia merasakan dirinya dihina dan diremehkan oleh Yusuf dengan penolakannya, yang dianggapnya suatu perbuatan kurang ajar dari seorang pelayan terhadap majikannya yang sudah merendahkan diri, mengajaknya tidur bersama, tetapi ditolak mentah-mentah. Padhal tidak sedikit pembesar pemerintah dan orang-orang berkedudukan telah lama merayunya dan ingin sekali menyentuh tubuhnya yang elok itu, tetapi tidak dihiraukan oleh Zulaikha.

Yusuf melihat mata Zulaikha yang melotot dan wajahnya yang menjadi merah, menjadi takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dan segera lari menuju pintu yang tertutup, namun Zulaikha cepat-cepat bangun dari ranjangnya mengejar Yusuf yang sedang berusaha membuka pintu, ditariknyalah kuat-kuat oleh Zulaikha bahagian belakang kemejanya sehingga terkoyak. Tepat pada masa mereka berada di belakang pintu sambil tarik menarik, datanglah Futhifar mendapati mrk dalam keadaan yang mencurigakan itu.

Dengan tiada memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Zulaikha cepat-cepat kepada suaminya yang masih berdiri tercengang memandang kepada kedua orang kepercayaan itu: "Inilah dia Yusuf, hamba yang engkau puja dan puji itu telah berani secara kurang ajar masuk ke bilikku dan memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Berilah ia ganjaran yang setimpal dengan perbuatan biadabnya. Orang yang tidak mengenal budi baik kami ini harus dipenjarakan dan diberika seksaan yang pedih."

Yusuf mendengar laporan dan tuduhan palsu Zulaikha kepada suaminya, tidak dpt berbuat apa-apa selain memberi keterangan apa yang terjadi sebenarnya. Berkatalah ia kepada majikannya, Futhifar: "Sesungguhnya dialah yang menggodaku, memanggilkan aku ke biliknya, lalu memaksaku memenuhi nafsu syahwatnya. Aku menolak tawarannya itu dan lari menyingkirinya, namun ia mengejarku dan menarik kemejaku dari belakang sehingga terkoyak."

Futhifar dalam keadaan bingung. Sipakah diantara kedua orang yang benar? Yusufkah yang memang selama hidup bersama dirumahnya belum pernah berkata dusta, atau Zulaikhakah yang dalam fikirannya tidak mungkin akan mengkhianatinya? Dalam keadaan demikian itu tibalah sekonyong-konyong seorang dari keluarga Zulaikha, iaitu saudaranya sendiri yang dikenal bijaksana, pandai dan selalu memberi pertimbangan yang tepat bila dimintai fikiran dan nasihatnya. Atas permintaan Futhifar untuk memberinya pertimbangan dalam masalah yang membingungkan itu, berkatalah saudaranya: "Lihatlah, bila kemeja Yusuf terkoyak bahgian belakangnya, maka ialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya bila koyak kemejanya di bahagian hadapan maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar."

Berkatalah Futhifar kepada isterinya setelah persoalannya menjadi jelas dan tabir rahsianya terungkap: "Beristighfarlah engkau hai Zulaikha dan mohonlah ampun atas dosamu. Engkau telah berbuat salah dan dusta pula untuk menutupi kesalahanmu. Memang yang demikian itu adalah sifat-sifat dan tipu daya kaum wanita yang sudah kami kenal." Kemudian berpalinglah dia mengadap Yusuf dan berkata kepadanya: "Tutuplah rapat-rapat mulutmu wahai Yusuf, dan ikatlah lidahmu, agar masalah ini akan tetap menjadi rahsia yang tersimpan sekeliling dinding rumah ini dan jangan sesekali sampai keluar dan menjadi rahsia umum dan buah mulut masyarakat. Anggap saja persoalan ini sudah selesai sampai disini."

Ada sebuah peribahasa yang berbunyi: "Tiap rahsia yang diketahui oleh dua orang pasti tersiar dan diketahui oleh orang ramai." Demikianlah juga peristiwa Zulaikha dengan Yusuf yang dengan ketat ingin ditutupi oleh keluarga Futhifar tidak perlu menunggu lama untuk menjadi rahsia umum. pada mulanya orang berbisik-bisik dari mulut ke mulut, menceritakan kejadian itu, tetapi makin hari makin meluas dan makin menyebar ke tiap-tiap pertemuan dan menjadi bahan pembicaraan di kalangan wanita-wanita dari golongan atas dan menengah. Kecaman-kecaman yang bersifat sindiran mahupun yang terang-terangan mulai dilontarkan orang terhadap Zulaikha, isteri Ketua Polis Negara, yang telah dikatakan bercumbu-cumbuan dengan pelayannya sendiri, seorang hamba belian dan yang sangat memalukan kata mrk bahwa pelayan bahkan menolak ajakan majikannya dan tatkala melarikan diri drpnya dikejarkannya sampai bahagian belakang kemejanya terkoyak.

Kecaman-kecaman sindiran-sindiran dan ejekan-ejekan orang terhadap dirinya akhirnya sampailah di telinga Zulaikha. Ia menjadi masyangul dan sedih hati bahwa peristiwanya dengan Yusuf sudah menjadi buah mulut orang yang dengan sendirinya membawa nama baik keluarga dan nama baik suaminya sebagai Ketua Polis Negara yang sgt disegani dan dihormati. Zulaikha yang sangat marah dan jengkel terhadap wanita-wanita sekelasnya, isteri-isteri pembesar yang tidak henti-hentinya dalam pertemuan mrk menyinggung namanya dengan ejekan dan kecaman sehubungan dengan peristiwanya dengan Yusuf.

Utk mengakhiri desas-desus dan kasak-kusuk kaum wanita para isteri pembesar itu, Zulaikha mengundang mrk ke suatu jamuan makan di rumahnya, dengan maksud membuat kejutan memperlihatkan kepada mrk Yusuf yang telah menawankan hatinya sehingga menjadikan lupa akan maruah dan kedudukan sebagai isteri Ketua Polis Negara.

Dalam pesta itu para undangan diberikan tempat duduk yang empuk dan masing-masing diberikan sebilah pisau yang tajam untuk memotong daging dan buah-buahan yang tersedia dan sudah dihidangkan.

Setelah masing-masing tamu menduduki tempatnya dan disilakannya menikmati hidangan yang sudah tersedia di depannya, maka tepat pada masa mrk sibuk mengupas buah yang ada ditangan masing-masing, dikeluarkannyalah Yusuf oleh Zulaikha berjalan sebagai peragawan di hadapan wanita-wanita yang sedang sibuk memotong buah-buahan itu. Tanpa disadari para tamu wanita yang sedang memegang pisau dan buah-buahan di tangannya seraya ternganga mengagumi keindahan wajah dan tubuh Yusuf mrk melukai jari-jari tangannya sendir dan sambil menggeleng-geleng kepala kehairanan, maka berkatalah mrk: "Maha Sempurnalah Allah. Ini bukanlah manusia. Ini adalah seorang malaikat yang mulia."

Zulaikha bertepuk tangan tanda genbira melihat usah kejutannya brhasil dan sambil menujuk ke jari-jari wanita yang terhiris dan mencucurkan darah itu berkatalah ia: "Inilah dia Yusuf, yang menyebabkan aku menjadi bual-bualan ejekanmu dan sasaran kecaman-kecaman orang Tidakkah kami setelah melihat Yusuf dengan mata kepala memberi uzur kepadaku, bila ia menawan hatiku dan membangkitkan hawa nafsu syahwatku sebagai seorang wanita muda yang tidak pernah melihat orang yang setampan parasnya, seindah tubuhnya dan seluhur akhlak Yusuf? Salahkah aku jika aku tergila-gila olehnya, sampai lupa akan kedududkanku dan kedudukan suamiku? Kamu yang hanya melihat Yusuf sepintas lalu sudah kehilangan kesedaran sehingga bukan buah-buahan yang kamu kupas tetapi jari-jari tanganmu yang terhiris. Maka hairankah kalau aku yang berkumpul dengan Yusuf di bawah satu bumbung, melihat wajah dan tubuhnya serta mendengar suaranyapada setiap saat dan setiap detik sampai kehilangan akal sehingga tidak dapat mengawal nafsu syahwatku menghadapinya? Aku harus mengaku didepan kamu bahawa memang akulah yang menggodanya dan merayunya dan dengan segala daya upaya ingin memikat hatinya dan mengundangnya untuk menyambut cintaku dan melayani nafsu syahwatku. Akan tetapi dia bertahan diri, tidak menghiraukan ajakanku dan bersikap dingin terhadap rayuan dan godaanku. Ia makin menjauhkan diri, bila aku mencuba mendekatinya dan memalingkan pandangan matanya dari pandanganku bila mataku menentang matanya. Aku telah merendahkan diriku sebagai isteri Ketua Polis Negara kepada Yusuf yang hanya seorang hamba sahaya dan pembantu rumah, namaku sudah terlanjur ternoda dan menjadi ejekan orang karenanya, maka bila tetap membangkang dan tidak mahu memperturutkan kehendakku, aku tidak akan ragu-ragu akan memasukkannya ke dalam penjara sepanjang waktu sebagai pengajaran baginya dan imbalan bagi kecemaran namaku karenanya."

Mendengar kata-kata ancaman Zulaikha terhadap diri Yusuf menggugah hati para wanita yang menaruh simpati dan rasa kasihan kepada diri Yusuf. Mrk menyayangkan bahwa tubuh yang indah dan wajah yang tampan serta manusia yang berbudi pekerti dan berakhlak luhur itu tidak patut dipenjarakan dan dimasukkan ke tempat orang-orang yang melakukan jenayah dan penjahat.

Berkata salah seorang yang menghampirinya: "Wahai Yusuf! Mengapa engkau berkeras kepala menghadapi Zulaikha yang menyayangimu dan mencintaimu? Mengapa engkau menolak ajakan dan seruannya terhadapmu? Suatu keuntungan besar bagimu, bahwa seorang wanita cantik seperti Zulaikha yang bersuamikan seorang pembesar negara tertarik kepadamu dan menginginkan pendekatanmu. Ataukah mungkin engkau adalah seorang lelaki yang lemah syahwat dan karena itu tidak tertarik oleh kecantikan serta keelokan seorang wanita muda seperti Zulaikha."

Berkata seorang tamu wanita lain: "Jika sekiranya kamu tidak tertarik kepada Zulaikha karena kecantikannya, maka berbuatlah untuk kekayaannya dan kedudukan suaminya. sebab jika engkau dapat menyesuaikan dirimu kepada kehendak Zulaikha dan mengikuti segala perintahnya nescay engkau akan dianugerahi harta yang banyak dan mungkin pangkatmu pun akan dinaikkan."

Berucap seorang tamu lain memberi nasihat: "Wahai Yusuf! fikirkanlah baik-baik dan camkanlah nasihatku ini: Zulaikha sudah berketetapan hati harus mencapai tujuannya dan memperoleh akan apa yang dikehendakinya drpmu. Ia sudah terlanjur diejek dan dikecam orang dan sudah terlanjur namanya menjadi bualan di dalam masyarakat karena engkau maka dia mengancam bila engkau tetap berkeras kepala dan tidak melunakkan sikapmu terhadap tuntutannya, pasti ia akan memasukkan engkau ke dalam penjara sebagai penjahat dan penjenayah. Engkau mengetahui bahawa suami Zulaikha adlah Ketua Polis Negara yang berkuasa memenjarakan seseorang ke dalam tahanan dan engkau mengetahui pula bahwa Zulaikha sgt berpengaruh kepada suaminya. Sayangilah wahai Yusuf dirimu yang masih muda remaja dan tampan ini dan ikutilah perintah Zulaikha agar engkau selamat dan terhindar dari akibat yang kami tidak menginginkan ke atas dirimu."

Kata-kata nasihat dan bujukan para wanita, Tamu Zulaikha itu didengar oleh Yusuf dengan telinga kanan dan keluar ke telinga kirinya. Tidak suatu pun daripadanya yang dapat turun ke lubuk hatinya atau menjadi bahan penimbangannya. Akan tetapi walaupun ia percaya kepada dirinya, tidak akan terpengaruh oleh bujukan dan nasihat-nasihat itu, ia merasa khuatir, bahwa jika masih tinggal lama di tengah-tengah pergaulan itu akhirnya mungkin ia akan terjebak dan masuk ke dalam perangkap tipu daya dan tipu muslihat Zulaikha dan kawan-kawan wanitanya.

Berdoalah Nabi Yusuf memohon kepada Allah agar memberi ketetapan iman dan keteguhan tekad kepadanya spy tidak tersesat oleh godaan syaitan dan tipu muslihat kaum wanita yang akan menjerumuskannya ke dalam lembah kemaksiatan dan perbuatan mungkar. Berucaplah ia di dalam doanya: "Ya Tuhanku! sesungguhnya aku lebih suka dipenjarakan berbanding aku berada di luar tetapi harus memperturutkan hawa nafsu para wanita itu. Lindungilah aku wahai Tuhanku dari pergaulan orang-orang yang hendak membawaku ke jalan yang sesat dan memaksaku melakukan perbuatan yang Engkau tidak redhai. Bila aku dipenjarakan akan ku bulatkan fikiranku serta ibadahku kepadamu wahai Tuhanku. Jauhkanlah daripadaku rayuan dan tipu daya wanita-wanita itu, supaya aku tidak termasuk dari orang-orang yang bodoh dan sesat."

Futhifar, Ketua Polis Negara, Suami Zulaikha mengetahui dengan pasti bahwa Yusuf bersih dari tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Ianya pula sedar bahwa isterinyalah yang menjadi biang keladi dalam peristiwa yang sampai mencemarkan nama baik keluarganya. Akan tetapi ia tidak dapat berbuat selain mengikuti nasihat isterinya yang menganjurkan agar Yusuf dipenjarakan. Karena dengan memasukkan Yusuf ke dalam tahanan, pendapat umum akan berubah dan berbalik akan menuduh serta menganggap Yusuflah yang bersalah dalam peristiwa itu dan bukannya Zulaikha. Dengan demikian mrk berharap nama baiknya akan pulih kembali dan desas-desus serta kasak-kasuk masyarakat tentang rumahtanggannya akan berakhir. Demikianlah, maka perintah dikeluarkan oleh Futhifar dan masuklah Yusuf ke dalam penjara sesuai dengan doanya.

Isi cerita di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Yusuf ayat 22 sehingga ayat 35 :

"22. Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 23. Dan wanita {Zulaikha} yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya {kepadanya} dan dia menutup pintu-pintu seraya berkata: " Marilah kesini ". Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguh orang-orang yang zalim tidak akan beruntung. 24. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud {melakukan perbuatan itu} dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud {melakukan pula} dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda {dari} Tuhannya. Demikian agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. 25. Dan kedua-duanya berlumba-lumba menuju pintu dan wanita itu menarik baju kemeja Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu. Wanita itu berkata:" Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud berbuat serong dengan isterimu, selain dipenjarakan atau dihukum dengan azab yang pedih?" 26. Yusuf berkata:" Dia menggodaku untuk menundukkan diriku {kepadanya}." Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberi kesaksiannya:" Jika bajunya koyak dihadapan, maka wanita itu benar, dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. 27. Dan jika bajunya koyak dibelakang, mka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orang-orang yang benar". 28. Maka tatkala suami wanita itu melihat baju kemeja Yusuf koyak dari belakang berkatalah dia:" Sesungguhnya kejadian itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu besar". 29. Hai Yusuf:" Berpalinglah dari ini dan kamu {hai isteriku} mohon ampunlah atas doamu itu karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah". 30. Dan wanita-wanita di kota itu berkata:" Isteri Al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya kepadanya, sesungguhnya cintanya kepada bujangan itu adalah sgt mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan nyata." 31. Maka tatkala wanita itu {Zulaikha} mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebilah pisau {utk memotong jamuan} kemudian dia berkata {kepada Yusuf}:" Keluarlah {nampakkanlah dirimu} kepada mrk". Maka tatakala wanita-wanita itu melihatnya, mrk kagum kepada {keindahan rupa} nya dan mrk melukai {jari} tangannya dan berkata:" Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia". 32. Wanita itu {Zulaikha} berkata:" Itulah dia orang yang kamu cela aku karena {tertarik} kepadanya dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya {kepadaku} akan tetapi dia menolak. Dan sesungguhnya jika dia tidak mentaati apa yang aku perintahkan kepadanya nescaya dia akan dipenjarakan dan dia akan termasuk orang-orang yang hina". 33. Yusuf berkata:" Wahai Tuhanku penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan drpku tipu daya mrk tentu akan aku cenderung untuk {memenuhi keinginan mrk} dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". 34. Maka Tuhannya memperkenankan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 35. Kemudian ambil fikiran kepada mrk setelah melihat tanda-tanda {kebenaran Yusuf} bahwa mrk harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu". { Yusuf : 25 ~ 35 }
Read more

0 Hijrah Nabi Muhammad

Perintah Hijrah
RENCANA Quraisy akan membunuh Muhammad pada malam hari, karena dikuatirkan ia akan hijrah ke Medinah dan memperkuat diri di sana serta segala bencana yang mungkin menimpa Mekah dan menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya, beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tak ada orang yang menyangsikan, bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan itu untuk hijrah. Akan tetapi, karena begitu kuat ia dapat menyimpan rahasia itu, sehingga tiada seorangpun yang mengetahui, juga Abu Bakr, orang yang pernah menyiapkan dua ekor unta kendaraan tatkala ia meminta ijin kepada Nabi akan hijrah, yang lalu ditangguhkan, hanya sedikit mengetahui soalnya. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Mekah ketika ia sudah mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Dalam ia menantikan perintah Tuhan yang akan mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakr dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengijinkan ia hijrah. Dimintanya Abu Bakr supaya menemaninya dalam hijrahnya itu, yang lalu diterima baik oleh Abu Bakr.

Di sinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya, demi kebenaran, keyakinan dan iman. Sebelum itu Abu Bakr memang sudah menyiapkan dua ekor untanya yang diserahkan pemeliharaannya kepada Abdullah b. Uraiqiz sampai nanti tiba waktunya diperlukan. Tatkala kedua orang itu sudah siap-siap akan meninggalkan Mekah mereka sudah yakin sekali, bahwa Quraisy pasti akan membuntuti mereka. Oleh karena itu Muhammad memutuskan akan menempuh jalan lain dari yang biasa, Juga akan berangkat bukan pada waktu yang biasa.

Ali di Tempat Tidur Nabi
Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikuatirkan ia akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali b. Abi Talib supaya memakai mantelnya yang hijau dari Hadzramaut dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Dalam pada itu pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy, dari sebuah celah mengintip ke tempat tidur Nabi. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan merekapun puas bahwa dia belum lari.

Di Gua Thaur
Tetapi, menjelang larut malam waktu itu, dengan tidak setahu mereka Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakr. Kedua orang itu kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju gua Thaur. Bahwa tujuan kedua orang itu melalui jalan sebelah kanan adalah di luar dugaan.

Tiada seorang yang mengetahui tempat persembunyian mereka dalam gua itu selain Abdullah b. Abu Bakr, dan kedua orang puterinya Aisyah dan Asma, serta pembantu mereka 'Amir b. Fuhaira. Tugas Abdullah hari-hari berada di tengah-tengah Quraisy sambil mendengar-dengarkan permufakatan mereka terhadap Muhammad, yang pada malam harinya kemudian disampaikannya kepada Nabi dan kepada ayahnya. Sedang 'Amir tugasnya menggembalakan kambing Abu Bakr' sorenya diistirahatkan, kemudian mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Apabila Abdullah b. Abi Bakr keluar kembali dari tempat mereka, datang 'Amir mengikutinya dengan kambingnya guna menghapus jejaknya.

Kedua orang itu tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha sungguh-sungguh mencari mereka tanpa mengenal lelah. Betapa tidak. Mereka melihat bahaya sangat mengancam mereka kalau mereka tidak berhasil menyusul Muhammad dan mencegahnya berhubungan dengan pihak Yathrib. Selama kedua orang itu berada dalam gua, tiada hentinya Muhammad menyebut nama Allah. KepadaNya ia menyerahkan nasibnya itu dan memang kepadaNya pula segala persoalan akan kembali. Dalam pada itu Abu Bakr memasang telinga. Ia ingin mengetahui adakah orang-orang yang sedang mengikuti jejak mereka itu sudah berhasil juga.

Kemudian pemuda-pemuda Quraisy - yang dari setiap kelompok di ambil seorang itu - datang. Mereka membawa pedang dan tongkat sambil mundar-mandir mencari ke segenap penjuru. Tidak jauh dari gua Thaur itu mereka bertemu dengan seorang gembala, yang lalu ditanya.

"Mungkin saja mereka dalam gua itu, tapi saya tidak melihat ada orang yang menuju ke sana."

Ketika mendengar jawaban gembala itu Abu Bakr keringatan. Kuatir ia, mereka akan menyerbu ke dalam gua. Dia menahan napas tidak bergerak, dan hanya menyerahkan nasibnya kepada Tuhan. Lalu orang-orang Quraisy datang menaiki gua itu, tapi kemudian ada yang turun lagi.

"Kenapa kau tidak menjenguk ke dalam gua?" tanya kawan-kawannya.

"Ada sarang laba-laba di tempat itu, yang memang sudah ada sejak sebelum Muhammad lahir," jawabnya. "Saya melihat ada dua ekor burung dara hutan di lubang gua itu. Jadi saya mengetahui tak ada orang di sana."

Muhammad makin sungguh-sungguh berdoa dan Abu Bakr juga makin ketakutan. Ia merapatkan diri kepada kawannya itu dan Muhammad berbisik di telinganya:

"Jangan bersedih hati. Tuhan bersama kita."

Dalam buku-buku hadis ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa setelah terasa oleh Abu Bakr bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik:

"Kalau mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat kita."

"Abu Bakr, kalau kau menduga bahwa kita hanya berdua, ketiganya adalah Tuhan," kata Muhammad.

Orang-orang Quraisy makin yakin bahwa dalam gua itu tak ada manusia tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Kedua orang bersembunyi itu mendengar seruan mereka supaya kembali ke tempat semula. Kepercayaan dan iman Abu Bakr bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul.

"Alhamdulillah, Allahuakbar!" kata Muhammad kemudian.

Sarang laba-laba, dua ekor burung dara dan pohon. Inilah mujizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam gua Thaur itu. Dan pokok mujizatnya ialah karena segalanya itu tadinya tidak ada. Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah laba-laba menganyam sarangnya guna menutup orang yang dalam gua itu dari penglihatan. Dua ekor burung dara datang pula lalu bertelur di jalan masuk. Sebatang pohonpun tumbuh di tempat yang tadinya belum ditumbuhi. Sehubungan dengan mujizat ini Dermenghem mengatakan:

"Tiga peristiwa itu sajalah mujizat yang diceritakan oleh sejarah Islam yang benar-benar: sarang laba-laba, hinggapnya burung dara dan tumbuhnya pohon-pohonan. Dan ketiga keajaiban ini setiap hari persamaannya selalu ada di muka bumi."

Akan tetapi mujizat begini ini tidak disebutkan dalam Sirat Ibn Hisyam ketika menyinggung cerita gua itu. Paling banyak oleh ahli sejarah ini disebutkan sebagai berikut:

"Mereka berdua menuju ke sebuah gua di Gunung Thaur sebuah gunung di bawah Mekah - lalu masuk ke dalamnya. Abu Bakr meminta anaknya Abdullah supaya mendengar-dengarkan apa yang dikatakan orang tentang mereka itu siang hari, lalu sorenya supaya kembali membawakan berita yang terjadi hari itu. Sedang 'Amir b. Fuhaira supaya menggembalakan kambingnya siang hari dan diistirahatkan kembali bila sorenya ia kembali ke dalam gua. Ketika itu, bila hari sudah sore Asma, datang membawakan makanan yang cocok buat mereka ... Rasulullah s.a.w. tinggal dalam gua selama tiga hari tiga malam. Ketika ia menghilang Quraisy menyediakan seratus ekor unta bagi barangsiapa yang dapat mengembalikannya kepada mereka. Sedang Abdullah b. Abi Bakr siangnya berada di tengah-tengah Quraisy mendengarkan permufakatan mereka dan apa yang mereka percakapkan tentang Rasulullah s.aw. dan Abu Bakr, sorenya ia kembali dan menyampaikan berita itu kepada mereka.


'Amir b. Fuhaira - pembantu Abu Bakr - waktu itu menggembalakan ternaknya di tengah-tengah para gembala Mekah, sorenya kambing Abu Bakr itu diistirahatkan, lalu mereka memerah susu dan menyiapkan daging. Kalau paginya Abdullah b. Abi Bakr bertolak dari tempat itu ke Mekah, 'Amir b. Fuhaira mengikuti jejaknya dengan membawa kambing supaya jejak itu terhapus. Sesudah berlalu tiga hari dan orangpun mulai tenang, aman mereka, orang yang disewa datang membawa unta kedua orang itu serta untanya sendiri... dan seterusnya."

Demikian Ibn Hisyam menerangkan mengenai cerita gua itu yang kami nukilkan sampai pada waktu Muhammad dan sahabatnya keluar dari sana.

Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu serta tentang cerita gua ini datang firman Tuhan demikian:

"Ingatlah tatkala orang-orang kafir (Quraisy) itu berkomplot membuat rencana terhadap kau, hendak menangkap kau, atau membunuh kau, atau mengusir kau. Mereka membuat rencana dan Allah membuat rencana pula. Allah adalah Perencana terbaik." (Qur'an, 8: 30)

"Kalau kamu tak dapat menolongnya, maka Allah juga Yang telah menolongnya tatkala dia diusir oleh orang-orang kafir (Quraisy). Dia salah seorang dari dua orang itu, ketika keduanya berada dalam gua. Waktu itu ia berkata kepada temannya itu: 'Jangan bersedih hati, Tuhan bersama kita!' Maka Tuhan lalu memberikan ketenangan kepadanya dan dikuatkanNya dengan pasukan yang tidak kamu lihat. Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itu juga yang rendah dan kalam Allah itulah yang tinggi. Dan Allah Maha Kuasa dan Bijaksana." (Qur'an, 9: 40)

Berangkat Ke Yathrib
Pada hari ketiga, bila mereka berdua sudah mengetahui, bahwa orang sudah tenang kembali mengenai diri mereka, orang yang disewa tadi datang membawakan unta kedua orang itu serta untanya sendiri. Juga Asma, puteri Abu Bakr datang membawakan makanan. Oleh karena ketika mereka akan berangkat tak ada sesuatu yang dapat dipakai menggantungkan makanan dan minuman pada pelana barang, Asma, merobek ikat pinggangnya lalu sebelahnya dipakai menggantungkan makanan dan yang sebelah lagi diikatkan. Karena itu ia lalu diberi nama "dhat'n-nitaqain" (yang bersabuk dua).

Mereka berangkat. Setiap orang mengendarai untanya sendiri-sendiri dengan membawa bekal makanan. Abu Bakr membawa limaribu dirham dan itu adalah seluruh hartanya yang ada. Mereka bersembunyi dalam gua itu begitu ketat. Karena mereka mengetahui pihak Quraisy sangat gigih dan hati-hati sekali membuntuti, maka dalam perjalanan ke Yathrib itu mereka mengambil jalan yang tidak biasa ditempuh orang. Abdullah b. 'Uraiqit - dari Banu Du'il - sebagai penunjuk jalan, membawa mereka hati-hati sekali ke arah selatan di bawahan Mekah, kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah. Oleh karena mereka melalui jalan yang tidak biasa ditempuh orang, di bawanya mereka ke sebelah utara di seberang pantai itu, dengan agak menjauhinya, mengambil jalan yang paling sedikit dilalui orang.

Kedua orang itu beserta penunjuk jalannya sepanjang malam dan di waktu siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan, tidak lagi mereka mengenal lelah. Ya, kesulitan mana yang lebih mereka takuti daripada tindakan Quraisy yang akan merintangi mereka mencapai tujuan yang hendak mereka capai demi jalan Allah dan kebenaran itu! Memang, Muhammad sendiri tidak pernah mengalami kesangsian, bahwa Tuhan akan menolongnya, tetapi "jangan kamu mencampakkan diri ke dalam bencana." Allah menolong hambaNya selama hamba menolong dirinya dan menolong sesamanya. Mereka telah melangkah dengan selamat selama dalam gua.

Cerita Suraqa B. Ju'syum
Akan tetapi apa yang dilakukan Quraisy bagi barangsiapa yang dapat mengembalikan mereka berdua atau dapat menunjukkan tempat mereka, wajar sekali akan menarik hati orang yang hanya tertarik pada hasil materi meskipun akan diperoleh dengan jalan kejahatan. Apalagi jika kita ingat orang-orang Arab Quraisy itu memang sudah menganggap Muhammad musuh mereka. Dalam jiwa mereka terdapat suatu watak tipu-muslihat, bahwa membunuh orang yang tidak bersenjata dan menyerang pihak yang tak dapat mempertahankan diri, bukan suatu hal yang hina. Jadi, dua orang itu harus benar-benar waspada, harus membuka mata, memasang telinga dan penuh kesadaran selalu.

Dugaan kedua orang itu tidak meleset. Sudah ada orang yang datang kepada Quraisy membawa kabar, bahwa ia melihat serombongan kendaraan unta terdiri dari tiga orang lewat.

Mereka yakin itu adalah Muhammad dan beberapa orang sahabatnya. Waktu itu Suraqa b. Malik b. Ju'syum hadir.

"Ah, mereka itu Keluarga sianu," katanya dengan maksud mengelabui orang itu, sebab dia sendiri ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Sebentar ia masih tinggal bersama orang-orang itu. Tetapi kemudian ia segera pulang ke rumahnya. Disiapkannya senjatanya dan disuruhnya orang membawakan kudanya ke tengah-tengah wadi supaya waktu ia keluar nanti tidak dilihat orang. Selanjutnya dikendarainya kudanya dan dipacunya ke arah yang disebutkan orang itu tadi.

Sementara itu Muhammad dan kedua temannya sudah mengaso di bawah naungan sebuah batu besar, sekadar beristirahat dan menghilangkan rasa lelah sambil makan-makan dan minum, dan sekadar mengembalikan tenaga dan kekuatan baru.

Matahari sudah mulai bergelincir, Muhammad dan Abu Bakr pun sudah pula mulai memikirkan akan menaiki untanya mengingat bahwa jaraknya dengan Suraqa sudah makin dekat. Dan sebelum itu kuda Suraqa sudah dua kali tersungkur karena terlampau dikerahkan. Tetapi setelah penunggang kuda itu melihat bahwa ia sudah hampir berhasil dan menyusul kedua orang itu - lalu akan membawa mereka kembali ke Mekah atau membunuh mereka bila mencoba membela diri - ia lupa kudanya yang sudah dua kali tersungkur itu, karena saat kemenangan rasanya sudah di tangan. Akan tetapi kuda itu tersungkur sekali lagi dengan keras sekali, sehingga penunggangnya terpelanting dari punggung binatang itu dan jatuh terhuyung-huyung dengan senjatanya. Lalu diramalkan oleh Suraqa bahwa itu suatu alamat buruk dan dia percaya bahwa sang dewa telah melarangnya mengejar sasarannya itu dan bahwa dia akan berada dalam bahaya besar apabila sampai keempat kalinya ia terus berusaha juga. Sampai di situ ia berhenti dan hanya memanggil-manggil:

"Saya Suraqa bin Ju'syum! Tunggulah, saya mau bicara. Demi Allah, tuan-tuan jangan menyangsikan saya. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang akan merugikan tuan-tuan."

Setelah kedua orang itu berhenti melihat kepadanya, dimintanya kepada Muhammad supaya menulis sepucuk surat kepadanya sebagai bukti bagi kedua belah pihak. Dengan permintaan Nabi, Abu Bakr lalu menulis surat itu di atas tulang atau tembikar yang lalu dilemparkannya kepada Suraqa.

Setelah diambilnya oleh Suraqa surat itu ia kembali pulang. Sekarang, bila ada orang mau mengejar Muhajir Besar itu olehnya dikaburkan, sesudah tadinya ia sendiri yang mengejarnya.

Muhammad dan kawannya itu kini berangkat lagi melalui pedalaman Tihama dalam panas terik yang dibakar oleh pasir sahara. Mereka melintasi batu-batu karang dan lembah-lembah curam. Dan sering pula mereka tidak mendapatkan sesuatu yang akan menaungi diri mereka dari letupan panas tengah hari tak ada tempat berlindung dari kekerasan alam yang ada di sekitarnya, tak ada keamanan dari apa yang mereka takuti atau dari yang akan menyerbu mereka tiba-tiba, selain dari ketabahan hati dan iman yang begitu mendalam kepada Tuhan. Keyakinan mereka besar sekali akan kebenaran yang telah diberikan Tuhan kepada RasulNya itu.

Selama tujuh hari terus-menerus mereka dalam keadaan serupa itu. Mengaso di bawah panas membara musim kemarau dan berjalan lagi sepanjang malam mengarungi lautan padang pasir. Hanya karena adanya ketenangan hati kepada Tuhan dan adanya kedip bintang-bintang yang berkilauan dalam gelap malam itu, membuat hati dan perasaan mereka terasa lebih aman.

Bilamana kedua orang itu sudah memasuki daerah kabilah Banu Sahm dan datang pula Buraida kepala kabilah itu menyambut mereka, barulah perasaan kuatir dalam hatinya mulai hilang. Yakin sekali mereka pertolongan Tuhan itu ada.

Muslimin Madinah Menantikan Kedatangan Rasul
Jarak mereka dengan Yathrib kini sudah dekat sekali. Selama mereka dalam perjalanan yang sungguh meletihkan itu, berita-berita tentang hijrah Nabi dan sahabatnya yang akan menyusul kawan-kawan yang lain, sudah tersiar di Yathrib. Penduduk kota ini sudah mengetahui, betapa kedua orang ini mengalami kekerasan dari Quraisy yang terus-menerus membuntuti. Oleh karena itu semua kaum Muslimin tetap tinggal di tempat itu menantikan kedatangan Rasulullah dengan hati penuh rindu ingin melihatnya, ingin mendengarkan tutur katanya. Banyak di antara mereka itu yang belum pernah melihatnya, meskipun sudah mendengar tentang keadaannya dan mengetahui pesona bahasanya serta keteguhan pendiriannya. Semua itu membuat mereka rindu sekali ingin bertemu, ingin melihatnya. Orangpun sudah akan dapat mengira-ngirakan, betapa dalamnya hati mereka itu terangsang tatkala mengetahui, bahwa orang-orang terkemuka Yathrib yang sebelum itu belum pernah melihat Muhammad sudah menjadi pengikutnya hanya karena mendengar dari sahabat-sahabatnya saja, kaum Muslimin yang gigih melakukan dakwah Islam dan sangat mencintai Rasulullah itu.

Islam di Yathrib
Sa'id b. Zurara dan Mush'ab b. 'Umair sedang duduk-duduk dalam salah sebuah kebun Banu Zafar. Beberapa orang yang sudah menganut Islam juga berkumpul di sana. Berita ini kemudian sampai kepada Sa'd b. Mu'adh dan 'Usaid b. Hudzair, yang pada waktu itu merupakan pemimpin-pemimpin golongannya masing-masing.

"Temui dua orang itu," kata Said kepada 'Usaid, "yang datang ke daerah kita ini dengan maksud supaya orang-orang yang hina-dina di kalangan kita dapat merendahkan keluarga kita. Tegur mereka itu dan cegah. Sebenarnya Said b. Zurara itu masih sepupuku dari pihak ibu, jadi saya tidak dapat mendatanginya."

'Usaidpun pergi menegur kedua orang itu. Tapi Mush'ab menjawab:

"Maukah kau duduk dulu dan mendengarkan?" katanya. "Kalau hal ini kau setujui dapatlah kauterima, tapi kalau tidak kausukai maukah kau lepas tangan?"

"Adil kau," kata 'Usaid, seraya menancapkan tombaknya di tanah. Ia duduk dengan mereka sambil mendengarkan keterangan Mush'ab, yang ternyata sekarang ia sudah menjadi seorang Muslim. Bila ia kembali kepada Sa'd wajahnya sudah tidak lagi seperti ketika berangkat. Hal ini membuat Sa'd jadi marah. Dia sendiri lalu pergi menemui dua orang itu. Tetapi kenyataannya ia seperti temannya juga.

Karena pengaruh kejadian itu Sa'd lalu pergi menemui golongannya dan berkata kepada mereka:

"Hai Banu 'Abd'l-Asyhal. Apa yang kamu ketahui tentang diriku di tengah-tengah kamu sekalian?"
"Pemimpin kami, yang paling dekat kepada kami, dengan pandangan dan pengalaman yang terpuji," jawab mereka.

"Maka kata-katamu, baik wanita maupun pria bagiku adalah suci selama kamu beriman kepada Allah dan RasulNya."

Sejak itu seluruh suku 'Abd'l-Asyhal, pria dan wanita masuk Islam.

Tersebarnya Islam di Yathrib dan keberanian kaum Muslimin di kota itu sebelum hijrah Nabi ke tempat tersebut sama sekali di luar dugaan kaum Muslimin Mekah. Beberapa pemuda Muslimin dengan tidak ragu-ragu mempermainkan berhala-berhala kaum musyrik di sana. Seseorang yang bernama 'Amr bin'l-Jamuh mempunyai sebuah patung berhala terbuat daripada kayu yang dinamainya Manat, diletakkan di daerah lingkungannya seperti biasa dilakukan oleh kaum bangsawan. 'Amr ini adalah seorang pemimpin Banu Salima dan dari kalangan bangsawan mereka pula. Sesudah pemuda-pemuda golongannya itu masuk Islam malam-malam mereka mendatangi berhala itu lalu di bawanya dan ditangkupkan kepalanya ke dalam sebuah lubang yang oleh penduduk Yathrib biasa dipakai tempat buang air.

Bila pagi-pagi berhala itu tidak ada 'Amr mencarinya sampai diketemukan lagi, kemudian dicucinya dan dibersihkan lalu diletakkannya kembali di tempat semula, sambil ia menuduh-nuduh dan mengancam. Tetapi pemuda-pemuda itu mengulangi lagi perbuatannya mempermainkan Manat 'Amr itu, dan diapun setiap hari mencuci dan membersihkannya. Setelah ia merasa kesal karenanya, diambilnya pedangnya dan digantungkannya pada berhala itu seraya ia berkata: "Kalau kau memang berguna, bertahanlah, dan ini pedang bersama kau."

Tetapi keesokan harinya ia sudah kehilangan lagi, dan baru diketemukannya kembali dalam sebuah sumur tercampur dengan bangkai anjing. Pedangnya sudah tak ada lagi.

Sesudah kemudian ia diajak bicara oleh beberapa orang pemuka-pemuka masyarakatnya dan sesudah melihat dengan mata kepala sendiri betapa sesatnya hidup dalam syirik dan paganisma itu, yang hakekatnya akan mencampakkan jiwa manusia ke dalam jurang yang tak patut lagi bagi seorang manusia, iapun masuk Islam.

Melihat Islam yang sudah mencapai martabat begitu tinggi di Yathrib, akan mudah sekali orang menilai, betapa memuncaknya kerinduan penduduk kota itu ingin menyambut kedatangan Muhammad, setelah mereka mengetahui ia sudah hijrah dari Mekah. Setiap hari selesai sembahyang Subuh mereka pergi ke luar kota menanti-nantikan kedatangannya sampai pada waktu matahari terbenam dalam hari-hari musim panas bulan Juli.

Dalam pada itu ia sudah di Quba' - dua farsakh jauhnya dari Medinah. Empat hari ia tinggal di tempat itu, ditemani oleh Abu Bakr. Selama masa empat hari itu mesjid Quba' dibangunnya. Sementara itu datang pula Ali b. Abi-Talib ke tempat itu setelah mengembalikan barang-barang amanat - yang dititipkan kepada Muhammad - kepada pemilik-pemiliknya di Mekah. Setelah itu ia sendiri meninggalkan Mekah, menempuh perjalanannya ke Yathrib dengan berjalan kaki. Malam hari ia berjalan, siangnya bersembunyi. Perjuangan yang sangat meletihkan itu ditanggungnya selama dua minggu penuh, yaitu untuk menyusul saudara-saudaranya seagama.

Muhammad Memasuki Madinah

Sementara kaum Muslimin Yathrib pada suatu hari sedang menanti-nantikan seperti biasa tiba-tiba datang seorang Yahudi yang sudah mengetahui apa yang sedang mereka lakukan itu berteriak kepada mereka.

"Hai, Banu Qaila1 ini dia kawan kamu datang!"

Hari itu adalah hari Jum'at dan Muhammad berjum'at di Medinah. Di tempat itulah, ke dalam mesjid yang terletak di perut Wadi Ranuna itulah kaum Muslimin datang, masing-masing berusaha ingin melihat serta mendekatinya. Mereka ingin memuaskan hati terhadap orang yang selama ini belum pernah mereka lihat, hati yang sudah penuh cinta dan rangkuman iman akan risalahnya, dan yang selalu namanya disebut pada setiap kali sembahyang.

Orang-orang terkemuka di Medinah menawarkan diri supaya ia tinggal pada mereka dengan segala persediaan dan persiapan yang ada. Tetapi ia meminta maaf kepada mereka. Kembali ia ke atas unta betinanya, dipasangnya tali keluannya, lalu ia berangkat melalui jalan-jalan di Yathrib, di tengah-tengah kaum Muslimin yang ramai menyambutnya dan memberikan jalan sepanjang jalan yang diliwatinya itu. Seluruh penduduk Yathrib, baik Yahudi maupun orang-orang pagan menyaksikan adanya hidup baru yang bersemarak dalam kota mereka itu, menyaksikan kehadiran seorang pendatang baru, orang besar yang telah mempersatukan Aus dan Khazraj, yang selama itu saling bermusuhan, saling berperang. Tidak terlintas dalam pikiran mereka - pada saat ini, saat transisi sejarah yang akan menentukan tujuannya yang baru itu - akan memberikan kemegahan dan kebesaran bagi kota mereka, dan yang akan tetap hidup selama sejarah ini berkembang.

Dibiarkannya unta itu berjalan. Sesampainya ke sebuah tempat penjemuran kurma kepunyaan dua orang anak yatim dari Banu'n-Najjar, unta itu berlutut (berhenti). Ketika itulah Rasul turun dari untanya dan bertanya:

"Kepunyaan siapa tempat ini?" tanyanya.

"Kepunyaan Sahl dan Suhail b. 'Amr," jawab Ma'adh b. 'Afra'. Dia adalah wali kedua anak yatim itu. Ia akan membicarakan soal tersebut dengan kedua anak itu supaya mereka puas. Dimintanya kepada Muhammad supaya di tempat itu didirikan mesjid.

Muhammad mengabulkan permintaan tersebut dan dimintanya pula supaya di tempat itu didirikan mesjid dan tempat-tinggalnya.

===============
Catatan kaki:
[1] Aus dan Khazraj (A).
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger