Wahabi: Pembaharuan Dalam Pemikiran Islam

Kita belakangan makin sering men-dengar istilah baru: "Islamisme." Istilah ini merujuk kepada fenomena di mana Islam dipandang sebagai ideologi, bukan sekadar agama. Istilah itu merujuk kepada ekspresi sosial dan politik Islam. Tapi istilah itu juga mengacu kepada penerapan prinsip-prinsip Islam dalam ekonomi, ilmu pengetahuan, dan seterusnya.

"Islamisme" makin menggeser "funda-mentalisme," yang sebelumnya populer. Ini positif. "Fundamentalisme" berasal dari penolakan Kristen Evangelis di AS, di awal abad ke-20, terhadap dimasukkannya temuan-temuan sains mutakhir, seperti teori Darwin, ke dalam kurikulum sekolah. Ketika mereka kalah di pengadilan, mereka menerbitkan The Fundamentals of the Christian Faith, dari mana "fundamentalisme" berasal. Penerapan "fundamentalisme" untuk kasus Islam jelas tidak cocok, karena penger-tiannya jauh berbeda.

Makna "Islamisme" perlu ditegaskan kembali dan direhabilitasi. Keragamannya perlu digarisbawahi. Ini memang tidak akan sepenuhnya membebaskan kita dari simplifikasi. Tetapi dengannya kita dimungkinkan untuk menisbatkan se-suatu secara lebih adil, fair, kepada seorang atau sekelompok Muslim.

Tanggapan dominan pertama muncul dalam bentuk Wahabisme, paham dan gerakan Islam yang diinisiasikan Muhammad ibn Abd al-Wahhab pada abad ke-18. Paham ini belakangan menjadi paham resmi Arab Saudi, yang kemudian, berkat dana minyak, di-sebarluaskan ke seluruh dunia. Para pendukung paham ini menekankan pentingnya doktrin tauhid (mereka menyebut diri al-muwahhidun), yang salah satu eksesnya adalah pemurnian Islam dari apa yang oleh mereka disebut syirik. Karena fanatisme tinggi para pendukungnya, pada titik tertentu Wahabisme menerapkan takfir (meng-afirkan) atas kaum Muslim yang tidak sepaham dengan mereka.

Memasuki abad ke-20, krisis yang melanda dunia Islam makin parah dengan makin intensifnya kolonialisme dan dibubarkannya kekhalifahan Utsmani pada 1924. Semua ini mempengaruhi pemikiran dan gerakan kaum Islamis. Perang-perang melawan kolonialisme makin sering menggunakan pikiran.

Beragam variasi Islamis di atas juga dapat ditemukan di Indonesia, dengan corak lokal tertentu. Wahabisme amat terasa pengaruhnya pada gerakan Padri di Padang. Belakangan, dengan mengusung nama gerakan Salafi.

A. Biografi Muhammad Bin Abdul Wahab
Saat Islam jatuh ke jurang keruntuhan (abad ke-18), kerusakan budi dan moral amat parah. Pendidikan terhenti, pemerintahan menjadi despotis, kadang terjadi anarki, agama membeku, ketauhidan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW telah diselubungi khurafat, mesjid-mesjid ditinggalkan oleh golongan besar yang awam, azimat dan penangkal penyakit merajalela sebagai “kepercayaan baru” umat, menziarahi kuburan “orang-orang keramat” mentradisi, pemujaan terhadap “orang-orang suci” yang dijadikan sebagai “perantara” komunikasi dengan tuhan, menggejala. Minum arak dan mengisap candu jadi hal biasa, pelacuran merajalela, dan akhlak merosot serta kehormatan diri rusak.

Dunia Islam diliputi kegelapan. Tapi tiba-tiba, bergemalah seruan dari padang pasir yang luas – tempat lahir Islam di tanah Arab – memanggil Umat Islam kembali ke jalan yang benar. Adalah Muhammad bin Abdul Wahab yang menggemakan seruan itu. Ia menggerakkan Umat Islam untuk memperbaiki jiwa dan membangkitkan kemegahan dan kebesaran Islam.

Abdul Wahab adalah sosok pembaharu yang cukup berpengaruh sekaligus berhasil menggedor mata hati umat. Ia melancarkan gerakan pembaharuannya berdasarkan ide-ide Ibnu Taimiyah. Gerakannya ini dikenal dengan Wahabiyah atau Wahabisme, suatu gerakan pemurnian ajaran Islam yang berkembang menjadi gerakan pembaharuan pemikiran umat Islam. Muhammad bin Abdul Wahab lahir di desa Ainiyah Nejed pada tahun 1703M/1115H. Ia lahir di tengah lingkungan masyarakat yang berpegang teguh pada ajaran Islam yang sederhana dan asli, sesuai dengan watak Arabnya.

Semenjak kecil Abdul Wahab amat tertarik mendalami agama. Pada tahap awal, ia belajar agama pada ayahnya sendiri, yaitu Abdul Wahab, seorang ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Pada usia remaja, seusai menunaikan ibadah haji, untuk kedua kalinya ia pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu dan tinggal di sana. Di Madinah ia berguru pada dua orang ulama bernama Sulaiman al Kurdi dan Muhammad Hajad al Sindi. Setelah itu, ia melanjutkan petualangannya ke Irak, tepatnya ke Basrah selama 4 tahun dan Baghdad 5 tahun.

Di Baghdad ia menikah dengan wanita kaya raya. Ketika istrinya meninggal, ia merantau lagi ke Kurdistan selama 1 tahun, dan selama beberapa tahun ke Hamadan dan Isfahan (Iran). Ia pun mendalami ilmu filsafat dan tasawuf selama di Iran. Akhirnya, ia kembali lagi ke Nejed.

Dalam perantauannya, Abdul Wahab menyaksikan berbagai bentuk praktek agama yang – menurutnya – jauh menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Ia melihat maraknya pemujaan terhadap wali, kuburan, dan lain-lain. Salah satu aspek yang cukup mendapat perhatian dari Abdul Wahab adalah masalah taklid (mengikuti pendapat/paham orang lain secara membabi buta) yang merupakan sumber kebekuan atau kejumudan pemikiran Umat Islam sendiri. Padahal untuk memahami ajaran yang terkandung dalam Al Qur’an dan Hadits, orang harus berijtihad. Karena itu, pintu ijtihad tidak perlu ditutup.

Ketika kembali ke Nejed Abdul Wahab bertekad untuk menyebarkan reformasi dan pemurnian Islam, menggedor pintu hati dan pikiran umat. Pada tahun 1714 M, di usia yang masih muda, ia memulai gerakan pembaharuannya berdasarkan ide-ide pembaharuan Islam Ibnu Taimiyah yang telah didalaminya melalui kitab-kitabnya. Lahirnya Wahabisme yang kata Rifyal Ka’bah dalam Islam dan Fundamentalisme (1984), menyalahkan pemujaan orang-orang shaleh dan menentang semua khurafat dan bid’ah. Wahabisme telah menjiwai gerakan untuk kembali pada monoteisme (tauhid) seperti yang ada di masyarakat Islam pada permulaan sejarah Islam.

Praktek-praktek bid’ah dan syirik dipandang Abdul Wahab sebagai situasi jahiliyah. Pokok pemikirannya lebih terarah pada “gerakan pemurnian ajaran tauhid” yang muncul sebagai reaksi atas paham ajaran tauhid yang berkembang (dan menyimpang).

Gerakan Wahabisme makin berkembang berkat dukungan seorang penguasa Nejed, yakni Muhammad Ibnu Saud. Lambat laun padang pasir Arab ditempa oleh “duet” Wahab – Saud dan menjadi kesatuan politik keagamaan, seperti yang diwujudkan Nabi Muhammad SAW. Muhammad Ibnu Saud memang menjadi pengikut Wahabisme fanatik pertama dan utama. Keturunannya pun hingga sekarang, yakni keluarga kerajaan Arab Saudi, menjadi pendukung utama Wahabisme.

Abdul Wahab wafat tahun 1787M/1206H. Awal abad XX Wahabisme bangkit kembali di bawah kepemimpinan putera Muhammad Ibnu Saud, yakni Abdul Aziz Ibnu Saud. Penguasa Nejed yang baru, berhasil menaklukan Makkah (1924), Madinah (1925), Jeddah, dan daerah sekitarnya. Pada tahun 1926 ia mengumumkan dirinya sebagai raja Hijaz. Tahun 1932 ia mendirikan kerajaan Arab Saudi. Secara turun temurun, keturunannya pun menjadi Raja Saudi, hingga Raja Fahd saat ini.

B. Pengertian Wahabi dan Hubungannya dengan Mazhab Fiqh.
Istilah 'wahabi' sebenarnya bukan istilah baku dalam literatur Islam. Dan pengindentifikasian wahabi kepada sebagian umat Islam pun kurang objektif. Dan orang-orang yang dijuluki sebagai 'wahabi' juga menolak penamaan ini kepada diri mereka. Meski mereka pendukung Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, namun mereka bilang bahwa yang ulama adalah Muhammad, bukan Abdul Wahhab. Abdul Wahhab adalah ayahnya.Tetapi untuk memudahkan menyebutannya, untuk sementara bolehlah kita gunakan istilah ini, meski kita letakkan di tengah tanda kutip.

Sebenarnya penyebutan `Wahabi` bila kita telusuri dari asal katanya mengacu kepada tokoh ulama besar di tanah Arab yang bernama lengkap Syeikh Muhamad bin Abdul Wahhab At-Tamimi Al-Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M).Beliau lahir di Uyainah, salah satu wilayah di jazirah Arab. Sebenarnya secara fiqih, beliau lahir dan dibesarkan serta belajar Islam dalam mazhab Hanbali.

Dakwah beliau banyak disambut ketika beliau datang di Dir`iyah bahkan beliau dijadikan guru dan dimuliakan oleh penguasa setempat sat yaitu amir (pangeran) Muhammad bin Su`ud, yang berkuasa 1139-1179 H. Oleh Amir Muhammad bin Su'ud, dakwah beliau ditegakkan dan akhirnya menjadi semacam gerakan nasional di seluruh wilayah Saudi Arabia hingga hari ini.

Sebenarnya agak sulit juga untuk menjelaskan hubungan antara 'wahabi' dengan keempat mazhab fiqih. Sebab keduanya tidak saling terkait dan bukan dua hal yang bisa dibandingkan.

Kalau mazhab fiqih adalah gerakan ilmiyah dalam bidang ilmu fiqih, sehingga mampu membuat sistem dan metodologi ilmiyah dalam mengistimbath hukum dari dalil-dalil yang bertaburan baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, maka gerakan wahabi lebih merupakan gerakan dakwah memberantas syirik dan bid'ah, ketimbang aktifitas keilmuan.

Kalau para ahli fiqih empat mazhab adalah pelopor di bidang ijtihad dan mereka hidup di awal perkembangan Islam, sekitar abad pertama dan kedua hijriyah, maka sosok Muhammad bin Abdul Wahhab adalah sosok yang hidup di akhir zaman, muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan berpikir pemikiran dunia Islam.Sekitar 2 abad yang lampau atau tepatnya pada abad ke-12 hijriyah. Intinya, apa yang beliau lakukan adalah menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya.

Fenomena umat yang dihadapi antara para imam mazhab dengan Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berbeda konteksnya. Di zaman para fuqaha mazhab, umat Islam sedang mengalami masa awal dari kejayaan, peradaban Islam sedang mengalami perluasan ke berbagai penjuru dunia. Sehingga dibutuhkan sistem hukum yang sistematis dan bisa menjawab problematika hukum dan fiqih.

Sementara fenomena sosial umat di zaman Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat berbeda. Saat itu umat Islam sedang mengalami masa kemundurannya.Salah satu fenomenanya adalah munculnya banyak penyimpangan dalam praktek ibadah, bahkan menjurus kepada bentuk syirik dan bid'ah. Banyak dari umat Islam yang menjadikan kuburan sebagai tempat pemujaan dan meminta kepada selain Allah. Kemusyrikan merajalela. Bid`ah, khurafat dan takhayyul menjadi makanan sehari-hari. Dukun, ramalan, sihir, ilmu ghaib seolah menjadi alternatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan umat Islam. Itulah fenomena kemunduran umat saat di mana Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidu saatitu. Maka beliaumengajak dunia Islam untuk sadar atas kebobrokan aqidah ini.

Berbeda dengan para fuqaha fiqih di zaman awal yang mendirikan madrasah keilmuan sera melahirkan jutaan judul kitab fiqih dan literatur, Syeikh Muhammad bin Abdul WAhhab tidak pernah melahirkan buku berjilid-jilid, beliau hanya menulis beberapa risalah (makalah pendek) untuk menyadarkan masyarakat dari kesalahannya. Salah satunya adalah Kitab At-Tauhid yang hingga menjadi rujukan banyak ulama aqidah.

Dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dibantu oleh penguasa, kemudian melahirkan gerakan umat yang aktif menumpas segala bentuk khurafat, syirik, bid`ah dan beragam hal yang menyeleweng dari ajaran Islam yang asli. Dalam prakteknya sehari-harinya, para pengikutnya lebih mengedepankan aspek pelarangan untuk membangun bangunan di atas kuburan, menyelimutinya atau memasang lampu di dalamnya. Mereka juga melarang orang meminta kepada kuburan, orang yang sudah mati, dukun, peramal, tukang sihir dan tukang teluh. Mereka juga melarang ber-tawassul dengan menyebut nama orang shaleh sepeti kalimat bi jaahi rasul atau keramatnya syiekh fulan dan fulan.

Dakwah beliau lebih tepat dikatakan sebagai dakwah salafiyah. Dakwah ini telah membangun umat Islam di bidang aqidah yang telah lama jumud dan beku akibat kemunduran dunia Islam.

Sebenarnya kalau mau dirunut di atas, para pendukung gerakan wahab ini -suka atau tidak suka- tidak bisa lepas dari sebuah metode penyimpulan hukum tertentu. Dan secara umum, yang berkembang secara alamiyah di negeri mereka adalah mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal. Dan nama-nama tokokh ulama rujukan mereka, semuanya secara alamiyah bermazhab Hanbali.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal (164-241 H)
  • Ibnu Taimiyah (661-728 H)
  • Muhammad Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (6691-751H)
  • Muhammad bin Abdul Wahhab
Meski banyak dari pendukung wahabi ini mengaku tidak terikat dengan mazhab fiqih tertentu, namun tulisan, makalah, buku pelajaran serta fatwa-fatwa ulama mereka, nyaris tidak bisa dipisahkan dari mazhab Al-Hanabilah.

Memang ada sebagian dari pendukung atau sosok yang ditokohkan oleh para pendukung gerakanini yang secara tegas memisahkan diri dari mazhab mana pun. Katakanlah salah satunya, Syeikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullah. Beliau sejak muda telah mengobarkan semangat anti mazhab fiqih. Seolah mazhab-mazhab fiqih itu lebih merupakan sebuah masalah ketimbang solusi di mata beliau. Maka muncul perdebatan panjang antara beliau dengan para ulama fiqih mazhab. Salah satunya perdebatan antara beliau dengan Syeikh Dr. Said Ramadhan Al-Buthy.

Para ulama fiqih tentu tidak terima kalau dikatakan bahwa mazhab fiqih itu merupakan bentuk kebodohan, kejumudan, taqlid serta suatu kemungkaran yang harus diperangi.

Sayangnya, sebagian dari murid-murid beliau ikut-ikutan memerangi para ahli fiqih dengan berbagai literatur mazhabnya dan hasil-hasil ijtihad para fuqaha'.. Padahaldi sisi lain, pendapat-pendapat Syeikh Al-Albani pun tetap merupakan ijtihad dan tidak bisa lepas dari penafsiran dan pemahaman, meski tidak sampai berbentuk sebuah mazhab.Yang sering dijadikan bahan kritik adalah beliau melarang orang bertaqlid kepada suatu mazhab tertentu, namun beliau membiarkan ketika orang-orang bertaqlid kepadadirinya.

Awalnya, oleh banyak kalangan, gerakan ini dianggap sebagai pelopor kebangkitan pemikiran di dunia Islam, antara lain gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Pan Islamisme-nya Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh di Mesir dan gerakan lainnya di benua India.

Namun para penerusnya kelihatan lebih mengkhususkan diri kepada bentuk penghancuran bid'ah-bid'ah yang ada di tengah umat Islam. Bahkan hal-hal yang masih dianggap khilaf, termasuk yang dianggap seolah sudah bid'ah yang harus diperangi.

Mungkin memang sebagian umat Islam ada yang merasakan arogansi dari kalangan pendukung dakwah Wahabiyah ini. Hal itu mungkin disebabkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Syeikh Abdul Wahhab dan Penguasa
  2. Sebagaimana kita ketahui, di jazirah Arabia, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkolaborasi dengan penguasa. Maka lewat tangan penguasa, beliau melancarkan dakwahnya. Dan ciri khas penguasa, segala sesuatu ditegakkan dengan kekuasaan. Karena penguasa pegang harta, wewenang dan hukum, maka wajar bila pendekatannya lebih bersifat vonis dan punnishment.
    Inilah barangkali yang unik dari dakwah wahabi dibandingkan dengan dakwah lainnya yang justru biasanya ditindas oleh penguasa.

  3. Fenomena Kultur Masyarakat
  4. Barangkali gaya yang lugas, kalimat yang menukik, vonis dan kecaman kepada para penyeleweng memang tepat untuk kultur masyarakat tertentu. Misalnya kultur masyarakat padang pasir di jazirah arab yang memang keras.
    Kalau dakwah hanya menghimbau dan merayu, mungkin dianggap kurang efektif dan tidak mengalami perubahan yang berarti. Maka ketika pendekatan yang agak 'keras' dirasakan cukup efektif, jadilah pendekatan ini yang terbiasa dibawakan.
    Sayangnya, ketika masuk ke negeri lain yang kultur masyarakatnya tidak sejalan, metode pendekatan ini seringkali menimbulkan kesan 'arogan'. Dan rasanya, memang itulah yang selama ini terjadi.

C. Wahabisme dan Gerakan Pemurnian Pemikiran Islam dan Streotip Negatif.
Islam Wahabi. Istilah yang belakangan ini sering dikaitkan sejumlah kalangan, tidak hanya dengan puritanisme, tapi juga radikalisme. Saya juga sering ditanya wartawan asing terutama tentang pengaruh Wahabisme yang menurut asumsi mereka kian berkembang di Indonesia. Terakhir sekali, dalam sebuah lokakarya di Bangkok pertengahan Januari 2007 lalu yang saya hadiri, Islam Wahabi dianggap bertanggung jawab atas peningkatan puritanisme dan radikalisme di kawasan Muslim Thailand Selatan.

Menguatnya asumsi-asumsi semacam itu tidak urung lagi berkaitan banyak dengan kian banyaknya pemberitaan dan literatur yang umumnya bernada negatif terhadap Wahabisme. . Salah satunya yang paling akhir adalah buku karya Natana J. Delong-Bas, Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad, Oxford/Cairo: Oxford University Press & American University Press, 2005.

Buku ini dimulai dengan pernyataan, sejak pasca-11 September 2001 di Amerika Serikat, Wahabisme telah diidentifikasi banyak pemerintahan, analis, dan media sebagai Islamic threat yang mengancam peradaban Barat; Wahabisme menjadi sumber inspirasi bagi Usamah bin Ladin dan Alqaidah dalam jihad global melawan dunia Barat dan sekutunya.

Wahabisme juga digambarkan sebagai aliran pemikiran dan mazhab yang paling tidak toleran dalam Islam, yang berusaha dengan cara apa pun --termasuk kekerasan-- untuk pengembangan dan penerapan 'Islam murni', yang mereka pandang sebagai Islam yang paling benar.

Di tengah gambaran yang serba negatif itu, Wahabiyah merupakan paham atau aliran keagamaan yang dianut dan diterapkan pemerintahan Kerajaan Arab Saudi. Pemerintah dan lembaga-lembaga Arab Saudi sering dianggap bertanggung jawab dalam penyebaran Wahabisme lewat pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok Muslim di berbagai wilayah dunia. Mereka juga membagi-bagikan Alquran dan literatur Islam, khususnya buku-buku karya Syaikh Muhammad ibn 'Abd al-Wahhab (1702/3-1791/2), Ibn Taymiyyah (1263-1328). Ibn 'Abd al-Wahhab adalah pendiri aliran Wahabiyyah yang sejak abad ke-18 menguasai lanskap keagamaan di Arabia; sedangkan Ibn Taymiyyah terkenal sebagai ulama yang sangat menekankan pentingnya bagi kaum Muslimin untuk kembali kepada Islam yang 'murni' yang bersih dari bid'ah, khurafat, dan takhayul.

Meski di banyak kalangan Barat, Wahabiyah digambarkan secara negatif dan dipandang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan dan terorisme tertentu, pemerintah dan kalangan elite penguasa Arab Saudi memiliki hubungan erat dengan elite politik Amerika, khususnya dari Partai Republik. Banyak buku dan literatur tentang kedekatan keluarga kerajaan Saudi dengan keluarga Bush, sejak dari Presiden Bush Senior (George H) dan Presiden Bush Yunior (George W) yang menduduki kursi kepresidenan AS dalam dua periode terakhir. Begitu dekatnya kedua belah pihak ini, sehingga muncul sebutan, "House of Saud and House of Bush".

Seberapa besar pengaruh Wahabiyyah di Dunia Islam secara keseluruhan pastilah tidak mudah dijawab. Meski pada pihak lain, kita bisa menyaksikan terus adanya kelompok-kelompok Muslim yang menyerukan kepada kaum Muslimin untuk kembali kepada Islam 'murni' yang belum tercampur dengan berbagai paham dan praktik lain, baik yang berasal dari kalangan Muslim sendiri maupun yang bersumber dari tradisi lokal. Tetapi jelas pula, sebagian besar kelompok Muslim seperti ini tidak mesti merupakan warga Wahabiyah.

Di kawasan Asia Tenggara, Wahabisme tidak pernah populer. Memang, ada gerakan Padri di Minangkabau pada abad ke-19 yang dengan kekerasan memaksa kaum Muslimin di wilayah tersebut meninggalkan paham dan praktik Islam yang tercampur dengan tradisi lokal, dan sebaliknya agar mereka menjalankan Islam 'murni'. Meski gerakan Padri berhasil memperkuat elemen Islam dalam sistem sosial dan adat Minangkabau, Wahabisme tidak pernah menjadi aliran dominan di Sumatra Barat, apalagi di daerah-daerah lain di nusantara.

Ketika gerakan 'pemurnian' Islam menemukan momentumnya di nusantara sejak awal abad ke-20 berkat pengaruh tokoh semacam Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, namun Wahabisme tidaklah menjadi aliran dan paham yang dipegangi. Meski gerakan-gerakan pemurnian seperti itu pernah dituduh kalangan Muslim nusantara sebagai Wahabiyah, jelas mereka bukan penganut Wahabisme.

Dengan karakter Islam nusantara yang secara tradisional sangat dipengaruhi tasawuf dan tarekat, Wahabisme sulit mendapat pijakan yang kuat di Indonesia dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara. Bahkan, dalam banyak kalangan Muslim di kawasan ini, istilah Wahabiyah atau 'Wahabisme' merupakan semacam 'anathema', sesuatu yang negatif dan tidak baik. Sebab itu, anggapan Wahabiyah kian kuat di Indonesia atau tempat-tempat lain di Asia Tenggara merupakan kekhawatiran berlebihan yang tidak perlu.

Dari beberapa sumber literatur Islam diketahui gerakan Salafi atau dikenal juga dengan nama Wahhabi muncul pertama kali di Arab Saudi. Istilah Wahhabi berkait dengan nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab. Substansi dakwah-dakwah Salafiyah senantiasa menyeru pada pemurnian akidah Islam. Wahhabian pun disebut sebagai salah satu pelopor gerakan pembaruan pemikiran Islam. Ditengarai, setelah Imam-imam Besar, pemikiran kritis Islam mengalami kemandekan. "Salafi berupaya mereformasi dengan kembali pada sumber murni Islam.


Daftar Pustaka
Daftar Pustaka Azra, Azyumardi, “Islam Wahabi” dalam www.Republika Online.com didownload pada 23 November 2007.
Delong-Bas, Natana J., Wahabi Islam: From Revival and Reform to Global Jihad. Oxford/Cairo: Oxford University Press & American University Press, 2005.
Gerakan Salafi yang Keblinger” dalam www.xpos.com didowload pada 23 November 2007.
Kontributor, “Muhammad bin Abdul Wahab” dalam Tabloid Manajemen Qalbu edisi 5/TH.II/SEPTEMBER 2001.
Sarwat, Ahmad, “Sejauh Mana Perjalanan Wahabi” dalam www.eramuslim.com didownload pada 23 November 2007.

Artikel Terkait:

comment 0 comments:

Post a Comment

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger