Showing posts with label Kurikulum dan Pengajaran. Show all posts
Showing posts with label Kurikulum dan Pengajaran. Show all posts

0 Keterampilan dan Teknik Bertanya dalam Pengajaran

A. Keterampilan Bertanya
Adapun tujuan pertanyaan yang diajukan guru ialah agar siswa belajar, yaitu memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir, baik berupa kalimat tanya atau perintah yang menuntut respon siswa.
Sedangkan pencapaian tujuan bertanya yang ingin dicapai adalah agar dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap pokok bahasan, memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, mengetahui hambatan-hambatan kegiatan belajar siswa, dan untuk mengembangkan keaktifan siswa dalam belajar.
Ada beberapa hal yang perlu dihindari oleh guru ketika bertanya kepada siswa, yaitu:
  1. Mengulangi pertanyaan sendiri
  2. Mengulang-ulang pertanyaaan sendiri sebelum siswa dapat berpikir maksimal terhadap pertanyaan guru dapat mengakibatkan siswa tidak dapat untuk berkonsentrasi terhadap pertanyaan tersebut. Oleh sebab itu semestinya guru memberikan jeda waktu untuk siswa agar dapat memahami pertanyaan guru dan berkonsentrasi terhadap jawaban yang akan disampaikannya.
  3. Mengulangi jawaban siswa
  4. Mengulangi jawaban siswa dapat menyebabkan terbuangnya waktu pelajaran. Siswa tidak lagi mendengar jawaban dari temannya yang lain karena mengetahui guru pasti akan mengulanginya.
  5. Menjawab pertanyaan sendiri
  6. Guru menjawab pertanyaan sendiri sebelum memberikan siswa kesempatan yang cukup untuk memikirkan jawabannya akan melahirkan anggapan dari siswa bahwa memikirkan jawaban tersebut tidak perlu karena mereka beranggapan guru pasti akan memikirkan jawabannya.
  7. Pertanyaan yang memancing jawaban serentak
  8. Hal ini selain dapat mengakibatkan kericuhan dan keributan di dalam kelas, juga dapat berakibat guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan menutut kemungkinan terjadi interaksi selanjutnya.
  9. Mengajukan pertanyaan ganda
  10. Mengajukan pertanyaan ganda, sama dengan mengajukan pertanyaan yang bertubi-tubi. Sebelum siswa dapat menjawab satu pertanyaan, pertanyaan lain diajukan. Hal ini akan mematahkan semangat siswa yang hanya sanggup menyelesaikan satu dari semua tugas itu.
  11. Menentukan siswa tertentu untuk menjawab
  12. Hal ini dapat membuat siswa-siswa lain yang tidak ditanya akan malas memikirkan jawaban. Hal ini juga akan mengakibatkan siswa beranggapan bahwa guru mengidolakan satu siswa saja dan menganak emaskan.
Adapun komponen-komponen dalam keterampilan bertanya ini adalah:
  • Pengungkapan pertanyaan yang singkat dan jelas
  • Pemberian acuan terhadap jawaban yang memancing siswa untuk cepat memikirkan jawaban yang benar
  • Pemindahan giliran atau penyebaran.
  • Pemusatan dan memberikan waktu untuk berfikir
  • Pemberian tuntunan yaitu dengan cara memberikan pertanyaan yang lebih sederhana, mengulangi penjelasan sebelumnya yang berkaitan dengan pertanyaan, dan mengungkapkan sekali lagi pertanyaan dengan cara lain yang lebih sederhana. 
B. Teknik Bertanya
Adapun teknik bertanya disini adalah dengan ucapan yang disampaikan yang bermaksud untuk meminta respon dari siswa dan mengadakan interaksi. Dan jenis-jenisnya adalah:
  1. Pertanyaan ingatan
  2. Teknik pertanyaan ingatan ini adalah teknik untuk membuat siswa mengingat kembali materi pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya dengan cara mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran tersebut.
  3. Pertanyaan pemahaman
  4. Jenis pertanyaan pemahaman ini merupakan salah satu teknik pengajuan pertanyaan guna untuk membantu siswa agar lebih memahami pelajaran-pelajaran dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pemahaman siswa terhadap pelajaran tersebut
  5. Pertanyaan analisis
  6. Pertanyaan analisis ini adalah teknik dengan cara mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa untuk menganalisis dan mengupas jawaban dari pertanyaan tersebut yang terdapat pada pertanyaan itu sendiri.
  7. Pertanyaan sistesis
  8. Pertanyaan sistesis adalah salah satu teknik bertanya yang pada pertanyaan tersebut mengandung unsur jawaban yang terpisah-pisah tetapi tidak lengkap. Dari pertanyaan tersebut siswa dapat menyusun dan menambahkan ide-ide untuk membentuk satu jawaban yang benar.
  9. Pertanyaan evaluasi
  10. Pertanyaan evaluasi adalah salah satu teknik bertanya untuk mengetahui sejauh mana pemahaman dan pengetahuan siswa tentang pelajaran-pelajaran yang telah disajikan.
Read more

0 Dimensi-dimensi Rencana Pengajaran

A. Pengertian
Perencanaan adalah menyusun lamgkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan, perencanaan tersebut dapat disusun berdasarkan kebutuhan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan pembuat perencanaan.

William H. Newman dalam bukunya Administrative action and Management: mengemukakan bahwa “Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.

Menurut Hadari nawawi perencanaan ialah menyusun langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pada pencapaian tujuan tertentu. Dalam hal ini perencanaan mencakup rangkaian kegiatan untuk menentukan tujuan umum (goal) dan tujuan khusus (objectivitas) suatu organisasi atau lembaga penyelenggara pendidikan, berdasarkan dukungan informasi yang lengkap.

Efectifitas perencanaan berkaitan dengan penyusunan rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan, dapat di ukur dengan terpenuhinyafaktor kerja sama perumusan perencanaan, program kerja madrasah, dan upaya implementasi program kerja tersebut dalam mencapai tujuan.

Dalam pengajaran, perumusan tujuan adalah hal yang utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk itu proses pengajaran harus dilaksanakan. Dalam konteks pengajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan materi pembelajaran, penggunaan media dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan program pengajaran ialah sebuah proses, disiplin ilmu pengetahuan, realitas, sistem dan teknologi pembelajaran bertujuan agar pelaksanaan pengajaran berjalan dengan efektif dan evisien. Oleh karena itu, suatu sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap, yakni tahap analisis, tahap sitesis, dan tahap evaluasi. Kurikulum khususnya silabus, menjadi acuan utama dalam penyusunan perencanaan program pengajaran, namun kondisi sekolah/ madrasah dan lingkungan sekitar, kondisi siswa dan guru merupakan hal pentiong jangan sampai diabaikan.

B. Dimensi-Dimensi Perencanaan Pengajaran
Dimensi perencanaan pengajaran berkaitan dengan cakupan dan sifat-sifat dari beberapa karakteristik yang ditemukan dalam perencanaan pengajaran. Pertimbangan terhadap dimensi-dimensi itu menurut Harjanto memungkinkan diadakannya perencanaan komperehensif yang menalar dan efisien, yakni:

1. Signifikansi
Tingkatannya tergantung dengan tujuan pendidikan yang diajukan dan sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibangun selam proses perncanaan.

2. Feasibilitas
Perencanaan harus disusun sesuai pertimbangan realistis yang berkaitan dengan biaya maupun pengimpletasiannya.

3. Relevansi
Jaminan bahwa perencanaan memungkinkan penyelesaian persoalan secara lebih specifik pada waktu yang tepat sehingga dapat dicapai tujuan specifik secara optimal.

4. Kepastian
Yaitu diharapkan dapat mengurangi kejadian-kejadian yang tidak terduga.

5. Ketelitian
Yaitu perencanaan pengajaran disusun dalam bentuk yang sederhana, serta perlu diperhatikan secara sensitif kaitan-kaitan yang pasti terjadi antara berbagai komponen.

6. Adaptabilitas
Senantiasa mencari informasi sebagai umpan balik, karena perencanaan pengajaran bersifat dinamis. Karena penggunaan berbagai proses memungkinkan perencanaan yang fleksibel atau adaptable dapat dirancang untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan.

7. Waktu
Yaitu keterlibatan perencanaan dalam memperediksi masa depan, serta untuk menilai kebutuhan kependidikan masa kini dalam kaitannya dengan masa mendatang.

8. Monitoring
Proses mengembangkan kriteria untuk menjamin bahwa setiap komponen bekerja secara efektif.

9. Isi perencanaan
Isi perencanaan merujuk pada hal-hal yang akan di rencanakan. Adapun perencanaan pengajaran yang baik perlu memuat:
  • Tujuan yang diinginkan
  • Program dan layanan, cara mengorganisasikan aktivitas belajar dan layanan-layanan pendukung.
  • Tenaga manusia, yakni cara-cara mengembangkan prestasi, spesialisasi, prilaku, kompetensi,maupun kepuasan mereka.
  • Keuangan
  • Bangunan fisik termasuk cara-cara penggunaan pola distribusi dan kaitannya dengan pengembangan psikologi
  • Struktur organisasi
  • Konteks sosial, atau elemen-elemen lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan pengajaran.
Read more

0 Metode-metode Pembelajaran Pendampingan

CERAMAH
Pengertian: Metode ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metode yang bervariasi. Mengapa disebut demikian, sebab ceramah dilakukan dengan ditujukan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, disko, pleno, penugasan, studi kasus, dll). Selain itu, ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui adanya tanggapan balik atau perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta. Media pendukung yang digunakan, seperti bahan serahan (handouts), transparansi yang ditayangkan dengan OHP, bahan presentasi yang ditayangkan dengan LCD, tulisan-tulisan di kartu metaplan dan/kertas plano, dll.

DISKUSI UMUM (DISKUSI KELAS) 
Pengertian: Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan, pemikiran, informasi/ pengalaman diantara peserta, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan, kesimpulan). Untuk mencapai kesepakatan tersebut, para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya, seperti: penjelasan (ceramah), curah pendapat, diskusi kelompok, permainan, dan lain-lain.

CURAH PENDAPAT (BRAINSTORMING) 
Pengertian: Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati) oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi, pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama.

DISKUSI KELOMPOK 
Pengertian: Sama seperti diskusi, diskusi kelompok adalah pembahasan suatu topik dengan cara tukar pikiran antara dua orang atau lebih, dalam kelompok-kelompok kecil, yang direncanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Metode ini dapat membangun suasana saling menghargai perbedaan pendapat dan juga meningkatkan partisipasi peserta yang masih belum banyak berbicara dalam diskusi yang lebih luas. Tujuan penggunaan metode ini adalah mengembangkan kesamaan pendapat atau kesepakatan atau mencari suatu rumusan terbaik mengenai suatu persoalan.Setelah diskusi kelompok, proses dilanjutkan dengan diskusi pleno. Pleno adalah istilah yang digunakan untuk diskusi kelas atau diskusi umum yang merupakan lanjutan dari diskusi kelompok yang dimulai dengan pemaparan hasil diskusi kelompok.

BERMAIN PERAN (ROLE-PLAY) 
Pengertian: Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peranperan yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

SIMULASI 
Pengertian: Metode simulasi adalah bentuk metode praktek yang sifatnya untuk mengembangkan ketermpilan peserta belajar (keterampilan mental maupun fisik/teknis). Metode ini memindahkan suatu situasi yang nyata ke dalam kegiatan atau ruang belajar karena adanya kesulitan untuk melakukan praktek di dalam situasi yang sesungguhnya. Misalnya: sebelum melakukan praktek penerbangan, seorang siswa sekolah penerbangan melakukan simulasi penerbangan terlebih dahulu (belum benar-benar terbang). Situasi yang dihadapi dalam simulasi ini harus dibuat seperti benar-benar merupakan keadaan yang sebenarnya (replikasi kenyataan). Contoh lainnya, dalam sebuah pelatihan fasilitasi, seorang peserta melakukan simulasi suatu metode belajar seakan-akan tengah melakukannya bersama kelompok dampingannya. Pendamping lainnya berperan sebagai kelompok dampingan yang benar-benar akan ditemui dalam keseharian peserta (ibu tani, bapak tani, pengurus kelompok, dsb.). Dalam contoh yang kedua, metode ini memang mirip dengan bermain peran. Tetapi dalam simulasi, peserta lebih banyak berperan sebagai dirinya sendiri saat melakukan suatu kegiatan/tugas yang benar-benar akan dilakukannya.

SANDIWARA 
Pengertian: Metode sandiwara seperti memindahkan ‘sepenggal cerita’ yang menyerupai kisah nyata atau situasi sehari-hari ke dalam pertunjukkan. Penggunaan metode ini ditujukan untuk mengembangkan diskusi dan analisa peristiwa (kasus). Tujuannya adalah sebagai media untuk memperlihatkan berbagai permasalahan pada suatu tema (topik) sebagai bahan refleksi dan analisis solusi penyelesaian masalah. Dengan begitu, rana penyadaran dan peningkatan kemampuan analisis dikombinasikan secara seimbang.

DEMONSTRASI 
Pengertian: Demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk membelajarkan peserta dengan cara menceritakan dan memperagakan suatu langkah-langkah pengerjaan sesuatu. Demonstrasi merupakan praktek yang diperagakan kepada peserta. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan: demonstrasi proses untuk memahami langkah demi langkah; dan demonstrasi hasil untuk memperlihatkan atau memperagakan hasil dari sebuah proses.Biasanya, setelah demonstrasi dilanjutkan dengan praktek oleh peserta sendiri. Sebagai hasil, peserta akan memperoleh pengalaman belajar langsung setelah melihat, melakukan, dan merasakan sendiri. Tujuan dari demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktek adalah membuat perubahan pada rana keterampilan.

PRAKTEK LAPANGAN 
Pengertian: Metode praktik lapangan bertujuan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan peserta dalam mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Kegiatan ini dilakukan di ‘lapangan’, yang bisa berarti di tempat kerja, maupun di masyarakat. Keunggulan dari metode ini adalah pengalaman nyata yang diperoleh bisa langsung dirasakan oleh peserta, sehingga dapat memicu kemampuan peserta dalam mengembangkan kemampuannya. Sifat metode praktek adalah pengembangan keterampilan.

PERMAINAN (GAMES) 
Pengertian: Permainan (games), populer dengan berbagai sebutan antara lain pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer). Arti harfiah ice-breaker adalah ‘pemecah es’. Jadi, arti pemanasan dalam proses belajar adalah pemecah situasi kebekuan fikiran atau fisik peserta. Permainan juga dimaksudkan untuk membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme. Karakteristik permainan adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (fun) serta serius tapi santai (sersan). Permainan digunakan untuk penciptaan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari kaku menjadi gerak (akrab), dan dari jenuh menjadi riang (segar). Metode ini diarahkan agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit atau berat.Sebaiknya permainan digunakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya untuk mengisi waktu kosong atau sekedar permainan. Permainan sebaiknya dirancang menjadi suatu ‘aksi’ atau kejadian yang dialami sendiri oleh peserta, kemudian ditarik dalam proses refleksi untuk menjadi hikmah yang mendalam (prinsip, nilai, atau pelajaran-pelajaran). Wilayah perubahan yang dipengaruhi adalah rana sikap-nilai.
Read more

0 Pengelolaan Guru, Lingkungan Kelas, dan Pengelolaan Pembelajaran

A. PENGELOLAAN GURU
Pengelolaan berasal dari kata Kelola yang berarti proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain, atau proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.

Pada dasarnya pengetahuan tidak bersifat spontan, melainkan pengetahuan harus diajarkan dan dipelajari. Dengan kata lain pengetahuan itu harus diusahakan. Guru adalah orang yang bertugas membantu murid untuk mendapatkan pengetahuan sehingga ia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Ada beberapa prinsip dasar kode etik pengajaran untuk menciptakan seorang guru yang di idam-idamkan, yang dikemukakan oleh M. Jawad Ridha dalam bukunya al-Fikr al-Tarbawiyah al-Islamiyyu Muqaddimat fi ushulih al-Ijtima’iyyat wa al-aqlaniyyati antara lain :
  • Keharusan ilmu dibarengi dengan pengamalannya.
  • Bersikap kasih sayang terhadap siswa/i, dan memperlakukan mereka seperti putra-putrinya sendiri.
  • Menghindarkan diri dari ketamakan.
  • Bersikap toleran dan pemaaf.
  • Menghargai kebenaran dan juga menyampaikannya.
  • Keadilan dan keinsafan.
  • Rendah hati.
  • Ilmu adalah untuk pengabdian kepada orang lain.
Guru harus dapat menempatkan diri dan menciptakan suasana yang kondusif, karena fungsi guru di sekolah sebagai “bapak” kedua yang bertanggung-jawab atas pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak. Ki Hajar Dewantara telah menggariskan pentingnya peranan guru dalam proses pendidikan dengan ungkapan:

Ing ngarsa sung tulada: Di depan memberi suri teladan.
Ing madya mangun karsa: Di tengah membangun.
Tut wuri handayani: Dari belakang memberikan dorongan dan motivasi.

Berkenaan dengan standar kompetensi guru, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional telah menyusun secara khusus rumusan standar kompetensi guru yang terdiri dari tiga komponen, yaitu:
  1. Komponen kompetensi pengelolaan pembelajaran yang meliputi: 1) penyusunan rencana pembelajaran; 2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar; 3) penilaian prestasi belajar peserta didi; 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian.
  2. Komponen kompetensi pengembangan potensi yaitu pengembangan-pengembangan profesi.
  3. Komponen kompetensi penguasaan akademik yang meliputi: 1) pemahaman wawasan pendidikan; dan 2) penguasaan bahan kajian .
Untuk mencapai standar tersebut, maka harus dilakukan berbagai upaya baik yang dilakukan oleh guru secara individu maupun oleh lembaga formal instansi bersangkutan. Guru seyogianya memiliki sensitivitas yang tinggi untuk segera mengetahui apakah kegiatan pembelajaran berjalan secara efektif atau tidak. Maka oleh sebab itu guru setidaknya harus:
  • Selalu membuat perencanaan konkrit dan detail yang siap untuk dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar
  • Bergeser pada pola baru yaitu guru sebagai “mitra” atau “fasilitator” pada semua individu
  • Bersikap kritis, keratif dan produktif
  • Mengubah pola tindakan peran siswa sebagai konsumen (mendengar, menghafal, mencatat) ke arah pola baru peran siswa sebagai produsen (bertanya, meneliti, mengarang, menulis dan lain sebagainya)
  • Kreatif untuk menghasilkan karya pendidikan seperti: pembuatan alat bantu belajar, analisis bahan ajar, penyusunan alat penilaian yang beragam dan lain sebagainya.
B. PENGELOLAAN LINGKUNGAN KELAS
Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran, sebaliknya iklim belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.

Lingkungan kondusif menurut E.Mulyasa (2004:16) dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagai berikut.
  1. Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pemberian.
  2. Memberikan pembelajaran remedial bagi para peserta didik yang kurang berprestasi, atau berprestasi rendah.
  3. Mengembangkan organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman, dan aman bagi perkembangan potensi seluruh peserta didik secara optimal.
  4. Menciptakan suasana kerjasama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik dengan guru pengelolaan pembelajaran lain.
  5. Melibatkan peserta didik dalam proses perencanaan belajar dan pembelajaran.
  6. Mengembangkan proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik dan guru, sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan sebagai sumber belajar.
  7. Mengembangkan sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri.
Dari poin-poin di atas menyatakan bahwa variasi, kejutan, imajinasi, dan tantangan sangatlah penting dalam menciptakan iklim yang kondusif. Mendatangkan tamu yang mengejutkan, studi tour, kunjungan lapangan, program spontan, penelitian yang diusulkan siswa sendiri menambah pengayaan, di samping membaca, menulis, dan diskusi. Dengan demikian ruang kelas akan terasa hidup, dan siswa tidak akan merasa kelas sempit dan mati.

Dalam mewujudkan pengelolaan kelas yang baik, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, di antaranya yaitu kondisi fisik kelas tersebut. lingkungan fisik tempat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Lingkungan fisik yang menguntungkan dan memenuhi syarat minimal mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi:

a. Ruang tempat berlangsungan proses belajar mengajar
Ruangan tempat belajar harus memungkinkan semua siswa bergerak leluasa tidak berdesak-desakan dan saling mengganggu antara siswa yang satu dengan yang lainnya pada saat melakukan aktivitas belajar, dan apabila kelas dipakaikan hiasan-hiasan maka pakailah perhiasan yang mengandung atau mempunyai nilai pendidikan.

b. Pengaturan tempat duduk
Dalam mengatur tempat duduk yang penting adalah memungkinkan terjadinya tatap muka, dengan demikian guru dapat mengontrol tingkah laku siswa. pengaturan tempat duduk akan mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar.

c. Ventilasi dan pengaturan cahaya
Suhu, Ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada) adalah aset penting untuk terciptanya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena itu ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.

d. Pengaturan penyimpanan barang-barang
Barang-barang hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai bila diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan siswa.

Suhaenah Suparno (2001:82) mengemukakan kriteria yang harus dipenuhi ketika melakukan penataan fasilitas ruang kelas sebagai berikut.
  1. Penataan ruangan dianggap baik apabila menunjang efektifitas proses pembelajaran yang salah satu petunjuknya adalah bahwa anak-anak belajar dengan aktif dan guru dapat mengelola kelas dengan baik.
  2. Penataan tersebut bersifat fleksibel (luwes) sehingga perubahan dari satu tujuan ke tujuan yang lain dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan sifat kegiatan yang dituntut oleh tujuan yang akan dicapai pada waktu itu.
  3. Ketika anak belajar tentang suatu konsep, maka ada fasilitas-fasilitas yang dapat memberikan bantuan untuk memperjelas konsep-konsep tersebut yaitu berupa gambar-gambar atau model atau media lain sehingga konsep-konsep tersebut tidak bersifat verbalitas.
  4. Penataan ruang dan fasilitas yang ada di kelas harus mampu membantu siswa meningkatkan motivasi siswa untuk belajar sehingga mereka merasa senang belajar.
C. PENGELOLAAN PEMBELAJARAN
Di dalam pengelolaan pembelajaran, ada beberapa pertanyaan yang mesti diajukan terlebih dahulu oleh seorang guru agar mendapatkan hasil pengelolaan pembelajaran yang baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain:


1. Bagaimana mengelola kegiatan pembelajaran?
Kegiatan pembelajaran yang diterapkan guru perlu disiasati sedemikian rupa sehingga sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran, teknik bertanya, penyediaan umpan balik yang bermakna dan penilaian yang mendorong siswa berkinerja juga menentukan keberhasilan pembelajaran.
  • Teknik bertanya yang diajarkan dalam pembelajaran adalah pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir dan berproduksi
  • Penyediaan umpan balik yang bermakna merupakan pernyataan atau pertanyaan guru yang didasarkan pada prilaku siswa yang bisa mendorong siswa untuk menyadari perilakunya.
2. Bagaimana mengelola isi pembelajaran?
Pengelolaan isi pembelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
  • Materi dipilih berdasarkan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang ingin dicapai.
  • Tingkat keluasan dan kedalaman materi disesuaikan dengan karakteristik peserta didik (termasuk yang cepat dan lambat, yang bermotivasi tinggi dan rendah).
  • Peserta didik yang memiliki kemampuan berbeda diberikan layanan pembelajaran yang berbeda, misalnya variasi dalam pengorganisasian materi, pemberian ilustrasi, dan penggunaan istilah.
  • Penataan materi disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran.
  • Kemungkinan tidaknya keluasan dan kedalaman materi dapat dicapai dalam waktu yang disesuaikan.
  • Menyajikan berbagai materi mata pelajaran lain secara integratif untuk keperluan pembelajaran.
  • Menggunakan variasi materi ajar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
  • Menggunakan materi ajar yang dapat diterapkan, dimanfaatkan atau difungsikan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bagaimana mengelola sumber pelajaran?
Pengelolaan sumber pembelajaran perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
  • Sumber belajar atau media pembelajaran yang dipilih dapat dipakai untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, misalnya buku, modul untuk kompetensi kognitif, media audio untuk kompetensi keterampilan dan sebagainya.
  • Sumber belajar atau media pembelajaran yang dipilih dapat memudahkan pemahaman peserta didik. Misalnya lidi atau sempoa digunakan untuk operasi hitung, lampu senter, globe, dan bola untuk mengilustrasikan proses terjadinya gerhana, dll.
  • Sumber belajar atau media pembelajaran dideskripsikan secara spesifik dan sesuai dengan materi pembelajaran.
  • Sumber belajar atau media pembelajaran yang dipilih sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif, karakteristik afektif, dan keterampilan motorik peserta didik.
Di dalam pengelolaan pembelajaran, seorang guru hendaknya selalu memegang prinsip-prinsip pembelajaran dan menjalani prosedur-prosedur pembelajaran yang benar. Adapun prosedur-prosedur itu meliputi: Pendekatan, metode, dan teknik.
Read more

0 Implementasi Kurikulum

Implementasi merupakan suatu proses penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam bentuk tindakan praktis sehingga memberikan dampak, baik berupa perubahan pengetahuan, keterampilan, maupun nilai dan sikap.

A. Definisi
Dalam Oxford Advance Leaner’s Dictionary dikemukakan bahwa implementasi adalah “put something into effect” atau penerapan sesuatu yang memberikan efek. Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran.
  1. Tahap-tahap Implementasi Kurikulum
  2. Implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu:
    • Pengembangan program mencakup program tahunan, semester atau catur wulan, bulanan, mingguan dan harian.
    • Pelaksanaan pembelajaran. Pada hakikatnya, pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
    • Evaluasi proses yang dilaksanakan sepanjang proses pelaksanaan kurikulum catur wulan atau semester serta penilaian akhir formatif dan sumatif mencakup penilaian keseluruhan secara utuh untuk keperluan evaluasi pelaksanaan kurikulum.
  3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Implementasi Kurikulum
  4. Implementasi kurikulum dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
    • Karakteristik kurikulum.
    • Strategi implementasi, yaitu strategi yang digunakan dalam implementasi kurikulum.
    • Karakteristik pengguna kurikulum.
  5. Prinsip-prinsip Implementasi Kurikulum
  6. Dalam implementasi kurikulum, terdapat beberapa prinsip yang menunjang tercapainya keberhasilan, yaitu:
    • Perolehan kesempatan yang sama.
    • Berpusat pada anak.
    • Pendekatan dan kemitraan.
    • Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan.
  7. Unsur-unsur Implementasi Kurikulum
  8. Dalam implementasi kurikulum, terdapat berbagai unsur terkait sebagai berikut:
    • Pelaksanaan kurikulum, menerapkan prinsip “Kesatuan dalam Kebijakan dan Keberagamaan dalam Pelaksanaan”. Pelaksanaan kurikulum di daerah perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:
      1. Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan sesuai dengan standar yang ditetapkan
      2. Perluasan kesempatan berimprovisasi dan berkreasi dalam meningkatkan mutu pendidikan
      3. Penegasan tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat, dalam meningkatkan mutu pendidikan
      4. Peningkatan pertanggungjawaban (akuntibilitas) kinerja penyelenggaraan pendidikan
      5. Perwujudan keterbukaan dan kepercayaan dalam pengelolaan pendidikan, sesuai dengan otoritas masing-masing yang dapat membangun kesatuan dan persatuan bangsa
      6. Penyelesaian masalah pendidikan sesuai dengan karakteristik wilayah yang bersangkutan.
    • Bahasa Pengantar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara menjadi bahasa pengantar dalam kegiatan pembelajaran.
    • Hari Belajar. Jumlah hari belajar dalam satu tahun pelajaran adalah 204 sampat 240 hari, jumlah minggu efektifnya adalah 34 sampai 40 hari, dan pengaturannya dilaksanakan dengan sistem semester. Pengaturan hari efektif diwujudkan dalam kalender pendidikan yang berlaku secara nasional.
    • Kegiatan Kurikulum. Kegiatan kurikuler dikelompokkan menjadi kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
    • Tenaga Kependidikan. Guru disyaratkan mempunyai kualifikasi dan kompetensi khusus untuk menunjang pencapaian kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.
    • Sarana dan Prasarana Pendidikan.
    • Remedial, Pengayaan dan Percepatan Belajar.
    • Bimbingan dan Konseling. Sekolah memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik dalam konteks pengembangan kepribadian, sosial, karier, dan belajar lanjutan.
    • Pengembangan atau Penyusunan Silabus. Di berbagai daerah, sekolah mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing, tetapi tetap berdasarkan pada standar kompetensi.
    • Pengelolaan Kurikulum.
    • Sekolah Bertaraf Internasional. Sekolah ini didirikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaingan pada tingkat internasional.
  9. Komponen-komponen Rencana Implementasi Kurikulum
  10. Rencana implementasi kurikulum akan mengalami perbedaan dalam sistem sekolah, bergantung pada struktur organisasi dan ruang lingkupnya.
    • Studi Program Baru
    • studi tentang perogram baru ditempatkan pada level distrik atau daerah, dan diarahkan oleh sebuah komisi perencana yang menjelaskan program baru tersebut untuk dilaksanakan pada level sekolah.
    • Identifikasi Sumber Daya
    • Identifikasi sumber daya meliputi tiga area, yaitu buku teks dan bahan pengajaran, sumber daya manusia, dan sumber daya pendanaan (biaya).
    • Penetapan Peran
    • Deskripsi peran dapat membantu guru dalam meningkatkan implementasi tugas-tugasnya.
    • Pengembangan Profesional
    • Orientasi program mengindikasikan dasar dari pengembangan profesional yang diperlukan.
    • Penjadwalan
    • Jadwal implementasi digunakan sebagai patokan dalam menilai kemajuan implementasi.
    • Sistem Komunikasi
    • Studi dari Rand Change Agent Study (1975) dan Effort Sporting School Improvement (1982) mengindikasikan bahwa kunci keberhasilan implementasi terletak pada seringnya diskusi tentang program baru di antara guru, kepala sekolah, dan pengembang kurikulum.
    • Pelaksanaan Monitoring
    • monitoring bertujuan untuk mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan implementasi, dan menggunakannya untuk memfasilitasi dan mendukung upaya guru. Aliran informasi didukung oleh sistem komunikasi, yang menyediakan gambaran tentang aktivitas yang diperlukan untuk mendukung implementasi dan kemungkinan adanya perubahan program.
B. Deskripsi Alternatif Model Implementasi Kurikulum
Dalam kaitannya dengan fungsi pengelolaan kurikulum, akan dikemukakan model implementasi kurikulum baru. Namun, sebelumnya ada beberapa postulat yang penting dipahami, terlebih untuk dapat menerapkan model pengembangan implementasi manajemen strategi ini.
  • Pertama, implementasi kurikulum dipandang sebagai sistem.
  • Kedua, dalam masing-masing komponen (subsistem) proses terdapat komponen-komponen lain yang membentuk komponen tersebut.
  • Ketiga, dalam setiap tahap atau fungsi pengelolaan kurikulum juga terdapat tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
  • Keempat, dalam setiap tahap kegiatan selalu diperhatikan keadaan faktor internal dan eksternal yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum.
  • Kelima, arah tujuan pada setiap tahapan proses implementasi ditujukan untuk menghasilkan produk berbeda yang saling berkaitan, dan secara keseluruhan ditujukan untuk memperbaiki kondisi pelaksanaan (kualitas internal dan kualitas eksternal).
Secara garis besar tahapan implementasi kurikulum itu meliputi:
  1. Tahap Perencanaan Implementasi Tahap ini bertujuan untuk menguraikan visi dan misi atau mengembangkan tujuan implementasi (operasional) yang ingin dicapai. Dalam setiap penetapan berbagai elemen yang akan digunakan dalam proses implementasi kurikulum, terdapat tahapan proses pembuatan keputusan yang meliputi:
    • Identifikasi masalah yang dihadapi (tujuan yang ingin dicapai).
    • Pengembangan setiap alternatif metode, evaluasi, personalia, anggaran, dan waktu.
    • Evaluasi setiap alternatif tersebut.
    • Penentuan alternatif yang paling baik (Porter, 1996).
  2. Tahap Pelaksanaan Implementasi Tahap ini bertujuan untuk melaksanakan blue print yang telah disusun dalam fase perencanaan, dengan menggunakan sejumlah teknik dan sumber daya yang ada dan telah ditentukan pada tahap perencanaan sebelumnya. Jenis kegiatan dapat bervariasi, sesuai dengan kondisi yang ada.
  3. Tahap Evaluasi Implementasi Tahap ini bertujuan untuk melihat dua hal. Pertama, melihat proses pelaksanaan yang sedang berjalan sebagai fungsi kontrol, apakah pelaksanaan evaluasi telah sesuai dengan rencana, dan sebagai fungsi perbaikan jika selama proses terdapat kekurangan. Kedua, melihat hasil akhir yang dicapai.
Read more

0 Perencanaan dan Implementasi Persiapan Mengajar

Pekerjaan mengajar merupakan pekerjaan yang kompleks dan sifatnya dimensional. Berkenaan dengan hal tersebut, guru paling sedikit harus menguasai berbagai teknik yang erat hubungannya dengan kegiatan-kegiatan penting dalam pengajaran. Urutan pembelajaran yang baik selalu melibatkan keputusan guru berdasarkan berbagai tugas.

Kerangka perencanaan dan implementasi pengajaran melibatkan urutan langkah-langkah yang sangat penting bagi para guru dalam mempersiapkan pelaksanaan rencana pengajaran.

Kerangka tersebut membatasi banyaknya aktivitas khurus yang akan diselesaikan oleh guru, yaitu hanya enam aktivitas terutama bagi para guru baru. Enam jenis aktivitas dirasakan sudah cukup berat untuk mulai karirnya sebagai tenaga yang profesional. Dalam kerangka tersebut terlihat adanya hubungan yang erat antara keenam aktivitas tersebut.
  • Aktivitas pertama “mendiagnosa kebutuhan peserta didik”, berarti para guru harus menaruh perhatian khusus terhadap peserta didik dalam kelas. Antara lain bertalian dengan minat para individu, kebutuhan dan kemampuan mereka. Selanjutnya dicari jalan keluar bagaimana memenuhi hal tersebut. di samping itu guru juga harus menentukan bahan pelajaran yang dipilih dan diajarkan kepada peserta didik. Jawaban-jawaban atau usaha tersebut akan dapat membantu guru untuk melangkah kepada aktivitas berikutnya.
  • Kedua yaitu, “memilih isi dan menentukan sasaran”. Sasaran pengajaran kita melukiskan apa yang sebenarnya diharapkan dari peserta didik, agar mereka mampu melakukan sesuatu sesuai dengan urutan pembelajaran, dengan demikian para guru dapat mengetahui bahwa ‘peserta didik’ tersebut telah mempelajari sesuatu dalam kelas. Dalam hubungan ini para guru juga perlu mempertimbangkan adanya perbedaan individu yang terdapat dalam kelas tersebut selama mengajar.
  • Ketiga, mengidentifikasi teknik-teknik “pembelajaran”. Aktivitas ini dilakukan karena guru telah mengetahui sasaran-sasaran tersebut yang dapat dipergunakan sebagai basis untuk mengambil suatu keputusan. Guru dapat memilih secara bebas setiap teknik pembelajaran, sehingga merupakan penyesuaian yang bersifat profesional, dan tindakan semacam ini dapat membantu para peserta didik untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditentukan semula.
  • Keempat, merencanakan aktivitas “merumuskan unit-unit dan merencanakan pelajaran”. Dalam aktivitas ini yang paling penting adalah mengorganisasi keputusan-keputusan yang telah diambil, yaitu mengenai peserta didik secara individu, sasaran-sasaran, dan teknik pembelajaran dan dibukukan pada dokumen resmi, sehingga dapat dipergunakan untuk melanjutkan pembelajaran berikutnya.
  • Kelima, “Memberikan motivasi dan implementasi program”. Perencanaan pada aktivitas ini mempersiapkan guru secara khusus bertalian dengan teknik motivasional yang akan diterapkan dan beberapa prosedur administratif yang perlu diikuti agar rencana pengajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.
  • Keenam, merupakan aktivitas yang terakhir, yaitu perencanaan yang dipusatkan kepada “pengukuran, evaluasi, dan penentuan tingkat”. Aktivitas ini merupakan pengembangan perencanaan untuk mengadakan tes dan penyesuaian tentang penampilan peserta didik secara individual.
Prinsip-prinsip Persiapan Mengajar
Untuk membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan pembelajaran yang baik, antara lain: mengidentifikasi kebutuhan siswa, tujuan yang hendak dicapai, berbagai strategi dan skenario yang relevan digunakan untuk mencapai tujuan, dan kriteria evaluasi.

Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan pertiapan mengajar, yaitu:
  1. Rumusan kompetensi dalam persiapan mengajar harus jelas. Semakin konkret kompetensi, semakin mudah diamati dan semakin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
  2. Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
  3. Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan.
  4. Persiapan mengajar yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaiannya.
  5. Harus ada koordinasi antara komponen pelaksana program sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim atau moving class. Komponen-komponen Persiapan Mengajar
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada persiapan mengajar, sebagai produk perogram pembelajaran jangka pendek yang mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.

Agar guru dapat membuat persiapan mengajar yang efektif dan berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan persiapan mengajar, baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip maupun prosedur pengembangan persiapan mengajar, serta mengukur efektifitas mengajar.

Pentingnya Perencanaan Pengajaran
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah memungkinkan manusia menyusun rencana itu secara sistematis dengan menggunakan perhitungan-perhitungan, maka lahirlah perencanaan pengajaran dalam arti modern.

Salah satu aspek tujuan pendidikan adalah memelihara, mempertahankan, dan mengembangkan bagian dari tujuan yang menjadi dasar integrasi dari perencanaan masyarakat dan perencanaan pembelajaran.

Perencanaan dapat membantu, akan tetapi perencanaan itu sendiri harus dipakai dalam suatu kombinasi yang harmonis dengan alat-alat lainnya seperti misalnya pengawasan dan evaluasi dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan. Perencanaan untuk menjadi alat yang berguna perlu juga didampingi dengan pengetahuan dan kemampuan bekerja seseorang secara efektif dalam situasi kepemimpinan yang baik. Hal ini penting mengikat perencanaan bukan sebagai pengganti kewenangan seorang pengelola. Kelemahannya yang terjadi dalam perencanaan dapat disebabkan dua hal penting berikut ini:
  1. Karena manusia sering diabaikan. Dalam perencanaan dibicarakan tentang “apa”, “bagaimana”, dan “bilamana” namun kadang-kadang lupa mempercakapkan “siapa” atau orang yang terlibat di dalamnya. Instansi atau orang yang dimaksud seyogianya sudah dilibatkan dalam proses perencanaan sedini mungkin.
  2. Disebabkan perencanaan yang berlebihan. Perencanaan memang berlaku juga sebagai petunjuk mengenai apa yang akan dilakukan, akan tetapi jika perencanaan tadi disusun begitu padat dan ketat serta kaku dan tidak manusiawi maka dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian.
Pentingnya perencanaan pendidikan di Indonesia ditandai dengan adanya desakan masalah dalam berbagai aspek yang suka atau tidak harus ditangani melalui perencanaan. Tanpa perencanaan maka banyak masalah pendidikan yang akan tertunda penanganannya, dan hal ini dapat menambah besarnya permasalahan pada tahun berikutnya. Melalui perencanaan suasana kritis yang diperlihatkan aspek-aspek pendidikan menjadi berkurang.
Read more

0 Kekerasan Pelajar Karena Kelemahan Kurikulum

Ada benarnya penilaian dari Ferdinand Hindrianto (SEMARANG, KOMPAS.com, Selasa 22/11/2011) yang mengatakan bahwa Kekerasan Pelajar di Indonesia merupakan salah satu akibat dari Kelemahan Kurikulum yang ada. Kurikulum di Indonesia yang terlalu mementingkan aspek kognitif, dengan secara tidak langsung mengabaikan aspek afektif dan psikomotor yang juga penting di dalam menjalankan kurikulum.

Jikalau kita mengkaji ulang dari Komponen-komponen kurikulum, di sana terdapat: Tujuan, Materi, Aktivitas Belajar, Media, dan Evaluasi. Kesemuanya itu harus saling berkesinambungan, saling berhubungan, dan harus mencakup kesemuanya. Akan tetapi apabila kita memperhatikan kurikulum yang ada sekarang ini, hanya terfokus kepada Tujuan, Materi, dan Media saja. Oleh sebab itu Aktivitas atau strategi-strategi belajar dan juga evaluasi sering di abaikan dan kurang dipentingkan.

Di dalam melaksanakan kurikulum, Proses atau sistem dalam aktivitas belajar dapat didefinisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar-mengajar. Berkaitan dengan aktivitas belajar, maka harus diperhatikan pula strategi belajar mengajar yang efektif. Gunanya yaitu agar terciptanya penghayatan materi yang telah disajikan. Begitu juga dengan psikomotorik yang juga tak kalah pentingnya, yang berfungsi sebagai pengalaman dan pengamalan dari materi-materi yang telah disajikan.

Jikalau kita mencoba mengkaitkan nya dengan ajaran Nabi, bukankah Nabi S.A.W, juga mengajarkan yang sedemikian rupa? Maka sekarang ini kita mengenal yang namanya Hadits Qauli (Kognitif) Hadits Fi’li (Psikomotorik) dan juga Hadits Taqriri (Afektif). Kesemuanya itu telah dicontohkan oleh Rasul, kesemuanya itu penting dan tidak boleh dianggap tidak penting.

Yang terakhir ialah Evaluasi. Segala perbuatan perlu evaluasi, begitu juga dengan kurikulum yang berlaku. Masih banyak kekurangan dan ketidakselarasan antara kurikulum dengan peserta didik, maka disini perlu pengevaluasian. Kurikulum harus disesuaikan dengan berbagai aspek, dan tidak hanya terlalu mementingkan aspek kognitif saja. Jikalau itu semua terlaksana dengan baik maka persepsi masyarakat yang terbentuk karena kebiasaan pun akan hilang di tutup dengan kebiasaan yang lainnya.
Read more

0 Silabus dan Pengembangan Silabus

A. PENGERTIAN SILABUS
Silabus adalah ancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan dan penyajian mata kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.

Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.

Tujuan pengembangan silabus adalah membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam menjabarkan kompetensi dasar menjadi perencanaan belajar mengajar. Sasaran pengembangan silabus yaitu guru, kelompok guru mata pelajaran disekolah/madrasah, musyawarah guru mata pelajaran dan dinas pendidikan.

Pengembangan Silabus dalam KBK
Salah satu inovasi dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah adanya peluang bagi daerah dan sekolah untuk mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Sekolah yang mempunyai kemampuan mandiri dapat menyusun silabus yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya setelah mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan Setempat (Provinsi, Kabupaten/kota). Bantuan dan bimbingan teknis untuk penyusunan silabus sepanjang diperlukan dapat diberikan oleh pusat kurikulum.

B. ISI SILABUS
Hubungan kurikulum dengan pengajaran dalam bentuk lain ialah dokumen kurikulum yang biasanya disebut silabus yang sifatnya lebih terbatas dari pada dokumen kurikulum.

Pada umumnya suatu silabus paling sedikit harus mencakup beberapa unsur, yaitu:
  1. Tujuan mata pelajaran yang akan diajarkan.
  2. Sasaran-sasaran mata pelajaran.
  3. Keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata pelajaran tersebut dengan baik.
  4. Urutan topik-topik yang diajarkan.
  5. Aktivitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan pengajaran.
  6. Berbagai teknik evaluasi yang digunakan.
Berkenaan dengan komponen silabus, lebih rinci dikemukakan oleh Nurhadi bahwa silabus berisi uraian program yang mencantumkan:
  1. Bidang studi yang diajarkan.
  2. Tingkat sekolah/madrasah
  3. Pengelompokan kompetensi dasar
  4. Materi pokok
  5. Indikator
  6. Strategi pembelajaran
  7. Alokasi waktu jam dan,
  8. Bahan/alat media.
C. MANFAAT SILABUS
Silabus bermanfaat sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran, seperti pembuatan rencana pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun kompetensi dasar. Silabus juga bermanfaat sebagai pedoman untuk merencanakanpengelolaan kegiatan belajar secara klasikal, kelompok kecil, atau pembelajaran secara individual.

D. KOMPONEN-KOMPONEN SILABUS
Silabus dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan terdisi dari beberapa komponen, sebagai berikut.

a. Standar Kompotensi Mata Pelajaran
Standar kompetensi mata pelajaran adalah batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu, kemampuan yang dapat dilakukan atau ditampilkan siswa untuk suatu mata pelajaran, kompetensi dalam mata pelajaran tertentu yang harus dimiliki siswa, kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan dalam suatu mata pelajaran tertentu.

b. Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar adalah kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran yang harus dicapai siswa. Kompetensi dasar dalam silabus berfungsi untuk mengarahkan guru mengenai target yang harus dicapai dalam pembelajaran. Misalnya, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

c. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petuntuk tentang perubahan prilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi standar yang dikaji. Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.

d. Indikator Hasil Belajar
Indikator hasil belajar adalah ciri penanda pencapaian kompetensi dasar. Indikator dalam silabus berfungsi sebagai tanda-tanda yang menunjukkan terjadinya perubahan perilaku pada diri siswa.

e. Materi Pokok
Materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar.

f. Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran adalah bentuk atau pola umum kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan. Strategi pembelajaran meliputi kegiatan tatap muka dan non tatap muka (pengalaman belajar). Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru dengan siswa, seperti diskusi, presentasi, kuis dan sebagainya.

g. Alokasi Waktu
Alokasi waktu adalah waktu yang diperlukan untuk menguasai masing-masing kompetensi dasar.

h. Adanya Penilaian
Penilaian adalah jenis, bentuk, dan instrumen yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur keberhasilan belajar siswa.

i. Sarana dan Sumber Belajar
Sarana dan sumber belajar adalah sarana dan sumber belajar yang digunakan dalam proses belajar mengajar.

E. PRINSIP PENGEMBANGAN SILABUS
  • Ilmiah: Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuan.
  • Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual peserta didik.
  • Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
  • Konsisten: Adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
  • Memadai: Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
  • Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memerhatikan perkembangan ilmu.
  • Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
  • Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan kompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik).
F. PENGEMBANGAN SILABUS
Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau Pusat Kegiatan Guru (PKG) dan Dinas Pendidikan.

G. PROSES PENGEMBANGAN SILABUS
Proses pengembangan silabus melibatkan berbagai pihak, seperti Pusat Kurikulum (PusKur) Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan kota/kabupaten, dan sekolah yang akan mengimplementasikan KTSP, sesuai dengan kapasitas dan proporsinya masing-masing.
Read more

0 Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab

A. PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN BAHASA ARAB
Ada 5 prinsip dasar dalam pengajaran Bahasa Arab yaitu, prinsip prioritas dalam konsep penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap, prinsip penghayatan serta korelasi dan isi.

1. Prinsip Prioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran yaitu:
  1. Mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis.
  2. Mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata.
  3. Menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.
Ada beberapa tekhnik melatih pendengan atau telinga, yaitu:
  1. Guru hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam, baik dalam bentuk huruf maupun kata.
  2. Guru melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya.
  3. Materi di teruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam Bahasa Ibu.
Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan, maka dapat menempuh langkah-langkah berikut ini.
  1. Peserta didik di latih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing, kemudian di latih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang dan kemudian di latih dengan lebih cepat.
  2. Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau kata-kata untuk menirukan intonasi, cara berhenti maupun panjang pendeknya.

2. Prinsip Korektisitas
Prinsip ini di terapkan ketika sedang mengajarkan materi fonetik, sintaksis, semiotic. Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis dalam hal-hal berikut.
  1. Korektisitas dalam pengajaran fonetik
  2. Korektisitas dalam pengajaran sintaksis
  3. Korektisitas dalam pengajaran semiotic

B. METODE PENGAJARAN BAHASA ARAB
Secara sederhana metode pengajaran Bahasa Arab dapat di golongkan menjadi dua macam.

1. Metode Tradisional
Metode Tradisional adalah metode pengajaran Bahasa Arab yang terfokus pada bahasa sebagai budaya ilmu, sehingga belajar Bahasa Arab berarti belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu Bahasa Arab baik dari segi aspek gramatika atau Qawa’id Nahwu, morfem dan morfologi, Sharf ataupun sastra.

  • Metode Qawa’id dan Tarjamah (Tariqatul al-Qawa’id wa Tarjamah)
  • Penerapan metode ini lebih cocok jika tujuan pengajan Bahasa Arab adalah sebagai kebudayaan, yaitu untuk mengetahui nilai sastra yang tinggi dan untuk memiliki kemampuan kognitif yang terlatih dalam menghafal teks-teks serta memahami apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan atau buku-buku teks.
  • Metode Langsung (Al-Thariqatu Al-Mubasyarah)
  • penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus menerus antara guru dan peserta didik dalam menggunakan Bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan Bahasa Ibu baik dalam menjelaskan makna kosa kata ataupun menerjemah.


2. Metode Modern
Metode Modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya Bahasa Arab di pandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga inti belajar Bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan atau ungkapan dalam Bahasa Arab.

Metode yang lazim di gunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (Thariqah al-mubasyarah).
Read more

0 Sejarah Perkembangan Kurikulum di Indonesia

Dalam perjalanannya, dunia pendidikan Indonesia telah menerapkan enam kurikulum, yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi dan terakhir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang dikeluarkan pemerintah melalui Permen Diknas Nomor 22 tentang standar isi, Permen Nomor 23 tentang standar kompetensi lulusan, dan Permen Nomor 24 tentang pelaksanaan kedua Permen tersebut.

Pergantian kurikulum merupakan suatu hal yang biasa dan suatu keniscayaan dalam rangka merespons perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pendidikan harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat, terutama tuntunan dan kebutuhan masyarakat.

A. Kurikulum 1968
Sebelum diterapkan kurikulum 1968, pada tahun 1947 pernah diterapkan Rencana Pelajaran yang pada waktu itu menteri pendidikannya di jabat Mr. Suwandi. Rencana pelajaran 1947 memuat ketentuan yaitu:
  1. Bahasa indonesia digunakan sebagai bahasa pengantar disekolah
  2. Jumlah mata pelajaran untuk Sekolah Rakyat (SR) yaitu 16 bidang studi, SMP 17 bidang studi, dan SMA 19 bidang studi.
Lahirnya Rencana pelajaran 1947 diawali dari pembenahan sistem per sekolah pasca Indonesia merdeka yang sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Akan tetapi, pembenahan ini baru bisa diterapkan pada tahun 1965 melalui keputusan Presiden Nomor 19 tahun 1965 tentang pokok-pokok sistem Pendidikan Nasional Pancasila. Jiwa kurikulum adalah gotong royong dan demokrasi terpimpin.

Setelah berakhirnya kekuasan Orde lama, keluar ketetapan MPRS Nomor XXVII/MPRS/1966 yang berisi tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia Pancasilain sejati. Dua tahun kemudian lahirlah kurikulum 1968, sebuah pedoman praktis pendidikan yang terstruktur pertama kali. Tujuan pendidikan menurut kurikulum 1968 adalah mempertinggi mental moral budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta membina/mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.

B. Kurikulum 1975
Kurikulum ini ditetapkan ketika menteri pendidikan dijabat oleh Letjen TNI Dr. Syarif Thajeb (1973-1978). Ketentuan-ketentuan kurikulum 1975 adalah:
  1. Sifat, Integrated Curriculum Organization
  2. SD mempunyai satu struktur program terdiri atas 9 bidang studi
  3. Pelajaran Ilmu Alam dan Ilmu Hayat menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
  4. Pelajaran Ilmu Aljabar dan Ilmu Ukur menjadi Matematika
  5. Jumlah mata pelajaran SMP dan SMA menjadi 11 bidang studi
  6. Penjurusan SMA dibagi 3: IPA, IPS, dan Bahasa, dimulai pada permulaan semester II kelas I.
Ketika belum semua sekolah mengimplementasikan kurikulum 1975, mulai dirasakan kurikulum ini tidak bisa mengejar kemajuan pesat masyarakat. Maka kurikulum 1975 diganti oleh kurikulum 1984.

C. Kurikulum 1984
Kurikulum ini ditetapkan ketika menteri pendidikan dijabat oleh Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, seorang ahli sejarah Indonesia. Ketentuan-ketentuan dalam kurikulum 1984 adalah:
  1. Sifat, Content Based Curriculum
  2. Program pelajaran mencakup II bidang studi
  3. Jumlah mata pelajaran SMP menjadi 12 bidang studi
  4. Jumlah mata pelajaran SMA 25 bidang studi untuk program ini, 4 bidang studi untuk program pilihan
  5. penjurusan SMA dibagi lima: Ilmu Fisika, Ilmu Biologi, Ilmu Sosial, Ilmu Budaya, Ilmu Agama
  6. Penjurusan dilakukan dikelas II.
Pada kurikulum 1984 ada penambahan bidang studi, yakni Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Dalam perjalanannya, kurikulum 1984 dianggap oleh banyak sebagai syarat beban sehingga diganti dengan kurikulum 1994 yang lebih sederhana.

D. Kurikulum 1994
Kurikulum ini ditetapkan ketika menteri pendidikan dijabat oleh Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegro, seorang teknokrat yang menimba ilmu di Jerman Barat besama B.J. Habibie. Ketentuan-ketentuan yang ada dalam kurikulum 1994 adalah:
  1. Bersifat, Objective Based Curriculum
  2. Nama SMP diganti menjadi SLTP dan SMA diganti menjadi SMU
  3. Mata pelajaran PSPB dihapus
  4. Program pengajaran SD dan SLTP disusun dalam 13 mata pelajaran
  5. Program pengajaran SMU disusun dalam 10 mata pelajaran
  6. Penjurusan SMA dilakukan di kelas II yang terdiri dari Program IPA, Program IPS, dan Program Bahasa.
Ketika reformasi bergulir tahun 1998, kurikulum 1994 mengalami penyesuaian-penyesuaian dalam rangka mengakomodasi tuntunan reformasi. Bersamaan dengan lahirnya undang-undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menggantikan Undang-undang nomor 2 tahun 1989, Pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menggagas kurikulum baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi.

E. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Kurikulum 2004)
Kurikulum Berbasis Kompetensi lahir ditengah-tengah adanya tuntutan mutu pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia dianggap hanya melahirkan lulusan yang akan menjadi beban negara dan masyarakat, karena kurang ditunjang dengan kompetensi yang memadai ketika terjun dalam masyarakat. Untuk merespons hal tersebut, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional menawarkan kurikulum yang dianggap mampu menjawab problematika seputar rendahnya mutu pendidikan. Karena dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi peserta didik diarahkan untuk menguasai sejumlah kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditentukan.

Kurikulum Berbasis Kompetensi digagas ketika Menteri Pendidikan dijabat oleh Prof. Abdul Malik Fadjar, M.sc. Ketentuan-ketentuan yang ada dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah:
  1. Bersifat, competency Based Curriculum
  2. Penyebutan SLTP menjadi SMP dan SMU menjadi SMA
  3. Program pengajaran SD disusun dalam 7 mata pelajaran
  4. Program pengajaran SMP disusun dalam 11 mata pelajaran
  5. Program pengajaran SMA disusun dalam 17 mata pelajaran
  6. Penjurusan SMA dilakukan dikelas II, terdiri atas Ilmu Alam, Sosial, dan Bahasa.
F. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan revisi dan pengembangan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi atau ada yang menyebut Kurikulum 2004. KTSP lahir karena dianggap KBK masih sarat dengan beban belajar dan pemerintah pusat dalam hal ini DipdikNas masih dipandang terlalu intervensi dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, dalam KTSP beban belajar siswa sedikit berkurang dan tingkat satuan pendidikan (sekolah, guru, dan komite sekolah) diberikan kewenangan untuk mengembangkan kurikulum, seperti membuat indikator, silabus, dan beberapa komponen kurikulum lainnya.
Read more

0 Metode Demonstrasi dalam Pengajaran

A. Pengertian Metode Demonstrasi
Beberapa pengertian metode menurut para ahli, salah satunya adalah menurut Muhibbin Syah dalam bukunya “Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru”,adalah bahwa:”Metode secara harfiah berarti ‘cara’. Dalam pemakian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu kegiatan atau cara-cara melakukan kegiatan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep secara sistematis”.[1]

Dan menurut Muzayyin Arifin, “Pengertian metode adalah cara, bukan langkah atau prosedur. Kata prosedur lebih bersifat teknis administrative atau taksonomis. Seolah-olah mendidik atau mengajar hanya diartikan cara mengandung implikasi mempengaruhi. Maka saling ketergantungan antara pendidik dan anak didik di dalam proses kebersamaan menuju kearah tujuan tertentu.[2]

Menurut W.J.S Poerwadarminta, “Metode adalah ‘cara’ yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud”.[3]

Kesimpulan dari pengertian-pengertian di atas yaitu bahwa metode secara umum adalah cara yang tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu hal, seperti menyampaikan mata pelajaran.

Sedangkan pengertian metode demonstrasi menurut Muhibbin Syah adalah “Metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan”.[4]

Dalam kamus Inggris-Indonesia, demonstrasi yaitu “mempertunjuk-kan atau mempertontonkan”.[5]

“Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik. Dengan menggunakan metode demonstrasi, guru atau murid memperlihatkan kepada seluruh anggota kelas mengenai suatu proses, misalnya bagaimana cara sholat yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW”.[6]

Menurut Aminuddin Rasyad, “Metode demonstrasi adalah cara pembelajaran dengan meragakan, mempertunjukkan atau memperlihatkan sesuatu di hadapan murid di kelas atau di luar kelas”.[7]

Dari uraian dan definisi di atas, dapat dipahami bahwa metode demonstrasi adalah dimana seorang guru memperagakan langsung suatu hal yang kemudian diikuti oleh murid sehingga ilmu atau keterampilan yang didemonstrasikan lebih bermakna dalam ingatan masing-masing murid.

Semenjak zaman Nabi Muhammad SAW, bahkan semenjak awal sejarah kehidupan manusia, penggunaan metode demonstrasi dalam pendidikan sudah ada. Contohnya pada waktu itu Nabi, seorang pendidik yang agung, banyak menggunakan metode demonstrasi perilaku keseharian sebagai seorang muslim, maupun praktek ibadah seperti mengajarkan cara sholat, wudhu dan lain-lain. Semua cara tersebut dipraktekkan atau ditunjukkan oleh Nabi, lalu kemudian para umat mengikutinya.

B. Langkah-langkah Dalam Mengaplikasikan Metode Demonstrasi
Untuk melaksanakan metode demonstrasi yang baik atau efektif, ada beberapa langkah yang harus dipahami dan digunakan oleh guru, yang terdiri dari “perencanaan, uji coba dan pelaksanaan oleh guru lalu diikuti oleh murid dan diakhiri dengan adanya evaluasi”.[8]

Adapun langkah tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Merumuskan dengan jelas kecakapan dan atau keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa sesudah demonstrasi itu dilakukan.
  2. Mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, apakah metode itu wajar dipergunakan, dan apakah ia merupakan metode yang paling efektif untuk mencapai tujuan yang dirumuskan.
  3. Alat-alat yang diperlukan untuk demonstrasi itu bisa didapat dengan mudah, dan sudah dicoba terlebih dahulu supaya waktu diadakan demonstrasi tidak gagal.
  4. Jumlah siswa memungkinkan untuk diadakan demonstrasi dengan jelas.
  5. Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah yang akan dilaksanakan, sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, sudah dicoba terlebih dahulu supaya tidak gagal pada waktunya.
  6. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan, apakah tersedia waktu untuk memberi kesempatan kepada siswa mengajukan pertanyaanpertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.
  7. Selama demonstrasi berlangsung, hal-hal yang harus diperhatikan:
    • Keterangan-keterangan dapat didengar dengan jelas oleh siswa.
    • Alat-alat telah ditempatkan pada posisi yang baik, sehingga setiap siswa dapat melihat dengan jelas.
    • Telah disarankan kepada siswa untuk membuat catatan-catatan seperlunya.
  8. Menetapkan rencana untuk menilai kemajuan siswa. Sering perlu diadakan diskusi sesudah demonstrasi berlangsung atau siswa mencoba melakukan demonstrasi.[9]
Setelah perencanaan-perencanaan telah tersusun sebaiknya diadakan uji coba terlebih dahulu agar penerapannya dapat dilaksanakan dengan efektif dan tercapai tujuan belajar mengajar yang telah ditentukan dengan mengadakan uji coba dapat diketahui kekurangan dan kesalahan praktek secara lebih dini dan dapat peluang untuk memperbaiki dan menyempurnakannya.

Langkah selanjutnya dari metode ini adalah realisasinya yaitu saat guru memperagakan atau mempertunjukkan suatu proses atau cara melakukan sesuatu sesuai materi yang diajarkan. Kemudian siswa disuruh untuk mengikuti atau mempertunjukkan kembali apa yang telah dilakukan guru. Dengan demikian unsur-unsur manusiawi siswa dapat dilibatkan baik emosi, intelegensi, tingkah laku serta indera mereka, pengalaman langsung itu memperjelas pengertian yang ditangkapnya dan memperkuat daya ingatnya mengetahui apa yang dipelajarinya.

Untuk mengetahui sejauhmana hasil yang dicapai dari penggunaan metode demonstrasi tersebut diadakan evaluasi dengan cara menyuruh murid mendemonstrasikan apa yang telah didemonstrasikan atau dipraktekkan guru.

Pada hakikatnya, semua metode itu baik. Tidak ada yang paling baik dan paling efektif, karena hal itu tergantung kepada penempatan dan penggunaan metode terhadap materi yang sedang dibahas. Yang paling penting, guru mengetahui kelebihan dan kekurangan metode-metode tersebut.

Metode demonstrasi ini tepat digunakan apabila bertujuan untuk: “Memberikan keterampilan tertentu, memudahkan berbagai jenis penjelasan sebab penggunaan bahasa lebih terbatas, menghindari verbalisme, membantu anak dalam memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian sebab lebih menarik”.[10]

C. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi Dalam Proses Belajar Mengajar
Penggunaan metode demonstrasi dalam proses belajar-mengajar memiliki arti penting. Banyak keuntungan psikologis-pedagogis yang dapat diraih dengan menggunakan metode demonstrasi, antara lain:
  1. Perhatian siswa lebih dipusatkan.
  2. Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
  3. Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.[11]
Kekurangan metode demonstrasi:
  1. Dalam pelaksanaannya, metode demonstrasi memerlukan waktu dan persiapan yang matang, sehingga memerlukan waktu yang bayak.
  2. Demonstrasi dalam pelaksanaannya banyak menyita biaya dan tenaga (jika memakai alat yang mahal).
  3. Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas.
  4. Metode demonstrasi menjadi tidak efektif jika siswa tidak turut aktif dan suasana gaduh.[12]
FootNote:
  1. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1995), h. 201 H.
  2. Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Umum dan Agama, (Semarang: PT. CV. Toha Putera), 1987, h. 100-101.
  3. W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka), 1986, h. 649
  4. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru,., h. 208.
  5. Jhon M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia), 1984, h. 178.
  6. Zakiah Darajat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 1995, h.296.
  7. Aminuddin Rasyad, Metode Pembelajaran Pendidikan Agama, (Jakarta: Bumi aksara), 2002, h. 8.
  8. J.J Hasibuan dan Mujiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Rosdakarya), 1993, h. 31
  9. J.JHasibuan dan Mujiono, Proses Belajar Mengajar,., h. 31
  10. Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional), 1983, h. 94-95.
  11. Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya), 1995, h. 209
  12. Tayar Yusup dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama Islam dan Bahasa Arab, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada), h. 53
Read more

0 Komponen-komponen Kurikulum

KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia ataupun binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah: tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain.

A. Tujuan
Tujuan kurikulum dirumuskan berdasarkan dua hal. Pertama perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara.

Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikenal kategori tujuan sebagai berikut. Tujuaan pendidikan nasional merupakan tujuan jangka panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia. Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan suatu lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler, adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu program studi. Tujuan instruksional yang merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran. Yang terakhir ini, masih dirinci lagi menjadi tujuan instruksional umum dan khusus atau disebut juga objektif, yang merupakan tujuan pokok bahasan.

Adapun implikasi tujuan (objektif) adalah sebagai berikut:
  1. Suatu pengertian tentang arah (sasaran) bagi setiap orang yang tertarik dengan proses pendidikan, seperti siswa, guru, administrator, orang tua, penilik, pengawas dan sebagainya
  2. Basis perencanaan kurikulum yang rasional dan logis
  3. Memberikan suatu basis untuk penilaian siswa.
Perumusan tujuan mengajar yang berbentuk tujuan khusus (objektif), memberikan beberapa keuntungan:
  1. Tujuan khusus memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar-mengajar kepada siswa.
  2. Tujuan khusus, membantu memudahkan guru-guru memilih dan menyusun bahan ajar.
  3. Tujuan khusus memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media mengajar.
  4. Tujuan khusus memudahkan guru mengadakan penilaian.
B. Isi atau Materi
Konten atau isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran.

Isi kurikulum adalah mata pelajaran pada proses belajar-mengajar, seperti pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan mata pelajaran. Untuk itu, terdapat kriteria yang perlu diperhatikan dalam pemilihan isi kurikulum ini, yaitu:
  1. Signifikansi, yaitu seberapa penting isi kurikulum pada suatu disiplin atau tema studi
  2. Validitas, yang berkaitan dengan keotentikan dan keakuratan isi kurikulum tersebut
  3. Relevansi sosial, yaitu keterkaitan isi kurikulum dengan nilai moral, cita-cita, permasalahan sosial, isi kontroversial, dan sebagainya, untuk membantu siswa menjadi anggota efektif dalam masyarakat
  4. Utiliti atau kegunaan, berkaitan dengan kegunaan isi kurikulum dalam mempersiapkan siswa menuju kehidupan dewasa
  5. Learnability atau kemampuan untuk dipelajari, yang berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami isi kurikulum tersebut
  6. Minat, yang berkaitan dengan minat siswa terhadap isi kurikulum tersebut.
C. Aktivitas Belajar
Proses atau sistem dalam aktivitas belajar dapat didefinisikan sebagai berbagai aktivitas yang diberikan pada pembelajar dalam situasi belajar-mengajar. Berkaitan dengan aktivitas belajar, maka harus diperhatikan pula strategi belajar mengajar yang efektif, yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Pengajaran expository, atau penjelasan rinci ini melibatkan pengiriman informasi dalam arah tunggal, dari suatu sumber ke pembelajar.
  2. Pengajaran interaktif. Pada hakikatnya pengajaran ini sama dengan pengajaran expository. Perbedaannya, dalam pengajaran interaktif terdapat dorongan yang disengaja ketika terjadi interaksi antara guru dan pembelajar, yang biasanya berbentuk pemberian pertanyaan. Pada dasarnya, dalam pendekatan ini pembelajar lebih aktif, dan keterampilan berpikir ditingkatkan melalui unsur interaktif.
  3. Pengajaran atau diskusi kelompok kecil. Karakteristik pokok dari strategi ini melibatkan pembagian kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil yang bekerja relatif bebas, untuk mencapai suatu tujuan. Peran guru berubah, dari seorang pemberi pengetahuan menjadi koordinator aktivitas dan pengarah informasi.
  4. Pengajaran inkuiri atau pemecahan masalah. Ciri utama strategi ini adalah aktifnya pembelajar dalam penentuan jawaban dari berbagai pertanyaan serta pemecahan masalah.
  5. Strategi belajar-mengajar lainnya. Strategi belajar-mengajar lain yang relatif lebih baru adalah cooperative learning, community service project, mastered learning, dan project approach.
D. Sumber dan Media Mengajar
Sumber atau resources yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut antara lain adalah:
  • Buku dan bahan tercetak
  • Perangkat lunak komputer
  • Film dan kaset video
  • Kaset
  • Televisi dan proyektor
  • CD ROM interaktif, dan masih banyak lagi.
Adapun media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Rowntree mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes, yaitu:
  1. Interaksi insani. Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Dalam komunikasi tersebut kehadiaran sesuatu pihak secara sadar atau tidak sadar mempengaruhi perilaku yang lainnya.
  2. Realita. Media ini merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, binatang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa.
  3. Pictorial. Media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat di atas kertas, film, kaset, disket, dan media lainnya.
  4. Simbol tertulis. Simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Seperti buku teks, buku paket, majalah-majalah, dan lain-lain.
  5. Rekaman suara. Berbagai bentuk informasi dapat disampikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara. Rekaman suara dapat disajikan secara tersendiri atau digabung dengan media pictorial.
E. Evaluasi
Komponen utama selanjutnya setelah rumusan tujuan, meteri, strategi mengajar, dan media mengajar adalah evaluasi atau penyempurnaan. Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan.
  1. Evaluasi hasil belajar
  2. Dalam pelaksanaan evaluasi ini, terdapat banyak instrumen pengukuran yang dapat dipergunakan oleh pendidik, antara lain:
    • Tes standar
    • Tes buatan guru
    • Sampel hasil karya
    • Tes lisan
    • Observasi sistematis
    • Wawancara
    • Daftar cek dan skala penilaian
    • Kalkulator anekdotal
    • Sosiogram dan pelaporan.
  3. Evalusasi pelaksanaan mengajar
  4. Komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil belajar-mengajar tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi komponen tujuan mengajar, bahan pengajaran, strategi dan media pengajaran, serta komponen evaluasi mengajar sendiri. Stufflebeam dan kawan-kawan (1977: 243) mengutip Model Evaluasi dari EPIC, bahwa dalam program mengajar komponen-komponen yang dievaluasi meliputi:
    • Komponen tingkah laku yang mencakup aspek-aspek: kognitif, afektif dan psikomotor
    • Komponen mengajar yang mencakup aspek-aspek: isi, metode, organisasi, fasilitas dan biaya
    • Komponen populasi yang mencakup: siswa, guru, administrator, spesialis pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
    Selain itu, dalam evaluasi kurikulum ini terdapat prosedur yang harus diikuti, yang meliputi tujujuh langkah berurutan yang behubungan secara integral, yaitu:
    • Penanda evaluasi, sebagai pemecahan terhadap konteks ukur
    • Spesifikasi tugas, yang menggambarkan cakupan evaluasi
    • Desain evaluasi, sebagai penyusunan perencanaan untuk melaksanakan evaluasi
    • Pengumpulan data, untuk memperoleh data, baik dari sumber data yang ada maupun menggunakan teknik yang dirancang dalam tahapan desain
    • Analisis data, sebagai analisis, sistesis, dan interpretasi data seperti yang diatur dalam tahapan desain
    • Kesimpulan, untuk mempersiapkan kesimpulan yang didasarkan pada hasil dan persiapan laporan
    • Menghadirkan kesimpulan dan rekomendasi pada audiens.
Read more

Delete this element to display blogger navbar

 


© 2010 Invest Scenery is proudly powered by Blogger